Rabu, 17 Agustus 2016

La Cita (12.1.x)

"Revolusi melahirkan negara, negara menjalankan amanat revolusi, rakyat berlindung pada negara."
- Moh. Yamin -

Minggu, 14 Agustus 2016

Tim Terbaik Gli Azzurri Abad XXI (2001-2016)

Italia adalah salah satu negara dengan prestasi sepakbolanya yang mendunia. Sepak bola (Calcio) telah memberikan 4 (empat) gelar juara Piala Dunia dan 1 (satu) gelar juara Piala Eropa untuk negeri semenanjung itu. Selain memang karena calcio merupakan olahraga terpopuler di masyarakatnya, pembinaan sepak bola disana juga berjalan secara sistematis dan terstruktur dalam berbagai jenjang usia. Meskipun kerap tersandung skandal pertandingan di kompetisi domestik (calciopoli) dan sempat mandeknya produksi pemain-pemain berbakat usia muda, tetap saja Italia diakui sebagai salah satu negara sepak bola yang diperhitungkan di kancah internasional.
Sepak terjang Timnas Sepak Bola Negeri Pizza pun terbilang unik. Pasang surut prestasi mereka berputar dalam siklus, dimana setiap 6 tahun sekali (sejak Piala Dunia 1994) mereka selalu melaju hingga babak Final turnamen yang diikuti. Pembahasan mengenai siklus yang dimaksud pernah saya tulis di postingan siklus-sepakbola-jerman-dan-italia, tahun 2015 lalu.
Nah, pada kesempatan ini saya mencoba untuk menyusun formasi tim berjuluk Gli Azzurri itu, yang bermaterikan pemain-pemain terbaik yang sedang atau pernah menghiasi skuad Italia di millennium ketiga ini (2000-2016). Langsung saja, berikut susunan timnya  dengan skema 3-4-1-2.

1.       Kiper


Posisi pertama tentu adalah Penjaga Gawang yang saya berikan kepada kapten Azzurri 2014-2016, Gianluigi Buffon. Penjaga gawang Juventus yang kabarnya akan pensiun 2018 ini adalah salah satu penjaga gawang terbaik di dunia. Memulai debut di Timnas sejak 1997, portiere berjuluk superman ini bukan hanya hebat dalam menjaga gawangnya, tapi juga memiliki leadership yang kuat pula.

2.       Belakang

Untuk mengisi 3 bek di depan Buffon, saya memasang trio Fabio Cannavaro, Paolo Maldini dan Alessandro Nesta.

Fabio Cannavaro adalah salah satu center-back kelas dunia andalan Italia. Posturnya tidak terlalu tinggi untuk bek negara-negara Eropa (175 cm), akan tatapi sangat lugas dan pandai dalam penempatan posisi. Dialah kapten Azzurri saat merebut trofi Piala Dunia 2006, sekaligus menjadi pemain terbaik di tahun yang sama. Sepanjang karirnya ia memperkuat sejumlah tim papan atas seperti Parma, Internazionale Milan, Juventus dan Real Madrid.


Paolo Maldini adalah ikon AC Milan yang menjadi kapten di klub tersebut maupun Timnas di masanya. Pemain yang pensiun pada 2009 itu adalah sosok kharismatik yang tangguh dalam menjaga wilayah pertahanannya. Selain bek tengah, posisi bek sayap juga akrab dilakoni oleh pemain yang gantung sepatu di usia 40 tahun itu.


Sama halnya Maldini dan Cannavaro, nama Alessandro Nesta masuk dalam daftar bek tertangguh di dunia. Pemain yang sempat menjadi ikon Lazio itu adalah langganan Timnas Italia sejak Piala Dunia 1998 sebelum mengundurkan diri dari Timnas pasca Piala Dunia 2006. AC Milan adalah klub yang paling lama menggunakan jasa bek asal Roma itu sebelum akhirnya hijrah ke Liga Amerika Serikat di penghujung karirnya. Bersama Maldini dan Cannavaro, Nesta menjadi komponen penting yang menjadikan Italia sebagai Tim dengan pertahanan terbaik di dunia.

3.       Tengah

Lini tengah tim yang saya susun tidak semuanya diisi gelandang. 4 pemain di lini vital ini diisi Christian Panucci yang berperan sebagai bek sayap kanan, Gennaro Gattuso dan Andrea Pirlo sebagai gelandang penyeimbang timn serta Gianluca Zambrotta sebagai bek sayap kiri.


Christian Panucci adalah pemain yang biasa berperan sebagai bek kanan. Namanya kerap menghiasi skuad Azzurri dibawah asuhan Dino Zoff dan Giovanni Trapatoni. Sempat absen di Piala Dunia 2006, muncul kembali di Euro 2008 saat Italia dilatih Roberto Donadoni. Dengan kemampuan bertahan dan menyerang sama baik, plus ditunjang segudang pengalaman, Panucci menjadi sosok andalan Italia di sisi kanan pertahanan.


Selanjutnya posisi gelandang "pengangkut air" diisi oleh Gennaro Gattuso. Bagi para Milanisti, sosok Gattuso pasti sudah akrab sebagai sosok yang keras, baik gaya bermain maupun temperamen. Kemampuan tackling dan keuletannya dalam merebut bola sangat ampuh dalam memutus alur serangan lawan di lini tengah. Berkat tipikalnya yang keras dan penuh tenaga, julukan il rhino (si badak) pun disematkan padanya.


Sebagai kompatriot Gattuso di lini tengah, pilihan saya jatuhkan pada Andrea Pirlo. Ya, Pirlo adalah duet sehati Gattuso baik di Milan maupun Timnas Italia. Sang metronom yang akrab dengan rambut gondrongnya ini adalah sosok sentral yang seolah sulit digantikan dalam tim. Kemampuannya dalam bertahan diimbangi secara sempurna dengan kelihaiannya memberikan umpan-umpan akurat sebagai pengawal serangan tim. Vitalnya peran yang diemban sang metronom membuatnya terus dipercaya memperkuat Timnas, bahkan hingga memasuki usia senjanya dalam karir sepak bola.


Posisi bek sayap kiri diisi oleh pemain yang pernah memperkuat Juventus, Barcelona dan Milan: Gianluca Zambrotta. Sejatinya pemain ini adalah gelandang. Namun seiring kebutuhan tim, ia mampu mengemban tugas sebagai bek sayap yang impresif. Ia mahir bermain di sisi kanan maupun kiri pertahanan dengan sama baiknya, hingga menjadi andalan di posisi bek sayap di klubnya maupun Tim Nasional.

4.       Depan

Lini depan terdiri dari 1 penyerang lubang yang berdiri di belakang 2 striker murni. Posisi yang dalam sepak bola Italia disebut Fantasista ini diisi oleh sang Pangeran Roma, Francesco Totti. Adapun duet striker di depannya adalah Alessandro Del Piero dan Christian Vieri.



Posisi Fantasista memang akrab dengan Francesco Totti. Di posisi ini, Totti bebas berkreasi mengeskplor pertahanan lawan dengan skill-nya yang sangat mumpuni. Il Principe memang telah mengundurkan diri dari Timnas sejak 2006. Akan tetapi di klubnya, AS Roma, ia tetap menjadi ikon tak tergantikan dalam tim. Bahkan ia masih terus bermain dan menjadi andalan di usia yang nyaris kepala empat, tanpa kehilangan taji dan wibawanya sebagai simbol tim yang bermarkas di ibukota Italia itu. Fantastis…


Kemudian penyerang yang pertama adalah Alessandro Del Piero. Sama halnya Totti, Del Piero sudah menjadi simbol di tim yang membesarkan namanya, Juventus. Ban kapten tim pun begitu awet di lengannya selama berseragam Juventus, sebelum akhirnya pindah ke Liga Australia di penghujung karirnya. Namanya pun kiranya akan abadi di benak setiap Juventini.


Terakhir, pemain yang berduet bersama Del Piero di depan Totti adalah penyerang bertubuh besar, Christian Vieri. Pemain yang akrab dipanggil Bobo itu berada di puncak karirnya saat memperkuat Internazionale Milan. Di timnas pun ia turut diandalkan dalam membobol gawang setiap lawan yang dihadapi Gli Azzurri. Dengan postur tinggi besar, plus produktivitasnya dalam mencetak gol, Vieri seperti monster yang selalu menjadi ancaman pertahnan lawan manapun.

Pelatih


Belum lengkap rasanya jika menyusun sebuah tim tanpa disertai pelatihnya. Bertindak sebagai juru taktik, saya sempat mempertimbangkan Giovanni Tapattoni sebagai allenatore tim yang saya susun. Alasannya karena Mr. Trap adalah pelatih yang paling banyak mengoleksi gelar scudetto sepanjang karirnya. Akan tetapi ia tercatat gagal saat menangani Timnas Italia 2000-2004. Akhirnya pilihan saya jatuhkan pada sosok yang mengarsiteki tim Italia saat juara dunia 2006, Marcello Lippi. 
Alasannya pun simpel dan jelas: dialah yang membangun dan mengasuh tim Italia di bawah bayang kelabu Calciopoli 2006 hingga menjadi kampiun dunia.


Formasi
3-4-1-2

Gianluigi Buffon


Fabio Cannavaro                         Paolo Maldini (c)              Alessandro Nesta

     


Christian Panucci           Gennaro Gattuso          Andrea Pirlo          Gianluca Zambrotta
                                                                                                                                                                    

                                                                    Francesco Totti
          


                                Alessandro Del Piero                                     Christian Vieri
                                                                                                                                                     



Coach: Marcelo Lippi              




Sumber Gambar: Wikipedia

Jumat, 08 Juli 2016

La Cita (12.1.w)

"There are three classes of people: those who see, those who see when they are shown, and those who do not see ."
             - Leonardo da Vinci - 


Rabu, 22 Juni 2016

(Menatap) Jakarta


Pixabay

Aku di kotamu, Jakarta...
Megapolitan dunia di rantau nusantara
Sebelas juta jiwa
Sebelas juta cerita
Pernah sayup terdengar dari mereka
Pesonamu cuma uang dan uang
Adakah uang-uang itu memancarkan gaya?
Gaya magnet yang menarik mereka
Untuk datang berkalang mimpi dan asa
Memenuhi kotamu yang bersimbah asam arang?

Kiranya ini takdir yang terbentuk
Sekalipun kau sembunyi di cerukan teluk
Tapi selat strategis tak jauh darimu
Jalur ramai kapal dari segala penjuru
Dan ceruk teluk liang sembunyimu
Justru itulah yang kapal-kapal itu buru
Sejak zaman yang sudah sangat dulu
Selepas masa Karang Antu

Jakarta, di kotamu ini dulu
Berabad-abad yang telah berlalu
Orang-orang barat singgah di tanahmu
Berdagang sembari berkoloni 
Bernafaskan nafsu imperialistis menggebu
Menguasai hajat seluruh pewaris sahmu

Tidakkah kau ingat?
Ketika sang Pangeran terusir dari singgasana
Bersembunyi di hutan jati pinggir sungai
Lalu membangun harapannya kembali
Sembari lanjutkan ikhtiarnya yang suci?

Atau tidakkah kau ingat?
Peristiwa epik ratusan tahun silam
Ketika laskar-laskar berpanji Mataram
Bersimbah darah bertaruh nyawa
Di medan laga Sungai Marunda?

Mereka semua
Rela pertaruhkan itu semua
Dengan tujuan yang sama:
Membebaskan tanahmu yang mulia 
Dari belenggu pasung para penjajah!

Kaulah saksi bisu, yang paling sejati
Rangkaian momen heroik putra-putri pertiwi
Sebagai martir-martir revolusi
Berjiwa gelora determinasi tak bertepi
Hingga tibalah kemerdekaan di suatu hari
Yang kemudian kita nikmati sampai hari ini

Jakarta, kulihat kotamu kini telah menggila...
Terlena pembangunan masif merajalela
Berpacu iringi arus zaman
Episentrum ekonomi dan "seni segala kemungkinan"

Gedung-gedung pencakar mega
Jalan-jalan menjalar hingga sudut-sudut kota
By pass, underpass, fly over, rel dan lebuh raya
Dan jangan lupa proyek-proyek ambisius menggelora
Itulah rona wajahmu kini, Durian Besar...

Maafkan aku tak bermaksud antimodernitas
Tapi tak adakah yang mengingatkanmu
Bagaimana kabar sungai-sungaimu
Pesisir-pesisir pantaimu
Dimana hutan dan kebunmu yang dulu
Tidakkah kau muliakan bumimu
Serta budaya luhur pendahulu-pendahulumu?

Semoga tiada lupa atau masa bodoh darimu...
Karena semua ihwal jati dirimu
Jati diri sebuah ibukota
Dari negara yang berbhineka, berbudaya dan berketuhanan
Dan kau adalah cerminan
Maka janganlah sekali-kali kau nafikan

Tiada terlambat 'tuk sadar menghela
Kiranya semua akan mengamininya
Jadilah kau megapolitan madani dunia
Megapolitan yang humanis, asri dan berbudaya
Bukan cuma sarang hedonisme belaka


Cempaka Baru, 8 Juni 2016
Written by: Ali-Aliyonk


Minggu, 19 Juni 2016

Agama Terbaik di Dunia?

Ketika sesi reses sebuah acara diskusi tentang agama dan kebebasan, Dalai Lama mendapat pertanyaan yang menggelitik dari Leonardo Boff tentang agama apa yang paling baik di dunia. Leonardo sendiri adalah seorang tokoh renovator teologi pembebasan Amerika Latin yang berasal Brazil. Berikut dialog mereka, antara Leonardo (L) dan Dalai Lama (D):

L : “Menurut anda, agama apa yang terbaik di dunia ini?”

Leonardo berpikir jawaban yang akan ia terima adalah Buddha dari Tibet atau agama-agama timur yang usianya lebih tua dari Kristianitas.

D : (tersenyum seraya menatap Leonardo) “Agama terbaik di dunia adalah yang lebih mendekatkan diri anda pada cinta, yaitu agama yang membuat anda menjadi orang yang lebih baik.”

Sambil menutup rasa malu, Leonardo kembali bertanya.

L : “Apa tanda agama yang membuat kita menjadi lebih baik?”

D : “Agama apapun yang bisa membuat anda lebih welas asih, lebih berpikiran sehat, lebih objektif dan adil, lebih menyayangi, lebih manusiawi, lebih punya rasa tanggung jawab, lebih beretika, agama yang punya kualitas seperti yang saya sebut adalah agama terbaik.”

Leonardo terdiam sejenak dan terkagum-kagum atas jawaban yang bijak dan tak terbantahkan itu. Dalai Lama lalu kembali melanjutkan,

D : “Kawan, tak penting bagi saya apa agamamu, tak peduli anda beragama atau tidak. Yang betul-betul penting bagi saya adalah perilaku anda di depan kawan-kawan anda, di depan keluarga, lingkungan kerja, dan dunia.

Ingat, alam semesta akan menggaungkan apa yang sudah kita lakukan dan pikirkan. Hukum aksi dan reaksi tidak ekslusif hanya untuk ilmu fisika, melainkan juga untuk hubungan antarmanusia. Jika saya berbuat baik, akan menerima kebaikan. Jika saya jahat, maka saya pun akan mendapatkan keburukan yang sama.”

Menurut Dalai Lama, apa yang telah disampaikan nenek moyang kita adalah kebenaran murni. Dalai Lama lantas menegaskan.

D : “Anda akan mendapatkan apa saja yang anda inginkan untuk orang lain. Dan menjadi bahagia bukanlah persoalan takdir, melainkan pilihan.”

Dan akhirnya Dalai Lama menutup:

“Jagalah pikiranmu, karena akan menjadi perkataanmu

Jagalah perkataanmu, karena akan menjadi perbuatanmu

Jagalah perbuatanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu

Jagalah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu

Jagalah karaktermu, karena akan menjadi nasib/kammamu

Jadi, nasib/kammamu berawal dari pikiranmu, dan tak ada agama yang lebih tinggi daripada  kebenaran.”



Disadur dari: http://health.liputan6.com/read/2258491/agama-yang-paling-baik-di-dunia
                                              

Jumat, 10 Juni 2016

La Cita (12.1.v)

"Everyone just like the mosaic artwork. You can't value them by looking at only one part. You have to find the other parts by knowing them closer, by heart to heart, until you can see the full shape of its mosaic."
         - Aliyonk -

Rabu, 01 Juni 2016

(Penuturan) Kisah Bung Karno dibawah Pohon Sukun Pesisir Ende

"Suatu kekuatan gaib menyeretku ke tempat itu hari demi hari... Di sana, dengan pemandangan laut lepas tiada yang menghalangi, dengan langit biru yang tak ada batasnya dan mega putih yang menggelembung.., di sanalah aku duduk termenung berjam-jam. Aku memandangi samudera bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukuli pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinya. Pasang surut, namun ia tetap menggelora secara abadi. Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunyai titik batasnya. Revolusi kami, seperti juga samudra luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta. Dan aku tahu di waktu itu bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada."

Dari hasil kontemplasinya dibawah rindang Pohon Sukun tersebut, Bung Besar menemukan ilham yang beliau sebut "5 butir Mutiara". Kelak, 5 butir mutiara itu kita kenal (sampai hari ini) dengan nama Pancasila...


Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...