Minggu, 10 September 2017

Bermain Kata-Kata

 
Pixabay

Sajak ialah
Untaian kata-kata
Yang menerbangkan kembali
Sayap-sayap yang patah

Ada seni di tiap diksinya
Ada cinta di tiap lariknya
Ada harmoni di tiap rimanya
Ada kharisma di tiap citranya
Juga energi di tiap majasnya

Aku bukan seniman kata-kata
Ku hanya ingin mencoba-coba
Bermain kata-kata
Maka ijinkan aku semata
'Tuk terus merangkai kata-kata
 
Jakarta, 10 September 2017
Written by: Ali-aliyonk

Jumat, 25 Agustus 2017

La Cita (12.2.d)

"Yang saya khawatirkan bukan apakah Tuhan ada di pihak kita, tapi apakah kita ada di pihak Tuhan. Karena Tuhan selalu benar."
           - Abraham Lincoln -

Selasa, 22 Agustus 2017

Ode untuk Pertiwi

 
Pixabay


Angin malam membelai memoriku
Mengingatkanku pada momen masa kecilku
Tatkala seragam putih merah membalut tubuh mungilku
Saat kali pertama ku buka sebuah buku
Berisikan peta-peta dari berbagai penjuru
Yang kudapat dari perpustakaan sekolahku

Lembaran demi lembaran halaman buku
Ku amati satu per satu
Dan di kala itu
Mulailah ku kenal wajahmu

Jamrud khatulistiwa yang elok penuh rayu
Laksana jejaka memandang gadis nan ayu
Decak kagum merangkuli pikiran polosku
Ketika buku itu menyadarkanku
Betapa unik dan eksotiknya dirimu,
Wahai negeriku...

Gugusan kepulauan di tengah khatulistiwa
Gagah membelah bumi selatan dan utara
Dengan deretan pulau-pulau raksasa 
Membentang luas lewati tiga zona masa
Dari Rondo di ujung Sumatera
Sampai Merauke di Papua
Dari Miangas di utara
Sampai selatan di Pulau Dana
Simpul-simpul kehidupan sinkretisme budaya 
Eksotisme bumi khatulistiwa...

Kiranya pesona tak sebatas rona rupa
Peradaban tuamu adalah goresan tinta emas
Yang turut mewarnai sejarah dunia
Selepas zaman nirleka

Dari semasa Salakanegara
Sriwijaya dengan Dapunta Hyang-nya
Hingga Majapahit dengan Mahapatih-nya
Pemanis-pemanis ruang nostalgia!

Hari ini
Arus waktu telah membawa kita
Hingga sampailah ke milenium ketiga
Suatu masa dimana 
Selat lautan serasa fana diantara gugusan
Cerita-cerita masa lalu, kini menjadi sejarah
Yang kata mereka ditulis oleh para pemenang

Fase ketiga peradaban besar Nusantara
Memasuki masa sapta dasawarsa 
Dimana mereka yang dulu rela berjuang
Semasa era revolusi fisik 
Awal terbentuknya republik
Wajahnya kini terpampang di lembaran uang
Uang-uang yang tak lebih dari sekedar alat inflasi
Yang terus tergerus nilai tukarnya 
Dari masa ke masa

Terlalu panjang masa lalu 'tuk dikisahkan
Dari yang kelabu hingga yang terindah
Dari yang dibanggakan
Hingga yang dikonspirasikan

Ketika Bung Besar proklamirkan kemerdekaan
Saat badai krisis mendera perekonomian
Kala "Indonesia Raya" berkumandang di pentas dunia
Saat hiruk pikuk suksesi kekuasaan 
Dari yang pertama sampai yang ketujuh kalinya

Biarlah mereka menjadi kaca benggala
Penjebar semangat 'tuk bangkit dan percaya
Bahwa habis gelap, terbitlah terang
Jadilah merdeka sampai hakekat yang terdalam
Jembatan emas menuju kemakmuran
Negeri yang indah, bangsa yang besar,
Peradaban yang paripurna
Jayalah selalu, jayalah selamanya...
Tuhan selalu bersama kita...


Jakarta, 22 Agustus 2017
Written by: Ali-aliyonk


Jumat, 26 Mei 2017

A Little Simple Note about Marriage

I don't know why many people want to get married so bad. I always think (and I bet you will agree) that the real life's goal is happiness, and marriage is even obviously not. It just one of many ways to reach the  life's goal. So, don't I want to get married? Of course I do because it's a God destiny. But the only my wish, I just want to realize it in the appropriate time. Yeah, I am pretty sure that God has set it so well because He is the only one who knows what the best things for his ummah. So, what makes us worry?
One more important thing: marriage is neither about how old we are, nor about the ability of our finance to handle it. The appearing question is when we got a job and salary enough, do we have to get married immediately? 
Marriage is not as simple as that. Sorry, I even call it as a joke. Too much rules in our life. So don't make something be more complicated where we actually should be free to play it, just because of obey the mainstream perspective.
Marriage is more about maturity. The maturity to face all life problems (after married), interpret and solve everything with the wise thought and solutions. Maybe it seems too serious. We can even say everything will be done by time. Whatever... But at least, now we can spend our bachelorette age to plan and prepare our future well, right?  Yes. Everything starts today.
Be patient, be mature, and be a good person. Cheers...
#IMHO #NoWorries


Jumat, 21 April 2017

La Cita (12.2.c)

"Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tidak pernah memberikannya, kaulah yang membiarkannya datang"
           - R.A. Kartini -

Minggu, 09 April 2017

Sajak Biduan


Pixabay

Biduan-biduan pesta
Menghibur jiwa-jiwa yang hampa
Dengan lantunan suara emasnya
Tak peduli latar belakang pemirsanya

Biduan-biduan pesta
Tampil memukau bak bintang ternama
Tak peduli dikata orang sekitarnya
Hanya profesionalitas yang ada di benaknya

Biduan-biduan pesta
Tampil ceria dengan kembangan senyumnya
Tak sedikitpun lelah terpancar darinya
Sekalipun durasi melebihi kapasitasnya

Biduan-biduan pesta
Mengadu nasib dalam tarikan nada
Mencari rizki-Nya bermodal talenta
Demi seamplop uang 
Syukur-syukur juga popularitas

Merintis karir di dunia tarik suara
Berharap naik kelas pada waktunya
Menjadi biduan yang lebih punya nama
Mahsyur dikenal kalangan segala usia

Menuju singgasana megabintang
Bergelimang harta dan pemuja
Serta ketenaran yang tak terhingga
Sampai kelak di masa tuanya


Jakarta, 9 April 2017
Written by: Ali-Aliyonk

Selasa, 28 Maret 2017

Sosok...

Dua setengah tahun telah berlalu
Setengah jalan telah kau lewati
Amanat besar 'tuk menjalankan ikhtiar
Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat

Konsistensimu tak pernah mati
Impresi populis berpadu upaya tak bertepi
Lanjutkan perjuangan para pendiri negeri
Mewujudkan peradaban yang madani

Ketidaksempurnaanmu,
adalah bukti humanismu
Tapi komitmenmu
Adalah pemantik harapan baru

Harapan lebih dari dua ratus juta jiwa
Yang telah merdeka tujuh dasawarsa lamanya
Namun masih belum jua
Menyesap nikmatnya keadilan sosial

Setengah jalan kini telah kau lewati
Rongrongan setan-setan penjajah 
Masih saja menghantui
Namun ingatlah,
Kita ada karena Tuhan merestui
Dan kau ada karena kami percaya

Jadilah engkau Amir kami yang mumpuni
Penghulu negeri yang arif mengayomi
Tegas menghadapi musuh-musuh kami
Lembut semaikan kemajuan negeri
Demi kemakmuran dan keadilan yang hakiki

Jakarta, 28 Maret 2017

Written by: Ali-Aliyonk​

Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...