Senin, 17 Juni 2019

Andaikan Leonardo da Vinci Hidup di 'Jaman Now'


Ketika sedang asyik streaming lagu LSD feat Sia, Diplo and Labrinth yang berjudul "Genius" di Youtube, tetiba pikiran saya beralih pada sosok yang jenius beneran, bahkan seorang jenius polymath yang hidup di abad pertengahan. Betapa (sok) pekanya pikiran saya ini, mentang-mentang judul lagunya 'Genius', pikiran saya jadi teringat pada sosok Leonardo da Vinci (wew). Padahal lirik lagunya ya tidak ada hubungan sama sekali dengan nama tokoh atau public figure yang jenius. But I have to say thanks to that song, karena saya jadi terinspirasi bagaimana jika Leonardo da Vinci hidup di jaman now, dimana Apple bukan hanya sekedar nama buah…

pixabay
Okay, tanpa berlama-lama, berikut beberapa hal yang mungkin terjadi atau dilakukan Mbah Leo, seandainya beliau ditakdirkan hidup di jaman kita sekarang…

1)     Pecinta sepakbola

flickr
Leonardo da Vinci adalah orang Italia dan Calcio merupakan olahraga pemersatu di negeri itu. Sebagai orang yang berasal dari Firenze, besar kemungkinan Leonardo adalah tifosi Fiorentina, klub kebanggaan kota reinaissance itu. Tapi tak menutup kemungkinan pula ia menyukai salah satu dari duo Milan (AC Milan atau Internazionale), mengingat pria berjenggot itu pun menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya di kota Milano.

2)     Menjadi manajer tim sepakbola

pixabay
Fakta menyebutkan bahwa anda tak harus menjadi pemain sepakbola dahulu sebelum menjadi pelatih/manajer tim. Setidaknya hal itu dibuktikan oleh Arrigo Sacchi, Gerrard Houllier, Andre Villas-Boas, dan Carlos Alberto Perreira. Dari kecintaan dan obsesinya terhadap kulit bundar, rasanya Leonardo da Vinci bisa menjadi juru taktik untuk sebuah tim sepakbola. Bahkan kejeniusan berpikir dan berinovasinya berpotensi membawa namanya bersaing dengan pakar taktik macam Jose Mourinho, Pep Guardiola, Antonio Conte, maupun Marcelo Bielsa.

3)     Menjadi pundit sepakbola

pixabay
Jika tidak menjadi pelatih/manajer tim bola, setidaknya Leonardo bisa pula menjadi pundit di bidang itu. Daya kritis dan ketajaman analisanya akan menjadikan Da Vinci sebagai pundit sepakbola yang selalu dinanti ulasan dan pandangan kritisnya terhadap pekembangan olahraga terpopuler sejagat itu.

4)    Terobsesi IT dan Kosmologi

pixabay
Leonardo da Vinci adalah sosok yang sangat nerdy dan penuh obsesi. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan membawanya menjadi inventor di segala bidang, terutama iptek di zamannya. Jika beliau hidup di era revolusi industri 4.0 ini, sangatlah mungkin bidang IT menjadi obsesi yang mewarnai hidupnya. Ia akan sangat tertarik mempelajari hal-hal seperti internet, pemrograman komputer, kecerdasan buatan, seluk beluk perangkat keras dan lunak, industri startup, dan semua yang berkaitan dengan teknologi informasi.
Selain itu, kekagumannya terhadap alam semesta juga mengantarnya menjadi pakar sains yang sangat diperhitungkan, terutama yang bersifat kosmologis seperti astronomi. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang tersebut, ia akan sangat menikmati waktunya untuk mempelajari lebih dalam tentang seluk beluk jagat raya yang masih sarat akan misteri yang belum terpecahkan.

5)    Menjadi komikus/mangaka atau animator

pixabay
Seni rupa adalah salah satu bidang keahlian Leo yang paling dikenal banyak orang. Lukisan-lukisan paling berharga sepanjang masa seperti The Last Supper, Virgin of the Rocks, Vitruvian Man dan tentu saja yang paling fenomenal: Mona Lisa. Jika sang jenius universal hidup di jaman sekarang, bisa jadi ia tertarik untuk menjadi pengarang komik atau manga dalam istilah Jepang-nya. Kepiawaian tangannya dalam menggambar berpadu daya imajinasi yang tak ada habisnya menjanjikan karya berupa komik yang menarik. Bukan mustahil pula namanya bakal disandingkan dengan komikus-komikus macam Don Rosa, Herge, Peyo, dan Stan Lee di dunia komik barat, atau Akira Toriyama, Masashi Kishimoto dan Eiichiro Oda di dunia manga.
Namun bila tak menjadi komikus, mungkin saja ia malah menjadi animator di industri perfilman. Masih berangkat dari keahliannya di bidang seni rupa, studio-studio animasi di Hollywood akan menjadi tempatnya berkreasi sebagai animator yang handal. Tangan dingin Leonardo akan menghasilkan film-film animasi yang siap diganjar penghargaan Academy Awards kategori Best Animated Feature.

6)    Menjadi musisi

wikipedia
Seni musik juga merupakan bidang keahlian Leonardo da Vinci. Ia dikenal sebagai musisi handal yang suka bermain biola sembari bernyanyi gembira. Begitu pula seandainya jika ia hidup di masa sekarang. Bisa jadi, bukan biola lagi yang ia mainkan, melainkan malah instrumen musik yang sangat kekinian: Digital Audio Workstation!
Yeah, Leonardo akan menguasai instrumen musik berupa piranti lunak itu dan menaklukkan belantika panggung hiburan dengan genre Electric Dance Music (EDM). Popularitasnya pun tak kalah mentereng dengan Marshmello, Alan Walker, David Guetta, dan Clean Bandit. Ladies and gentlemen, please welcome… DJ Leo…!!! (seketika gemuruh penonton bersorak).

7)    Tinggal di Amerika Serikat dan punya paspor ganda

pixabay
Melihat profesi-profesi yang saya “tawarkan” diatas, rasanya akan lebih baik untuk kelangsungannya ke depan bila Mbah Leo tinggal di Amerika Serikat, bila perlu jadi warga negara sana sekalian. Biar kayak orang-orang (eh..).

8)    Hobi main game dan traveling

pixabay
Apabila Mbah Leo hidup di jaman now, kemungkinan bermain game akan menjadi hal yang menarik untuk orang seperti doi. Tapi wait, rasanya game-game mobile yang kece itu terlalu alay untuk ukuran seorang Leonardo da Vinci. Untuk Mbah Leo yang berselera tinggi sepertinya akan lebih memilih konsol macam Xbox atau Playstation keluaran terbaru sebagai medium penyaluran hobinya.
Selain bermain game, hobi lain yang cocok untuk Leonardo adalah traveling. Kuriositasnya yang tinggi terhadap berbagai hal di dunia ini mengundangnya untuk pergi menjelajahi tempat-tempat baru yang menarik untuk dieksplor. Adapun jenis wisata favoritnya adalah wisata alam, kuliner dan sejarah.

9)     Penggemar film super hero

pixabay
Menonton film di bioskop sudah menjadi gaya hidup orang-orang milenial. Pun begitu bila Leonardo hidup di zaman ini. Ia pasti bakal menyukai film-film layar lebar, terutama yang bergenre science fiction. Tetapi selain sci-fi, jika melihat tipikal-tipikalnya, bisa juga Leo menggemari film-film superhero maupun anti-hero besutan Marvel dan DC. Alasannya sederhana. Baik superhero maupun anti-hero adalah sebenar-benar karakter fantasi yang lahir dari imajinasi terliar yang melampau batas.
Lantas, siapa superhero favorit sang arketipe manusia reinaissans? Jawabannya adalah Batman dan Iron Man. Alasannya bukan karena superioritas kekuatan ataupun karakteristik tokohnya. Melainkan karena ada kesamaan antara Bruce Wayne, Tony Stark dan Da Vinci: sama-sama hidup membujang. Wadaw…

10)  Posisi penting di perusahaan besar

pixabay
Berbekal takdirnya sebagai jenius polimatik yang memakari berbagai bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan, sudah barang tentu tenaganya diminati oleh perusahaan-perusahaan. Bahkan Leonardo bisa menduduki posisi strategis di perusahaan tempat ia bekerja. Entah di perusahaan IT, media, hiburan, properti, yang pasti karirnya akan melesat bak roket. Wuzzz…

11)  Mendapat gelar Honoris Causa

pixabay
Seiring jasa-jasa besar Leo di berbagai bidang ilmu yang ia kuasai memang sudah tak diragukan lagi, pengakuan-pengakuan resmi dari publik pun tinggal menunggu waktu. Bukan mustahil pula ia diganjar gelar akademik kehormatan dari perguruan tinggi ternama.

12)  Menjadi influencer

pixabay
Muara dari kesuksesannya di berbagai bidang tadi adalah popularitas di masyarakat luas. Dan buah dari popularitas adalah bermunculnya fans-fans yang mengagumi dan menyanjung namanya sebagai inspirasi dan idola. So, sebagai public figure yang dikenal banyak orang di dunia, adalah keniscayaan bahwa akun sosmednya dibanjiri banyak follower. Bahkan karena kesuksesan Leo yang mencakup lebih dari satu bidang keahlian membuat fans-fans datang dari beraneka latar belakang minat bidang pula. Bukan tidak mungkin, popularitas dan dan jumlah follower-nya di dunia maya bersaing ketat dengan Selena Gomez dan Cristiano Ronaldo. Asshiaaapp…


Minggu, 30 Desember 2018

La Cita (12.2.k)

"Pekerjaan yang paling banyak makan waktu untuk diselesaikan adalah pekerjaan yang tidak pernah dimulai."
           - J.R.R. Tolkien -

Rabu, 26 Desember 2018

Sumbangsih Bahasa Indonesia untuk "Bahasa Dunia"

Sebagaimana telah lama kita ketahui, bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi yang berlaku di negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejak kali pertama diikrarkan pada momen Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 silam, maka 9 dasawarsa sudah bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan yang dijunjung dan diutamakan penggunaannya oleh bangsa yang menghuni dari Sabang sampai Merauke ini.

Bila ditinjau dari materi kosakata dan struktur kalimat, dapat dikatakan Bahasa Indonesia merupakan hasil pengembangan dari Bahasa Melayu, meskipun kenyataannya banyak sekali modifikasi pada pelafalan, ejaan, gaya bahasa dan sinonim-sinonim kosakata tertentu yang dipengaruhi pula oleh bahasa daerah-daerah di wilayah Indonesia. Artinya, meskipun sepintas mirip Bahasa Melayu, kita tetap mudah saja menemukan banyak perbedaan pada detail-detailnya.

Bahasa Indonesia yang dituturkan oleh lebih dari 250 juta jiwa, memang secara kuantitas masih dibawah bahasa-bahasa lain yang lebih banyak dituturkan di dunia seperti Bahasa Mandarin, Bahasa Perancis, Bahasa Spanyol, dan tentu saja bahasa internasional, Bahasa Inggris. Tapi meskipun “hanya” digunakan tak kurang dari 3,7% populasi dunia (asumsi penduduk dunia 7 milyar), bukan berarti tak ada sumbangsih bahasa persatuan kita ini dalam “bahasa dunia”. Ada cukup banyak kosakata bahasa Indonesia yang diserap dalam bahasa Inggris, namun disini saya menyampaikan 3 diantaranya berikut asal-usulnya. Apa sajakah kosakata-kosakata itu, inilah uraiannya.

1.    Bantam
Source: pixabay.com

Pernahkah anda mendengar pertandingan Tinju Kelas Bantam? Kelas Bantam (Bantamweight) merupakan salah satu kategori kelas dalam pertandingan tinju untuk bobot 53-55 kg (dibawah kelas bulu).[1] Kata Bantam sendiri merujuk pada istilah "Bantam Chicken" yang berarti Ayam Kate dalam Bahasa Inggris. Mengenai penyebutan “Bantam” dalam Bahasa Inggris untuk Ayam Kate bukanlah tanpa sebab. Hal tersebut bermula pada tahun 1700-an ketika pedagang-pedagang Eropa singgah di pesisir Jawa Barat, tepatnya di wilayah Banten.[2] Disana mereka menemui jenis Ayam yang bertubuh sangat mungil tak seperti lazimnya ayam-ayam pada umumnya. Karena mereka baru pertama kali melihat ayam sejenis itu di Banten, maka disebutlah Unggas yang biasa kita kenal Ayam Kate itu dengan sebutan Bantam (pelafalan mereka untuk nama Banten). Selanjutnya istilah tersebut diserap pula dalam Bahasa Inggris  menjadi Bantam Chicken. 

2.  Amok/Amuck
Source: pixabay.com

Anda tentu tak asing dengan istilah “orang ngamuk”.  Kata “amuk” merupakan sebuah kosakata yang merujuk pada sikap brutal (baik verbal maupun tindakan fisik) yang merupakan luapan amarah yang diluar batas. Kata amuk ini pun diserap dalam perbendaharaan Bahasa Inggris dengan penulisan “Amok” atau “Amuck”. Mengenai muasal penggunaan kata amok dalam bahasa Inggris, hal ini tak terlepas dari pendudukan Pulau Jawa oleh mereka pada tahun 1800-an.
Suatu ketika orang-orang Inggris melihat gelagat atau perilaku yang ditunjukkan oleh orang lokal ketika meluapkan emosi dengan tindakan yang tak biasa di mata orang-orang bule itu.[3] Mereka mendapati istilah “amuk” atau “ngamuk” dari orang-orang sekitar yang menunjuk perbuatan tersebut dan mereka pun akhirnya menggunakan istilah yang sama untuk menggambarkan perbuatan yang sama. Hanya saja dalam penulisannya mereka menggunakan susunan huruf yang sesuai pelafalan atau spelling mereka sendiri, yaitu “amok” atau “amuck”. 

3.  Bamboo
Source: pixabay.com

Untuk yang satu ini sebetulnya tidak sepenuhnya kata bahasa Indonesia yang diserap dalam Bahasa Inggris. Adapun maksud “tidak sepenuhnya” karena kata “bambu” yang diserap menjadi “bamboo” ini aslinya merupakan kosakata bahasa Kannada (untuk istilah tumbuhan yang sama), sebuah bahasa yang dituturkan di anak benua India.[4] Namun kata bambu yang kemudian diserap Bahasa Inggris yang dimaksud adalah kata yang digunakan oleh orang Nusantara untuk tumbuhan hijau berbatang tinggi menjulang itu.



Minggu, 02 Desember 2018

Mitra Independen untuk Pengawasan Sepakbola, Perlukah?


Realitas sepakbola nasional sepanjang 2018 tengah mengalami pasang surut dalam dinamikanya. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) selaku induk organisasi yang menaungi lagi-lagi tak dapat dipisahkan dalam berbagai permasalahan yang mendera. Mulai dari kematian suporter yang kembali terjadi menyusul tahun-tahun sebelumnya, kegagalan akan kesepakatan kontrak dengan pelatih pilihan, hingga kegagalan Timnas senior menembus semifinal Piala AFF 2018. Sederet permasalah itu kian terlengkapi oleh mencuatnya skandal pengaturan skor (match fixing) yang terjadi dalam babak lanjutan Liga 2, kompetisi kasta kedua Liga Indonesia sejak 2017 lalu.

Source: https://pixabay.com
Sebetulnya bila kita mencoba melihat secara keseluruhan, pencapaian sepakbola Indonesia selama 2 tahun terakhir tidaklah terlalu buruk. Timnas U-23 mampu meraih medali perunggu SEA Games 2017 (lebih baik dari SEA Games 2015 yang nihil medali), dan lolos 8 besar Asian Games 2018 (mempertahankan capaian sebelumnya). Timnas U-19 membuat sejarah dengan lolos penyisihan grup Piala Asia U-19 sejak 1978, sementara Timnas U-16 berhasil menjuarai Piala AFF U-16 2018 dan mengukir sejarah lolos 8 besar Piala Asia U-16 di tahun yang sama. Hanya Timnas senior yang kurun waktu terakhir tidak ada turnamen mayor yang diikuti selain Piala AFF di penghujung tahun.
Akan tetapi sederet prestasi gemilang timnas kelompok umur tampaknya belum cukup untuk menutupi borok sepakbola dalam negeri. Setidaknya itulah yang dirasakan para publik sepakbola yang tak henti-hentinya melancarkan kritik kepada para pengurus PSSI. Edy Rahmayadi selaku ketua umum menjadi sasaran utama ketidakpuasan sebagian publik yang pada ujungnya menginginkan lengsernya sang ketua. Bahkan dalam pertandingan terakhir grup B Piala AFF 2018 saat timnas menjamu Filipina di GBK, chant “Edy Out” menggema di tribun senayan. 
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa PSSI sebagai pihak yang otoritatif atas sepakbola Indonesia bertanggungjawab atas segala permasalahan olahraga tersebut. Adalah kewajaran kritik yang mengalir hingga permintaan turun jabatan kepada Edy Rahmayadi beserta jajarannya. Namun disini saya tidak yakin apakah pergantian ketua merupakan jawaban terbaik atas permasalahan. Karena berkaca pada masa-masa sebelumnya (setidaknya 15 tahun terakhir), siapapun ketuanya permasalahan sepakbola tetap itu-itu saja. Pendek kata: PSSI saat ini butuh solusi, bukan suksesi.

Source: https://www.instagram.com/

Problematika dunia sepakbola seperti pergesekan suporter, pengaturan skor, pencurian umur di kompetisi junior jamak ditemukan di belahan dunia manapun. Hal ini terjadi karena adanya ruang bagi pelaku untuk melakukan tindakannya tanpa merasa adanya pengawasan yang melekat. Disinilah saya berpendapat bahwa pengawasan menjadi pangkal permasalahan. Saya yakin PSSI dengan Komisi Disiplin-nya telah berupaya untuk mengatasinya, tapi sayangnya fakta menunjukkan bahwa tidak ada lembaga yang mampu mengawasi dirinya sendiri secara maksimal. Sebagaimana Presiden selaku kepala pemerintahan (eksekutif) diawasi oleh DPR (legislatif), maka (menurut pendapat saya) perlu adanya wadah eksternal yang independen untuk membantu PSSI dalam pengawasan kegiatan sepakbola.
Adapun wadah independen ini bisa semacam lembaga swadaya (non-government) yang beranggotakan jurnalis, pandit, ataupun orang-orang yang mengerti sepakbola untuk memberi masukan dan pendapat yang membangun sepakbola Indonesia. Dalam prakteknya bisa saja organisasi ini bersinergi dengan media, pemain, wasit, bahkan suporter untuk dijadikan mitra strategis yang siap membongkar tabir kelam yang sulit dijangkau PSSI, bahkan termasuk skandal yang melibatkan orang dalam PSSI!
Seandainya hal ini memungkinkan untuk terwujud, maka diharapkan akan menjadi solusi yang efektif guna memperbaiki kondisi sepakbola tanah air. Sebagaimana kita mengenal Indonesia Police Watch (IPW) di dunia kepolisian, ataupun Indonesia Corruption Watch (ICW) dalam pemberantasan korupsi, maka tak ada salahnya bila kita berpikir hal yang sama untuk sepakbola. Karena sepakbola tak lagi soal gol dan mengangkat piala, tapi sudah menjadi ekosistem yang menaungi hajat hidup orang-orang yang menggantungkan perekonomiannya pada olahraga itu. Maka sudah selayaknya keamanan, kenyaman dan keadilan menjadi jaminan atas mereka.


Senin, 26 November 2018

Pesan



Source: https://pixabay.com
Musibah tak selalu tentang kesedihan
Musibah tak melulu soal keterpurukan
Kesedihan dan keterpurukan hanyalah kemasan
Karena dibalik musibah tersimpan makna dan pesan
Dalam musibah terkandung enigma Tuhan

Mungkin saja derajatmu sedang dinaikkan
Mungkin saja kau tengah menuai perbuatan
Boleh jadi kau sedang mendapat balasan
Boleh jadi kau 'kan menuju keemasan
Lautan semesta itu bernama kehidupan
Pasang surutnya tak lebih dari hanya gurauan


Jakarta, 26 November 2018
Written by: Ali-aliyonk

Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...