"There are three classes of people: those who see, those who see when they are shown, and those who do not see ."- Leonardo da Vinci -
Jumat, 08 Juli 2016
La Cita (12.1.w)
Rabu, 22 Juni 2016
(Menatap) Jakarta
![]() |
| Pixabay |
Aku di kotamu, Jakarta...
Megapolitan dunia di rantau nusantara
Sebelas juta jiwa
Sebelas juta cerita
Pernah sayup terdengar dari mereka
Pesonamu cuma uang dan uang
Adakah uang-uang itu memancarkan gaya?
Gaya magnet yang menarik mereka
Untuk datang berkalang mimpi dan asa
Memenuhi kotamu yang bersimbah asam arang?
Sekalipun kau sembunyi di cerukan teluk
Tapi selat strategis tak jauh darimu
Jalur ramai kapal dari segala penjuru
Dan ceruk teluk liang sembunyimu
Justru itulah yang kapal-kapal itu buru
Sejak zaman yang sudah sangat dulu
Selepas masa Karang Antu
Berabad-abad yang telah berlalu
Orang-orang barat singgah di tanahmu
Berdagang sembari berkoloni
Bernafaskan nafsu imperialistis menggebu
Menguasai hajat seluruh pewaris sahmu
Ketika sang Pangeran terusir dari singgasana
Bersembunyi di hutan jati pinggir sungai
Lalu membangun harapannya kembali
Sembari lanjutkan ikhtiarnya yang suci?
Peristiwa epik ratusan tahun silam
Ketika laskar-laskar berpanji Mataram
Bersimbah darah bertaruh nyawa
Di medan laga Sungai Marunda?
Rela pertaruhkan itu semua
Dengan tujuan yang sama:
Membebaskan tanahmu yang mulia
Dari belenggu pasung para penjajah!
Rangkaian momen heroik putra-putri pertiwi
Sebagai martir-martir revolusi
Berjiwa gelora determinasi tak bertepi
Hingga tibalah kemerdekaan di suatu hari
Yang kemudian kita nikmati sampai hari ini
Terlena pembangunan masif merajalela
Berpacu iringi arus zaman
Episentrum ekonomi dan "seni segala kemungkinan"
Jalan-jalan menjalar hingga sudut-sudut kota
By pass, underpass, fly over, rel dan lebuh raya
Dan jangan lupa proyek-proyek ambisius menggelora
Itulah rona wajahmu kini, Durian Besar...
Tapi tak adakah yang mengingatkanmu
Bagaimana kabar sungai-sungaimu
Pesisir-pesisir pantaimu
Dimana hutan dan kebunmu yang dulu
Tidakkah kau muliakan bumimu
Serta budaya luhur pendahulu-pendahulumu?
Karena semua ihwal jati dirimu
Jati diri sebuah ibukota
Dari negara yang berbhineka, berbudaya dan berketuhanan
Maka janganlah sekali-kali kau nafikan
Kiranya semua akan mengamininya
Jadilah kau megapolitan madani dunia
Megapolitan yang humanis, asri dan berbudaya
Bukan cuma sarang hedonisme belaka
Written by: Ali-Aliyonk
Minggu, 19 Juni 2016
Agama Terbaik di Dunia?
Disadur dari: http://health.liputan6.com/read/2258491/agama-yang-paling-baik-di-dunia
Jumat, 10 Juni 2016
La Cita (12.1.v)
"Everyone just like the mosaic artwork. You can't value them by looking at only one part. You have to find the other parts by knowing them closer, by heart to heart, until you can see the full shape of its mosaic."
Rabu, 01 Juni 2016
(Penuturan) Kisah Bung Karno dibawah Pohon Sukun Pesisir Ende
Sabtu, 28 Mei 2016
Bias Rasa
Apalah gerangan kau ini
Datang tetiba bak semilir angin
Merasuk pori-pori dada dan kepala ini
Racuni hati hingga relung teresapi
Akal sehatku lumpuh serasa mati
Membias rasa dalam diri
Perasaan macam apa ini?
Semu tanpa ada nilai
Tapi konstan bergelayut dalam diri
Liarkan imaji dalam savana sepi
Tanpa dapat kumaknai sama sekali
Sengaja aku datang kemari
Cuma untuk menelisikmu seorang diri
Dan konklusi yang kini kutegasi
Rasa ini bukan cinta, tapi obsesi!
Ya, ini urusan kau dan aku
Kau yang membenturku
Dengan sosok asing itu
Tanpa alasan dan rasionalitas yang patut
Apalah salahku duhai penjaja rasa
Kau tahu, dia dan aku tak ada apa-apa
Aku tak menanam apa-apa
Tapi kau yang semai dengan lancangnya
Memaksaku bermain-main tanpa logika
Kau tautkan simpul semu dalam kalbu yang hampa
Dan inilah waktuku 'tuk balas memaksa
Menggugatmu 'tuk ungkapkan kebenaran
Kebenaran yang nyata tanpa embel-embel "semoga"
Jikalau memang garis takdir kami sama
Tunjuklah bahwa itu nyata
Tapi jika itu palsu, tunjuklah pula!
Bawalah kembali rasionalitas yang kau sita
Karena sungguh tak pernah kuhendakinya
Aku tak mau permainkan rasa
Terlalu lugu hati ini 'tuk dimainkan
Terlebih terkait masa depanku seorang
Sekali lagi ku tekankan dengan tegas
Ini soal realitas
Bukan impian kosong yang tak jelas
Menuntun inangnya dalam sesat tak berbatas
Jakarta, 28 Mei 2016
Written by: Ali-Aliyonk
Senin, 02 Mei 2016
La Cita (12.1.u)
"Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid, Guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang seorang Guru harus memberikan dorongan dan arahan."
Postingan Terbaru
Surat untuk sang Waktu
Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...
