Minggu, 22 Januari 2017

Sedikit Masukan untuk Sepakbola Indonesia

".... Bagi saya, lebih baik dua atau tiga pemain diberi kesempatan bermain di satu klub luar negeri dan itu kita lakukan ke beberapa klub ketimbang mengirim satu tim tetap bersama-sama seperti Primavera."
- Kurniawan Dwi Yulianto -

Sepakbola Indonesia kini benar-benar tengah menjalani babak baru. Setelah terbebas dari sanksi FIFA 2016 lalu, PSSI selaku induk organisasi tertinggi sepak bola nasional telah memilih Ketua baru untuk memimpin organisasinya hingga tahun 2020. Beberapa langkah pun telah diambil kepengurusan baru seperti penunjukan pelatih timnas senior dan kelompok umur, format kompetisi liga, pembinaan usia dini, dan program-program lain akan dijalankan untuk memajukan sepakbola nasional beberapa tahun ke depan.

Pixabay


Bicara soal pembinaan usia dini, maka sama halnya bicara tentang pondasi dalam pembangunan sepakbola yang maju dan profesional. Oleh karena itu diperlukan komitmen dan konsistensi yang tak sekedar wacana saja, tetapi juga dalam prakteknya di lapangan. Kabar baiknya, kepengurusan baru PSSI 2016-2020 telah menyiapkan program untuk mewujudkannya, dimana mereka akan menggelar sebuah komopetisi usia dini yang akan dimonitor langsung oleh pemandu-pemandu bakat di seluruh tanah air. (http://bola.bisnis.com/)

Tentu kabar tersebut layak diapresiasi dan didukung penuh oleh segenap pemerhati sepak bola. Terlebih jika klub-klub yang terlibat di dalam kompetisinya nanti tak hanya melatih pemain dari segi teknis, tapi juga segi mental. Cukup besar harapan untuk melihat pemain-pemain muda yang tak hanya ber-skill mumpuni, tapi juga bermental juara. Suatu hal yang mutlak dibutuhkan Tim Nasional, sebagai muara dari hasil pembinaan yang dilakukan tersebut. 

Kiranya ini fakta yang sudah cukup sering terdengar, bahwa sebenarnya Indonesia punya cukup banyak telanta-talenta sepakbola yang potensial. Akan tetapi potensi-potensi itu seolah mentok saat pemain berusia 20 tahun keatas. Memang banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, namun ijinkan saya untuk menitikberatkan pada pembinaan usia muda.

Selama ini sudah cukup banyak baik turnamen maupun kompetisi yang digelar untuk pemain-pemain usia muda. Tugas PSSI adalah mengintegerasikan semua itu dalam sebuah sistem hirarkhi pembinaan berjenjang yang profesional dan berkelanjutan, terutama untuk kompetisi (bukan turnamen). Gagasan kepengurusan baru sebagaimana disebutkan diatas kiranya agar lebih diselaraskan lagi pola pembinaan yang sudah ada sebelumnya.

Namun akan lebih baik lagi jika program pembinaan dalam negeri yang menjadi prioritas dilengkapi pula dengan program komplementer. Diharapkan program ini akan mempermudah PSSI dalam mewujudkan tujuan yang digariskan dalam program utama. Adapun program komplementer yang dimaksud adalah membina pemain-pemain muda berbakat di negara yang sudah maju sepakbolanya.

Mungkin gagasan ini tidak terdengar baru lagi. Benar, program pengiriman pemain ke luar negeri sudah beberapa kali dilakukan PSSI di masa lalu. Sebut saja program pengiriman timnas ke Brazil tahun 1980-an, proyek primavera 1993-1994, hingga proyek Sociedad Anonima Deportivo (SAD) Indonesia ke Uruguay tahun 2008-2012. Tetapi yang dikirim dalam program-program tersebut adalah sebuah skuad tim, bukan pemain dalam artian individu ataupun beberapa individu saja.

Hasil dari proyek-proyek itu pun kurang sesuai dengan yang diharapkan. Meskipun sempat menghasilkan pemain-pemain bagus dan menjadi pilar timnas di kemudian hari, tapi efeknya masih kurang terasa untuk peningkatan prestasi Timnas pada umumnya. Faktor penyebab kurangnya berhasilnya proyek-proyek tadi kiranya telah diungkapkan oleh mantan pemain yang terlibat langsung dalam program tersebut. 


Pixabay


Kurniawan Dwi Yulianto, mantan striker Timnas yang dibina langsung dalam program Primavera 1993, mengungkapkan bahwa pengiriman satu tim ke luar negeri sama halnya memindahkan tempat latihan bersama saja. Efeknya untuk peningkatan teknis kurang terasa karena rekan-rekan berlatihnya juga sama, kendati tempat dan cuacanya berbeda. Lebih lanjut, Kurniawan menjelaskan bahwa efek berlatihnya baru terasa ketika sang pemain bergabung dalam sebuah Klub yang benar-benar 100% pemainnya kelas Eropa. (http://www.bola.com/)

Pernyataan diatas tentu faktual karena diutarakan oleh mantan pemain yang terlibat langsung dalam pelatihan dimaksud, sehingga para pemangku kepentingan sepakbola nasional perlu mencermatinya. Nah, kembali ke program komplementer yang saya tulis sebelumnya. Berkaca pada statement diatas, maka alangkah baiknya jika pembinaan usia muda dalam negeri dilengkapi pengiriman pemain-pemain potensial terpilih untuk berkompetisi di luar negeri.

Sekali lagi: mengirim pemain, bukan mengirim tim. Bolehlah PSSI mengirim Timnas TC ke luar negeri. Tapi untuk pembinaan jangka menengah, PSSI bisa mengambil beberapa pemain muda terbaik untuk dikirim ke luar negeri. Misalnya PSSI bisa ambil beberapa pemain U-19 atau U-16 dari setiap lini untuk berkompetisi di Spanyol. Sebut saja dari lini belakang (bek), lini tengah (gelandang) dan lini depan (penyerang) masing-masing diseleksi 2 pemain sehingga totalnya 6 pemain. Keenam pemain ini kemudian dititipkan secara tersebar di 2-3 tim Liga Spanyol untuk berlatih dan berkompetisi secara reguler disana, minimal satu musim.

Dengan cara ini, pemain-pemain yang berlatih dan berkompetisi di negara sepakbola maju diharapkan membawa pengaruh positif ketika bergabung dengan Tim Nasional. Terlebih jika diambil dari setiap lini, maka akan ada kontribusi yang merata dalam tim secara utuh. Dengan catatan, negara yang dituju benar-benar punya kultur sepakbola yang baik dalam menunjang pembinaan pemain muda. Dan yang lebih penting lagi adalah kontinuitas program agar tidak terhenti tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Demikian sedikit masukan dari saya untuk pembinaan sepak bola tanah air, semoga bisa dijadikan pertimbangan bagi para stakeholder sepakbola nasional. Salam olahraga...


Selasa, 27 Desember 2016

Mengejar atau Memuja Mimpi?

Mimpi. Pernahkah anda memilikinya? Atau anda sedang memilikinya? Oops, tunggu dulu. Mimpi yang dimaksud disini bukan bunga tidur. Tapi mimpi yang dimaksud adalah alasan dibalik hasrat kita dalam melakukan berbagai upaya. Mengapa kita bermimpi? 

Pixabay
Secara turun-temurun, bangsa kita percaya bahwa tiap manusia dianugerahi tiga kemampuan dasar (tridaya) dalam menjalani perannya sebagai individu. Ketiga kemampuan dimaksud adalah cipta, rasa dan karsa. Cipta merupakan kemampuan manusia untuk memunculkan suatu ide/gagasan dalam pikiran yang sifatnya brand new. Sesuatu yang sebelumnya belum ada, belum terpikirkan, menjadi ada dan bergelayut dalam pikiran.

Daya cipta telah memunculkan sesuatu dalam diri kita. Entah berupa pemikiran yang berkecamuk dalam kepala, perasaan yang terpendam dalam diri kita, atau segala hal tak kasat mata yang hanya ada dalam diri kita, dan cuma kita pula yang memahaminya. Mengapa kita merasakannya? Tentu karena kita memiliki daya rasa. Kemampuan untuk merasakan segala yang menghampiri kita, entah muncul dalam diri maupun dari luar. Sebuah ungkapan emosi yang berangkat dari apa yang dirasa, baik lahir maupun batin. 

Terakhir adalah karsa. Dimana karsa ini merupakan daya manusia yang menentukan seberapa besar kemauan manusia dalam mewujudkan/menyalurkan apa yang telah tercipta dan ia rasakan dalam dirinya. Dari daya ini pula muncul apa yang kita kenal dengan istilah “hasrat”. Hasrat timbul dalam diri untuk melakukan segala upaya yang menghasilkan output dari daya cipta dan rasa yang mendahuluinya.

Hasrat ini pula yang menjadi energi untuk mengejar semua yang kita inginkan. Apapun yang kita inginkan, baik berupa gagasan, ucapan, target, kehendak, tindakan, pernyataan sikap, dan tak ketinggalan pula sesuatu yang tengah kita bahas: impian. Ya, impian. Bentuk lanjutan dari gagasan berupa mimpi. Dengan mimpi, manusia seperti memiliki peta petunjuk jalan yang mengarah pada target yang diinginkan, sedangkan hasrat ibarat kendaraan yang mengantar manusia mengarungi jalan menuju targetnya. 

Sekiranya kita sudah cukup akrab mendengar jargon-jargon semacam “mengejar mimpi”, “menjemput impian”, “kejarlah cita-citamu”, dan masih banyak lagi yang maknanya sama: positif! Benar, banyak sekali ungkapan/kutipan tentang semangat dalam mewujudkan mimpi. Tentu saja dalam prakteknya tak berhenti pada kalimat-kalimat heroik belaka. Dibutuhkan upaya nyata, baik berupa tindakan maupun keputusan yang diambil seseorang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.  
Pixabay

Ada berbagai macam upaya yang dilakukan manusia dalam merealisasikan mimpinya. Mulai dari yang teringan, terberat, termudah, tersulit, tercepat, terlama, bahkan dari yang wajar hingga yang tak wajar. Semua bergantung pada seberapa besar hasrat seseorang dalam mengejar mimpinya. Bukan hal yang salah pula seseorang berusaha mewujudkan impiannya, selama tidak merugikan orang lain tentunya. Ini berlaku untuk semua, termasuk kita.

Namun satu-satunya pertanyaan yang muncul, siapkah kita pada berbagai kemungkinan yang diperoleh dari usaha kita? Bisa saja kita jawab Ya, atau Tidak/Belum. Tapi jawaban yang paling nyata adalah sikap kita ketika waktu itu benar-benar tiba. Bagaimana sikap kita ketika benar-benar berhasil, atau benar-benar gagal ketika usahanya mencapai fase akhir di ambang target. 

Ada dua indikator seseorang itu disebut siap. Pertama, ketika ia berhasil mewujudkan mimpinya tetap stay in control, tidak melakukan selebrasi yang berlebihan (tetap gembira tapi masih dalam kewajaran), dan bersyukur baik dalam ucapan maupun tindakan. Kedua, ketika ia gagal merealisasikan mimpinya, meskipun sedih tapi tidak berlebihan, tidak mencari kompensasi lain yang merugikan, dan berusaha move on mencari peluang dan harapan baru.  

Sedangkan seseorang tidak dikatakan siap dengan segala kemungkinan jika ia berhasil mewujudkan mimpinya, keberhasilan itu menjadi escalator yang meninggikan hatinya, sehingga pandangannya terus keatas dan lupa akan masa-masa saat ia dibawah, serta lupa pula bahwa keberhasilannya tak lain karena kehendak Tuhan. Seseorang juga dikatakan tidak siap ketika ia gagal merealisasikan impiannya, seketika itu pula ia terpuruk jatuh dalam liang kesedihan tak berujung. Ia butuh waktu lama untuk move on karena merasa dunia seperti sudah berakhir karena kegagalannya dalam mewujudkan mimpi.


Pixabay
Dari dua jawaban diatas pula dapat diketahui seseorang itu pengejar mimpi atau pemuja mimpi. Apa bedanya pengejar dan pemuja? Tentu saja ada bedanya. Jika seseorang itu masuk kategori siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, maka ia pun termasuk pengejar mimpi. Karena pengejar mimpi masih didominasi oleh rasionalitas dalam memandang apa yang diimpikan.

Sebaliknya, jika ia tidak siap dengan segala kemungkinan, maka ia termasuk dalam pemuja mimpi. Karena dilihat dari sikapnya dalam menanggapi hasil yang diperoleh, maka tampaklah bahwa ia menaruh impiannya itu diatas segalanya. Kedudukan impiannya melebihi semua harapan yang ia miliki, sehingga tak ada pilihan lagi selain apa yang menjadi impiannya itu. Dan kegagalan yang ia peroleh merupakan kerugian terbesar dalam hidupnya. Sikap inilah yang perlu dihindari dalam usaha meraih mimpi. Maka jadilah pengejar mimpi, bukan pemuja mimpi. 

Demikian sekelumit tulisan saya ini, mohon maaf bila ada kekurangan baik dari segi teknis maupun substansi. Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca. Keep dreaming, keep fighting, and don’t forget for praying…



Selasa, 20 Desember 2016

La Cita (12.2.a)

"Ada dua macam pejuang yang paling kuat, yaitu kesabaran dan waktu." 

- Leo Tolstoy -


Selasa, 15 November 2016

Nostalgia Timnas di Piala Tiger 2004 (sekarang Piala AFF)

Sebetulnya saya sudah sejak lama vakum mengikuti perkembangan sepakbola, baik lokal maupun mancanegara. Namun dengan keikutsertaan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2016 (sekaligus debut ajang internasional pasca sanksi FIFA), memori saya diingatkan kembali pada momen kala Timnas tampil di ajang tersebut tahun 2004. Kala itu turnamen sepakbola antar negara ASEAN dimaksud masih bernama Piala Tiger. Mengapa Piala Tiger 2004? Karena sepanjang pengamatan saya pada sepak terjang Timnas Indonesia, penampilan di Piala Tiger 2004 adalah yang terbaik…

Jelang turnamen
Sebelum tampil di Piala Tiger 2004, Tim Garuda bisa dibilang tak punya waktu persiapan yang cukup. Bahkan masa TC mereka jauh dari kata ideal untuk membentuk sebuah Tim Nasional yang tangguh. Alasannya tak lain adalah kompetisi liga domestik yang padat (dan molor) kala itu. Meskipun tidak punya waktu untuk menghelat pertandingan uji coba internasional, kebetulan saat itu Timnas sedang menjalani kualifikasi Piala Dunia 2006 Zona Asia. Maka dijadikanlah sisa laga kualifikasi Piala Dunia (yang sudah tak lagi menentukan) sebagai “uji coba” Tim Merah-Putih jelang tampil di kejuaraan ASEAN.
Ada dua pertanding sisa kualifikasi Piala Dunia yang dijalani, yakni melawan Arab Saudi dan menghadapi Turkmenistan. Keduanya sama-sama dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dan sama-sama pula berakhir dengan skor 3-1. Bedanya, skor 3-1 yang pertama adalah kemenangan Arab Saudi, sedang sisanya adalah kemenangan Timnas sekaligus penutup rangkaian pertadingan Kualifikasi Piala Dunia yang dijalani selama 2004.
Namun perlu digarisbawahi, bahwa pertandingan melawan Arab Saudi yang disebut tadi merupakan momen yang special. Bukan karena hasil akhirnya, tapi pada pertandingan itulah seorang pemuda Papua berusia 18 tahun mencatatkan debutnya bersama Tim Merah-Putih di ajang internasional. Dialah Boaz Theofilius Erwin Solossa, pemain yang kelak menjadi bintang andalan Timnas Indonesia. Meski tidak mencetak gol di pertandingan debutnya, penampilan striker asal Sorong itu mampu memukau sekaligus memberikan harapan baru kepada Timnas dan para pecinta sepakbola tanah air.
Dipilihnya nama Peter Withe sebagai juru taktik Timnas pasca Piala Asia 2004 turut memberi warna tersendiri bagi Timnas. Pasalnya kala itu pula, nama Peter Withe telah dikenal sebagai pelatih sukses di Asia Tenggara karena mampu membawa Thailand juara di 2 edisi Piala Tiger sebelumnya (2000 dan 2004), medali emas SEA Games 1999, semifinalis Asian Games 1998 dan berprestasi di Piala Asia 2000 dan Kualifikasi Piala Dunia 2002. Dibekali pemain-pemain bagus yang banyak memasuki usia emas, kehadiran Withe pun diharapkan memberi prestasi tinggi pula untuk sepak bola Indonesia.

Saat Turnamen
Maka Piala Tiger 2004 pun dimulai. Pertandingan perdana dijalani Indonesia menghadapi Laos. Pertandingan tersebut menjadi panggung pertunjukan bomber-bomber maut Garuda yang bermaterikan Ilham Jayakesuma, Elie Aiboy dan the rising star, Boaz Solossa. Tak tanggung-tanggung, gawang Laos digelontor 6 gol tanpa balas dan membuahkan poin penuh Indonesia di laga perdananya.
Source: bola.net

Sepanjang penyisihan grup Indonesia bak raksasa ngamuk yang tanpa ampun melumat lawan-lawannya. Selain Laos, Kamboja dan tuan rumah Vietnam turut menjadi korban keganasan Garuda yang dikapteni Ponaryo Astaman. Vietnam yang bermain sebagai tuan rumah, dibungkam tak berdaya di hadapan pendukungnya sendiri. Skornya pun cukup telak, 3-0. Penyisihan grup ditutup dengan kemenangan 8-0 Indonesia atas Kamboja. Dari 4 pertandingan penyisihan grup, Indonesia berada di puncak klasemen dengan mencatatkan 3 kemenangan, satu kali imbang dan menorehkan membukukan 17 gol tanpa kebobolan satu pun! Cuma Singapura satu-satunya tim yang berhasil mencuri poin dari Indonesia saat bermain imbang 0-0 di laga kedua penyisihan grup.
Memasuki fase knock out, ekspektasi dan optimisme terhadap Timnas semakin tinggi saja. Setelah keluar sebagai juara grup dengan torehan yang fantastis, Indonesia berhadapan dengan tim negeri jiran Malaysia di semifinal. Pertandingan babak ini (dan selanjutnya) menggunakan system home-away, dimana Indonesia bertindak sebagai tuan rumah di leg pertama. Bermain di Gelora Bung Karno, pertandingan Indonesia vs Malaysia disesaki pendukung Garuda di tribun penonton. Baru 5 menit permainan berjalan, Kurniawan Dwi Yulianto membuat stadion bergemuruh setelah sundulan akuratnya menjebol gawang Harimau Malaya sekaligus membuka skor untuk tuan rumah Indonesia.
Sayangnya gol tersebut menjadi satu-satunya gol yang diciptakan Indonesia di pertandingan itu. Dan hasil yang didapat pun di luar dugaan. Indonesia justru kalah di kandang sendiri melawan Malaysia di leg pertama semifinal Piala Tiger 2004. Hasil ini praktis memperberat peluang Boaz Solossa dkk. untuk bisa lolos ke babak puncak. Mau tak mau mereka harus menang pada leg kedua di kandang lawan!
Maka selajutnya pertandingan semifinal leg kedua dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan beban mengejar defisit kekalahan 1-2 di Jakarta, babak Final serasa cukup jauh dari harapan. Dan harapan itu semakin kabur setelah Malaysia mencetak gol di pertandingan itu dan membuka skor 1-0. Alhasil, Indonesia harus mengejar defisit 3 gol. Namun masuknya Kurniawan sebagai pemain pengganti di babak kedua agaknya memberi inspirasi baru untuk Timnas yang nyaris kehilangan harapan di pertandingan.
Source: wikipedia.org
Aksi Kurniawan yang membuahkan gol lewat sepakan kerasnya sekaligus menjadi trigger bangkitnya semangat Timnas untuk mengejar kemenangan. Terbukti setelah papan skor imbang 1-1, gol-gol lain untuk Timnas tercipta lewat sundulan Charis Yulianto, sepakan Ilham Jayakesuma dan aksi individu berkelas dari Boaz Solossa. Apa yang terjadi? Skor berakhir 4-1 untuk kemenangan Indonesia di kandang lawan, dan lolos ke babak puncak! Ini adalah pertandingan dengan hasil paling fantastis selama saya menyaksikan Timnas…
Benar saja. Kemenangan spektakuler itu mengantar Indonesia lolos ke Final. Dan lawan yang dihadapi adalah tim yang sudah tak asing lagi karena sebelumnya sudah bersua di penyisihan grup. Lawan yang dimaksud adalah satu-satunya tim yang berhasil mencuru poin dari Indonesia di penyihan grup, yaitu Singapura. Sama seperti babak semifinal, Indonesia kembali mendapat kesempatan tuan rumah di leg pertama Final.
Untuk keduakalinya Stadion Utama Gelora Bung Karno dipenuhi supporter-suporter yang mendukung Merah-Putih bertanding. Pertandingan berjalan antara kedua belah tim. Ekspektasi mengangkat trofi Piala Tiger untuk pertama kalinya kian membubung tinggi. Namun baru beberapa menit permainan berlangsung, gawang Indonesia dikejutkan oleh gol pemain naturalisasi Singapura.
Tertinggal satu gol membuat permainan Ponaryo Astaman cs. kian agresif. Namun gawang Hendro Kartiko lagi-lagi harus bobol sehingga skor menjadi 2-0 untuk tim tamu, dan bertahan hingga turun minum. Sebetulnya permainan Indonesia tidak buruk dalam pertandingan ini. Hanya saja Singapura lebih beruntung dan oportunis dalam memanfaatkan setiap peluang dan serangan balik. Babak kedua pun sama saja. Dominasi Garuda atas The Lions di lapangan harus pupus setelah Singapura mencetak gol ketiganya yang membuat Timnas mulai merelakan kekalahannya di kandang sendiri. Gol Mahyadi Panggabean di akhir pertandingan menjadi penutup drama leg pertama final yang berakhir 3-1 untuk kemenangan Tim Singa.
Pertandingan selanjutnya sekaligus laga pamungkas dihelat di kandang Singapura. “Gol hiburan” Mahyadi Panggabean saat memperkecil skor jadi 1-3 di Jakarta lalu dijadikan modal Timnas untuk bangkit. Bukan tanpa alasan mengingat pada semifinal Indonesia juga kalah di kandang tapi mampu bangkit dan menang saat bertandang. Namun pertandingan leg kedua final Piala Tiger 2004 agaknya menjadi titik klimaks penampilan Garuda. Babak pertama berakhir dengan keunggulan 2-0 untuk tuan rumah Singapura.
Pertandingan babak kedua hanya menjadi menit-menit hitung mundur resminya gelar juara Piala Tiger untuk Singapura. Meskipun tetap memberi perlawanan sengit, Indonesia hanya mampu menambah satu gol sekaligus menjadi gol terakhir Timnas di turnamen tersebut. Peluit panjang dibunyikan sebagai tanda berakhirnya pertandingan final leg kedua. Skor 2-1 untuk Singapura menjadikan Tim Singa keluar sebagai Kampiun ASEAN 2004, setelah unggul agregat 5-2 atas Indonesia. Bagi Indonesia, hasil ini adalah hattrick mereka sebagai runner up kejuaraan itu setelah sebelumnya mendapat hasil yang sama pada edisi 2000 dan 2002.

Pasca tunamen
Meskipun (kembali) gagal mengangkat trofi juara, Tim Indonesia tetap mendapat sanjungan yang tinggi. Saya mendapat beberapa catatan dari penampilan impresif Timnas saat itu, berikut uraiannya.
ü  Di level individu Indonesia mendapat gelar top scorer (pencetak gol terbanyak) melalui striker Ilham Jayakesuma (7 gol). Gelar ini adalah yang ketiga kali berturut-turut diraih pemain Indonesia setelah sebelumnya Gendut Doni  (2000) dan Bambang Pamungkas (2002) mendapat gelar serupa.
ü  Nama Boaz Solossa kian melambung namanya di kancah sepak bola setelah turnamen ini
ü  Kombinasi Boaz Solossa, Ilham Jayakesuma dan Elie Aiboy menjadi kombinasi paling maut yang pernah dimiliki Timnas sepanjang sejarah keikusertaan Piala AFF.
ü  Selain trisula Boaz-Ilham-Elie, peran bek sayap Ismed Sofyan dan Ortizan Solossa turut menjadi alasan diseganinya serangan Timnas lewat sayap.
ü  Sosok Peter Withe sebagai pelatih tim tentu memegang peranan penting di balik layar penampilan impresif Timnas di Piala Tiger 2004. Ia dikenal sebagai pelatih yang pandai memotivasi pemain. Pasca turnamen, Withe memperkenalkan pola 4-4-2 kepada sepakbola Indonesia yang sebelumnya akrab dengan pakem 3-5-2.
ü  Rekor gol Timnas 17-0 sepanjang penyisihan grup belum ada yang menyamainya sama sekali sampai mejelang Piala AFF 2016 (saat catatan ini dibuat).
ü  Setelah berakhirnya Piala Tiger 2004, Timnas senior bisa dibilang vakum dari ajang resmi sepakbola internasional sepanjang 2005-2006. Sebetulnya ada kualifikasi Piala Asia 2007, namun karena Indonesia bertindak sebegai salah satu tuan rumah, maka sudah seharusnya otomatis lolos tanpa melewati kualifikasi.
ü  Butuh 3 edisi tunamen pasca 2004 bagi Timnas untuk bisa kembali merasakan babak puncak turnamen. Ini terjadi pada Piala AFF 2010 dimana Timnas kembali melaju hingga Final sebelum dihentikan Malaysia dan kembali menjadi runner up untuk keempat kalinya di ajang tersebut.
ü  Meskipun penampilan Timnas di Piala AFF 2010 tergolong impresif dan mendapat apresiasi banyak kalangan, bagi saya Timnas edisi Piala Tiger 2004 tetap yang terbaik. Semoga tak perlu menunggu waktu lama lagi untuk melihat performa Timnas yang impresif dan mampu memberi kebanggaan lewat prestasi-prestasi gemilang...

Bonus Video (Youtube)


Kamis, 10 November 2016

La Cita (12.1.z)

"Kemerdekaan satu negara, yang didirikan diatas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga." 
- Jenderal Sudirman -

Minggu, 30 Oktober 2016

Tentang Objektivitas

Apalah arti objektif
Bila semua yang kita yakini bersifat subjektif
Lantas apakah yang kau sebut "objektif" 
Benar-benar bersifat objektif?

"Kau harus objektif kawan..."
Kata-kata lantang yang sering lembut diucapkan
Lantas apakah kau seorang yang objektif?
Hmm.. cobalah sejenak 'tuk pikirkan

Tiada yang salah dengan terma "objektif"
Sebutir kata dengan segenap makna yang baik
Nahasnya, yang baik itu belum tentu benar...
Sekalipun benar dalam konteks gramatikal

Ketika kau sebut objektivitas itu kebenaran
Maka ingatlah bahwa kebenaran itu subjektif!
Dan ketika kau mengaku-ngaku objektif
Maka dirimu itulah subjektivitas yang masif..

Karena apa-apa yang kau pikirkan
Apa-apa yang kau inginkan
Dan apa-apa yang kau wujudkan 
Semua berpangkal dari subjektivitasmu
Dan subjektivitasmu berpangkal dari egomu

Kita tak bisa berbuat objektif kawan..
Karena ia hanya ketiadaan yang diada-adakan
Lantas apa yang dapat kita perbuat, kawan..
Ketika sang waktu memaksa 'tuk menyikapi keadaan?

Jawabnya adalah keadilan, kawan..
Karena ia berpangkal dari kebijaksanaan
Dan kebijaksanaan berpangkal dari nurani
Dimatangkan oleh logika atas sebuah kelaikan
Dan mengkristal dalam tindakan-tindakan

Timbanglah semua dengan aspek-aspek yang berperan
Hindari berat sebelah, mulailah adil sejak dalam pikiran
Ya, adil sejak dalam pikiran
Seperti kata Pram

Jakarta, 30 Oktober 2016
Written by: Ali-aliyonk

Jumat, 28 Oktober 2016

Sumpah Mahasiswa Indonesia

Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah:
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan

Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah:
Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan

Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah:
Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan



Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...