"...jangan hanya cari jenang (materi) , tapi carilah jeneng (nama baik). Kalau kamu sudah memperloeh jeneng, maka jenang akan datang kepadamu dengan sendirinya."
- H.M. Soeharto -
Rabu, 20 Februari 2013
La Cita (6)
Minggu, 17 Februari 2013
Gajah: Antara Kopi dan Konservasi
Kopi.
Salah satu jenis minuman terpopuler di dunia, yang digemari berkat aroma dan
cita rasanya yang khas. Kabar baiknya, negeri kita Indonesia termasuk wilayah
yang paling kaya akan jenis minuman yang biasa disajikan hangat itu. Dari ujung
sumatera hingga papua, tak jarang ditemukan tanaman-tanaman kopi yang memiliki ciri
khas tersendiri kala diolah menjadi produk konsumsi. Mulai dari Kopi Gayo di Aceh, Kopi Sidikalang
dari Sumatera Utara, Kopi Jambi yang sesuai nama daerahnya, begitu pula Kopi Lampung, Kopi Jawa, Kopi Kintamani dari Bali, Kopi Lombok, Kopi Kalosi dari Sulawesi Selatan hingga
Kopi Wamena di Papua.
Ragam
alternatif produk kopi yang dihasilkan negeri ini semakin kaya dengan adanya kopi
yang diolah dari sisa hasil pencernaan makanan (feses) hewan luwak, lalu
dinamakan sesuai dengan hewan bekas pemakannya itu. Yup, tidak lain adalah kopi
luwak, raja dari segala kopi di dunia. Raja? Ya, kopi luwak sudah sejak lama
dianggap sebagai kopi termahal di dunia. Dibutuhkan lembaran uang
berkisar 100-600 US Dollar demi mendapatkan 1 kg kopi luwak.[1]
Akan
tetapi singgasana raja kopi tampak tak lagi ramah ditempati oleh kopi luwak. Bahkan
tahun 2012 lalu, posisinya telah ‘dikudeta’ oleh produk inovasi dari seorang
Kanada yang tinggal di Thailand. Dialah Blake Dinkin, investor kopi asal Kanada
yang mencetus ide menyulap ampas kopi hasil pencernaan gajah menjadi minuman
termahal di dunia.[2]
Yeah, seperti halnya kopi luwak, kopi gajah pun diolah dari biji kopi yang
sudah dimakan dan telah melalui proses pencernaan. Tapi kenapa harganya bisa
lebih tinggi dari kopi luwak (diatas 1000 US Dollar per kilogram)? Hm…sudah cukup banyak artikel yang menjelaskan alasan mengapa kopi gajah atau Black Ivory Coffee lebih mahal dari kopi luwak. Anda hanya tinggal mengetik kata kuncinya di google karena disini saya bukan cuma
membahas kopi gajah, tapi juga soal gajahnya itu sendiri.
Seperti
yang telah diutarakan sebelumnya bahwa bahan baku kopi gajah adalah biji kopi
hasil pencernaaan makanan hewan gajah. Artinya, tentu dibutuhkan
keberadaan gajah untuk menghasilkan minuman yang bernilai ekonomi tinggi itu. Bicara
soal gajah, lagi-lagi negeri kita Indonesia merupakan salah satu bagian bumi
yang beruntung karena menjadi habitat mamalia terbesar di dunia itu. Tepatnya adalah
di Pulau Sumatera. Di pulau terbesar keenam di dunia itu terdapat ribuan hewan yang masuk sub
spesies Gajah Asia, yang tersebar di beberapa titik daratannya : Gajah Sumatera. Mereka
biasa hidup dan tinggal di hutan-hutan pedalaman, utamanya di kawasan hutan
taman nasional.
Sebetulnya
Gajah Sumatera bukanlah satu-satunya jenis gajah yang hidup di Kepulauan
Nusantara. Di Kalimantan, khususnya di bagian utaranya (Sabah dan Serawak di Malaysia
dan Kabupaten Nunukan di Indonesia),[3]
diyakini masih terdapat Gajah Kalimantan meskipun keadaannya sudah amat sangat
memprihatinkan. Di pulau terbesar nomor tiga dunia, yang hutannya disebut
sebagai salah satu paru-paru dunia, populasi gajah yang tersisa di Kalimantan tinggal
20-80 ekor saja.[4]
Ancaman kepunahan tentu sudah bukan berita baru lagi.
Setali
tiga uang dengan Gajah Kalimantan, Gajah Sumatera pun demikian. Dari waktu ke
waktu, jumlah populasi Gajah Sumatera terus berkurang. Dari yang tercatat tahun
2007 sejumlah 3000-5000 ekor, kini hanya tinggal 2400-2800 ekor saja.[5]
Tak heran bila Lembaga konservasi dunia, IUCN telah menaikkan status gajah
Sumatera dari genting menjadi kritis, status yang berarti hanya setingkat
persis dibawah kepunahan. [6]
Nah,
cobalah pikirkan. Tuhan dalam tiap kali berkehendak, pastilah bukan tanpa
tujuan. Karena segala yang telah diciptakan-Nya, tentu sudah diatur sedemikian
rupa. Termasuk dalam menciptakan organisme-organisme yang hidup di bumi. Antar satu
makhluk dengan yang makhluk lain terjalin berbagai jenis simbiosis. Begitu pula
rantai makanan yang melibatkan berbagai jenis keanekaragaman hayati di muka
bumi. Hal ini membuktikan bahwa antar makhluk hidup satu dengan makhluk hidup
yang lain saling membutuhkan. Dan sadar maupun tidak sadar, manusia pun
terlibat dalam semua itu. Apabila salah satu pihak atau makhluk hidup yang
menyangga kehidupan hilang atau musnah, hal itu sangat mempengaruhi keseimbangan
ekosistem keberlangsungan hubungan hidup antar makhluk tadi. Dan jika keseimbangan
ekosistem telah rusak, cepat atau lambat akan memberi dampak terhadap
kehidupan makhluk atau spesies didalamnya.
Keberlangsungan sistem penyangga kehidupan pun telah diatur dalam hukum positif negeri ini. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, bunyi pasal 6 dan 7 menyatakan sebagai berikut :
Keberlangsungan sistem penyangga kehidupan pun telah diatur dalam hukum positif negeri ini. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, bunyi pasal 6 dan 7 menyatakan sebagai berikut :
Pasal 6
Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan non hayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk.
Pasal 7
Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.Begitu pula yang terjadi dengan Gajah di Indonesia. Seandainya –tapi jangan sampai terjadi- gajah itu punah, cepat atau lambat dampaknya pasti terasa -termasuk oleh manusia- sebagai akibat rusaknya keseimbangan ekosistem. Oleh karena itulah dibutuhkan upaya atau terobosan inovatif guna melindungi gajah dari kepunahan. Disinilah kita kembali lagi ke Black Ivory Coffee. Apa hubungannya? Jelas ada. Tidak ada salahnya bila Indonesia mencoba mengembangkan kopi mahal itu di negerinya.
Saya
rasa Sumatera adalah lokasi yang tepat untuk mencobanya. Alasannya, jelas di
Sumatera sudah ada gajah. Kedua, sebagaimana telah dipaparkan di awal, ada
banyak jenis kopi di daerah-daerah Sumatera yang mengindikasikan bahwa pulau
ini penghasil kopi. Ketiga, Sumatera punya sejumlah daerah wisata yang menjadi tujuan turis domestik maupun mancanegara. Faktor ini turut mendukung mengingat segmen pasar minuman mahal macam kopi luwak dan gajah adalah pelancong (selain ekspor). Selanjutnya, try doing.
Berbekal tiga fakta tadi, saya rasa Kopi Gajah adalah masuk akal untuk coba
dikembangkan di Sumatera. Dan bila berhasil, manfaat besar akan segera dipetik darinya.
Dengan
dikembangkannya Kopi Gajah di Sumatera, dengan memanfaatkan Gajah Sumatera,
eksistensi hewan tersebut akan lebih dihargai sehingga dapat lebih terlindungi
dari ancaman kepunahan yang kian mencengkeram. Selain itu, keuntungan langsung
bagi manusianya, inovasi ini dapat memberikan nilai tambah tersendiri (added value) untuk hasil perkebunan kopi
petani setempat sehingga dapat berkontribusi pula terhadap peningkatan
penghasilan para petani kopi yang terlibat. So, mana yang mau dipilih : Kopi
Gajah sebagai kompetitor kopi luwak belaka, atau sebagai pemberi inspirasi dalam upaya
melindungi aset kekayaan hayati dan meningkatkan nilai jual hasil perkebunan
kopi.
[1]
http://female.kompas.com/read/2012/10/22/15595276/Kopi.Gajah.Saingan.Baru.Kopi.Luwak
[2]
http://www.tempo.co/read/news/2012/12/08/121446731/Ini-Sebab-Kopi-Gajah-Lebih-Mahal-daripada-Kopi-Luwak
[3]
http://ms.wikipedia.org/wiki/Gajah_Borneo
[4]
http://www.wwf.or.id/?27120/Satgas-Konflik-Gajah-Kalimantan-Perlu-Dukungan-Atasi-Konflik-Gajah-dan-Manusia
[5]
http://www.antaranews.com/berita/320193/status-gajah-sumatera-kritis
Selasa, 29 Januari 2013
Kumpulan Pantun dari Situs Melayu Online (Part II)
Untuk kali kedua saya mengumpulkan pantun melayu yang biasa di-publish situs http://melayuonline.com/ind untuk dijadikan postingan. Berikut kumpulan pantun melayu edisi tanggal 23-29 Januari 2013 (minus tanggal 25), yang berisi petuah-petuah bijak dan semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Enjoy...
Wahai ananda dengarlah
pesan
Bersangka baik sesame
insan
Berburuk sangka engkau
jauhkan
Supaya hidupmu
diberkahi Tuhan
Wahai
ananda kekasih ibu
Mengaku
salah janganlah malu
Memaafkan
orang jangan menunggu
Hati
pemurah menjauhkan seteru
Wahai ananda dengarlah
manat
Bersyukurlah engkau
beroleh nikmat
Karunia Allah wajib
diingat
Supaya hidupmu beroleh
nikmat
Kalau
hendak mencari bekal
Bersihkan
hati sempurnakan akal
Harta
dicari pada yang halal
Mana
yang haram wajib ditinggal
Wahai ananda tambatan
hati
Ingatlah pesan ayahmu
ini
Berlaku adil engkau
taati
Berlaku benar engkau
ikuti
Wahai
ananda luruskan hati
Menolong
jangan minta dipuji
Pendapat
orang kita hormati
Petuah
amanah kita turuti
Jumat, 04 Januari 2013
La Cita (5)
"If someone insults you, take it as a compliment that they spend so much time thinking about you, when you don't even give a second thinking about them."
- B.J. Habibie -
Kamis, 13 Desember 2012
Happy Birthday Miss Taylor...
Setelah membuat postingan special tentang pesohor favorit Agustus
lalu, bulan Desember ini saya kembali menulis postingan special hari ulang
tahun penyanyi favorit saya dan juga banyak orang di dunia. Tokoh
satu ini merayakan hari jadinya yang ke-23, tepat pada tanggal dipostingkannya
artikel ini, 13 Desember 2012. Siapakah dia? Seorang diva, muda usia dan penuh
prestasi, bahkan diyakini sebagai penyanyi wanita tersukses di dunia saat ini. Here she is… The princess country :
Taylor Swift.
Taylor Alison Swift atau lebih dikenal dengan nama Taylor
Swift, lahir di Readling, Pennsylvania (AS) pada tanggal 13 Desember 1989. Ia
terlahir dari pasangan Scott Kingsley Swift dan Andrea Gardnera. Ayahnya (Scott
Swift) bekerja di perusahaan financial sedangkan ibunya adalah seorang ibu
rumah tangga. Swift punya adik laki-laki bernama Austin dan mereka sekeluarga tinggal di Pennsylvania (negara bagian pesisir timur AS)
sebelum hijrah ke Nashville, Tennessee (bagian tenggara AS), ketika Swift menginjak usia 14 tahun.
Source : http://www.examiner.com
|
Dapat dikatakan bahwa dara berambut pirang itu merupakan
penyanyi wanita tersukses sepanjang sejarah musik modern saat ini. Terdengar
berlebihan? Sederet fakta dan penghargaan menjadi alasan. Sepanjang karirnya ia
telah mengoleksi 6 penghargaan (untuk berbagai kategori/nominasi) Grammy Awards, 6 gelar Academy of Country Music Awards, 11
trofi American Music Awards, satu
titel BenBoard Music Awards, 7 piala Country Music Association Awards, satu achievement dari The Hal David Starlight Award (reward
tahunan untuk song-writer), 4
penghargaan Billboard Music Awards, 1
gelar MTV Music Award, 11 gelar Billboard Year End Chart, 14 titel BMI Awards, 6 penghargaan CMT Music Awards, 3 titel People’s Choice Awards, 17 gelar Teen
Choice Awards dan masih banyak lagi… (sampai capek yang ngetik :P).
Bukan hanya itu saja, kesuksesan Taylor Swift makin nyata
setelah tiga kali berturut-turut albumnya menjadi worldwide top-selling. Dimulai dari album keduanya bertajuk Fearless (2008), yang menjadi the first album to sell one million copies
in 2009. Ketika pertama dirilis, album Fearless langsung terjual 592.000
kopi dalam seminggu sehingga mendapat sertifikat platinum 6 kali dari Recording
Industry Association of America (RIAA). What
a fantastic…
Kesuksesan terus berlanjut ke album ketiganya bertajuk Speak Now (2010). Kesuksesan album ini ternyata melebihi album sebelumnya. Dalam tempo seminggu pasca rilis, album Speak Now terjual 1.047.000 keping! Tidak heranlah jika album ini mendapat tanggapan positif dari para kritikus music. Hingga September 2011, album Speak Now telah laku lebih dari 5 juta kopi di seluruh dunia sehingga mendapat sertifikasi (lagi) Quadruple Platinum dari RIAA.
Dan di album keempatnya yang baru dirilis 22 Oktober 2012 lalu, lagi-lagi rekor baru ia pecahkan. Dalam tempo sehari setelah resmi dirilis, album bertajuk Red itu langsung terjual 500 ribu keeping! Sebagai gambaran, single perdana album Red yang berjudul We Are Never Ever Getting Back Together saja sudah memimpin ITunes Charts dan sold 623.000 kopi dalam seminggu sekaligus mencetak rekor sebagai lagu yang paling sering diunduh sejak 2009. Selain album, ada pula single-nya yang menjadi yang laku di pasar berkat menjadi soundtrack sebuah film. Today was a Fairytale, OST film Valentine’s Day terjual 325.000, lagi-lagi dalam kurun 7 hari. Deretan prestasi yang rasanya sulit ditandingi penyanyi lain. Great job…
Bakat Swift di bidang seni memang sudah terlihat sejak usia yang terbilang sangat dini. Ketika usia 3 tahun, ia sudah berani tampil menghibur wisatawan dalam sebuah acara dengan menyanyikan lagu “I just can’t to be wait to be King” yang mejadi OST Film Lion King yang tengah naik daun kala itu. Talentanya pun terus berlanjut di usia 9 tahun, tatkala tampil sebagai juara kontes membaca puisi tingkat nasional. Kala itu ia membacakan puisi karangannya sendiri berjudul “Monster in My Closet” setebal 3 halaman.
Kesuksesan terus berlanjut ke album ketiganya bertajuk Speak Now (2010). Kesuksesan album ini ternyata melebihi album sebelumnya. Dalam tempo seminggu pasca rilis, album Speak Now terjual 1.047.000 keping! Tidak heranlah jika album ini mendapat tanggapan positif dari para kritikus music. Hingga September 2011, album Speak Now telah laku lebih dari 5 juta kopi di seluruh dunia sehingga mendapat sertifikasi (lagi) Quadruple Platinum dari RIAA.
Dan di album keempatnya yang baru dirilis 22 Oktober 2012 lalu, lagi-lagi rekor baru ia pecahkan. Dalam tempo sehari setelah resmi dirilis, album bertajuk Red itu langsung terjual 500 ribu keeping! Sebagai gambaran, single perdana album Red yang berjudul We Are Never Ever Getting Back Together saja sudah memimpin ITunes Charts dan sold 623.000 kopi dalam seminggu sekaligus mencetak rekor sebagai lagu yang paling sering diunduh sejak 2009. Selain album, ada pula single-nya yang menjadi yang laku di pasar berkat menjadi soundtrack sebuah film. Today was a Fairytale, OST film Valentine’s Day terjual 325.000, lagi-lagi dalam kurun 7 hari. Deretan prestasi yang rasanya sulit ditandingi penyanyi lain. Great job…
Bakat Swift di bidang seni memang sudah terlihat sejak usia yang terbilang sangat dini. Ketika usia 3 tahun, ia sudah berani tampil menghibur wisatawan dalam sebuah acara dengan menyanyikan lagu “I just can’t to be wait to be King” yang mejadi OST Film Lion King yang tengah naik daun kala itu. Talentanya pun terus berlanjut di usia 9 tahun, tatkala tampil sebagai juara kontes membaca puisi tingkat nasional. Kala itu ia membacakan puisi karangannya sendiri berjudul “Monster in My Closet” setebal 3 halaman.
Namun bakatnya di bidang musik baru mulai serius diasah
ketika umur 10 tahun. Menurut situs Wikipedia, adalah seorang tukang reparasi
computer, yang mengajari Swift kecil memainkan 3 akord gitar yang akhirnya
mendorong minatnya untuk mempelajari instrument tersebut. Taylor Swift pun
menulis lagu pertamanya berjudul “Lucky
You” yang ia buat tak lama setelah lancar belajar gitar. Dan ketika libur
musim panas tiba, ia memanfaatkannya untuk menulis novel. Musik dan sastra.
Menyanyi, memainkan musik, serta menulis syair dan cerita. Itulah sederet bakat
seorang Taylor Swift kecil…
Ungkapan “sedekah melapangkan rejeki” kiranya memang terbukti benar. Sosok Taylor Swift adalah salah satu contoh yang dapat kita lihat. Hidup dalam lautan kesuksesan dan ketenaran tidak lantas mengikis sisi humanis penyanyi yang mendapat standing ovation saat perform di Grammy Award 2012 itu. Hal ini terbukti dengan seringnya ia mendonasikan sebagian uangnya untuk berbagai kegiatan amal, baik untuk pendidikan, anak-anak penderita penyakit, hingga korban bencana alam. Bahkan pada Bulan Maret 2012 lalu ia mendapat penghargaan istimewa dari Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, berkat donasinya terhadap korban banjir dan tornado di negaranya. Ia dianugerahi “The Big Help”, sebuah reward untuk seseorang atau pihak yang berkontribusi di bidang kemanusiaan. Selang empat bulan kemudian (Juli 2012), Swift dinobatkan oleh Majalah Forbes sebagai artis muda terkaya nomor 1 di Amerika Serikat dengan total kekayaan 57 juta US Dollar, menggeser Justin Bieber yang di urutan kedua. Beautifully done...
Namun diantara sederet kisah manis yang menghiasi perjalanan hidup Swift, ternyata juga terselip pengalaman pahit yang mungkin tidak ia lupakan seumur hidupnya. Pengalaman tersebut adalah peristiwa yang terjadi di Malam Anugerah MTV Music Award 2009, dimana video klip lagunya yang berjudul You Belong With Me mendapat gelar Best Female Video. Ketika namanya dipanggil, lantas ia maju ke panggung untuk menerima trophy dan berkomentar singkat atas keberhasilannya. Namun ketika telah menerima piala dan hendak berkomentar, tiba-tiba penyanyi rap Kanye West naik ke panggung, mengarah ke Taylor Swift dan merebut mikrofon dari tangan Swift yang hendak berbicara. Kanye West menginterupsi penyerahan trofi tersebut dan secara blak-blakan mengatakan bahwa lagu Taylor Swift tidak layak menyabet nominasi Best Female Video dan menyebut nama penyanyi lain yang menurutnya lebih pantas mendapatkan penghargaan tersebut.
Ungkapan “sedekah melapangkan rejeki” kiranya memang terbukti benar. Sosok Taylor Swift adalah salah satu contoh yang dapat kita lihat. Hidup dalam lautan kesuksesan dan ketenaran tidak lantas mengikis sisi humanis penyanyi yang mendapat standing ovation saat perform di Grammy Award 2012 itu. Hal ini terbukti dengan seringnya ia mendonasikan sebagian uangnya untuk berbagai kegiatan amal, baik untuk pendidikan, anak-anak penderita penyakit, hingga korban bencana alam. Bahkan pada Bulan Maret 2012 lalu ia mendapat penghargaan istimewa dari Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, berkat donasinya terhadap korban banjir dan tornado di negaranya. Ia dianugerahi “The Big Help”, sebuah reward untuk seseorang atau pihak yang berkontribusi di bidang kemanusiaan. Selang empat bulan kemudian (Juli 2012), Swift dinobatkan oleh Majalah Forbes sebagai artis muda terkaya nomor 1 di Amerika Serikat dengan total kekayaan 57 juta US Dollar, menggeser Justin Bieber yang di urutan kedua. Beautifully done...
Namun diantara sederet kisah manis yang menghiasi perjalanan hidup Swift, ternyata juga terselip pengalaman pahit yang mungkin tidak ia lupakan seumur hidupnya. Pengalaman tersebut adalah peristiwa yang terjadi di Malam Anugerah MTV Music Award 2009, dimana video klip lagunya yang berjudul You Belong With Me mendapat gelar Best Female Video. Ketika namanya dipanggil, lantas ia maju ke panggung untuk menerima trophy dan berkomentar singkat atas keberhasilannya. Namun ketika telah menerima piala dan hendak berkomentar, tiba-tiba penyanyi rap Kanye West naik ke panggung, mengarah ke Taylor Swift dan merebut mikrofon dari tangan Swift yang hendak berbicara. Kanye West menginterupsi penyerahan trofi tersebut dan secara blak-blakan mengatakan bahwa lagu Taylor Swift tidak layak menyabet nominasi Best Female Video dan menyebut nama penyanyi lain yang menurutnya lebih pantas mendapatkan penghargaan tersebut.
![]() |
Source : http://favoritemusiconline.com
|
Yup, just the way Taylor Swift is. Ia memang
sering menuangkan perasaannya (curhat) melalui lagu. Banyak diantara lagunya
yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya, tak terkecuali yang berkaitan
dengan percintaan. Ia pun tidak jarang menyanyikan lagu yang mengisahkan
tentang mantan-mantan pacarnya . Selain itu, Swift juga tergolong pribadi
dengan banyak keunikan. Ia mengaku suka dengan angka 13 (tanggal kelahirannya),
angka yang menurut sebagian orang barat dianggap sebagai simbol kesialan. Dalam
tiap aksi panggungnya sering dimeriahkan dengan aksi teatrikal para penari
latarnya yang tampak unik dan kocak sehingga menjadi hiburan tersendiri. Dalam situs resminya (http://taylorswift.com/), ia juga mengaku suka berimajinasi tentang romansa kehidupan ratusan tahun yang lalu. Lagu Love Story dan Long Live adalah contoh buah "imajinasi liar"-nya. Keistimewaan lainnya adalah genre musik
yang diusungnya, yakni musik country.
Bisa dibilang cukup jarang generasi muda yang berminat dengan musik tersebut,
tapi Taylor Swift justru melesat karirnya berkat genre satu ini.
Humanis, bertalenta dan inspiratif. Tiga sifat itu memang
layak disematkan ke cewek yang juga terlibat promo produk parfum bermerk "Wonderstruck Enchanted" ini, bersamaan promo album Red. Pernah ia ditanya mengenai resiko public figure menghadapi banyak godaan yang berpotensi menjerumuskan, Swift menjawab : "Saya pikir itu semua bermuara kepada siapa anda mengelilingi diri anda dan seberapa kuat moral anda. Sebelum saya membuat keputusan, saya berhenti dan berpikir tentang gadis berusia 10 tahun yang saya lihat semalam di konser saya di barisan depan. Saya berpikir tentang ibunya, saya berpikir bagaimana mereka membeli CD, berpikir bahwa saya adalah panutan yang baik. Lalu saya berpikir tentang apa yang akan mereka rasakan jika saya melakukan sesuatu yang mengecewakan mereka. Saya tak dapat membayangkan rasa sakit yang lebih besar ketika membuat salah seorang dari ibu mereka kecewa. Terus terang saya tidak bisa..."
Kepada penggemarnya, Swift juga pernah berpesan bahwa the most important things di dunia ini ada dua, yakni belajar dan persahabatan. Belajar membuat kita tahu akan banyak hal, sedangkan sahabat membuat hidup tidak terasa sepi. Lagu-lagu Swift pun banyak yang bertema cinta dan persahabatan. Hebatnya, pada album Speak Now, seluruh lagunya ditulis oleh Taylor Swift seorang diri tanpa bantuan co-writer. Wow…
Kepada penggemarnya, Swift juga pernah berpesan bahwa the most important things di dunia ini ada dua, yakni belajar dan persahabatan. Belajar membuat kita tahu akan banyak hal, sedangkan sahabat membuat hidup tidak terasa sepi. Lagu-lagu Swift pun banyak yang bertema cinta dan persahabatan. Hebatnya, pada album Speak Now, seluruh lagunya ditulis oleh Taylor Swift seorang diri tanpa bantuan co-writer. Wow…
Demikian sekelumit kisah hidup Taylor Swift yang penuh warna
dan semoga dapat memberikan inspirasi bagi yang membaca. Bagi saya pribadi,
sebagai Swifties (sebutan penggemar
Taylor Swift), ia adalah penyanyi dengan suara paling lembut dan merdu yang
pernah saya dengar (Hehehe). Saya
dapat menilai bahwa semua lagunya bagus karena mengoleksi lengkap dari album
pertama sampai terbaru termasuk yang Deluxe
Edition dan Platinum Edition. Pada postingan Bulan Ferbruari 2012 tentang daftar
lagu inspiratif dan motivasional, saya memasukkan beberapa lagu Swift didalamnya. Bukan
hanya aransemen lagunya yang enak didengar, lirik-liriknya pun banyak yang unik,
imajinatif dan juga advising..
Akhir kata, happy
birthday Miss Taylor… Keep success and inspiring people…
Birth
Name : Taylor Alison Swift
Born : Readling, 13th December 1989
Born : Readling, 13th December 1989
Nationality :
American
Domicile : Nashville
Height : 1,80 meters
Occupations :
Singer, Song-Writer, Musician, Actress
Genres : Country, Pop, Country Pop, Pop Rock
Instruments :
Guitar, Banjo Guitar, Ukulele, Piano
Labels : Big Machine
Musical Influence : Shania Twain, Tim McGraw, LeAnn Rimes, Tina Turner, Dolly Parton,
Her Own Grandma
Musical Influence : Shania Twain, Tim McGraw, LeAnn Rimes, Tina Turner, Dolly Parton,
Her Own Grandma
Number : 13
Name
of Cat : Meredith
Favourite Things in Life : Writing about life (specifically concerning love)
Favourite Things in Life : Writing about life (specifically concerning love)
Favourite
TV Serial : Grey’s Anatomy, Crime
Scene Investigation (CSI)
Albums : - Taylor
Swift (Released
on October 2006)
- Fearless (November
2008)
- Speak Now (October
2010)
- Red (October 2012)
Appearance : - Crime
Scene Investigation (CSI) (2009)
- Valentine’s
Day (2010)
- The Lorax (2012)
Bonus Video
Bonus Video
Kamis, 06 Desember 2012
La Cita (4)
"Dengan memahami persoalan, maka separuh dari persoalan telah teratasi."
- Munawar Fuad -
Minggu, 02 Desember 2012
Mentalitas : Musuh Terbesar Pemain Timnas (?)
Ø Final Tiger Cup 2002, Indonesia vs
Thailand. Indonesia digadang-gadang bakal meraih title perdananya di ajang sepakbola tertinggi se-Asia Tenggara. Bermain
di kandang sendiri plus statistik yang mengarahkan Indonesia menjadi kampiun
tahun itu, Timnas justru kalah lewat drama adu penalty setelah hanya bermain
imbang 2-2 di waktu normal.
Ø Fase penyisihan grup sepakbola SEA
Games Hanoi 2003. Indonesia dituntut wajib menang di matchday terakhir penyisihan grup untuk lolos ke semifinal. Bonus sejumlah
uang pun dijanjikan guna menambah motivasi pemain Timnas U-23. Tapi hasilnya? Lagi-lagi
Thailand menjadi nightmare setelah
membantai Tim Garuda dengan setengah lusin gol tanpa balas (0-6).
Ø Final Tiger Cup 2004. Indonesia kembali
membuka asa menjadi yang terbaik se-ASEAN setelah lolos ke grand final untuk ketiga kali berturut-turut. Sungguh disayangkan, di
final Tiger Cup yang memakai sistem home-away
untuk pertama kalinya, lagi-lagi impian menjadi juara harus terkubur setelah
dipecundangi negeri mungil Singapura dengan agregat telak, 5-1.
Ø Fase penyisihan grup AFF Cup 2007. Indonesia
dituntut wajib menang untuk bisa lolos ke semifinal. Malang, Indonesia harus
mencatat sejarah untuk kali pertama gagal lolos fase grup AFF Cup sejak
diselenggarakan tahun 1996. Timnas hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan tuan
rumah Singapura dan gagal lolos karena kalah selisih gol dengan Singapura dan
Vietnam meski poin ketiga tim sama.
Ø Final AFF Cup 2010. Indonesia untuk ‘pertama
kalinya’ masuk final pasca ajang serupa tahun 2004. Namun apa mau dikata, Tim
Merah-Putih harus merelakan trofinya jatuh ke tangan negeri jiran Malaysia.
Ø Final SEA Games 2011. Indonesia, yang
diwakili Timnas U-23, untuk pertama kalinya melaju hingga final sepakbola SEA
Games setelah terakhir tahun 1997. Asa untuk mengobati dahaga gelar yang
terakhir diraih pada SEA Games 1991 pun terbuka lebar. Tapi akhirnya? Lagi-lagi
Pasukan Kebangsaan Malaysia mengubur ambisi Indonesia untuk mengakhiri ‘puasa
gelar' selama 20 tahun.
* * * *
Postingan ini saya buat hanya berselang kurang lebih dua jam
setelah pertandingan matchday terakhir
penyisihan Grup B AFF Cup 2012 antara Indonesia vs Malaysia yang berakhir 2-0
untuk kemenangan tuan rumah Malaysia. Berkat hasil tersebut, Indonesia harus
menelan pil pahit untuk kedua kalinya gagal melewati fase penyisihan grup AFF Cup setelah
mengalami hal serupa tahun 2007 silam. Harus diakui, kualitas Timnas kali ini
memang tidak sebaik sebelumnya setelah adanya dualisme organisasi yang
berlanjut ke dualisme kompetisi, dan juga berimplikasi ke dualisme Tim Nasional.
Meskipun sempat ada niatan dari ‘kubu seberang’ PSSI untuk mengizinkan
pemainnya masuk Timnas yang ‘legal’, beralasan waktu yang sudah sangat limit,
para pemain dari ‘kompetisi seberang’ pun batal bergabung.
Sejak awal pun saya tidak yakin dalam kondisi seperti sekarang Timnas mampu berprestasi di AFF. Bahkan secara objektif saya lebih menjagokan Thailand vs Singapura akan bertemu di final dan memprediksi Thailand keluar sebagai juaranya. Bukan pesimis atau tidak nasionalis, tapi relistis. Saya tetap nasionalis, tapi nasionalisme saya bukan right or wrong is my country. Seorang pecinta nasi goreng jika disuguhi nasi goreng yang kebanyakan lombok atau kurang bumbu, tentu ia tak perlu memaksakan diri menghabiskannya.
Saya pun tidak terlalu yakin apakah seandainya pemain-pemain 'kompetisi seberang' digabung dengan timnas bentukan PSSI menjadi jaminan Timnas bakal menjuarai AFF Cup tahun ini. Okelah secara individual, pemain kompetisi seberang memang lebih baik. Tapi faktanya, selama ini Timnas (level U-23 dan senior) sama sekali tidak pernah meraih gelar juara apapun di ajang sepakbola antar negara. Pertandingan matchday 3 penyisihan Grup B AFF Cup 2012 memang menjadi laga ‘hidup-mati’ bagi Timnas untuk lolos ke semifinal. Tapi seperti yang telah diketahui, timnas gagal melewati ujian tersebut.
Sejak awal pun saya tidak yakin dalam kondisi seperti sekarang Timnas mampu berprestasi di AFF. Bahkan secara objektif saya lebih menjagokan Thailand vs Singapura akan bertemu di final dan memprediksi Thailand keluar sebagai juaranya. Bukan pesimis atau tidak nasionalis, tapi relistis. Saya tetap nasionalis, tapi nasionalisme saya bukan right or wrong is my country. Seorang pecinta nasi goreng jika disuguhi nasi goreng yang kebanyakan lombok atau kurang bumbu, tentu ia tak perlu memaksakan diri menghabiskannya.
Saya pun tidak terlalu yakin apakah seandainya pemain-pemain 'kompetisi seberang' digabung dengan timnas bentukan PSSI menjadi jaminan Timnas bakal menjuarai AFF Cup tahun ini. Okelah secara individual, pemain kompetisi seberang memang lebih baik. Tapi faktanya, selama ini Timnas (level U-23 dan senior) sama sekali tidak pernah meraih gelar juara apapun di ajang sepakbola antar negara. Pertandingan matchday 3 penyisihan Grup B AFF Cup 2012 memang menjadi laga ‘hidup-mati’ bagi Timnas untuk lolos ke semifinal. Tapi seperti yang telah diketahui, timnas gagal melewati ujian tersebut.
Kejadian itu bukan pertama kalinya dialami Timnas Indonesia. Bahkan
hampir di setiap partai-partai krusial yang dihadapi Timnas di berbagai ajang,
dimana pada partai tersebut Timnas dituntut wajib menang untuk menyelamatkan
nasibnya, mereka selalu menuai kegagalan. Dan yang lebih mengherankan lagi,
melawan tim-tim yang secara tradisi timnas selalu mudah mengalahkannya, tapi
jika dilangsungkan dalam sebuah partai krusial atau laga hidup-mati, timnas
selalu gagal menang.
Salah satunya saat Final Hassanal Bolkiah 2012 lalu yang
melibatkan Timnas U-22. Di partai final, timnas ‘hanya’ menghadapi tim lemah
yang sering menjadi lumbung gol di level ASEAN : Brunei Darussalam. Meskipun berstatus
tuan rumah, di atas kertas mereka tetap jauh dibawah kita. Tapi faktanya? Di
babak final, Timnas U-22 dipaksa tunduk 0-2 dan gagal menjadi yang terbaik. Mau
bukti lagi? Di turnamen Grand Royal Challenge
yang diselenggarakan di Myanmar 2008 silam, Indonesia berhasil melaju hingga
final. Tapi akhirnya? Di babak akhir turnamen, Indonesia takluk dengan tim yang
pada ajang berbeda mereka bantai 4-0, Myanmar.
Saya mengamati Timnas Indonesia sejak 2001 dan selalu heran
apa sebetulnya yang menyebabkan Indonesia sulit juara. Faktor teknis? Secara
individual, untuk level ASEAN Indonesia masuk kelas atas. Faktor pelatih?
Kurang setuju juga. Peter Withe, pelatih berkebangsaan Inggris yang melatih
timnas 2004-2007 adalah sosok yang berjasa membawa Thailand juara ASEAN dua
kali berturut tahun 2000 dan 2002. Peter Withe dikenal sebagai pelatih yang
bukan hanya mahir meracik strategi, tapi juga pintar dalam memotivasi pemain. Tapi
faktanya, meskipun sukses bersama Thailand, ia harus menelan pil pahit selama
tiga tahun melatih Tim Garuda tanpa menghasil gelar juara apapun. So, what’s the trouble?
Saya melihat faktor penyebab terjadinya rentetan kegagalan
yang dialami Timnas, bukan karena kualitas teknis, bukan pula faktor
kepelatihan. Lalu apa penyebab utamanya?
The trouble is mentality. Dalam beberapa kali partai super penting yang
melibatkan Timnas, secara teknis seharusnya mereka bisa mengatasinya. Tapi sebagus-bagusnya
pemain, jika mental mereka tidak siap, maka useless-lah
kemampuan yang mereka miliki. Seperti saya sampaikan tadi, melawan tim sekelas Brunei
dalam ‘suasana Final’ pun membuat timnas kehilangan taji.
Faktor mental memang harus segera diperbaiki jika Timnas
ingin berprestasi. Dan untuk membentuk mental juara, diperlukan waktu yang
panjang. Untuk itulah sangat diperlukan kompetisi berjenjang di usia dini, yang
diselenggarakan secara kontinyu dan profesional. Seperti yang pernah saya
singgung dalam postingan sebelumnya (baca : Menyemai
Benih, Meretas Asa edisi Juni 2012.), kompetisi usia dini dengan format Liga (bukan
turnamen piala yang sering dijumpai selama ini), yang diselenggarakan secara berjenjang urut berdasarkan
kelompok umur, serta diadakan secara kontinyu (rutin setiap tahun) dan dikelola
secara profesional. Saya percaya konsep tersebut bukan hanya akan menghasilkan
pemain berteknik bagus, tapi juga bermental juara. Karena melalui sistem Liga
dengan kompetisi penuh (dua putaran, home-away,
pakai klasemen), pemain dibiasakan untuk bersaing dan menjaga konsistensi
permainan sepanjang kompetisi berlangsung, untuk mengejar gelar juara. Dari
sinilah tertanam mental kompetitif dalam pribadi masing-masing pemain yang kemudian
tumbuh menjadi mental juara.
Kita semua tentu berharap gelar medali
emas sepak bola SEA Games 1991 bukan menjadi gelar terakhir bagi Tim Nasional
Indonesia. Karena biar bagaimanapun sepakbola merupakan olahraga terpopuler di dunia
dan juga negeri ini. Prestasi Timnas tentu akan memberikan rasa bangga tersendiri
bagi masyarakat khususnya pecinta sepakbola nasional. Demikian sekelumit tentang pandangan saya terhadap permasalahan timnas yang begitu sulit berprestasi, berikut solusinya yang saya harap bisa diterima dan diterapkan oleh pihak yang berwenang atas sepakbola Indonesia, khususnya dalam hal ini PSSI.
Langganan:
Postingan (Atom)
Postingan Terbaru
Surat untuk sang Waktu
Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...

