Minggu, 12 Februari 2012

"Wonderful Indonesia", Jangan Hanya Slogan Belaka


Ø  Di Bumi ini terdapat dua bongkahan batu mega besar, yaitu Uluru atau Ayers Rock di Australia, satunya lagi di Bukit Kelam, Kalimantan Barat. Tapi kenapa dunia lebih mengenal Uluru?
Ø  Di dunia ini hanya terdapat dua danau air asin yang menjadi habitat Ubur-Ubur jinak (Unsting Jellyfish). Yang pertama ada di negara Palau, Oseania, dan satunya lagi Danau Kakaban di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Tapi kenapa Jellyfish Lake di Palau lebih populer?
Ø  Di Asia Tenggara terdapat 3 pulau indah yang letaknya saling berdekatan, sehingga disebut golden triangle (segitiga emas). Ketiga pulau tersebut adalah Puket (Thailand), Langkawi (Malaysia), dan Sabang (Indonesia). Tapi kenapa Sabang yang paling sedikit dikunjungi turis asing?
Ø  Pulau Kalimantan atau Borneo terkenal dengan hutannya yang eksotis dan menjadi habitat berbagai spesies langka, sehingga punya daya tarik wisata yang tinggi. Tapi kenapa turis lebih ramai ke Serawak dan Sabah (Malaysia) ketimbang Kalimantan bagian Indonesia?
Ø  Tahun 2007 silam masyarakat Indonesia cukup heboh dengan tidak masuknya Candi Borobudur ke dalam New 7 Wonders. Berbagai spekulasi muncul. Benarkah Candi Borobudur tak layak masuk 7 Wonders?
Ø  Sebagian dari kita mungkin sudah pernah dengar Hawaii yang terkenal sebagai tempat selancar terbaik sedunia. Tapi sebagai orang Indonesia, pernahkah kita mendengar Pantai Sorake, Pantai Tanjung Setia , Kepulauan Mentawai, dan pantai Plengkung?

Untuk pertanyaan terakhir bisa dicari sendiri di google. Tapi beberapa pertanyaan diatas adalah sebagian kecil ironi tentang potensi pariwisata Indonesia. Artikel dibawah ini mungkin dapat membantu kita dalam mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas  :).


***

Bulan Desember, penghujung tahun 2010. Dalam acara malam bertajuk anugerah Pariwisata Indonesia, Pemerintah mengumumkan bahwa jumlah turis asing yang berkunjung ke Indonesia mencatatkan rekor. Sebanyak 7 juta turis asing telah mengunjungi negeri ini sepanjang tahun 2010 dan merupakan jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Guna menarik turis agar lebih banyak lagi di tahun berikutnya, Menteri Budaya dan Pariwisata yang kala itu masih dijabat Bapak Jero Wacik mengeluarkan branding baru untuk pariwisata Indonesia, yaitu Wonderful Indonesia. Branding ini kiranya untuk disandingkan dengan slogan-slogan wisata Negara lain seperti Truly Asia milik Malaysia, Amazing Thailand,  Incredible India, Kaohsiung City of Love, Uniquely Singapore dan sebagainya. Dengan branding baru plus dana pengembangan wisata yang meningkat, diharapkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang lebih banyak di tahun selanjutnya.
Tepat satu tahun kemudian, bulan Desember 2011, harapan tersebut kiranya berhasil tercapai. Jumlah wisman yang mengunjungi Indonesia tahun kemarin tercatat mencapai 7,65 juta dan menghasilkan devisa 8,5 Milyar US dollar. Fakta ini sekaligus memecahkan rekor tahun sebelumnya. Pencapaian ini pun menjadi kado sambutan yang manis bagi Ibu Marie Elka Pangestu yang baru 3 bulan menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pasca reshuffle kabinet.
Pencapaian tersebut memang patut diapresiasi karena jumlah wisman ke Indonesia meningkat 8,5% atau melebihi angka pertumbuhan pariwisata dunia yang “hanya” 4,5%. Kita memang boleh saja bangga akan fakta tersebut. Tapi bagaimana jika kita membandingkannya dengan Negara lain? Kita tengok dulu jiran terdekat kita. Wow, ternyata tahun 2011 kemarin jumlah turis asing yang mengunjungi Malaysia berjumlah 24,6 juta jiwa. Kita cuma seperberapanya tuh?? Geser ke Thailand. Sepanjang tahun kemarin ternyata negeri gajah putih berhasil menarik 19,1 juta turis. Jangankan Thailand, Singapura yang cuma Negara mungil tak sampai se-Jabotabek saja mampu meraup 13,2 juta turis! How can it be??
Bila ditanya mengenai hambatan dalam pengembangan wisata, mungkin yang pertama soal infrastruktur yang minim. Memang benar, infrastruktur yang ada di berbagai wilayah negeri ini memang masih kurang. Apalagi daerah-daerah yang punya potensi wisata biasanya terletak di daerah yang sulit dijangkau. Sebut saja Kepulauan Togian di Sulawesi tengah, Kepulauan Derawan di Kaltim, dan sebagainya. Sulitnya akses menuju daerah-daerah wisata tertentu membuat biaya transportasi membengkak dan memakan waktu lama bagi wisatawan.
Tapi kalau menurut pandangan saya, ada satu hal yang paling menentukan suksesnya penyelenggaraan pariwisata. Satu hal tersebut terdengar sederhana, tapi punya pengaruh yang sangat besar. Satu hal tersebut adalah promosi. So, apakah selama ini pemerintah tidak melakukan promosi wisata? Tentu saja sudah melakukan. Hanya saja, masih kurang maksimal. Hal ini bisa dilihat salah satunya dari kurangnya intensitas iklan pariwisata Indonesia di luar negeri bila dibandingkan dengan Negara lain. Saya tidak tahu pasti apakah dana yang dikucurkan untuk biaya penayangan iklan kurang, padahal promosi punya perananan penting untuk menaikkan pamor atau daya tarik yang dimilki objek yang ditawarkan. Sama halnya dengan produk atau barang dagangan, bila gencar dipromosikan sembari ditingkatkan mutunya, pasti akan laku di pasaran.
Saya tinggal di tempat saudara yang kebetulan mampu menangkap siaran dari chanel-chanel luar negeri. Saat jeda komersial, sering chanel-chanel itu menyayangkan iklan resmi pariwisata dari berbagai Negara, khususnya Asia. Semua iklan wisata itu dikemas menarik dan menggambarkan berbagai keunggulan yang dimiliki Negara yang bersangkutan seperti keanekaragaman budaya maupun keindahan alam. Bukan hanya iklan, beberapa Negara bahkan sampai membuat acara TV khusus membahas pariwisata di negaranya. Tapi saya sangat jarang sekali melihat iklan “Wonderful Indonesia” di chanel-chanel tersebut. Padahal chanel-chanel itu sangat potensial karena disiarkan di seluruh dunia dan mempunyai pemirsa yang tidak sedikit jumlahnya. Apakah menayangkan iklan di chanel-chanel itu begitu mahal? Tapi kenapa iklan Garuda Indonesia Airways sering muncul di National Geographic Chanel dan BBC? Kalau BUMN-nya saja mampu, masa’ negaranya (yang memiliki) sendiri malah nggak mampu? Pernah suatu ketika saya nonton Star Sport, ada satu iklan yang menayangkan berbagai adegan mulai orang pakai baju adat tengah membuat layangan dengan bentuk artistic, lalu seorang turis tengah menikmati durian, beberapa wanita dayak tengah menari tarian adat diiringi gitar sape, kemudian sekelompok orang bule berlatih silat di pinggir pantai, dan beberapa orang bule bercengkerama dengan tukang sate yang tengah mengipasi tungkunya. Suasana iklan itu tampak damai dan menyenangkan. Awalnya saya sempat ge-er kalau itu iklan pariwisata Indonesia. Eh.. ternyata di akhir iklan muncul tulisan Malaysia Truly Asia…. Toeng! :P


Tidak masuknya Candi Borobudur ke dalam daftar New 7 Wonders memang membuat sebagian orang bertanya mengapa hal demikian bisa terjadi. Padahal selama ini Candi Borobudur dikenal sebagai candi terbesar di dunia, sempat masuk 7 keajaiban dunia yang lama, dan diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia (World Heritage). Namun setelah pengumuman di Lisabon tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 silam, masyarakat Indonesia dibuat bertanya, apa yang kurang dari Candi Borobudur? Berbagai spekulasi merebak. Ada yang bilang kurang terawat, kurang bersih, kurang ini, kurang itu, dan sebagainya. Tapi cobalah untuk mengamati sejenak, sebenarnya bagaimana mekanisme New 7 Wonders Fondation dalam memilih 7 keajaiban dunia yang baru? Cukup sederhana, lewat voting. Siapa yang melakukan voting? Tentu saja para wisatawan. Bagaimana wisatawan bisa memilih sebuah tempat? Karena mereka sudah mengunjunginya atau setidaknya mengetahui informasi mengenai tempat yang dipilih. Dari mana awal wisatawan bisa tahu soal tempat-tempat itu? Anda tentu bisa menjawabnya sendiri.
Okelah Candi Borobudur diakui sebagai warisan dunia oleh PBB melalui UNESCO. Fakta mengenai hal tersebut sudah tertera di situs resmi UNESCO World Heritage, whc.unesco.org . Akan tetapi yang namanya turis bila hendak berlibur pasti refrensinya antara majalah, situs wisata di internet, atau iklan di berbagai media. Rasanya jarang ada turis mau plesir, yang jadi refrensinya situs resmi PBB ! Wah, pasti idealis betul turis itu.
Untung saja bangsa Indonesia mampu belajar dari pengalaman candi Borobudur. “Kesempatan kedua” pun datang ketika New 7 Wonders Fondation (N7WF) kembali mengadakan voting untuk keajaiban dunia yang baru untuk kategori alam (new 7 wonders of nature). Pulau Komodo menjadi salah satu finalis ajang tersebut. Dengan segenap daya yang dimiliki, pemerintah mengucurkan dana tak sedikit untuk mempromosikan dan mensosialisasikan Pulau Komodo untuk dipilih sebagai keajaiban duna, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Respon masyarakat pun tinggi. Mereka cukup antusias memilih Komodo baik lewat sms mapun voting langsung di internet. Saya pun juga beberapa kali sempat melihat iklan Vote Komodo di stasiun TV AXN. Alhasil, meski sempat diwanai ancaman N7WF untuk mencoret Komodo sebagai daftar finalis karena suatu hal (baca sendiri beritanya), akhirnya pada tanggal 11, bulan 11, tahun 2011, N7WF secara resmi mengumumkan bahwa Pulau Komodo masuk dalam 7 Kejaiban Alam yang baru. Sesuatu banget ya :).
Dari kesuksesan pulau Komodo masuk new 7 wonders pun kita juga bisa menarik pelajaran mengenai betapa pentingnya promosi yang maksimal dengan memanfaatkan berbagai media yang ada. Branding sudah punya, Wonderful Indonesia menurut saya cukup klop di telinga. Lebih akrab dari slogan sebelumnya, Ultimate in Diversity. Selanjutnya, Pemerintah hendaknya jangan terlalu “pelit” untuk mengucurkan dana besar untuk promosi pariwisata Indonesia, toh ini juga untuk kepentingan Negara juga. Hanya saja saya menyarankan, dalam teknis promosi, hendaknya focus ke daerah-daerah yang potensial tapi belum terlalu dikenal. Tanpa bermaksud mengecilkan potensi Bali, menurut saya pulau dewata berjuluk Island of God tersebut sudah cukup terkenal di kalangan turis asing,  sehingga pemerintah tak perlu lagi repot-repot mempromosikan Bali.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, seharusnya sektor pariwisata bisa menjadi andalan Negara untuk meraup devisa dan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terlebih lagi untuk tahun 2012 ini pemerintah menargetkan jumlah wisatawan asing sebanyak 8 juta turis dengan target pemasukan 9 Milyar US dollar. Tentu saja perlu usaha yang lebih keras demi mencapai target tersebut. Apalagi bila untuk mengejar taget jangka panjang telah dicanangkan, yakni 20 juta turis pada tahun 2025. Semakin rajin kita membangun citra lewat promosi, semakin banyak perhatian yang tertuju oleh para turis kepada Indonesia, dan pada akhirnya semakin ramailah pelancong yang menikmati indahnya negeri yang dijuluki “Jamrud Khatulistiwa” ini.

                            http://wcfeng.blogspot.com/2010/07/borobudur.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...