"If someone insults you, take it as a compliment that they spend so much time thinking about you, when you don't even give a second thinking about them."
- B.J. Habibie -
Jumat, 04 Januari 2013
La Cita (5)
Kamis, 13 Desember 2012
Happy Birthday Miss Taylor...
Setelah membuat postingan special tentang pesohor favorit Agustus
lalu, bulan Desember ini saya kembali menulis postingan special hari ulang
tahun penyanyi favorit saya dan juga banyak orang di dunia. Tokoh
satu ini merayakan hari jadinya yang ke-23, tepat pada tanggal dipostingkannya
artikel ini, 13 Desember 2012. Siapakah dia? Seorang diva, muda usia dan penuh
prestasi, bahkan diyakini sebagai penyanyi wanita tersukses di dunia saat ini. Here she is… The princess country :
Taylor Swift.
Taylor Alison Swift atau lebih dikenal dengan nama Taylor
Swift, lahir di Readling, Pennsylvania (AS) pada tanggal 13 Desember 1989. Ia
terlahir dari pasangan Scott Kingsley Swift dan Andrea Gardnera. Ayahnya (Scott
Swift) bekerja di perusahaan financial sedangkan ibunya adalah seorang ibu
rumah tangga. Swift punya adik laki-laki bernama Austin dan mereka sekeluarga tinggal di Pennsylvania (negara bagian pesisir timur AS)
sebelum hijrah ke Nashville, Tennessee (bagian tenggara AS), ketika Swift menginjak usia 14 tahun.
Source : http://www.examiner.com
|
Dapat dikatakan bahwa dara berambut pirang itu merupakan
penyanyi wanita tersukses sepanjang sejarah musik modern saat ini. Terdengar
berlebihan? Sederet fakta dan penghargaan menjadi alasan. Sepanjang karirnya ia
telah mengoleksi 6 penghargaan (untuk berbagai kategori/nominasi) Grammy Awards, 6 gelar Academy of Country Music Awards, 11
trofi American Music Awards, satu
titel BenBoard Music Awards, 7 piala Country Music Association Awards, satu achievement dari The Hal David Starlight Award (reward
tahunan untuk song-writer), 4
penghargaan Billboard Music Awards, 1
gelar MTV Music Award, 11 gelar Billboard Year End Chart, 14 titel BMI Awards, 6 penghargaan CMT Music Awards, 3 titel People’s Choice Awards, 17 gelar Teen
Choice Awards dan masih banyak lagi… (sampai capek yang ngetik :P).
Bukan hanya itu saja, kesuksesan Taylor Swift makin nyata
setelah tiga kali berturut-turut albumnya menjadi worldwide top-selling. Dimulai dari album keduanya bertajuk Fearless (2008), yang menjadi the first album to sell one million copies
in 2009. Ketika pertama dirilis, album Fearless langsung terjual 592.000
kopi dalam seminggu sehingga mendapat sertifikat platinum 6 kali dari Recording
Industry Association of America (RIAA). What
a fantastic…
Kesuksesan terus berlanjut ke album ketiganya bertajuk Speak Now (2010). Kesuksesan album ini ternyata melebihi album sebelumnya. Dalam tempo seminggu pasca rilis, album Speak Now terjual 1.047.000 keping! Tidak heranlah jika album ini mendapat tanggapan positif dari para kritikus music. Hingga September 2011, album Speak Now telah laku lebih dari 5 juta kopi di seluruh dunia sehingga mendapat sertifikasi (lagi) Quadruple Platinum dari RIAA.
Dan di album keempatnya yang baru dirilis 22 Oktober 2012 lalu, lagi-lagi rekor baru ia pecahkan. Dalam tempo sehari setelah resmi dirilis, album bertajuk Red itu langsung terjual 500 ribu keeping! Sebagai gambaran, single perdana album Red yang berjudul We Are Never Ever Getting Back Together saja sudah memimpin ITunes Charts dan sold 623.000 kopi dalam seminggu sekaligus mencetak rekor sebagai lagu yang paling sering diunduh sejak 2009. Selain album, ada pula single-nya yang menjadi yang laku di pasar berkat menjadi soundtrack sebuah film. Today was a Fairytale, OST film Valentine’s Day terjual 325.000, lagi-lagi dalam kurun 7 hari. Deretan prestasi yang rasanya sulit ditandingi penyanyi lain. Great job…
Bakat Swift di bidang seni memang sudah terlihat sejak usia yang terbilang sangat dini. Ketika usia 3 tahun, ia sudah berani tampil menghibur wisatawan dalam sebuah acara dengan menyanyikan lagu “I just can’t to be wait to be King” yang mejadi OST Film Lion King yang tengah naik daun kala itu. Talentanya pun terus berlanjut di usia 9 tahun, tatkala tampil sebagai juara kontes membaca puisi tingkat nasional. Kala itu ia membacakan puisi karangannya sendiri berjudul “Monster in My Closet” setebal 3 halaman.
Kesuksesan terus berlanjut ke album ketiganya bertajuk Speak Now (2010). Kesuksesan album ini ternyata melebihi album sebelumnya. Dalam tempo seminggu pasca rilis, album Speak Now terjual 1.047.000 keping! Tidak heranlah jika album ini mendapat tanggapan positif dari para kritikus music. Hingga September 2011, album Speak Now telah laku lebih dari 5 juta kopi di seluruh dunia sehingga mendapat sertifikasi (lagi) Quadruple Platinum dari RIAA.
Dan di album keempatnya yang baru dirilis 22 Oktober 2012 lalu, lagi-lagi rekor baru ia pecahkan. Dalam tempo sehari setelah resmi dirilis, album bertajuk Red itu langsung terjual 500 ribu keeping! Sebagai gambaran, single perdana album Red yang berjudul We Are Never Ever Getting Back Together saja sudah memimpin ITunes Charts dan sold 623.000 kopi dalam seminggu sekaligus mencetak rekor sebagai lagu yang paling sering diunduh sejak 2009. Selain album, ada pula single-nya yang menjadi yang laku di pasar berkat menjadi soundtrack sebuah film. Today was a Fairytale, OST film Valentine’s Day terjual 325.000, lagi-lagi dalam kurun 7 hari. Deretan prestasi yang rasanya sulit ditandingi penyanyi lain. Great job…
Bakat Swift di bidang seni memang sudah terlihat sejak usia yang terbilang sangat dini. Ketika usia 3 tahun, ia sudah berani tampil menghibur wisatawan dalam sebuah acara dengan menyanyikan lagu “I just can’t to be wait to be King” yang mejadi OST Film Lion King yang tengah naik daun kala itu. Talentanya pun terus berlanjut di usia 9 tahun, tatkala tampil sebagai juara kontes membaca puisi tingkat nasional. Kala itu ia membacakan puisi karangannya sendiri berjudul “Monster in My Closet” setebal 3 halaman.
Namun bakatnya di bidang musik baru mulai serius diasah
ketika umur 10 tahun. Menurut situs Wikipedia, adalah seorang tukang reparasi
computer, yang mengajari Swift kecil memainkan 3 akord gitar yang akhirnya
mendorong minatnya untuk mempelajari instrument tersebut. Taylor Swift pun
menulis lagu pertamanya berjudul “Lucky
You” yang ia buat tak lama setelah lancar belajar gitar. Dan ketika libur
musim panas tiba, ia memanfaatkannya untuk menulis novel. Musik dan sastra.
Menyanyi, memainkan musik, serta menulis syair dan cerita. Itulah sederet bakat
seorang Taylor Swift kecil…
Ungkapan “sedekah melapangkan rejeki” kiranya memang terbukti benar. Sosok Taylor Swift adalah salah satu contoh yang dapat kita lihat. Hidup dalam lautan kesuksesan dan ketenaran tidak lantas mengikis sisi humanis penyanyi yang mendapat standing ovation saat perform di Grammy Award 2012 itu. Hal ini terbukti dengan seringnya ia mendonasikan sebagian uangnya untuk berbagai kegiatan amal, baik untuk pendidikan, anak-anak penderita penyakit, hingga korban bencana alam. Bahkan pada Bulan Maret 2012 lalu ia mendapat penghargaan istimewa dari Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, berkat donasinya terhadap korban banjir dan tornado di negaranya. Ia dianugerahi “The Big Help”, sebuah reward untuk seseorang atau pihak yang berkontribusi di bidang kemanusiaan. Selang empat bulan kemudian (Juli 2012), Swift dinobatkan oleh Majalah Forbes sebagai artis muda terkaya nomor 1 di Amerika Serikat dengan total kekayaan 57 juta US Dollar, menggeser Justin Bieber yang di urutan kedua. Beautifully done...
Namun diantara sederet kisah manis yang menghiasi perjalanan hidup Swift, ternyata juga terselip pengalaman pahit yang mungkin tidak ia lupakan seumur hidupnya. Pengalaman tersebut adalah peristiwa yang terjadi di Malam Anugerah MTV Music Award 2009, dimana video klip lagunya yang berjudul You Belong With Me mendapat gelar Best Female Video. Ketika namanya dipanggil, lantas ia maju ke panggung untuk menerima trophy dan berkomentar singkat atas keberhasilannya. Namun ketika telah menerima piala dan hendak berkomentar, tiba-tiba penyanyi rap Kanye West naik ke panggung, mengarah ke Taylor Swift dan merebut mikrofon dari tangan Swift yang hendak berbicara. Kanye West menginterupsi penyerahan trofi tersebut dan secara blak-blakan mengatakan bahwa lagu Taylor Swift tidak layak menyabet nominasi Best Female Video dan menyebut nama penyanyi lain yang menurutnya lebih pantas mendapatkan penghargaan tersebut.
Ungkapan “sedekah melapangkan rejeki” kiranya memang terbukti benar. Sosok Taylor Swift adalah salah satu contoh yang dapat kita lihat. Hidup dalam lautan kesuksesan dan ketenaran tidak lantas mengikis sisi humanis penyanyi yang mendapat standing ovation saat perform di Grammy Award 2012 itu. Hal ini terbukti dengan seringnya ia mendonasikan sebagian uangnya untuk berbagai kegiatan amal, baik untuk pendidikan, anak-anak penderita penyakit, hingga korban bencana alam. Bahkan pada Bulan Maret 2012 lalu ia mendapat penghargaan istimewa dari Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, berkat donasinya terhadap korban banjir dan tornado di negaranya. Ia dianugerahi “The Big Help”, sebuah reward untuk seseorang atau pihak yang berkontribusi di bidang kemanusiaan. Selang empat bulan kemudian (Juli 2012), Swift dinobatkan oleh Majalah Forbes sebagai artis muda terkaya nomor 1 di Amerika Serikat dengan total kekayaan 57 juta US Dollar, menggeser Justin Bieber yang di urutan kedua. Beautifully done...
Namun diantara sederet kisah manis yang menghiasi perjalanan hidup Swift, ternyata juga terselip pengalaman pahit yang mungkin tidak ia lupakan seumur hidupnya. Pengalaman tersebut adalah peristiwa yang terjadi di Malam Anugerah MTV Music Award 2009, dimana video klip lagunya yang berjudul You Belong With Me mendapat gelar Best Female Video. Ketika namanya dipanggil, lantas ia maju ke panggung untuk menerima trophy dan berkomentar singkat atas keberhasilannya. Namun ketika telah menerima piala dan hendak berkomentar, tiba-tiba penyanyi rap Kanye West naik ke panggung, mengarah ke Taylor Swift dan merebut mikrofon dari tangan Swift yang hendak berbicara. Kanye West menginterupsi penyerahan trofi tersebut dan secara blak-blakan mengatakan bahwa lagu Taylor Swift tidak layak menyabet nominasi Best Female Video dan menyebut nama penyanyi lain yang menurutnya lebih pantas mendapatkan penghargaan tersebut.
![]() |
Source : http://favoritemusiconline.com
|
Yup, just the way Taylor Swift is. Ia memang
sering menuangkan perasaannya (curhat) melalui lagu. Banyak diantara lagunya
yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya, tak terkecuali yang berkaitan
dengan percintaan. Ia pun tidak jarang menyanyikan lagu yang mengisahkan
tentang mantan-mantan pacarnya . Selain itu, Swift juga tergolong pribadi
dengan banyak keunikan. Ia mengaku suka dengan angka 13 (tanggal kelahirannya),
angka yang menurut sebagian orang barat dianggap sebagai simbol kesialan. Dalam
tiap aksi panggungnya sering dimeriahkan dengan aksi teatrikal para penari
latarnya yang tampak unik dan kocak sehingga menjadi hiburan tersendiri. Dalam situs resminya (http://taylorswift.com/), ia juga mengaku suka berimajinasi tentang romansa kehidupan ratusan tahun yang lalu. Lagu Love Story dan Long Live adalah contoh buah "imajinasi liar"-nya. Keistimewaan lainnya adalah genre musik
yang diusungnya, yakni musik country.
Bisa dibilang cukup jarang generasi muda yang berminat dengan musik tersebut,
tapi Taylor Swift justru melesat karirnya berkat genre satu ini.
Humanis, bertalenta dan inspiratif. Tiga sifat itu memang
layak disematkan ke cewek yang juga terlibat promo produk parfum bermerk "Wonderstruck Enchanted" ini, bersamaan promo album Red. Pernah ia ditanya mengenai resiko public figure menghadapi banyak godaan yang berpotensi menjerumuskan, Swift menjawab : "Saya pikir itu semua bermuara kepada siapa anda mengelilingi diri anda dan seberapa kuat moral anda. Sebelum saya membuat keputusan, saya berhenti dan berpikir tentang gadis berusia 10 tahun yang saya lihat semalam di konser saya di barisan depan. Saya berpikir tentang ibunya, saya berpikir bagaimana mereka membeli CD, berpikir bahwa saya adalah panutan yang baik. Lalu saya berpikir tentang apa yang akan mereka rasakan jika saya melakukan sesuatu yang mengecewakan mereka. Saya tak dapat membayangkan rasa sakit yang lebih besar ketika membuat salah seorang dari ibu mereka kecewa. Terus terang saya tidak bisa..."
Kepada penggemarnya, Swift juga pernah berpesan bahwa the most important things di dunia ini ada dua, yakni belajar dan persahabatan. Belajar membuat kita tahu akan banyak hal, sedangkan sahabat membuat hidup tidak terasa sepi. Lagu-lagu Swift pun banyak yang bertema cinta dan persahabatan. Hebatnya, pada album Speak Now, seluruh lagunya ditulis oleh Taylor Swift seorang diri tanpa bantuan co-writer. Wow…
Kepada penggemarnya, Swift juga pernah berpesan bahwa the most important things di dunia ini ada dua, yakni belajar dan persahabatan. Belajar membuat kita tahu akan banyak hal, sedangkan sahabat membuat hidup tidak terasa sepi. Lagu-lagu Swift pun banyak yang bertema cinta dan persahabatan. Hebatnya, pada album Speak Now, seluruh lagunya ditulis oleh Taylor Swift seorang diri tanpa bantuan co-writer. Wow…
Demikian sekelumit kisah hidup Taylor Swift yang penuh warna
dan semoga dapat memberikan inspirasi bagi yang membaca. Bagi saya pribadi,
sebagai Swifties (sebutan penggemar
Taylor Swift), ia adalah penyanyi dengan suara paling lembut dan merdu yang
pernah saya dengar (Hehehe). Saya
dapat menilai bahwa semua lagunya bagus karena mengoleksi lengkap dari album
pertama sampai terbaru termasuk yang Deluxe
Edition dan Platinum Edition. Pada postingan Bulan Ferbruari 2012 tentang daftar
lagu inspiratif dan motivasional, saya memasukkan beberapa lagu Swift didalamnya. Bukan
hanya aransemen lagunya yang enak didengar, lirik-liriknya pun banyak yang unik,
imajinatif dan juga advising..
Akhir kata, happy
birthday Miss Taylor… Keep success and inspiring people…
Birth
Name : Taylor Alison Swift
Born : Readling, 13th December 1989
Born : Readling, 13th December 1989
Nationality :
American
Domicile : Nashville
Height : 1,80 meters
Occupations :
Singer, Song-Writer, Musician, Actress
Genres : Country, Pop, Country Pop, Pop Rock
Instruments :
Guitar, Banjo Guitar, Ukulele, Piano
Labels : Big Machine
Musical Influence : Shania Twain, Tim McGraw, LeAnn Rimes, Tina Turner, Dolly Parton,
Her Own Grandma
Musical Influence : Shania Twain, Tim McGraw, LeAnn Rimes, Tina Turner, Dolly Parton,
Her Own Grandma
Number : 13
Name
of Cat : Meredith
Favourite Things in Life : Writing about life (specifically concerning love)
Favourite Things in Life : Writing about life (specifically concerning love)
Favourite
TV Serial : Grey’s Anatomy, Crime
Scene Investigation (CSI)
Albums : - Taylor
Swift (Released
on October 2006)
- Fearless (November
2008)
- Speak Now (October
2010)
- Red (October 2012)
Appearance : - Crime
Scene Investigation (CSI) (2009)
- Valentine’s
Day (2010)
- The Lorax (2012)
Bonus Video
Bonus Video
Kamis, 06 Desember 2012
La Cita (4)
"Dengan memahami persoalan, maka separuh dari persoalan telah teratasi."
- Munawar Fuad -
Minggu, 02 Desember 2012
Mentalitas : Musuh Terbesar Pemain Timnas (?)
Ø Final Tiger Cup 2002, Indonesia vs
Thailand. Indonesia digadang-gadang bakal meraih title perdananya di ajang sepakbola tertinggi se-Asia Tenggara. Bermain
di kandang sendiri plus statistik yang mengarahkan Indonesia menjadi kampiun
tahun itu, Timnas justru kalah lewat drama adu penalty setelah hanya bermain
imbang 2-2 di waktu normal.
Ø Fase penyisihan grup sepakbola SEA
Games Hanoi 2003. Indonesia dituntut wajib menang di matchday terakhir penyisihan grup untuk lolos ke semifinal. Bonus sejumlah
uang pun dijanjikan guna menambah motivasi pemain Timnas U-23. Tapi hasilnya? Lagi-lagi
Thailand menjadi nightmare setelah
membantai Tim Garuda dengan setengah lusin gol tanpa balas (0-6).
Ø Final Tiger Cup 2004. Indonesia kembali
membuka asa menjadi yang terbaik se-ASEAN setelah lolos ke grand final untuk ketiga kali berturut-turut. Sungguh disayangkan, di
final Tiger Cup yang memakai sistem home-away
untuk pertama kalinya, lagi-lagi impian menjadi juara harus terkubur setelah
dipecundangi negeri mungil Singapura dengan agregat telak, 5-1.
Ø Fase penyisihan grup AFF Cup 2007. Indonesia
dituntut wajib menang untuk bisa lolos ke semifinal. Malang, Indonesia harus
mencatat sejarah untuk kali pertama gagal lolos fase grup AFF Cup sejak
diselenggarakan tahun 1996. Timnas hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan tuan
rumah Singapura dan gagal lolos karena kalah selisih gol dengan Singapura dan
Vietnam meski poin ketiga tim sama.
Ø Final AFF Cup 2010. Indonesia untuk ‘pertama
kalinya’ masuk final pasca ajang serupa tahun 2004. Namun apa mau dikata, Tim
Merah-Putih harus merelakan trofinya jatuh ke tangan negeri jiran Malaysia.
Ø Final SEA Games 2011. Indonesia, yang
diwakili Timnas U-23, untuk pertama kalinya melaju hingga final sepakbola SEA
Games setelah terakhir tahun 1997. Asa untuk mengobati dahaga gelar yang
terakhir diraih pada SEA Games 1991 pun terbuka lebar. Tapi akhirnya? Lagi-lagi
Pasukan Kebangsaan Malaysia mengubur ambisi Indonesia untuk mengakhiri ‘puasa
gelar' selama 20 tahun.
* * * *
Postingan ini saya buat hanya berselang kurang lebih dua jam
setelah pertandingan matchday terakhir
penyisihan Grup B AFF Cup 2012 antara Indonesia vs Malaysia yang berakhir 2-0
untuk kemenangan tuan rumah Malaysia. Berkat hasil tersebut, Indonesia harus
menelan pil pahit untuk kedua kalinya gagal melewati fase penyisihan grup AFF Cup setelah
mengalami hal serupa tahun 2007 silam. Harus diakui, kualitas Timnas kali ini
memang tidak sebaik sebelumnya setelah adanya dualisme organisasi yang
berlanjut ke dualisme kompetisi, dan juga berimplikasi ke dualisme Tim Nasional.
Meskipun sempat ada niatan dari ‘kubu seberang’ PSSI untuk mengizinkan
pemainnya masuk Timnas yang ‘legal’, beralasan waktu yang sudah sangat limit,
para pemain dari ‘kompetisi seberang’ pun batal bergabung.
Sejak awal pun saya tidak yakin dalam kondisi seperti sekarang Timnas mampu berprestasi di AFF. Bahkan secara objektif saya lebih menjagokan Thailand vs Singapura akan bertemu di final dan memprediksi Thailand keluar sebagai juaranya. Bukan pesimis atau tidak nasionalis, tapi relistis. Saya tetap nasionalis, tapi nasionalisme saya bukan right or wrong is my country. Seorang pecinta nasi goreng jika disuguhi nasi goreng yang kebanyakan lombok atau kurang bumbu, tentu ia tak perlu memaksakan diri menghabiskannya.
Saya pun tidak terlalu yakin apakah seandainya pemain-pemain 'kompetisi seberang' digabung dengan timnas bentukan PSSI menjadi jaminan Timnas bakal menjuarai AFF Cup tahun ini. Okelah secara individual, pemain kompetisi seberang memang lebih baik. Tapi faktanya, selama ini Timnas (level U-23 dan senior) sama sekali tidak pernah meraih gelar juara apapun di ajang sepakbola antar negara. Pertandingan matchday 3 penyisihan Grup B AFF Cup 2012 memang menjadi laga ‘hidup-mati’ bagi Timnas untuk lolos ke semifinal. Tapi seperti yang telah diketahui, timnas gagal melewati ujian tersebut.
Sejak awal pun saya tidak yakin dalam kondisi seperti sekarang Timnas mampu berprestasi di AFF. Bahkan secara objektif saya lebih menjagokan Thailand vs Singapura akan bertemu di final dan memprediksi Thailand keluar sebagai juaranya. Bukan pesimis atau tidak nasionalis, tapi relistis. Saya tetap nasionalis, tapi nasionalisme saya bukan right or wrong is my country. Seorang pecinta nasi goreng jika disuguhi nasi goreng yang kebanyakan lombok atau kurang bumbu, tentu ia tak perlu memaksakan diri menghabiskannya.
Saya pun tidak terlalu yakin apakah seandainya pemain-pemain 'kompetisi seberang' digabung dengan timnas bentukan PSSI menjadi jaminan Timnas bakal menjuarai AFF Cup tahun ini. Okelah secara individual, pemain kompetisi seberang memang lebih baik. Tapi faktanya, selama ini Timnas (level U-23 dan senior) sama sekali tidak pernah meraih gelar juara apapun di ajang sepakbola antar negara. Pertandingan matchday 3 penyisihan Grup B AFF Cup 2012 memang menjadi laga ‘hidup-mati’ bagi Timnas untuk lolos ke semifinal. Tapi seperti yang telah diketahui, timnas gagal melewati ujian tersebut.
Kejadian itu bukan pertama kalinya dialami Timnas Indonesia. Bahkan
hampir di setiap partai-partai krusial yang dihadapi Timnas di berbagai ajang,
dimana pada partai tersebut Timnas dituntut wajib menang untuk menyelamatkan
nasibnya, mereka selalu menuai kegagalan. Dan yang lebih mengherankan lagi,
melawan tim-tim yang secara tradisi timnas selalu mudah mengalahkannya, tapi
jika dilangsungkan dalam sebuah partai krusial atau laga hidup-mati, timnas
selalu gagal menang.
Salah satunya saat Final Hassanal Bolkiah 2012 lalu yang
melibatkan Timnas U-22. Di partai final, timnas ‘hanya’ menghadapi tim lemah
yang sering menjadi lumbung gol di level ASEAN : Brunei Darussalam. Meskipun berstatus
tuan rumah, di atas kertas mereka tetap jauh dibawah kita. Tapi faktanya? Di
babak final, Timnas U-22 dipaksa tunduk 0-2 dan gagal menjadi yang terbaik. Mau
bukti lagi? Di turnamen Grand Royal Challenge
yang diselenggarakan di Myanmar 2008 silam, Indonesia berhasil melaju hingga
final. Tapi akhirnya? Di babak akhir turnamen, Indonesia takluk dengan tim yang
pada ajang berbeda mereka bantai 4-0, Myanmar.
Saya mengamati Timnas Indonesia sejak 2001 dan selalu heran
apa sebetulnya yang menyebabkan Indonesia sulit juara. Faktor teknis? Secara
individual, untuk level ASEAN Indonesia masuk kelas atas. Faktor pelatih?
Kurang setuju juga. Peter Withe, pelatih berkebangsaan Inggris yang melatih
timnas 2004-2007 adalah sosok yang berjasa membawa Thailand juara ASEAN dua
kali berturut tahun 2000 dan 2002. Peter Withe dikenal sebagai pelatih yang
bukan hanya mahir meracik strategi, tapi juga pintar dalam memotivasi pemain. Tapi
faktanya, meskipun sukses bersama Thailand, ia harus menelan pil pahit selama
tiga tahun melatih Tim Garuda tanpa menghasil gelar juara apapun. So, what’s the trouble?
Saya melihat faktor penyebab terjadinya rentetan kegagalan
yang dialami Timnas, bukan karena kualitas teknis, bukan pula faktor
kepelatihan. Lalu apa penyebab utamanya?
The trouble is mentality. Dalam beberapa kali partai super penting yang
melibatkan Timnas, secara teknis seharusnya mereka bisa mengatasinya. Tapi sebagus-bagusnya
pemain, jika mental mereka tidak siap, maka useless-lah
kemampuan yang mereka miliki. Seperti saya sampaikan tadi, melawan tim sekelas Brunei
dalam ‘suasana Final’ pun membuat timnas kehilangan taji.
Faktor mental memang harus segera diperbaiki jika Timnas
ingin berprestasi. Dan untuk membentuk mental juara, diperlukan waktu yang
panjang. Untuk itulah sangat diperlukan kompetisi berjenjang di usia dini, yang
diselenggarakan secara kontinyu dan profesional. Seperti yang pernah saya
singgung dalam postingan sebelumnya (baca : Menyemai
Benih, Meretas Asa edisi Juni 2012.), kompetisi usia dini dengan format Liga (bukan
turnamen piala yang sering dijumpai selama ini), yang diselenggarakan secara berjenjang urut berdasarkan
kelompok umur, serta diadakan secara kontinyu (rutin setiap tahun) dan dikelola
secara profesional. Saya percaya konsep tersebut bukan hanya akan menghasilkan
pemain berteknik bagus, tapi juga bermental juara. Karena melalui sistem Liga
dengan kompetisi penuh (dua putaran, home-away,
pakai klasemen), pemain dibiasakan untuk bersaing dan menjaga konsistensi
permainan sepanjang kompetisi berlangsung, untuk mengejar gelar juara. Dari
sinilah tertanam mental kompetitif dalam pribadi masing-masing pemain yang kemudian
tumbuh menjadi mental juara.
Kita semua tentu berharap gelar medali
emas sepak bola SEA Games 1991 bukan menjadi gelar terakhir bagi Tim Nasional
Indonesia. Karena biar bagaimanapun sepakbola merupakan olahraga terpopuler di dunia
dan juga negeri ini. Prestasi Timnas tentu akan memberikan rasa bangga tersendiri
bagi masyarakat khususnya pecinta sepakbola nasional. Demikian sekelumit tentang pandangan saya terhadap permasalahan timnas yang begitu sulit berprestasi, berikut solusinya yang saya harap bisa diterima dan diterapkan oleh pihak yang berwenang atas sepakbola Indonesia, khususnya dalam hal ini PSSI.
Selasa, 20 November 2012
La Cita (3)
"Ketandusan intelektual dihasilkan secara artifisial dengan mengubah manusia yang belum dewasa menjadi mesin-mesin belaka."
- Karl Marx -
Jumat, 16 November 2012
Arti Sebuah Pengakuan dari UNESCO
Tahun 2012 kiranya menjadi tahun yang memberikan berkah yang
cukup melimpah bagi dunia pariwisata, konservasi alam dan kebudayaan Indonesia. Dua aset
kekayaan bangsa ini, yang kebetulan keduanya berlokasi di Pulau Bali, telah
resmi mendapat pengakuan prestisius dari Badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan dan
kebudayaan, UNESCO. Dua aset berharga itu adalah Subak, sistem pertanian
tradisional Bali yang resmi ditetapkan UNESCO
World Heritage pada akhir bulan Juni dan Kaldera Gunung Batur yang masuk
dalam Global Geopark Network atau
Jaringan Taman Bumi Global (internasional).
Diakuinya dua warisan tersebut memang patut
diapresiasi. Subak, sebuah sistem pertanian khas Bali, mempunyai nilai
filosofis tersendiri. Subak merupakan
perwujudan dari Tri Hita Karana. Situs
Wikipedia menjelaskan bahwa Tri Hita Karana berarti “Tiga Penyebab Terjadinya
Kebahagiaan”, yaitu Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Alam Lingkungannya dan
Manusia dengan sesamanya. Pengakuan terhadap subak semakin berarti karena
lanskap budaya ini telah diperjuangkan selama 12 tahun ke UNESCO demi
mendapatkan pengakuan resmi sebagai warisan dunia.
Setali tiga uang dengan Subak, ditetapkannya Kaldera Gunung
Batur sebagai Global Geopark mempunyai makna
tersendiri karena telah menjadi Global Geopark pertama di Indonesia dan kedua di Asia
Tenggara, setelah Pulau Langkawi di Malaysia memperoleh pengakuan serupa tahun
2007 silam. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud Geopark atau Taman Bumi adalah
kawasan atau situs warisan geologi yang mempunyai nilai ekologi dan warisan
budaya dan berfungsi sebagai daerah konservasi, edukasi dan pembangunan berkelanjutan (http://www.globalgeopark.org).
Sebetulnya di Indonesia terdapat cukup banyak situs dan kawasan yang
berpotensi menjadi Geopark. Setelah sukses Gunung Batur, rencananya Indonesia
akan mengajukan Danau Toba, Pulau Wayag di Raja Ampat (Papua), Situs Merangin
(Jambi), Gunung Rinjani (NTB) dan Karst Pegunungan Sewu (DIY - Jawa Tengah – Jawa Timur)
untuk tujuan yang sama.
Recognition yang
diberikan oleh Badan UNESCO terhadap situs-situs yang mempunyai nilai tertentu
memang menjadi sebuah pencapaian yang istimewa. Dengan mendapatkan pengakuan
tersebut, automatically akan menambah
daya tarik tersendiri bagi situs atau kawasan yang bersangkutan, khususnya untuk
pariwisata guna menjaring lebih banyak turis. Semakin padat dikunjungi, maka
semakin makmurlah tempat yang bersangkutan. Namun upaya Indonesia untuk
menambah koleksi World Heritage-nya tampak tidak mudah, terutama untuk situs
dengan fitur tertentu seperti kawasan karst atau batu kapur.
Di Indonesia terdapat banyak kawasan karst yang mempunyai
daya tarik tersendiri berupa keindahan bukit-bukit kapur, gua-gua alam dan
kekayaan biodiversitas serta berfungsi sebagai penampung air alami. Bahkan kawasan
karst di Maros-Pangkep (Sulawesi Selatan) adalah yang terluas nomor dua di
dunia setelah Karst di Cina Selatan (http://tanahair.kompas.com). Begitu pula kawasan karst Pegunungan Sewu yang
membentang 3 kabupaten di 3 provinsi. Kawasan inilah yang
menjadi salah satu calon geopark baru Indonesia yang hendak diajukan ke UNESCO.
Akan tetapi impian untuk menjadikan Pegunungan Sewu sebagai
Geopark mendapatkan ganjalan yang cukup serius. seperti yang dijelaskan
sebelumnya, kawasan ini membentang di 3 kabupaten. Salah satu kabupaten yang
dilalui pegunungan ini, secara serius memperjuangkan agar diajukan ke UNESCO
sebagai Geopark.[1]
Alasannya karena untuk mengembangkan sektor pariwisata yang memang merupakan
salah satu pilar perekonomian kabupaten tersebut serta melindungi warisan alam
yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat daerah setempat. Akan tetapi di
saat yang hampir bersamaan, kabupaten tetangganya justru memiliki rencana yang
kontradiktif. Mereka (kabupaten tetangga tadi) ditetapkan sebagai salah satu pusat perekonomian
terkemuka di Southern Jawa Tengah.[2]
Memang tidak ada yang salah dengan visi tersebut. Namun keadaan memburuk ketika salah satu industri yang hendak dikembangkan daerah
tersebut adalah industri semen yang notabene berbahan baku batu gamping yang terkandung
dalam bukit-bukit dan gua kapur yang banyak terdapat di pegunungan sewu.[3]
Kegiatan eksploitasi batu kapur ini tentu saja mengancam kelestarian karst
Pegunungan Sewu. Padahal kawasan ini hendak diajukan ke UNESCO yang kriteria
penilaiannya tentu tidak bisa terlepas dari keutuhan dan kelestarian situs yang
bersangkutan. So, bagaimana bisa berharap Pegunungan Sewu mendapat pengakuan
UNESCO jika belum diajukan saja sudah timbul polemik yang mengancam
kelestariannya…
Sejauh ini Indonesia tercatat memiliki 8 situs warisan dunia UNESCO yang terdiri dari 4 kategori alam dan 4 kategori budaya (http://whc.unesco.org) plus satu global geopark. Itu belum termasuk Intangible World Heritages seperti batik, wayang, keris, dan sebagainya. Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana peran UNESCO dalam menjaga warisan dunianya? Apakah UNESCO betul-betul berkontribusi dalam upaya menjaga kelestarian warisannya? Apabila kita memeriksa daftar warisan dunia di situs resmi UNESCO, ada beberapa situs yang diberi tanda merah yang artinya sedang terancam kelestariannya. Bahkan ada pula beberapa yang dicoret. Dan yang memprihatinkan adalah, hutan hujan tropis sumatera (tropical rainforest heritage of Sumatera) termasuk salah satu warisan dunia yang diberi tanda merah (satu-satunya di Asia Tenggara yang bertanda merah!).
Siapa yang memberikan tanda merah dan bahkan mencoret situs dari daftar warisan dunia? Tentu saja pihak yang sama ketika situs yang bersangkutan ditetapkan menjadi World Heritage. Hal ini menunjukkan bahwa situs tersebut gagal dijaga eksistensinya. So, berarti UNESCO menetapkan sebuah situs sebagai warisan dunia, tapi ketika eksistensi situs tersebut terancam serius kelestariannya, UNESCO lalu memberinya tanda merah, bahkan mencoretnya. Pertanyaan besar : Ketika terjadi upaya atau kegiatan yang merusak warisan dunia, where are you UNESCO??
Guna menjawab pertanyaan tersebut, kiranya ada dua undang-undang yang berkaitan dengan warisan dunia UNESCO, yakni Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem serta Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya. Pasal 56 UU Cagar Alam berbunyi, "Setiap orang dapat berperan serta melakukan perlindungan cagar budaya." Sedangkan UU Konsevasi SDH dan Ekosistem, Pasal 37 ayat (1) dan (2) berbunyi:
(1) Peran rakyat dalam konservasi sumber daya
hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah
melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna
(2) Dalam
mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud ayat (1), Pemerintah
menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati
beserta ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan.
Bagaimanapun juga, peran negara atau daerah yang bersangkutan tetap yang utama. Tak terkecuali dalam upaya menanamkan kesadaran kepada masyarakatnya akan pentingnya warisan dunia sebagai milik bersama sehingga wajib dijaga dan menjadi tanggung jawab bersama. Berlakunya peraturan perundang-undangan yang mengatur perlindungan terhadap kawasan lindung (baik alam maupun budaya), bukan hanya sekedar formalitas berlaka, tapi hendaknya diimplementasikan sepenuhnya di lapangan termasuk pemberian sanksi tegas terhadap pelaku pelanggaran, sesuai yang telah diatur didalamnya, tanpa pandang bulu. Dan yang lebih penting lagi adalah, aparat atau otoritas yang berwenang atas perlindungan warisan-warisan tersebut hendaknya harus bersih dan berintegitas. Jangan sampai rusak atau berkurangnya nilai situs warisan dunia terjadi karena adanya 'main mata' antara aparat yang berwenang dengan oknum yang tak bertanggung jawab.
Terakhir, pentingkah pengakuan dari UNESCO? Tentu saja sangat penting. Dengan menempuh proses penilaian yang menguras sangat banyak waktu, tenaga dan pikiran, pengakuan tersebut merupakan bukti sekaligus penghargaan prestisius kepada suatu negara atas keberhasilan mereka dalam menjaga, merawat dan mempertahankan aset alam dan/atau budaya yang bernilai tinggi. Pengakuan dari UNESCO merupakan sebuah penghargaan sekaligus ‘tanda pemberian kepercayaan’ kepada negara yang bersangkutan untuk menjaga, melestarikan dan mengembangkan situs warisan dunia miliknya, agar tetap eksis dan dapat dirasakan kemanfaatannya untuk jangka panjang. World Heritage bukan hanya sekedar peninggalan masa lampau, tapi juga aset masa depan bagi generasi yang akan datang.
Rabu, 24 Oktober 2012
Sepucuk Puisi untuk sang Malaikat
Malaikat
Jibril (Archangel Gabriel) merupakan
salah satu malaikat yang termasyur diantara para malaikat lainnya. Jibril
adalah sosok yang berjasa menyampaikan wahyu langsung dari Tuhan untuk
disampaikan kepada para rasul-Nya di dunia untuk selanjutnya disebarkan kepada
umat manusia, guna dijadikan sebagai pedoman dan amalan hidup serta bekal
persiapan menuju akherat kelak.
Malaikat
Jibril juga memiliki kedudukan yang istimewa dibanding malaikat lainnya. Dialah
yang menjadi penghulu (pemimpin) dari para malaikat langit yang tak terhitung
jumlahnya. Selain itu, Jibril dikenal sebagai makhluk yang amat rupawan. Bahkan
dikisahkan ketika awal penciptaannya, Jibril begitu terpesona melihat sosok
dirinya di cermin. Ia pun bertanya kepada Sang Khaliq, “Ya Tuhan, adakah
makhluk lain yang Kau ciptakan lebih indah dari ini?” Tuhan hanya menjawab,
“Tidak.” Begitu mengetahui jawaban tersebut, dengan rasa syukur yang begitu
mendalam, Jibril bersujud kepada-Nya…
Hal itu pula
yang melatarbelakangi seorang gadis bernama Karel yang begitu terobsesi dengan sosok Jibril.
Meskipun tetap menjaga keimanannya kepada Tuhan dan para rasul-Nya, bagi Karel,
Malaikat Jibril merupakan sosok yang begitu
istimewa di hatinya. Ia mengagumi malaikat kepercayaan Tuhan itu hingga lebih
dari sekedar idola. Bahkan rasa yang ia pendam itu telah sampai pada taraf
layaknya wanita yang jatuh cinta kepada seorang pria!
Rasa
penasaran yang mendalam akan sosok Jibril yang amanah, rupawan, cerdas, berjiwa
kepemimpinan, serta loyal kepada Tuhannya-lah yang membuat Karel begitu
menginginkan momen yang mempertemukan dirinya dengan malaikat tersebut. Sering
kali di waktu lengang, ia teringat sosok malaikat yang diidolakannya. Hingga di
suatu malam yang sunyi, ia terjaga dari tidurnya, dan kembali terngiang sosok
Jibril di pikirannya. Bahkan kali ini sudah tak terbendung lagi. Karena rasa
itu begitu mengusiknya, ia memutuskan untuk melakukan hal yang sebelumnya sama sekali belum pernah dilakukannya, yakni menuangkan perasaannya itu kedalam
tulisan. Tulisan berupa puisi ungkapan yang berasal dari relung hatinya, yang
ia curahkan hanya kepada sang malaikat…
DEAR JIBRIL
Kata mereka
Sayapmu membentang dua penjuru
Kala kau kepak
Kilat tak mampu mengejarmu
Tuhan pun mengakui
Kaulah ciptaan-Nya yang terindah
Perintah dari-Nya kau jalankan
Kabar dari-Nya kau sampaikan
Perintah dari-Nya kau jalankan
Kabar dari-Nya kau sampaikan
Mandat
dari-Nya kau sematkan
Kepada
pilihan-Nya di dunia
‘Tuk menebar ajaran-Nya
‘Tuk menebar ajaran-Nya
Putih sayapmu
Perlambang kesucian dan kebijakan
Bagai langit punya panglima
Kau jalani amanah-Nya
Memimpin para abdi-Nya
Oh,
entah apa yang kuperbuat
Entah
dosakah yang hamba perbuat
Ku
hanya manusia biasa
Sama
dengan (manusia) lainnya
Hanya
mencintai
Juga ingin dicintai
Juga ingin dicintai
Tapi mengapa hanya kau!
yang mampu membuatnya…
Dan mengapa hanya dengan kau!
Ku mampu merasakannya…
Baiklah
Baiklah
Aku
sangat… sangat sadar
Penghulu para malaikat
Penghulu para malaikat
Gadis
yang terbuai obsesi
Jurang
diantara kita
Bukan
hanya lembah atau ngarai
Aku sangat… sangat sadar
Bahwa kau di langit
Sedang aku di bumi
Hidup berkutat bersama dosa
Tapi tahukah engkau
Bahwa tiap jengkal dosa kuperbuat
Tapi tahukah engkau
Bahwa tiap jengkal dosa kuperbuat
Ku
selalu mohon ampun pada-Nya
Lalu
kujalani segala perintah-Nya
Lalu
kupanjatkan doa kepada-Nya
Demi
setetes asa
Menemuimu di suatu saat…
Sekali lagi ku tuturkan
Rasa ini telah mencengkramku
Tapi bukankah cahaya
mampu menyatu dengan tanah?
Satu lagi,
Bukankah makhluk diciptakan
untuk saling mengasihi?
Bila
benar adanya
Tunjukkan
milikmu
Dengan menemuiku
Dengan menemuiku
Tanpa
perlu menunggu waktu
Karena
jika kau tak buat wujud
Hatiku
bak tersayat sembilu
Tolong, jangan begitu
Ingin sekali kupandang parasmu
Menyentuh jubah kebesaranmu
Membelai 600 sayapmu
Lalu kurasakan cahaya putihmu
Hangat merasuki tubuhku
Lalu
bawa ku terbang
Menembus
awan
Membelah angkasa
Membelah angkasa
Berdansa
diantara bintang
Serasa
dunia milik kita
Indahnya…
Itulah yang kutunggu
Dan percayalah selalu
Sejauh apapun keberadaanmu
Hati ini ‘kan selalu mendekapmu
Langganan:
Postingan (Atom)
Postingan Terbaru
Surat untuk sang Waktu
Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...



