".... Bagi saya, lebih baik dua atau tiga pemain diberi kesempatan bermain di satu klub luar negeri dan itu kita lakukan ke beberapa klub ketimbang mengirim satu tim tetap bersama-sama seperti Primavera."
- Kurniawan Dwi Yulianto -
Sepakbola Indonesia kini benar-benar tengah menjalani babak baru. Setelah terbebas dari sanksi FIFA 2016 lalu, PSSI selaku induk organisasi tertinggi sepak bola nasional telah memilih Ketua baru untuk memimpin organisasinya hingga tahun 2020. Beberapa langkah pun telah diambil kepengurusan baru seperti penunjukan pelatih timnas senior dan kelompok umur, format kompetisi liga, pembinaan usia dini, dan program-program lain akan dijalankan untuk memajukan sepakbola nasional beberapa tahun ke depan.
Pixabay
Bicara soal pembinaan usia dini, maka sama halnya bicara tentang pondasi dalam pembangunan sepakbola yang maju dan profesional. Oleh karena itu diperlukan komitmen dan konsistensi yang tak sekedar wacana saja, tetapi juga dalam prakteknya di lapangan. Kabar baiknya, kepengurusan baru PSSI 2016-2020 telah menyiapkan program untuk mewujudkannya, dimana mereka akan menggelar sebuah komopetisi usia dini yang akan dimonitor langsung oleh pemandu-pemandu bakat di seluruh tanah air. (http://bola.bisnis.com/)
Tentu kabar tersebut layak diapresiasi dan didukung penuh oleh segenap pemerhati sepak bola. Terlebih jika klub-klub yang terlibat di dalam kompetisinya nanti tak hanya melatih pemain dari segi teknis, tapi juga segi mental. Cukup besar harapan untuk melihat pemain-pemain muda yang tak hanya ber-skill mumpuni, tapi juga bermental juara. Suatu hal yang mutlak dibutuhkan Tim Nasional, sebagai muara dari hasil pembinaan yang dilakukan tersebut.
Kiranya ini fakta yang sudah cukup sering terdengar, bahwa sebenarnya Indonesia punya cukup banyak telanta-talenta sepakbola yang potensial. Akan tetapi potensi-potensi itu seolah mentok saat pemain berusia 20 tahun keatas. Memang banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, namun ijinkan saya untuk menitikberatkan pada pembinaan usia muda.
Selama ini sudah cukup banyak baik turnamen maupun kompetisi yang digelar untuk pemain-pemain usia muda. Tugas PSSI adalah mengintegerasikan semua itu dalam sebuah sistem hirarkhi pembinaan berjenjang yang profesional dan berkelanjutan, terutama untuk kompetisi (bukan turnamen). Gagasan kepengurusan baru sebagaimana disebutkan diatas kiranya agar lebih diselaraskan lagi pola pembinaan yang sudah ada sebelumnya.
Namun akan lebih baik lagi jika program pembinaan dalam negeri yang menjadi prioritas dilengkapi pula dengan program komplementer. Diharapkan program ini akan mempermudah PSSI dalam mewujudkan tujuan yang digariskan dalam program utama. Adapun program komplementer yang dimaksud adalah membina pemain-pemain muda berbakat di negara yang sudah maju sepakbolanya.
Mungkin gagasan ini tidak terdengar baru lagi. Benar, program pengiriman pemain ke luar negeri sudah beberapa kali dilakukan PSSI di masa lalu. Sebut saja program pengiriman timnas ke Brazil tahun 1980-an, proyek primavera 1993-1994, hingga proyek Sociedad Anonima Deportivo (SAD) Indonesia ke Uruguay tahun 2008-2012. Tetapi yang dikirim dalam program-program tersebut adalah sebuah skuad tim, bukan pemain dalam artian individu ataupun beberapa individu saja.
Hasil dari proyek-proyek itu pun kurang sesuai dengan yang diharapkan. Meskipun sempat menghasilkan pemain-pemain bagus dan menjadi pilar timnas di kemudian hari, tapi efeknya masih kurang terasa untuk peningkatan prestasi Timnas pada umumnya. Faktor penyebab kurangnya berhasilnya proyek-proyek tadi kiranya telah diungkapkan oleh mantan pemain yang terlibat langsung dalam program tersebut.
Pixabay
Kurniawan Dwi Yulianto, mantan striker Timnas yang dibina langsung dalam program Primavera 1993, mengungkapkan bahwa pengiriman satu tim ke luar negeri sama halnya memindahkan tempat latihan bersama saja. Efeknya untuk peningkatan teknis kurang terasa karena rekan-rekan berlatihnya juga sama, kendati tempat dan cuacanya berbeda. Lebih lanjut, Kurniawan menjelaskan bahwa efek berlatihnya baru terasa ketika sang pemain bergabung dalam sebuah Klub yang benar-benar 100% pemainnya kelas Eropa. (http://www.bola.com/)
Pernyataan diatas tentu faktual karena diutarakan oleh mantan pemain yang terlibat langsung dalam pelatihan dimaksud, sehingga para pemangku kepentingan sepakbola nasional perlu mencermatinya. Nah, kembali ke program komplementer yang saya tulis sebelumnya. Berkaca pada statement diatas, maka alangkah baiknya jika pembinaan usia muda dalam negeri dilengkapi pengiriman pemain-pemain potensial terpilih untuk berkompetisi di luar negeri.
Sekali lagi: mengirim pemain, bukan mengirim tim. Bolehlah PSSI mengirim Timnas TC ke luar negeri. Tapi untuk pembinaan jangka menengah, PSSI bisa mengambil beberapa pemain muda terbaik untuk dikirim ke luar negeri. Misalnya PSSI bisa ambil beberapa pemain U-19 atau U-16 dari setiap lini untuk berkompetisi di Spanyol. Sebut saja dari lini belakang (bek), lini tengah (gelandang) dan lini depan (penyerang) masing-masing diseleksi 2 pemain sehingga totalnya 6 pemain. Keenam pemain ini kemudian dititipkan secara tersebar di 2-3 tim Liga Spanyol untuk berlatih dan berkompetisi secara reguler disana, minimal satu musim.
Dengan cara ini, pemain-pemain yang berlatih dan berkompetisi di negara sepakbola maju diharapkan membawa pengaruh positif ketika bergabung dengan Tim Nasional. Terlebih jika diambil dari setiap lini, maka akan ada kontribusi yang merata dalam tim secara utuh. Dengan catatan, negara yang dituju benar-benar punya kultur sepakbola yang baik dalam menunjang pembinaan pemain muda. Dan yang lebih penting lagi adalah kontinuitas program agar tidak terhenti tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Demikian sedikit masukan dari saya untuk pembinaan sepak bola tanah air, semoga bisa dijadikan pertimbangan bagi para stakeholder sepakbola nasional. Salam olahraga...
Mimpi. Pernahkah anda memilikinya? Atau anda sedang
memilikinya? Oops, tunggu dulu. Mimpi
yang dimaksud disini bukan bunga tidur. Tapi mimpi yang dimaksud adalah alasan
dibalik hasrat kita dalam melakukan berbagai upaya. Mengapa kita bermimpi?
Pixabay
Secara
turun-temurun, bangsa kita percaya bahwa tiap manusia dianugerahi tiga
kemampuan dasar (tridaya) dalam menjalani perannya sebagai individu. Ketiga
kemampuan dimaksud adalah cipta, rasa dan karsa. Cipta merupakan kemampuan
manusia untuk memunculkan suatu ide/gagasan dalam pikiran yang sifatnya brand new. Sesuatu yang sebelumnya belum
ada, belum terpikirkan, menjadi ada dan bergelayut dalam pikiran.
Daya cipta telah memunculkan sesuatu dalam diri kita. Entah
berupa pemikiran yang berkecamuk dalam kepala, perasaan yang terpendam dalam
diri kita, atau segala hal tak kasat mata yang hanya ada dalam diri kita, dan cuma
kita pula yang memahaminya. Mengapa kita merasakannya? Tentu karena kita
memiliki daya rasa. Kemampuan untuk merasakan segala yang menghampiri kita,
entah muncul dalam diri maupun dari luar. Sebuah ungkapan emosi yang berangkat
dari apa yang dirasa, baik lahir maupun batin.
Terakhir adalah karsa. Dimana karsa ini merupakan daya
manusia yang menentukan seberapa besar kemauan manusia dalam
mewujudkan/menyalurkan apa yang telah tercipta dan ia rasakan dalam dirinya. Dari
daya ini pula muncul apa yang kita kenal dengan istilah “hasrat”. Hasrat timbul
dalam diri untuk melakukan segala upaya yang menghasilkan output dari daya cipta dan rasa yang mendahuluinya.
Hasrat ini pula yang menjadi energi untuk mengejar semua yang
kita inginkan. Apapun yang kita inginkan, baik berupa gagasan, ucapan, target, kehendak,
tindakan, pernyataan sikap, dan tak ketinggalan pula sesuatu yang tengah kita
bahas: impian. Ya, impian. Bentuk lanjutan dari gagasan berupa mimpi. Dengan
mimpi, manusia seperti memiliki peta petunjuk jalan yang mengarah pada target
yang diinginkan, sedangkan hasrat ibarat kendaraan yang mengantar manusia mengarungi
jalan menuju targetnya.
Sekiranya kita sudah cukup akrab mendengar jargon-jargon
semacam “mengejar mimpi”, “menjemput impian”, “kejarlah cita-citamu”, dan masih
banyak lagi yang maknanya sama: positif! Benar, banyak sekali ungkapan/kutipan tentang
semangat dalam mewujudkan mimpi. Tentu saja dalam prakteknya tak berhenti pada
kalimat-kalimat heroik belaka. Dibutuhkan upaya nyata, baik berupa tindakan
maupun keputusan yang diambil seseorang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
Pixabay
Ada berbagai macam upaya yang dilakukan manusia dalam
merealisasikan mimpinya. Mulai dari yang teringan, terberat, termudah, tersulit,
tercepat, terlama, bahkan dari yang wajar hingga yang tak wajar. Semua bergantung
pada seberapa besar hasrat seseorang dalam mengejar mimpinya. Bukan hal yang
salah pula seseorang berusaha mewujudkan impiannya, selama tidak merugikan
orang lain tentunya. Ini berlaku untuk semua, termasuk kita.
Namun satu-satunya pertanyaan yang muncul, siapkah kita pada
berbagai kemungkinan yang diperoleh dari usaha kita? Bisa saja kita jawab Ya,
atau Tidak/Belum. Tapi jawaban yang paling nyata adalah sikap kita ketika waktu
itu benar-benar tiba. Bagaimana sikap kita ketika benar-benar berhasil, atau
benar-benar gagal ketika usahanya mencapai fase akhir di ambang target.
Ada dua indikator seseorang itu disebut siap. Pertama, ketika
ia berhasil mewujudkan mimpinya tetap stay
in control, tidak melakukan selebrasi yang berlebihan (tetap gembira tapi
masih dalam kewajaran), dan bersyukur baik dalam ucapan maupun tindakan. Kedua,
ketika ia gagal merealisasikan mimpinya, meskipun sedih tapi tidak berlebihan,
tidak mencari kompensasi lain yang merugikan, dan berusaha move on mencari peluang dan harapan baru.
Sedangkan seseorang tidak dikatakan siap dengan segala
kemungkinan jika ia berhasil mewujudkan mimpinya, keberhasilan itu menjadi escalator
yang meninggikan hatinya, sehingga pandangannya terus keatas dan lupa akan
masa-masa saat ia dibawah, serta lupa pula bahwa keberhasilannya tak lain karena kehendak Tuhan. Seseorang juga dikatakan tidak siap ketika ia gagal
merealisasikan impiannya, seketika itu pula ia terpuruk jatuh dalam liang
kesedihan tak berujung. Ia butuh waktu lama untuk move on karena merasa dunia seperti sudah berakhir karena
kegagalannya dalam mewujudkan mimpi.
Pixabay
Dari dua jawaban diatas pula dapat diketahui seseorang itu
pengejar mimpi atau pemuja mimpi. Apa bedanya pengejar dan pemuja? Tentu saja
ada bedanya. Jika seseorang itu masuk kategori siap dengan segala kemungkinan
yang terjadi, maka ia pun termasuk pengejar mimpi. Karena pengejar mimpi masih
didominasi oleh rasionalitas dalam memandang apa yang diimpikan.
Sebaliknya, jika ia tidak siap dengan segala kemungkinan,
maka ia termasuk dalam pemuja mimpi. Karena dilihat dari sikapnya dalam
menanggapi hasil yang diperoleh, maka tampaklah bahwa ia menaruh impiannya itu
diatas segalanya. Kedudukan impiannya melebihi semua harapan yang ia miliki,
sehingga tak ada pilihan lagi selain apa yang menjadi impiannya itu. Dan kegagalan
yang ia peroleh merupakan kerugian terbesar dalam hidupnya. Sikap inilah yang
perlu dihindari dalam usaha meraih mimpi. Maka jadilah pengejar mimpi, bukan
pemuja mimpi.
Demikian sekelumit tulisan saya ini, mohon maaf bila ada
kekurangan baik dari segi teknis maupun substansi. Semoga bermanfaat bagi
siapapun yang membaca. Keep dreaming,
keep fighting, and don’t forget for praying…
Sebetulnya saya
sudah sejak lama vakum mengikuti perkembangan sepakbola, baik lokal maupun
mancanegara. Namun dengan keikutsertaan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF
2016 (sekaligus debut ajang internasional pasca sanksi FIFA), memori saya diingatkan
kembali pada momen kala Timnas tampil di ajang tersebut tahun 2004. Kala itu
turnamen sepakbola antar negara ASEAN dimaksud masih bernama Piala Tiger. Mengapa
Piala Tiger 2004? Karena sepanjang pengamatan saya pada sepak terjang Timnas
Indonesia, penampilan di Piala Tiger 2004 adalah yang terbaik…
Jelang turnamen
Sebelum tampil
di Piala Tiger 2004, Tim Garuda bisa dibilang tak punya waktu persiapan yang
cukup. Bahkan masa TC mereka jauh dari kata ideal untuk membentuk sebuah Tim
Nasional yang tangguh. Alasannya tak lain adalah kompetisi liga domestik yang
padat (dan molor) kala itu. Meskipun tidak punya waktu untuk menghelat pertandingan
uji coba internasional, kebetulan saat itu Timnas sedang menjalani kualifikasi
Piala Dunia 2006 Zona Asia. Maka dijadikanlah sisa laga kualifikasi Piala Dunia
(yang sudah tak lagi menentukan) sebagai “uji coba” Tim Merah-Putih jelang
tampil di kejuaraan ASEAN.
Ada dua
pertanding sisa kualifikasi Piala Dunia yang dijalani, yakni melawan Arab Saudi
dan menghadapi Turkmenistan. Keduanya sama-sama dihelat di Stadion Utama Gelora
Bung Karno, dan sama-sama pula berakhir dengan skor 3-1. Bedanya, skor 3-1 yang
pertama adalah kemenangan Arab Saudi, sedang sisanya adalah kemenangan Timnas
sekaligus penutup rangkaian pertadingan Kualifikasi Piala Dunia yang dijalani
selama 2004.
Namun perlu
digarisbawahi, bahwa pertandingan melawan Arab Saudi yang disebut tadi
merupakan momen yang special. Bukan karena hasil akhirnya, tapi pada
pertandingan itulah seorang pemuda Papua berusia 18 tahun mencatatkan debutnya
bersama Tim Merah-Putih di ajang internasional. Dialah Boaz Theofilius Erwin
Solossa, pemain yang kelak menjadi bintang andalan Timnas Indonesia. Meski
tidak mencetak gol di pertandingan debutnya, penampilan striker asal Sorong itu
mampu memukau sekaligus memberikan harapan baru kepada Timnas dan para pecinta
sepakbola tanah air.
Dipilihnya nama
Peter Withe sebagai juru taktik Timnas pasca Piala Asia 2004 turut memberi
warna tersendiri bagi Timnas. Pasalnya kala itu pula, nama Peter Withe telah
dikenal sebagai pelatih sukses di Asia Tenggara karena mampu membawa Thailand
juara di 2 edisi Piala Tiger sebelumnya (2000 dan 2004), medali emas SEA Games
1999, semifinalis Asian Games 1998 dan berprestasi di Piala Asia 2000 dan
Kualifikasi Piala Dunia 2002. Dibekali pemain-pemain bagus yang banyak memasuki
usia emas, kehadiran Withe pun diharapkan memberi prestasi tinggi pula untuk
sepak bola Indonesia.
Saat Turnamen
Maka Piala Tiger
2004 pun dimulai. Pertandingan perdana dijalani Indonesia menghadapi Laos.
Pertandingan tersebut menjadi panggung pertunjukan bomber-bomber maut Garuda
yang bermaterikan Ilham Jayakesuma, Elie Aiboy dan the rising star, Boaz Solossa. Tak tanggung-tanggung, gawang Laos
digelontor 6 gol tanpa balas dan membuahkan poin penuh Indonesia di laga
perdananya.
Source: bola.net
Sepanjang
penyisihan grup Indonesia bak raksasa ngamuk yang tanpa ampun melumat
lawan-lawannya. Selain Laos, Kamboja dan tuan rumah Vietnam turut menjadi
korban keganasan Garuda yang dikapteni Ponaryo Astaman. Vietnam yang bermain
sebagai tuan rumah, dibungkam tak berdaya di hadapan pendukungnya sendiri.
Skornya pun cukup telak, 3-0. Penyisihan grup ditutup dengan kemenangan 8-0
Indonesia atas Kamboja. Dari 4 pertandingan penyisihan grup, Indonesia berada
di puncak klasemen dengan mencatatkan 3 kemenangan, satu kali imbang dan
menorehkan membukukan 17 gol tanpa kebobolan satu pun! Cuma Singapura
satu-satunya tim yang berhasil mencuri poin dari Indonesia saat bermain imbang
0-0 di laga kedua penyisihan grup.
Memasuki fase knock out, ekspektasi dan optimisme
terhadap Timnas semakin tinggi saja. Setelah keluar sebagai juara grup dengan
torehan yang fantastis, Indonesia berhadapan dengan tim negeri jiran Malaysia
di semifinal. Pertandingan babak ini (dan selanjutnya) menggunakan system
home-away, dimana Indonesia bertindak sebagai tuan rumah di leg pertama.
Bermain di Gelora Bung Karno, pertandingan Indonesia vs Malaysia disesaki
pendukung Garuda di tribun penonton. Baru 5 menit permainan berjalan, Kurniawan
Dwi Yulianto membuat stadion bergemuruh setelah sundulan akuratnya menjebol
gawang Harimau Malaya sekaligus membuka skor untuk tuan rumah Indonesia.
Sayangnya gol
tersebut menjadi satu-satunya gol yang diciptakan Indonesia di pertandingan
itu. Dan hasil yang didapat pun di luar dugaan. Indonesia justru kalah di
kandang sendiri melawan Malaysia di leg pertama semifinal Piala Tiger 2004. Hasil
ini praktis memperberat peluang Boaz Solossa dkk. untuk bisa lolos ke babak
puncak. Mau tak mau mereka harus menang pada leg kedua di kandang lawan!
Maka selajutnya
pertandingan semifinal leg kedua dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan
beban mengejar defisit kekalahan 1-2 di Jakarta, babak Final serasa cukup jauh
dari harapan. Dan harapan itu semakin kabur setelah Malaysia mencetak gol di
pertandingan itu dan membuka skor 1-0. Alhasil, Indonesia harus mengejar
defisit 3 gol. Namun masuknya Kurniawan sebagai pemain pengganti di babak kedua
agaknya memberi inspirasi baru untuk Timnas yang nyaris kehilangan harapan di
pertandingan.
Source: wikipedia.org
Aksi Kurniawan
yang membuahkan gol lewat sepakan kerasnya sekaligus menjadi trigger bangkitnya semangat Timnas untuk
mengejar kemenangan. Terbukti setelah papan skor imbang 1-1, gol-gol lain untuk
Timnas tercipta lewat sundulan Charis Yulianto, sepakan Ilham Jayakesuma dan
aksi individu berkelas dari Boaz Solossa. Apa yang terjadi? Skor berakhir 4-1
untuk kemenangan Indonesia di kandang lawan, dan lolos ke babak puncak! Ini
adalah pertandingan dengan hasil paling fantastis selama saya menyaksikan Timnas…
Benar saja.
Kemenangan spektakuler itu mengantar Indonesia lolos ke Final. Dan lawan yang
dihadapi adalah tim yang sudah tak asing lagi karena sebelumnya sudah bersua di
penyisihan grup. Lawan yang dimaksud adalah satu-satunya tim yang berhasil
mencuru poin dari Indonesia di penyihan grup, yaitu Singapura. Sama seperti
babak semifinal, Indonesia kembali mendapat kesempatan tuan rumah di leg
pertama Final.
Untuk keduakalinya
Stadion Utama Gelora Bung Karno dipenuhi supporter-suporter yang mendukung
Merah-Putih bertanding. Pertandingan berjalan antara kedua belah tim. Ekspektasi
mengangkat trofi Piala Tiger untuk pertama kalinya kian membubung tinggi. Namun
baru beberapa menit permainan berlangsung, gawang Indonesia dikejutkan oleh gol
pemain naturalisasi Singapura.
Tertinggal satu
gol membuat permainan Ponaryo Astaman cs. kian agresif. Namun gawang Hendro
Kartiko lagi-lagi harus bobol sehingga skor menjadi 2-0 untuk tim tamu, dan bertahan
hingga turun minum. Sebetulnya permainan Indonesia tidak buruk dalam
pertandingan ini. Hanya saja Singapura lebih beruntung dan oportunis dalam
memanfaatkan setiap peluang dan serangan balik. Babak kedua pun sama saja. Dominasi
Garuda atas The Lions di lapangan
harus pupus setelah Singapura mencetak gol ketiganya yang membuat Timnas mulai
merelakan kekalahannya di kandang sendiri. Gol Mahyadi Panggabean di akhir
pertandingan menjadi penutup drama leg pertama final yang berakhir 3-1 untuk
kemenangan Tim Singa.
Pertandingan
selanjutnya sekaligus laga pamungkas dihelat di kandang Singapura. “Gol hiburan”
Mahyadi Panggabean saat memperkecil skor jadi 1-3 di Jakarta lalu dijadikan
modal Timnas untuk bangkit. Bukan tanpa alasan mengingat pada semifinal Indonesia
juga kalah di kandang tapi mampu bangkit dan menang saat bertandang. Namun pertandingan
leg kedua final Piala Tiger 2004 agaknya menjadi titik klimaks penampilan
Garuda. Babak pertama berakhir dengan keunggulan 2-0 untuk tuan rumah
Singapura.
Pertandingan
babak kedua hanya menjadi menit-menit hitung mundur resminya gelar juara Piala
Tiger untuk Singapura. Meskipun tetap memberi perlawanan sengit, Indonesia
hanya mampu menambah satu gol sekaligus menjadi gol terakhir Timnas di turnamen
tersebut. Peluit panjang dibunyikan sebagai tanda berakhirnya pertandingan
final leg kedua. Skor 2-1 untuk Singapura menjadikan Tim Singa keluar sebagai
Kampiun ASEAN 2004, setelah unggul agregat 5-2 atas Indonesia. Bagi Indonesia,
hasil ini adalah hattrick mereka
sebagai runner up kejuaraan itu
setelah sebelumnya mendapat hasil yang sama pada edisi 2000 dan 2002.
Pasca tunamen
Meskipun (kembali)
gagal mengangkat trofi juara, Tim Indonesia tetap mendapat sanjungan yang
tinggi. Saya mendapat beberapa catatan dari penampilan impresif Timnas saat
itu, berikut uraiannya.
üDi level individu Indonesia mendapat gelar top scorer (pencetak gol terbanyak)
melalui striker Ilham Jayakesuma (7 gol). Gelar ini adalah yang ketiga kali
berturut-turut diraih pemain Indonesia setelah sebelumnya Gendut Doni (2000) dan Bambang Pamungkas (2002) mendapat
gelar serupa.
üNama Boaz Solossa kian melambung namanya di
kancah sepak bola setelah turnamen ini
üKombinasi Boaz Solossa, Ilham Jayakesuma dan
Elie Aiboy menjadi kombinasi paling maut yang pernah dimiliki Timnas sepanjang
sejarah keikusertaan Piala AFF.
üSelain trisula Boaz-Ilham-Elie, peran bek sayap
Ismed Sofyan dan Ortizan Solossa turut menjadi alasan diseganinya serangan
Timnas lewat sayap.
üSosok Peter Withe sebagai pelatih tim tentu
memegang peranan penting di balik layar penampilan impresif Timnas di Piala
Tiger 2004. Ia dikenal sebagai pelatih yang pandai memotivasi pemain. Pasca turnamen,
Withe memperkenalkan pola 4-4-2 kepada sepakbola Indonesia yang sebelumnya
akrab dengan pakem 3-5-2.
üRekor gol Timnas 17-0 sepanjang penyisihan grup belum
ada yang menyamainya sama sekali sampai mejelang Piala AFF 2016 (saat catatan
ini dibuat).
üSetelah berakhirnya Piala Tiger 2004, Timnas
senior bisa dibilang vakum dari ajang resmi sepakbola internasional sepanjang
2005-2006. Sebetulnya ada kualifikasi Piala Asia 2007, namun karena Indonesia
bertindak sebegai salah satu tuan rumah, maka sudah seharusnya otomatis lolos
tanpa melewati kualifikasi.
üButuh 3 edisi tunamen pasca 2004 bagi Timnas
untuk bisa kembali merasakan babak puncak turnamen. Ini terjadi pada Piala AFF
2010 dimana Timnas kembali melaju hingga Final sebelum dihentikan Malaysia dan
kembali menjadi runner up untuk keempat
kalinya di ajang tersebut.
üMeskipun penampilan Timnas di Piala AFF 2010
tergolong impresif dan mendapat apresiasi banyak kalangan, bagi saya Timnas
edisi Piala Tiger 2004 tetap yang terbaik. Semoga tak perlu menunggu waktu lama
lagi untuk melihat performa Timnas yang impresif dan mampu memberi kebanggaan
lewat prestasi-prestasi gemilang...
"Kemerdekaan satu negara, yang didirikan diatas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga."
Apalah arti objektif Bila semua yang kita yakini bersifat subjektif Lantas apakah yang kau sebut "objektif" Benar-benar bersifat objektif?
"Kau harus objektif kawan..." Kata-kata lantang yang sering lembut diucapkan Lantas apakah kau seorang yang objektif? Hmm.. cobalah sejenak 'tuk pikirkan
Tiada yang salah dengan terma "objektif" Sebutir kata dengan segenap makna yang baik Nahasnya, yang baik itu belum tentu benar... Sekalipun benar dalam konteks gramatikal
Ketika kau sebut objektivitas itu kebenaran Maka ingatlah bahwa kebenaran itu subjektif! Dan ketika kau mengaku-ngaku objektif Maka dirimu itulah subjektivitas yang masif..
Karena apa-apa yang kau pikirkan Apa-apa yang kau inginkan Dan apa-apa yang kau wujudkan Semua berpangkal dari subjektivitasmu Dan subjektivitasmu berpangkal dariegomu
Kita tak bisa berbuat objektif kawan.. Karena ia hanya ketiadaan yang diada-adakan Lantas apa yang dapat kita perbuat, kawan.. Ketika sangwaktu memaksa 'tuk menyikapi keadaan?
Jawabnya adalah keadilan, kawan.. Karena ia berpangkal dari kebijaksanaan Dan kebijaksanaan berpangkal dari nurani Dimatangkan oleh logikaatas sebuah kelaikan Dan mengkristal dalam tindakan-tindakan
Timbanglah semuadengan aspek-aspek yang berperan Hindari berat sebelah, mulailah adil sejak dalam pikiran Ya, adil sejak dalam pikiran Seperti kata Pram
Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah: Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah: Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah: Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan