"Bahkan dari ranjang saya sebagai orang sakit, bahkan jika kamu hendak menurunkan saya ke liang kubur dan saya merasa ada yang salah, saya akan bangun."- Lee Kuan Yew -
Rabu, 01 April 2015
La Cita (12.1.j)
Senin, 23 Maret 2015
Sepenggal cerita inspiratif (2)
Lagi, mendapat kiriman cerita menarik dari kawan...
TENZING NORGAY
Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay (pemandu/sherpa) kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay. Berikut cuplikannya.
Reporter : "Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?"
Tenzing Norgay : "Sangat senang."
R : "Anda kan seorang Sherpa bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yg menjadi orang pertama yg menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?"
TN : "Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan Edmund Hillary untuk menjejakkan kakinya & menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia."
R : "Mengapa Anda lakukan itu?"
T N : "Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya."
Di sekitar kita, banyak sekali orang seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay. Pepatah mengatakan, "Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yg bertepuk tangan di pinggir jalan".
Di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan dan memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan.
Mereka ini cukup berbahagia dengan:
- memberikan pelayanan
- membantu orang lain mencapai impiannya
Mereka merasa cukup menjadi "orang-orang yang bertepuk tangan saja dipinggir jalan". Kadang, orang-orang seperti ini diperlakukan ibarat "telor mata sapi", yang punya telur si ayam, yang tersohor malah sapi.
Minggu, 08 Maret 2015
La Cita (12.1.i)
"Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan."- Ruhana Kuddus -
Sabtu, 21 Februari 2015
Meningkatkan Peran Desa dalam Menunjang Sarana Pariwisata
Angin
segar tengah berhembus di dunia pariwisata nasional. Pemerintah telah
mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan dana promosi pariwisata sebesar
Rp 1,2 Trilyun. Jumlah tersebut berarti 4x lipat lebih banyak, mengingat
sebelumnya hanya dianggarkan Rp 300 Milyar per tahun untuk promosi pariwisata. Kebijakan
ini masih diikuti dengan pemberian kewenangan kepada Kementerian PU-Pera
untuk membangun infrastruktur penunjang pariwisata, terutama untuk aksesibiltas
kawasan strategis pariwisata.[1]
Source: http://travel.kompas.com/
Pembangunan
infrastruktur memang harus dikejar mengingat sulitnya aksesibiltas sejumlah
daerah wisata telah berdampak pada rendahnya daya saing pariwisata Indonesia
di kancah internasional.[2] Selain itu, tak kalah
penting pula ketersediaan sarana yang memadai seperti transportasi dan
akomodasi bagi wisatawan.
Untuk
penyediaan sarana akomodasi biasanya dilaksanakan oleh pelaku usaha. Hal ini
lazim mengingat sarana akomodasi turis merupakan salah satu lahan bisnis yang
menarik dari sektor pariwisata. Sebut saja Hotel dan Villa yang merupakan
bisnis yang menjamur di daerah-daerah wisata. Akan tetapi masih sering pula ditemui
daerah wisata yang kekurangan hotel sebagai tempat menginap wisatawan.
Hal
ini justru biasa terjadi pada daerah yang perkembangan pariwisatanya pesat.
Meningkatnya jumlah pelancong berbanding lurus dengan bertambahnya permintaan
hotel sebagai akomodasi.[3] Memang harus diakui bahwa
keberadaan hotel memegang peranan tersendiri dalam jagad turisme. Namun dalam
mengatasi masalah ini, para pemangku kepentingan hendaknya lebih
fleksibel dalam menanganinya.
Hotel
memang diperlukan. Tetapi butuh investasi untuk mewujudkannya, terlebih untuk
hotel kelas bintang. Untuk itu, diperlukan waktu untuk menyediakan lahan, menggaet
investor, hingga mengurus segala perizinan yang dibutuhkan. Sembari menunggu
investor yang bersedia membangun hotel di daerahnya, akan lebih baik jika Pemda
setempat lebih jeli dalam memberdayakan desa atau pemukiman yang berada di
kawasan wisata.
Adapun
pemberdayaan yang dimaksud adalah dengan menyediakan rumah atau bangunan lain
yang berfungsi sebagai tempat penginapan turis di pemukiman penduduk. Konsep
yang diterapkan dapat berupa Homestay
ataupun Guest House. Semua tergantung
pada kondisi dan kesepakatan dengan desa yang bersangkutan.
Baik
Homestay maupun Guest House, kapasitasnya memang tak akan semasif hotel. Sebagaimana telah disampaikan, konsep ini merupakan alternatif sementara bagi daerah yang
kekurangan hotel dan belum punya kepastian dari investor atau pihak yang akan membangunnya. Namun yang menjadi esensi disini adalah
pemberdayaaan desa atau warga setempat untuk kepentingan pariwisata, yang mana
turut berkontribusi pula pada peningkatan kesejahteraan mereka.
Homestay dapat menjadi sumber penghasilan
tambahan bagi warga yang disinggahi rumahnya. Sedangkan Guest House (terpisah dari pemilik rumah), nantinya akan mempekerjakan warga setempat yang berarti
membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal. Guest House dapat pula dikelola sebagai unit usaha berstatus Badan
Usaha Milik Desa (BUMDes), yang nantinya berperan sebagai sumber
pendapatan asli desa.
Jika
terealisasi, maka hal ini dapat menjadi suplemen yang ideal untuk meningkatkan
perekonomian desa atau warga yang bermukim di kawasan wisata. Karena
pengembangan pariwisata memanfaatkan potensi lokal, sudah sepatutnya memberi
kontribusi maksimal bagi kemakmuran warga lokal. Terlebih setelah berlakunya
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, yang tujuannya antara lain
memajukan perekonomian masyarakat Desa dan mengatasi kesenjangan pembangunan
nasional, serta memperkuat masyarakat Desa sebagai subjek pembangunan. [4]
Referensi:
[3]http://travel.kompas.com/read/2015/02/12/173200727/Pariwisata.Lombok.Tengah.Kekurangan.Hotel
[4] Pasal 4 Huruf h dan i Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
[4] Pasal 4 Huruf h dan i Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Jumat, 13 Februari 2015
La Cita (12.1.h)
Wejangan Alm. Bob Sadino.
"MEMBAWA SELUSIN BODYGUARD BUKAN JAMINAN KEAMANAN.TAPI, RENDAH HATI, RAMAH, DAN TIDAK MENCARI MUSUH, ITULAH KUNCI KEAMANAN.
OBAT DAN VITAMIN BUKAN JAMINAN HIDUP SEHAT. JAGA LISAN BERUCAP,
JAGA HATI, ISTIRAHAT CUKUP, MAKANAN GIZI SEIMBANG DAN OLAH RAGA YANG TERATUR ITULAH KUNCI HIDUP SEHAT.
RUMAH MEWAH BUKAN JAMINAN KELUARGA BAHAGIA.
SALING MENGASIHI, MENGHORMATI DAN MEMAAFKAN, ITULAH KUNCI KELUARGA BAHAGIA.
GAJI TINGGI BUKAN JAMINAN KEPUASAN HIDUP.
BERSYUKUR, BERBAGI & SALING MENYAYANGI ITULAH KUNCI KEPUASAN HIDUP.
KAYA RAYA BUKAN JAMINAN HIDUP TERHORMAT.
TAPI, JUJUR, SOPAN, MURAH HATI & MENGHARGAI SESAMA ITULAH KUNCI HIDUP TERHORMAT.
HIDUP BERFOYA-FOYA BUKAN JAMINAN BANYAK SAHABAT.
TAPI,SETIA-KAWAN, BIJAKSANA,MENGHARGAI, MENERIMA TEMAN APA ADANYA, & SUKA MENOLONG ITULAH KUNCI BANYAK SAHABAT.
KOSMETIK BUKAN JAMINAN KECANTIKAN.
TAPI, SEMANGAT, KASIH, CERIA, RAMAH & SENYUMAN ITULAH KUNCI KECANTIKAN.
SATPAM & TEMBOK RUMAH YANG KOKOH BUKAN JAMINAN HIDUP TENANG.
HATI YANG DAMAI, KASIH & TIADA KEBENCIAN ITULAH KUNCI KETENANGAN DAN RASA AMAN.
HIDUP KITA ITU SEBAIKNYA IBARAT "BULAN MATAHARI" - DILIHAT ORANG ATAU TIDAK, IA TETAP BERSINAR. DIHARGAI ORANG ATAU TIDAK IA TETAP MENERANGI. DITERIMA KASIHI ATAU TIDAK IA TETAP 'BERBAGI'.
JIKA ANDA BILANG ANDA SUSAH BANYAK ORANG YANG LEBIH SUSAH DARI ANDA, DAN JIKA ANDA BILANG ANDA KAYA BANYAK ORANG YANG LEBIH KAYA DARI ANDA.
DI ATAS LANGIT MSH ADA LANGIT.
SUAMI, ISTRI, ANAK, JABATAN, HARTA ADALAH TITIPAN SEMENTARA, ITULAH KEHIDUPAN.
PADA AKHIRNYA KESEMUA ITU YANG KITA LAKUKAN JUGA KESIA-SIAAN.
NIKMATILAH HIDUP SELAMA ANDA MASIH MEMILIKINYA & TERUS BELAJAR UNTUK BERSYUKUR DENGAN KEADAANMU!
KARENA ANDA TIDAK AKAN TAHU KAPAN SANG PEMILIK RAGA AKAN DATANG DAN MENGATAKAN PADA ANDA "INI SAATNYA PULANG!" MEMAKSA ANDA UNTUK MENINGGALKAN APAPUN YANG ANDA CINTAI DAN YANG ANDA BANGGAKAN SERTA SOMBONGKAN !"
Minggu, 25 Januari 2015
Warisan Dunia UNESCO Kombinasi Alam dan Budaya
Warisan dunia UNESCO merupakan
sebuah penghagaan prestisius yang diberikan kepada situs/cagar alam dan/atau
budaya yang dinilai memenuhi syarat tertentu, terutama dalam hal kelestarian. UNESCO
sebagai badan PBB yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan
kebudayaan, sangat selektif dalam menetapkan warisan dunia. Oleh karena itu,
sebuah tempat atau area yang mendapat status sebagai warisan dunia UNESCO
memiliki prestis dan keistimewaan tersendiri, sehingga turut menjadi daya tarik
dalam menggaet wisatawan.
Ada tiga kategori warisan yang
ditetapkan UNESCO, yaitu alam (natural
site), budaya (cutural site) dan
campuran (mixed site). Dari 8 situs
warisan dunia yang saat ini dimiliki Indonesia, belum ada satu pun situs yang
berkategori campuran. Pulau Komodo, Taman Nasional (TN) Lorentz, TN Ujung Kulon
dan Hutan Hujan Sumatera berkategori alam. Sedangkan Situs Sangiran, Candi
Prambanan, Candi Borobudur dan Sistem Subak di Bali masuk kategori budaya.
Meski sebentulnya bukan hal yang urgent, alangkah baiknya jika otoritas
ataupun para pemangku kepentingan agar mendorong situs nasional menjadi warisan
dunia kategori campuran. Guna mewujudkannya, maka harus ada situs atau cagar yang
mengombinasikan alam dan budaya sebagai daya tariknya. Melalui tulisan ini saya
menyampaikan masukan akan hal tersebut, yakni berupa tiga situs nasional yang
rasanya dapat memenuhi kriteria warisan dunia mixed site. Berikut deskripsinya masing-masing.
1. Taman
Nasional Lore Lindu
Taman Nasional
Lore Lindu (TNLL) merupakan sebuah taman nasional yang berlokasi di Sulawesi
Tengah. Kawasan ini punya kombinasi daya tarik alam dan peninggalan sejarah
yang menawan. TNLL yang telah ditetapkan sebagai cagar biosfer sejak 1977,
dikenal sebagai tempat yang sangat ideal untuk pengamatan burung. Burung Maleo
khas Sulawesi adalah salah satu “artis” yang paling dicari pengunjung TNLL. Tercatat
ada 127 spesies burung dimana 77 diantaranya merupakan spesies endemik yang hanya
dapat ditemukan di kawasan hutan dengan tiga tipe ekosistem yang berbeda itu.
Selain kaya akan
berbagai jenis burung, terdapat pula berbagai jenis mamalia, reptil dan amfibi
yang tersebar dalam kawasan konservasi dimana 50% diantaranya endemik Sulawesi.
TNLL pun termasuk salah satu rumah bagi spesies primata terkecil di bumi yang
juga endemik Sulawesi, Tarsius.
| Source: blog.therabuana.com |
Dari sisi cultural, TNLL dikenal pula sebagai salah
satu surga megalitik Nusantara. Ratusan situs megalitik dengan beragam bentuk, ukuran
dan keunikan masing-masing tersebar di beberapa titik dalam area konservasi. Mulai
dari arca-arca yang hanya puluhan centimeter hingga patung-patung besar ukuran
1-4 meter dapat dijumpai di kawasan seluas 217.991,18 hektar itu. Dan yang
lebih istimewanya lagi, situs-situs tersebut diyakini eksis sejak 1300-2500 SM.
Itulah Taman Nasional Lore Lindu, sebuah aset yang tak ternilai harganya bagi
Sulawesi Tengah.
2. Kepulauan
Banda
Kepulauan Banda
belum menjadi World Heritage kendati
telah masuk daftar tentative sejak
2005. Sebagai kepulauan yang sebagian besar wilayah berupa perairan, Banda
adalah salah satu icon dalam segitiga
emas koral dunia yang menaungi Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste,
Papua Nugini dan Kepulauan Solomon. Ya, dengan spesies terumbu karang sebanyak
330 jenis, sudah tentu perairan Banda yang juga titik terdalam peraian
Nusantara menyimpan biodiversitas laut yang sangat kaya. Keindahan Taman Laut
Banda memang sudah tersohor sampai mancanegara berkat keindahan spot-spot diving-nya yang visibilitasnya dapat
diselami hingga 40 meter.
| Source: sains.kompas.com |
Selain atraksi
berupa keindahan dan keanekaragaman terumbu karang yang luar biasa, taman laut
banda memang sebuah keajaiban alam. Suatu ketika terumbu-terumbu karang Banda
pernah hancur karena letusan gunung berapi. Normalnya terumbu karang yang rusak
membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh seperti sedia kala. Tetapi teori
itu tidak berlaku untuk terumbu karang Banda. Dalam tempo tidak sampai sepuluh
tahun, terumbu karang Banda sudah kembali tumbuh dengan sehatnya. Berkat fenomena
ini, UNESCO menilai pertumbuhan terumbu karang Banda sebagai yang tercepat di
dunia.
Lautnya bak surga, daratnya melegenda. Sebutan
itu memang layak disematkan untuk Kepuauan Banda. Sebagaimana pernah kita
dengar, Maluku adalah penghasil rempah-rempah yang mengundang perhatian para
penjelajah (baca: imperialis) Eropa untuk mendatangi dan menguasainya. Kepulauan
Banda pun dikenal sebagai produsen utama rempah-rempah di Bumi Maluku.
| Source: health.kompas.com |
Jejak historis
Banda sebagai “harta rebutan” bangsa Eropa abad pertengahan dapat disaksikan
melalui keberadaan benteng-benteng di beberapa titik wilayahnya. Di sana masih
dapat dijumpai sisa-sisa Benteng yang didirikan dan digunakan
kolonialis-kolonialis Eropa yang pernah menguasai Kepulauan Banda, dengan
berbagai kondisi bangunannya.
Berkat tanahnya yang menghasilkan pala, Inggris menjadikan salah satu pulau di wilayah Banda yang bernama Run, sebagai koloni pertamanya di dunia.[1] Kemudian terjadi konflik bersejata yang melibatkan Belanda yang ternyata juga menginginkan tempat yang sama, sampai akhirnya disudahi dengan perjanjian dimana Belanda bersedia menukarkan sebuah pulau koloninya di Amerika dengan Pulau Run. Jadilah Belanda menguasai penuh Kepulauan Banda. Di lain pihak, Inggris mendapatkan pulau koloni Belanda di Amerika bernama Nieuw Amsterdam. Kemudian Inggris merubah nama pulau di pesisir timur Amerika Utara itu dengan nama New York...
Berkat tanahnya yang menghasilkan pala, Inggris menjadikan salah satu pulau di wilayah Banda yang bernama Run, sebagai koloni pertamanya di dunia.[1] Kemudian terjadi konflik bersejata yang melibatkan Belanda yang ternyata juga menginginkan tempat yang sama, sampai akhirnya disudahi dengan perjanjian dimana Belanda bersedia menukarkan sebuah pulau koloninya di Amerika dengan Pulau Run. Jadilah Belanda menguasai penuh Kepulauan Banda. Di lain pihak, Inggris mendapatkan pulau koloni Belanda di Amerika bernama Nieuw Amsterdam. Kemudian Inggris merubah nama pulau di pesisir timur Amerika Utara itu dengan nama New York...
Ya, memang ada
beberapa situs dengan kondisi yang memprihatinkan. Oleh karena itulah
revitalisasi mutlak dilaksanakan jika memang serius mengajukan Banda sebagai
warisan dunia. Jika wilayah kota sebesar Malaka, Brasilia dan Rio de Janeiro
bisa menjadi World Heritage, kenapa
tidak bagi Banda yang hanya Kecamatan?
3. Taman
Nasional Bantimurung-Bulusaraung
Dari Maluku kita
balik lagi ke Sulawesi. Di Sulawesi Selatan ada Taman Nasional
Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) yang juga layak menjadi Mixed Site World Heritage. Dalam taman nasional tersebut terhampar
indah perbukitan Karst nan luas, yang masuk salah satu yang terbesar di dunia. Ratusan
tahun silam seorang Naturalis ternama Inggris, Alfred Russel Wallace, pernah
singgah di Bantimurung dan dibuat terpesona dengan keberadaan berbagai jenis
kupu-kupu, dengan ukuran fisik yang besar-besar dan juga elok warnanya. Kala itu,
naturalis yang pertama mencetuskan teori evolusi sebelum Darwin itu mencatat
ada 256 spesies kupu-kupu di Bantimurung.
| Source: id.wikipedia.org |
Pesona keindahan
dan kemegahan bukit Karst TN Babul bukan hanya mendatangkan manfaat bagi
kehidupan warga sekitar melalui mata-mata airnya. Tidak jauh dari kawasan
tersebut, belum lama ini ditemukan sebuah temuan arkeologis yang cukup fenomenal.
Temuan yang dimaksud adalah beberapa stensil atau lukisan tangan dalam sebuah
gua yang umurnya berkisar 17.400-39.900
tahun.[2]
Jika sebelumnya
lukisan tangan tertua di dunia ada di Gua El Castillo (Spanyol) dengan usia
37.300 tahun, maka dengan ditemukannya lukisan goa di Maros 2014 lalu
membuktikan bahwa karya seni rupa tertua di dunia dibuat oleh manusia-manusia
Nusantara, yang menghuni Sulawesi sejak 40.000 tahun silam.
Demikian tiga situs nasional yang kiranya dapat dipertimbangkan
untuk diajukan ke UNESCO sebagai warisan dunia kategori campuran. Upaya tersebut
dilakukan tidak lain sebagai komitmen negara dalam menjaga dan merawat
situs-situs nasionalnya, demi kelestarian alam, budaya dan pengembangan pariwisata, dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan.
Senin, 12 Januari 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
Postingan Terbaru
Surat untuk sang Waktu
Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...
