Selasa, 13 Oktober 2015

Asa Mengubah Dunia (Sebuah puisi di Westminster Abbey)

Sebaris puisi terukir pada salah satu nisan di Westminster Abbey, London, Inggris. Sebuah puisi inspiratif tentang mimpi besar untuk merubah dunia. Puisi ini menginspirasi pembacanya bahwa untuk mencapai sebuah tujuan besar, maka mulailah dari hal-hal yang terkecil terlebih dahulu.
Mulai dari yang terdekat, dari yang termudah, dari yang sederhana, maka waktu akan menuntun kita menuju fase yang tertinggi. Berikut puisi yang dimaksud, beserta terjemahannya...

When I was young and free 
and my imagination had no limits,
I dreamed of changing the world

As I grew older and wiser,
I discovered the world would not change,
so I shortened my sights somewhat 

and decided to change only my country

But it too seemed immovable
As I grew into my twilight years,
in one last desperate attempt,
I settled for changing my family,
those closest to me,
but alas they would have none of it

And now as I lay on my deathbed,
I realize,
If I had only changed myself first,
then by example I might have changed my family

From their inspiration and encouragement,
I would then have been able to better my country 

And who knows,
I may have even changed the world


Terjemahan:

Ketika aku masih muda dan bebas 
Dan imajinasiku pun tanpa batas,
aku bermimpi mengubah dunia

Ketika aku bertambah tua dan bijaksana,
Aku menyadari bahwa dunia tak dapat kuubah,
Maka cita-citaku kupersempit

Dan kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku

Namun tampaknya itupun tak berhasil
Ketika usia senja mulai kujelang,
Lewat upaya terakhir yang penuh keputusasaan,
Kuputuskan untuk hanya mengubah keluargaku,
Karena mereka orang-orang yang paling dekat denganku

Namun sayangnya,
Mereka pun tak kunjung berubah
Dan sekarang, 

Ketika aku berbaring menjelang kematianku,
Tiba-tiba kusadari

Jika pertama-tama 

Yang kuubah adalah diriku sendiri,
Maka teladan yang kuberikan 
Mungkin dapat mengubah keluargaku

Dan mungkin inspirasi dan dorongan mereka 

Membuat negeriku menjadi lebih baik
Dan siapa tahu, 

Pada waktu itu aku telah mengubah dunia

(taken from the Anglican Bishop's Tomb at Westminster Abbey, 1100 AD)

Kamis, 24 September 2015

La Cita (12.1.o)

"Jagalah LBH/YLBHI, teruskan pemikiran dan perjuangan untuk masyarakat miskin dan tertindas."
 (Pesan terakhir Alm.  Adnan Buyung Nasution kepada Todung Mulya Lubis)

Senin, 21 September 2015

Siklus Sepakbola Jerman dan Italia

Sudah lama saya tidak menulis postingan tentang sepakbola, olahraga yang dulu amat saya gemari. Kali ini saya ingin membahas dua tim nasional sepakbola dari negara yang memiliki beberapa kesamaan. Kedua tim dimaksud adalah Der Panzer Jerman dan Gli Azzurri Italia. Keduanya sama-sama dari Eropa dan sama-sama pula mengoleksi gelar juara dunia 4 kali. Namun lebih dari itu, baik Jerman maupun Italia juga mempunyai statistik penampilan yang kurang lebih sama pada dua turnamen besar sepak bola, yaitu Piala Dunia FIFA dan Piala Eropa (Euro).
Statistik kedua negara tersebut pada Piala Dunia dan Euro membentuk sebuah siklus yang membuahkan hasil yang kurang lebih sama setiap 6 tahun sekali. Hanya saja, perputaran siklus keduanya terjadi di tahun-tahun yang berbeda.


Rekor penampilan Italia sejak Piala Dunia 1990
Source: Wikipedia

Okay, kita bahas yang pertama adalah Italia. Tim berjuluk Gli Azzurri ini sudah 18 kali ikut Piala Dunia sejak 1934 dan 8 kali ikut Euro sejak 1968. Apabila kita perhatikan statistic penampilan Italia pada gabungan dua turnamen tersebut, maka siklus 6 tahunan telah terjadi sejak Piala Dunia 1994. Enam tahun setelah mereka menjadi runner-up Piala Dunia 1994, Gli Azzurri kembali mencatat raihan yang sama sebagai runner-up Euro 2000.


Rekor Italia di Piala Eropa sejak 1996
Source: Wikipedia

Enam tahun berikutnya, Piala Dunia 2006 menjadi panggung Italia setelah meraih juara dunia keempat kalinya sepanjang sejarah mereka. Namun 6 tahun setelah itu, Azzurri kembali menjadi runner-up Euro 2012. Artinya, sejak Piala Dunia 1994 Italia memutari sebuah siklus 6 tahunan untuk mecapai babak final sebuah turnamen besar sepak bola.
Demikian pula Timnas Sepak Bola Jerman. Jika Italia memulai siklusnya pada Piala Dunia 1994, maka siklus Der Panzer berputar 4 tahun lebih awal, saat mereka menjuarai Piala Dunia 1990. Enam tahun kemudian, keperkasaan Jerman kembali terbukti dengan sukses merebut Trofi Euro 1996. Enam tahun berselang, Jerman kembali mencapai Final Piala Dunia 2002. Sayang, nasib waktu itu lebih memihak Brazil yang keluar sebagai juara dunia.



Rekor penampilan Jerman sejak Piala Dunia 1986
Source: Wikipedia

Berselang enam tahun berikutnya, Die Mannschaft kembali menggapai babak final. Tetapi lagi-lagi harus gigit jari setelah merelakan Trofi Euro 2008 menjadi milik Spanyol. Akan tetapi pada Piala Dunia 2014, atau 6 tahun setelah kegagalan mereka di Euro 2008, kota Rio de Janeiro (Brazil) menjadi saksi kesuksesan Jerman meraih gelar juara dunia keempat kalinya sepanjang sejarah.

Rekor Jerman di Piala Eropa sejak 1996
Source: Wikipedia
Nah, setelah menyimak siklus 6 tahunan yang dijalani Jerman dan Italia pada Euro  dan Piala Dunia, maka seharusnya Babak Final Euro 2016 tahun depan bukan diperuntukkan kepada dua tim tersebut. Karena jika skenario terus berjalan, Italia yang terakhir mancapai babak Grand Final Euro 2012 akan kembali mendapatkan grand final-nya pada Piala Dunia 2018.
Sedangkan bagi Der Panzer, tampaknya mereka harus menunggu sampai Euro 2020 untuk menggapai babak Grand Final. Lantas, apakah siklus akan terus berlanjut? Meski statistik begitu meyakinkan, absoluteness is nothing...




Senin, 17 Agustus 2015

Kemajemukan Nusantara, Warisan Abadi Bangsa (Catatan Hari Kemerdekaan)

Tahun 2015. Republik Indonesia memperingati hari jadinya yang ke-70. Sebuah usia yang terhitung tua untuk negara yang lahir pasca Perang Dunia II. Selama 70 tahun itu pula, Tuhan memberi amanat Republik ini untuk merawat dan mengelola berbagai kekayaannya, berupa potensi alam dan heterogenitas manusia-manusianya. Perlu diingat, kekekayaan-kekayaan tersebut bukanlah sesuatu yang baru untuk dimiliki republik ini. Kekayaan-kekayaan tadi merupakan warisan yang didapat dari peradaban-peradaban yang terlebih dahulu ada, jauh sebelum lahirnya republik ini.

Source: https://blogbiografi.wordpress.com/
Ya, sudah sejak dahulu kala tanah air kita memiliki potensi alam dan kemajemukan masyarakat yang sama hebatnya. Penghuni Nusantara adalah sekumpulan manusia yang beranekaragam suku, budaya, agama dan kepercayaan. Mereka hidup membaur antara satu dengan lainnya tanpa memandang perbedaan sebagai halangan, terlebih ancaman. 
Termasuk pula dalam hal ini adalah kerukunan antar umat beragama. Bangsa kita adalah bangsa yang religius. Tetapi bukan berarti negaranya berupa Negara Agama atau Teokrasi, melainkan bangsa kita adalah bangsa yang percaya akan adanya Tuhan. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan sejarah seperti bangunan Punden Berundak yang diyakini sebagai tempat pemujaan terhadap "Kekuatan Besar". Sehingga ketika agama Hindu dan Buddha dibawa masuk oleh saudagar-saudagar negeri seberang, maka dengan mudah nenek moyang kita menerimanya. 
Di zaman Kerajaan Hindu-Buddha, kerukunan antar umat beragama semakin berkembang. Hal ini terbukti dengan ditemukannya beberapa candi yang menunjukkan perpaduan dua corak agama yang dianut masyarakat kala itu, seperti Candi Batujaya di Kerawang dan Candi Jawi di Jawa Timur (https://hurahura.wordpress.com). Fakta itu kian diperkuat dengan kalimat Bhineka tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa, yang termuat dalam Kitab Kakawin Sutasoma karangan Empu Tantular, seorang pujangga era Majapahit. Adapun kalimat tersebut artinya "Berbeda-beda tapi satu jua", yang maksudnya untuk mendeskripsikan kerukunan masyarakat kala itu (http://www.sejarah-negara.com).
Sederet fakta historis telah menunjukkan bahwa kerukunan dalam kehidupan masyarakat majemuk Nusantara telah ada sejak lama. Toleransi di tengah kemajemukan merupakan suatu yang lazim di negeri ini. Hal itu pula yang berhasil "dimonumenkan" oleh Bung Karno pada era awal kemedekaan. Beliau menginisiasi pembangunan Masjid Istiqlal yang berdekatan dengan Katedral Jakarta. Tujuannya untuk dijadikan simbol kerukunan umat beragama yang saling hidup berdampingan di Republik ini. Uniknya, Masjid Istiqlal yang notabene rumah ibadah umat Islam termegah di Asia Tenggara, konstruksinya dirancang oleh seorang arsitek Nasrani bernama Frederich Silaban.

Source: http://www.crystalbae.com/travels/indonesia/

Hingga sampailah kita pada tahun ke-70 berdirinya republik ini. Sebagaimana kita ketahui, telah terjadi beberapa peristiwa yang bertentangan nilai-nilai toleransi dan berujung konflik. Tak perlu saya sebut peristiwa dan dimana saja terjadinya, yang jelas kondisi dan potensi ke arah itu memang harus dieliminasi.
Nilai-nilai kebangsaan kiranya perlu direaktualisasi dalam kehidupan masyarakat, terlebih guna mencegah konflik horizontal bernuansa SARA. Gagasan Majelis Permusyawaratan Rakyat mengenai "Sekolah Konstitusi" kiranya perlu segera ditindaklanjuti untuk direalisasikan. Sudah cukup lama sejak Orde Baru, kita tidak ada lagi penataran nilai-nilai kebangsaan semacam P4. Padahal kegiatan semacam itu memang diperlukan untuk memperkuat rasa kebangsaan dan mereduksi paham-paham radikal yang mengancam eksistensi ideologi nasional.
Sebut saja potensi konflik yang ditebar kelompok-kelompok fundamentalis  yang mengatasnamakan agama. Bergabungnya segelintir orang ke organisasi ekstrim fundamentalis adalah buah dari minimnya nasionalisme dalam diri yang bersangkutan.
Meski demikian, hal serupa juga dapat berlaku sebaliknya. Jika Nasionalisme yang ditanam tanpa "siraman" pengetahuan agama yang cukup, bisa mengarahkan kepada Sekularisme. Oleh karena itulah, perlu keseimbangan dalam memahami dua ajaran tersebut, dan Pancasila telah mengarahkan keseimbangan itu sejak lama.
Demikian sekelumit pikiran dan pendapat yang saya tuangkan dalam tulisan ini. Semoga setelah memasuki dekade yang ketujuh, republik ini semakin matang dalam berdemokrasi, semakin adil dalam penegakan hukum, semakin makmur rakyatnya, serta berdaulat dan bermartabat di mata dunia. Dirgahayu Indonesia...



Referensi:
https://hurahura.wordpress.com/2010/09/14/toleransi-beragama-di-masa-lampau/
http://www.sejarah-negara.com/2013/10/kerukunan-umat-hindu-dan-budha-masa.html
http://news.detik.com/berita/2930109/gandeng-lemhannas-mpr-ingin-buat-sekolah-konstitusi
http://www.leimena.org/id/page/v/314/indonesia-bukan-negara-agama-dan-bukan-negara-sekuler

Selasa, 11 Agustus 2015

La Cita (12.1.n)

Beberapa Kutipan dari seorang Bung Hatta


Source: wikipedia.org

"Biarlah pengalaman masa lalu kita menjadi tonggak petunjuk, dan bukan menjadi tonggak yang membelenggu kita."
"Membaca tanpa merenungkan itu bagaikan makan tanpa dicerna."
"Selama dengan buku, kalian boleh memenjarakanku dimana saja, karena dengan buku aku merasa bebas."
"Keberanian bukan berarti tidak takut, keberanian berarti menaklukkan ketakutan."
"Betul, banyak orang yang bertukar haluankarena penghidupan, istimewa dalam tanah jajahan dimana semangat terlalu tertindas,tetapi pemimpin yang suci senantiasa terjauh dari godaan iblis itu."
"Pahlawan yang setia itu berkorban bukan untuk dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita."
(Muhammad Hatta, 1902-1980)

Minggu, 02 Agustus 2015

Tips bagi Pemudik/Pulang Kampung

Source: https://www.flickr.com/photos/alancleaver/5577108264
Well, untuk kali pertama saya mencurahkan sesuatu yang sifatnya pribadi di blog imaginarium ini. Belum lama ini saya mengalami kejadian yang sangat tidak mengenakkan berkenaan dengan Laptop saya. Berawal ketika saya meninggalkan kamar indekos dalam kondisi terkunci saat hendak berangkat mudik, 5 hari kemudian saya kembali ke tempat yang sama dalam kondisi yang berbeda.
Pintu kamar yang sedianya terkunci, tiba-tiba sudah tak lagi kala saya memasukkan kunci ke lubang gagangnya. Dengan rasa heran bercampur cemas, saya bergegas masuk dan memeriksa kondisi di dalam kamar. Kondisi kamar memang sedikit berantakan, persis seperti terakhir kali saya pergi. Namun ketika saya memeriksa tumpukan kertas tempat saya "menyembunyikan" Laptop, Bingo!!! Barang berharga itu sudah hilang entah kemana, bersamaan dengan charger-nya yang turut raib.
Kemudian saya melihat resleting Ransel yang saya tinggalkan di kamar selama mudik sudah dalam kondisi terbuka semua. Pemandangan itu sudah cukup menunjukkan bahwa ada "tamu tak diundang" yang masuk kamar, lalu mempraktekkan "keahliannya" melakukan perbuatan haram demi keuntungan yang sama sekali tak mendatangkan berkah baginya, serta merugikan orang lain yang menjadi korbannya.
Sungguh bila teringat file-file yang tersimpan dalam Laptop saya, rasanya seperti membangun sebuah peradaban super power yang gemah ripah loh jinawi, tiba-tiba terjadi letusan super volcano yang disusul gempa 11 magnitude, lalu diakhiri megatsunami setinggi 600 meter, hingga musnahlah sebuah peradaban madani, sirna ilang kertaning bhumi. #excessivemodeon. #tsaah.
Dari pengalaman diatas saya akan berbagi tips bagi anda para perantau yang sering mudik/pulang ke kampung halaman untuk mengamankan barang berharga yang ditinggalkan. Saya tidak akan mengajarkan anda untuk memeriksa apakah lampu sudah dimatikan, colokan listrik sudah aman atau memastikan barang di kamar sudah tersusun rapi lalu pintu terkunci rapat. Disini saya hanya menyarankan anda untuk membawa barang berharga anda ke kampung bila memang khawatir untuk "meninggalkannya sendirian di kamar" selama mudik.
Atau jika kondisinya tak memungkinkan untuk membawa barang-barang berharga tersebut ke kampung, seperti saya yang merasa tak perlu bawa Laptop karena selain menambah berat bawaan dan tak akan berguna selama di kampung halaman, silahkan titipkan barang tersebut ke orang yang anda percayai seperti pemilik indekos/kontrakan atau teman anda yang tidak mudik.
Satu lagi tambahan, pasanglah kunci gembok untuk melengkapi kunci gagang pintu anda agar memastikan bahwa pintu anda benar-benar terkunci dengan aman dan maksimal.
Demikian sedikit tips dari saya yang rasanya sangat singkat dan sederhana, tetapi saya harap dapat mendatangkan manfaat bagi anda yang membaca dan menerapkannya kelak saat mudik atau pergi meninggalkan indekos/kontrakan dalam waktu yang lama.
Have a nice day...

Sabtu, 04 Juli 2015

La Cita (12.1.m)

"Cintailah kekasihmu dengan tidak berlebihan, siapa tahu kelak ia akan menjadi musuhmu... Bencilah musuhmu dengan tidak berlebihan, siapa tahu kelak ia akan menjadi kekasihmu..."
 - Ali bin Abi Thalib - 

Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...