Selasa, 14 April 2015

Sepenggal cerita inspiratif (4)

Dr. Arun Gandhi, cucu mendiang Mahatma Gandhi bercerita :

Pada masa kecil ia pernah berbohong kepada ayahnya. Saat itu ia terlambat menjemput ayahnya dengan alasan mobilnya belum selesai diperbaiki, padahal sesungguhnya mobil telah selesai diperbaiki hanya saja ia terlalu asyik menonton bioskop sehingga lupa akan janjinya.

Tanpa sepengetahuannya, sang ayah sudah menelpon bengkel lebih dulu sehingga sang ayah tahu ia berbohong.

Lalu wajah ayah tertunduk sedih; sambil menatap Arun sang ayah berkata :
"Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dαlαm mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak punya keberanian utk berbicara jujur kepada ayah.

Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki; sambil merenungkan di mana letak kesalahannya"
Dr. Arun berkata :
Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun.

Seandainya saja saat itu ayah menghukum saya, mungkin saya akan menderita atas hukuman itu, dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya. Tapi dengan tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah, meski tanpa kekerasan, justru memiliki kekuatan luar biasa utk mengubah diri saya sepenuhnya.

Mari kita membiasakan diri untuk selalu bertanya, "Apa yang salah dari saya, mengapa anak saya bisa seperti itu....??"
Selamat menjadi orang tua yang bijak αnd Have quality time with your lovely family...

(Cerita didapat dari kiriman teman)

Jumat, 10 April 2015

Sepenggal Cerita Inspiratif (3)



Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.


Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”
Sebagian besar murid-murid menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu tau aku buta!!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!”
Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam itu menjawab. Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.
Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”
Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”
Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”
Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.
Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”
Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.
Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.
Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.
Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.
Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.
Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.
Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.
Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.
Sekian, terima kasih.
(Cerita didapat dari kiriman teman)

Rabu, 01 April 2015

La Cita (12.1.j)

"Bahkan dari ranjang saya sebagai orang sakit, bahkan jika kamu hendak menurunkan saya ke liang kubur dan saya merasa ada yang salah, saya akan bangun."                                                                                     
         - Lee Kuan Yew -


Senin, 23 Maret 2015

Sepenggal cerita inspiratif (2)


Lagi, mendapat kiriman cerita menarik dari kawan...


TENZING NORGAY

Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay (pemandu/sherpa) kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay. Berikut cuplikannya.

Reporter : "Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?"

Tenzing Norgay : "Sangat senang."

R : "Anda kan seorang Sherpa bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yg menjadi orang pertama yg menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?"

TN : "Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan Edmund Hillary untuk menjejakkan kakinya & menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia."

R : "Mengapa Anda lakukan itu?"

T N : "Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya."

Di sekitar kita, banyak sekali orang seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay. Pepatah mengatakan, "Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yg bertepuk tangan di pinggir jalan".

Di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan dan memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan.

Mereka ini cukup berbahagia dengan:
- memberikan pelayanan
- membantu orang lain mencapai impiannya

Mereka merasa cukup menjadi "orang-orang yang bertepuk tangan saja dipinggir jalan". Kadang, orang-orang seperti ini diperlakukan ibarat "telor mata sapi", yang punya telur si ayam, yang tersohor malah sapi.




Minggu, 08 Maret 2015

La Cita (12.1.i)

"Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan."
          - Ruhana Kuddus -



Sabtu, 21 Februari 2015

Meningkatkan Peran Desa dalam Menunjang Sarana Pariwisata


Angin segar tengah berhembus di dunia pariwisata nasional. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan dana promosi pariwisata sebesar Rp 1,2 Trilyun. Jumlah tersebut berarti 4x lipat lebih banyak, mengingat sebelumnya hanya dianggarkan Rp 300 Milyar per tahun untuk promosi pariwisata. Kebijakan ini masih diikuti dengan pemberian kewenangan kepada Kementerian PU-Pera untuk membangun infrastruktur penunjang pariwisata, terutama untuk aksesibiltas kawasan strategis pariwisata.[1]



Pembangunan infrastruktur memang harus dikejar mengingat sulitnya aksesibiltas sejumlah daerah wisata telah berdampak pada rendahnya daya saing pariwisata Indonesia di kancah internasional.[2] Selain itu, tak kalah penting pula ketersediaan sarana yang memadai seperti transportasi dan akomodasi bagi wisatawan.
Untuk penyediaan sarana akomodasi biasanya dilaksanakan oleh pelaku usaha. Hal ini lazim mengingat sarana akomodasi turis merupakan salah satu lahan bisnis yang menarik dari sektor pariwisata. Sebut saja Hotel dan Villa yang merupakan bisnis yang menjamur di daerah-daerah wisata. Akan tetapi masih sering pula ditemui daerah wisata yang kekurangan hotel sebagai tempat menginap wisatawan.
Hal ini justru biasa terjadi pada daerah yang perkembangan pariwisatanya pesat. Meningkatnya jumlah pelancong berbanding lurus dengan bertambahnya permintaan hotel sebagai akomodasi.[3] Memang harus diakui bahwa keberadaan hotel memegang peranan tersendiri dalam jagad turisme. Namun dalam mengatasi masalah ini, para pemangku kepentingan hendaknya lebih fleksibel dalam menanganinya.
Hotel memang diperlukan. Tetapi butuh investasi untuk mewujudkannya, terlebih untuk hotel kelas bintang. Untuk itu, diperlukan waktu untuk menyediakan lahan, menggaet investor, hingga mengurus segala perizinan yang dibutuhkan. Sembari menunggu investor yang bersedia membangun hotel di daerahnya, akan lebih baik jika Pemda setempat lebih jeli dalam memberdayakan desa atau pemukiman yang berada di kawasan wisata.
Adapun pemberdayaan yang dimaksud adalah dengan menyediakan rumah atau bangunan lain yang berfungsi sebagai tempat penginapan turis di pemukiman penduduk. Konsep yang diterapkan dapat berupa Homestay ataupun Guest House. Semua tergantung pada kondisi dan kesepakatan dengan desa yang bersangkutan.
Baik Homestay maupun Guest House, kapasitasnya memang tak akan semasif hotel. Sebagaimana telah disampaikan, konsep ini merupakan alternatif sementara bagi daerah yang kekurangan hotel dan belum punya kepastian dari investor atau pihak yang akan membangunnya. Namun yang menjadi esensi disini adalah pemberdayaaan desa atau warga setempat untuk kepentingan pariwisata, yang mana turut berkontribusi pula pada peningkatan kesejahteraan mereka.
Homestay dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga yang disinggahi rumahnya. Sedangkan Guest House (terpisah dari pemilik rumah), nantinya akan mempekerjakan warga setempat yang berarti membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal. Guest House dapat pula dikelola sebagai unit usaha berstatus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang nantinya berperan sebagai sumber pendapatan asli desa.
Jika terealisasi, maka hal ini dapat menjadi suplemen yang ideal untuk meningkatkan perekonomian desa atau warga yang bermukim di kawasan wisata. Karena pengembangan pariwisata memanfaatkan potensi lokal, sudah sepatutnya memberi kontribusi maksimal bagi kemakmuran warga lokal. Terlebih setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, yang tujuannya antara lain memajukan perekonomian masyarakat Desa dan  mengatasi kesenjangan pembangunan nasional, serta memperkuat masyarakat Desa sebagai subjek pembangunan.[4]

Jumat, 13 Februari 2015

La Cita (12.1.h)


Wejangan Alm. Bob Sadino.

"MEMBAWA SELUSIN BODYGUARD BUKAN JAMINAN KEAMANAN.TAPI, RENDAH HATI, RAMAH, DAN TIDAK MENCARI MUSUH, ITULAH KUNCI KEAMANAN.

OBAT DAN VITAMIN BUKAN JAMINAN HIDUP SEHAT. JAGA LISAN BERUCAP, 
JAGA HATI, ISTIRAHAT CUKUP, MAKANAN GIZI SEIMBANG DAN OLAH RAGA YANG TERATUR ITULAH KUNCI HIDUP SEHAT.


RUMAH MEWAH BUKAN JAMINAN KELUARGA BAHAGIA. 
SALING MENGASIHI, MENGHORMATI DAN MEMAAFKAN, ITULAH KUNCI KELUARGA BAHAGIA.

GAJI TINGGI BUKAN JAMINAN KEPUASAN HIDUP. 
BERSYUKUR, BERBAGI & SALING MENYAYANGI ITULAH KUNCI KEPUASAN HIDUP.

KAYA RAYA BUKAN JAMINAN HIDUP TERHORMAT. 
TAPI, JUJUR, SOPAN, MURAH HATI & MENGHARGAI SESAMA ITULAH KUNCI HIDUP TERHORMAT.

HIDUP BERFOYA-FOYA BUKAN JAMINAN BANYAK SAHABAT. 
TAPI,SETIA-KAWAN, BIJAKSANA,MENGHARGAI, MENERIMA TEMAN APA ADANYA, & SUKA MENOLONG ITULAH KUNCI BANYAK SAHABAT.

KOSMETIK BUKAN JAMINAN KECANTIKAN. 
TAPI, SEMANGAT, KASIH, CERIA, RAMAH & SENYUMAN ITULAH KUNCI KECANTIKAN.

SATPAM & TEMBOK RUMAH YANG KOKOH BUKAN JAMINAN HIDUP TENANG. 
HATI YANG DAMAI, KASIH & TIADA KEBENCIAN ITULAH KUNCI KETENANGAN DAN RASA AMAN.

HIDUP KITA ITU SEBAIKNYA IBARAT "BULAN MATAHARI" - DILIHAT ORANG ATAU TIDAK, IA TETAP BERSINAR. DIHARGAI ORANG ATAU TIDAK IA TETAP MENERANGI. DITERIMA KASIHI ATAU TIDAK IA TETAP 'BERBAGI'.

JIKA ANDA BILANG ANDA SUSAH BANYAK ORANG YANG LEBIH SUSAH DARI ANDA, DAN JIKA ANDA BILANG ANDA KAYA BANYAK ORANG YANG LEBIH KAYA DARI ANDA. 
DI ATAS LANGIT MSH ADA LANGIT. 


SUAMI, ISTRI, ANAK, JABATAN, HARTA ADALAH TITIPAN SEMENTARA, ITULAH KEHIDUPAN. 
PADA AKHIRNYA KESEMUA ITU YANG KITA LAKUKAN JUGA KESIA-SIAAN.


NIKMATILAH HIDUP SELAMA ANDA MASIH MEMILIKINYA & TERUS BELAJAR UNTUK BERSYUKUR DENGAN KEADAANMU!

KARENA ANDA TIDAK AKAN TAHU KAPAN SANG PEMILIK RAGA AKAN DATANG DAN MENGATAKAN PADA ANDA "INI SAATNYA PULANG!" MEMAKSA ANDA UNTUK MENINGGALKAN APAPUN YANG ANDA CINTAI DAN YANG ANDA BANGGAKAN SERTA SOMBONGKAN !"



Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...