Minggu, 25 Januari 2015

Warisan Dunia UNESCO Kombinasi Alam dan Budaya


Warisan dunia UNESCO merupakan sebuah penghagaan prestisius yang diberikan kepada situs/cagar alam dan/atau budaya yang dinilai memenuhi syarat tertentu, terutama dalam hal kelestarian. UNESCO sebagai badan PBB yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sangat selektif dalam menetapkan warisan dunia. Oleh karena itu, sebuah tempat atau area yang mendapat status sebagai warisan dunia UNESCO memiliki prestis dan keistimewaan tersendiri, sehingga turut menjadi daya tarik dalam menggaet wisatawan.
Ada tiga kategori warisan yang ditetapkan UNESCO, yaitu alam (natural site), budaya (cutural site) dan campuran (mixed site). Dari 8 situs warisan dunia yang saat ini dimiliki Indonesia, belum ada satu pun situs yang berkategori campuran. Pulau Komodo, Taman Nasional (TN) Lorentz, TN Ujung Kulon dan Hutan Hujan Sumatera berkategori alam. Sedangkan Situs Sangiran, Candi Prambanan, Candi Borobudur dan Sistem Subak di Bali masuk kategori budaya.
Meski sebentulnya bukan hal yang urgent, alangkah baiknya jika otoritas ataupun para pemangku kepentingan agar mendorong situs nasional menjadi warisan dunia kategori campuran. Guna mewujudkannya, maka harus ada situs atau cagar yang mengombinasikan alam dan budaya sebagai daya tariknya. Melalui tulisan ini saya menyampaikan masukan akan hal tersebut, yakni berupa tiga situs nasional yang rasanya dapat memenuhi kriteria warisan dunia mixed site. Berikut deskripsinya masing-masing.

1.       Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) merupakan sebuah taman nasional yang berlokasi di Sulawesi Tengah. Kawasan ini punya kombinasi daya tarik alam dan peninggalan sejarah yang menawan. TNLL yang telah ditetapkan sebagai cagar biosfer sejak 1977, dikenal sebagai tempat yang sangat ideal untuk pengamatan burung. Burung Maleo khas Sulawesi adalah salah satu “artis” yang paling dicari pengunjung TNLL. Tercatat ada 127 spesies burung dimana 77 diantaranya merupakan spesies endemik yang hanya dapat ditemukan di kawasan hutan dengan tiga tipe ekosistem yang berbeda itu.
Selain kaya akan berbagai jenis burung, terdapat pula berbagai jenis mamalia, reptil dan amfibi yang tersebar dalam kawasan konservasi dimana 50% diantaranya endemik Sulawesi. TNLL pun termasuk salah satu rumah bagi spesies primata terkecil di bumi yang juga endemik Sulawesi, Tarsius.

Source: blog.therabuana.com
Dari sisi cultural, TNLL dikenal pula sebagai salah satu surga megalitik Nusantara. Ratusan situs megalitik dengan beragam bentuk, ukuran dan keunikan masing-masing tersebar di beberapa titik dalam area konservasi. Mulai dari arca-arca yang hanya puluhan centimeter hingga patung-patung besar ukuran 1-4 meter dapat dijumpai di kawasan seluas 217.991,18 hektar itu. Dan yang lebih istimewanya lagi, situs-situs tersebut diyakini eksis sejak 1300-2500 SM. Itulah Taman Nasional Lore Lindu, sebuah aset yang tak ternilai harganya bagi Sulawesi Tengah.

2.       Kepulauan Banda

Kepulauan Banda belum menjadi World Heritage kendati telah masuk daftar tentative sejak 2005. Sebagai kepulauan yang sebagian besar wilayah berupa perairan, Banda adalah salah satu icon dalam segitiga emas koral dunia yang menaungi Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon. Ya, dengan spesies terumbu karang sebanyak 330 jenis, sudah tentu perairan Banda yang juga titik terdalam peraian Nusantara menyimpan biodiversitas laut yang sangat kaya. Keindahan Taman Laut Banda memang sudah tersohor sampai mancanegara berkat keindahan spot-spot diving-nya yang visibilitasnya dapat diselami hingga 40 meter.

Source: sains.kompas.com
Selain atraksi berupa keindahan dan keanekaragaman terumbu karang yang luar biasa, taman laut banda memang sebuah keajaiban alam. Suatu ketika terumbu-terumbu karang Banda pernah hancur karena letusan gunung berapi. Normalnya terumbu karang yang rusak membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh seperti sedia kala. Tetapi teori itu tidak berlaku untuk terumbu karang Banda. Dalam tempo tidak sampai sepuluh tahun, terumbu karang Banda sudah kembali tumbuh dengan sehatnya. Berkat fenomena ini, UNESCO menilai pertumbuhan terumbu karang Banda sebagai yang tercepat di dunia.
Lautnya bak surga, daratnya melegenda. Sebutan itu memang layak disematkan untuk Kepuauan Banda. Sebagaimana pernah kita dengar, Maluku adalah penghasil rempah-rempah yang mengundang perhatian para penjelajah (baca: imperialis) Eropa untuk mendatangi dan menguasainya. Kepulauan Banda pun dikenal sebagai produsen utama rempah-rempah di Bumi Maluku.

Source: health.kompas.com
Jejak historis Banda sebagai “harta rebutan” bangsa Eropa abad pertengahan dapat disaksikan melalui keberadaan benteng-benteng di beberapa titik wilayahnya. Di sana masih dapat dijumpai sisa-sisa Benteng yang didirikan dan digunakan kolonialis-kolonialis Eropa yang pernah menguasai Kepulauan Banda, dengan berbagai kondisi bangunannya.
Berkat tanahnya yang menghasilkan pala, Inggris menjadikan salah satu pulau di wilayah Banda yang bernama Run, sebagai koloni pertamanya di dunia.[1] Kemudian terjadi konflik bersejata yang melibatkan Belanda yang ternyata juga menginginkan tempat yang sama, sampai akhirnya disudahi dengan perjanjian dimana Belanda bersedia menukarkan sebuah pulau koloninya di Amerika dengan Pulau Run. Jadilah Belanda menguasai penuh Kepulauan Banda. Di lain pihak, Inggris mendapatkan pulau koloni Belanda di Amerika  bernama Nieuw Amsterdam. Kemudian Inggris merubah nama pulau di pesisir timur Amerika Utara itu dengan nama New York...
Ya, memang ada beberapa situs dengan kondisi yang memprihatinkan. Oleh karena itulah revitalisasi mutlak dilaksanakan jika memang serius mengajukan Banda sebagai warisan dunia. Jika wilayah kota sebesar Malaka, Brasilia dan Rio de Janeiro bisa menjadi World Heritage, kenapa tidak bagi Banda yang hanya Kecamatan?

3.       Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung

Dari Maluku kita balik lagi ke Sulawesi. Di Sulawesi Selatan ada Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) yang juga layak menjadi Mixed Site World Heritage. Dalam taman nasional tersebut terhampar indah perbukitan Karst nan luas, yang masuk salah satu yang terbesar di dunia. Ratusan tahun silam seorang Naturalis ternama Inggris, Alfred Russel Wallace, pernah singgah di Bantimurung dan dibuat terpesona dengan keberadaan berbagai jenis kupu-kupu, dengan ukuran fisik yang besar-besar dan juga elok warnanya. Kala itu, naturalis yang pertama mencetuskan teori evolusi sebelum Darwin itu mencatat ada 256 spesies kupu-kupu di Bantimurung.

Source: id.wikipedia.org
Pesona keindahan dan kemegahan bukit Karst TN Babul bukan hanya mendatangkan manfaat bagi kehidupan warga sekitar melalui mata-mata airnya. Tidak jauh dari kawasan tersebut, belum lama ini ditemukan sebuah temuan arkeologis yang cukup fenomenal. Temuan yang dimaksud adalah beberapa stensil atau lukisan tangan dalam sebuah gua yang umurnya  berkisar 17.400-39.900 tahun.[2]
Jika sebelumnya lukisan tangan tertua di dunia ada di Gua El Castillo (Spanyol) dengan usia 37.300 tahun, maka dengan ditemukannya lukisan goa di Maros 2014 lalu membuktikan bahwa karya seni rupa tertua di dunia dibuat oleh manusia-manusia Nusantara, yang menghuni Sulawesi sejak 40.000 tahun silam.
Demikian tiga situs nasional yang kiranya dapat dipertimbangkan untuk diajukan ke UNESCO sebagai warisan dunia kategori campuran. Upaya tersebut dilakukan tidak lain sebagai komitmen negara dalam menjaga dan merawat situs-situs nasionalnya, demi kelestarian alam, budaya dan pengembangan pariwisata, dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...