Minggu, 10 Juni 2012

Menyemai Benih, Meretas Asa

8 Juni 2012. 16 tim nasional dari 16 negara Eropa berkumpul di dua negara, Polandia dan Ukraina. Krisis Ekonomi yang melanda Zona Euro ternyata sama sekali tidak mempengaruhi semangat para pesepakbola terbaik Benua Biru untuk unjuk kebolehan. Kick off pertandingan Polandia vs Yunani pun menandai dimulainya pesta sepakbola terbesar di benua dingin yang rutin digelar tiap 4 tahun itu.
Sehari sebelumnya, 7 juni 2012. Beribu-ribu mil jaraknya dari Polandia, tepatnya di Kuala Lumpur (Malaysia). Kesuksesan melanda Asian Football Association (AFC) setelah mereka mampu mendamaikan dua kubu yang selam ini berseteru setelah menandatangani Nota kesepahaman (MoU). Kedua rival yang akhirnya  saling berjabat tangan di kantor AFC itu adalah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan organisasi tandingannya, Komite penyelamat sepakbola Indonesia (KPSI). 



Kesepakatan damai antara PSSI dan KPSI memang merupakan momen yang paling ditunggu. Bagaimana tidak, selama ini perseteruan antar kedua kubu tersebut dianggap sebagai hambatan terbesar dalam upaya membangun dan memajukan sepakbola di Indonesia. Atas dasar kepentingan politik masing-masing, sepakbola Indonesia sampai memiliki dualisme dalam kompetisi profesionalnya. FIFA pun hanya mengakui salah satu dari dua kompetisi tersebut, yakni kompetisi yang dibawah naungan PSSI. padahal, sebagian besar pesepakbola terbaik di Indonesia justru bermain di kompetisi yang tidak diakui FIFA.
Namun seperti yang diceritakan di awal, kedua kubu PSSI dan KPSI akhirnya sepakat berdamai dengan menandatangani beberapa kesepakatn yang tertuang dalam sebuah Nota Kesepahaman. Sebagaimana diberitakan situs http://sport.detik.com, petemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan, diantaranya : kedua pihak sepakat menjadikan  Indonesia Super League (liga illegal) sebagai liga dibawah naungan PSSI dan tetap dilanjutkan hingga musim berakhir, dan kedua pihak sepakat untuk bersatu dan membentuk satu kompetisi professional baru di musim berkutnya.
So, apakah dengan diakuinya Indonesia Super League sebagai kompetisi resmi PSSI, apakah pemain-pemain liga tersebut bisa masuk timnas? Apapun kelanjutannya nanti, paling tidak kesepakatan tersebut telah menjadi momen yang “menenangkan” bagi para pengurus PSSI sehingga bisa lebih focus dalam menjalankan tugasnya mengurus, membangun dan memajukan persepakbolaan Indonesia, termasuk aspek paling penting dalam mengembangkan sepakbola : pembinaan usia dini.
Pembinaan usia dini memang merupakan aspek yang sangat penting dalam membangun prestasi di bidang olahraga.Kunci sukses prestasi suatu cabang olahraga sangat ditentukan oleh kualitas pembinaan yang ada di level junior. Tak terkecuali sepakbola. Oleh karena itulah banyak negara-negara yang semakin serius membangun sepakbolanya melalui pembinaan yang intensif dimulai dari usia kanak-kanak. Apalagi dengan adanya fakta yang menyebut sepakbola sebagai olahraga terpopuler di dunia. Negara yang punya prestasi di olahraga tersebut tentu mempunyai prestis tersendiri.
Akan tetapi proses pembinaan yang diberikan kepada calon-calon atlet tidak akan afdol jika belum diimbangi dengan kompetisi yang professional, terstruktur, dan kontinu. Professional artinya kompetisi tersebut diselenggarakan dengan serius layaknya kompetisi usia senior. Terstruktur berarti ada jenjang-jenjang yang merupakan tingkatan kompetisi berdasarkan kelompok usia dengan kategorisasi tertentu (misal Liga U-15, U-17,  dan seterusnya hingga U-23). Sedangkan maksudnya kontinu, kompetisi tersebut diadakan secara konsisten dan terus-menerus (annually). Karena kompetisi usia dini juga merupakan bagian dari pembinaan. Dan format kompetisi harus Liga dan berlangsung 2 putaran. Selama ini memang cukup banyak turnamen usia muda tapi formatnya Cup Competition. Jadi terdiri dari penyisihan grup lalu dilanjutkan dengan fase knock out. Sedangkan Liga, tiap kontestan saling bertemu dua kali masing kandang-tandang, dibagi dalam 2 putaran. 
Untuk metode pelatihan yang diterapkan dalam pembinaan usia dini, ada baiknya Indonesia belajar dari negara lain yang sudah maju sepakbolanya. Sejak 2008, PSSI era ketua yang sebelum sekarang rutin mengirim tim junior ke Uruguay untuk berlatih dan terjun di kompetisi junior sepakbola Uruguay. Mereka yang terjaring dari seleksi nasional dikumpulkan dalam satu tim bernama Seciedad Anonima Deportivo Indonesia atau disingkat SAD Indonesia. Menurut saya langkah tersebut cukup tepat. Karena meski tidak setenar Brazil, Argentina, atau Spanyol, sepak terjang Uruguay di sepakbola tidak bisa diremehkan. Dengan jumlah penduduk hanya sekitar 3 juta jiwa, negara kecil ini mampu dua kali menjadi juara Piala Dunia dan menghasilkan banyak pemain-pemain handal kelas dunia, seperti Enzo Francescoli, Alvaro Recoba, Diego Forlan, Edison Cavani, hingga Luis Suarez. Pada Piala Dunia edisi terakhir (2010), tim Uruguay mampu maju hingga semifinal. Bahkan di Copa America 2011 lalu, tim berjuluk La Celeste (biru langit) itu mampu keluar sebagai juara. Sekali lagi, Uruguay hanya berpenduduk 3 juta jiwa. Indonesia? 237 juta jiwa.
Alangkah baiknya bila Indonesia bukan hanya mengirim tim junior saja ke Uruguay, tapi benar-benar mempelajari secara mendalam bagaimana sebuah negara “minim penduduk” mampu berteriak lantang di level dunia, melalui cabang olahraga terpopuler di dunia. Mereka tentu tidak main-main dalam mengasah talenta-talenta mudanya. Indonesia pun kini juga sudah mulai memetik hasil dari apa yang mereka tanam di Uruguay. Beberapa pemain muda Indonesia yang dibina di Uruguay kini telah dikontrak oleh klub Liga Uruguay dan Liga Belgia. Metode pelatihan mereka itulah yang seharusnya dipelajari, dipahami, dan ditiru dengan baik oleh PSSI.
Namun hal yang saya sayangkan dari tim Indonesia hasil binaan Uruguay ini adalah, pemain-pemain bubar setelah menyelesaikan jenjang pembinaan. Jadi, di kompetisi usia dini di Uruguay hanya berhenti di level U-19. Setelah melampaui batas umur 19, pemain yang tidak dikontrak klub luar negeri dikembalikan ke Indonesia untuk mecari klub sendiri. Saya melihat ada beberapa pemain jebolan SAD Indonesia yang bermain dalam satu klub Divisi Utama yang menurut saya memberikan perlakuakn yang kurang baik dalam upaya follow up pembinaan pasca pula dari Uruguay. Karena banyak diantara mereka yang hanya menjadi pemain cadangan di klub tersebut. Kalaupun main, paling hanya beberapa menit di babak kedua sebagai pemain pengganti. Hal ini sangat bertolak belakang dengan aoa yang mereka dapat di Uruguay. Sesuatu yang sangat penting didapat oleh pemain muda, yakni kesempatan bermain di kompetisi secara penuh.
Menjadi pemain cadangan memang hal yang lumrah bagi pemain muda. Karena dianggap minim pengalaman dan masih butuh banyak belajar. Pelatih lebih sering mempercayai pemain yang lebih senior. Tapi untuk pemain-pemain jebolan SAD Indonesia, langkah mereka untuk bergabung dengan klub yang tidak memberi jaminan di tempat inti, apalagi klub tersebut tidak bermain di Divisi tertinggi Liga Indonesia, adalah pilihan yang kurang tepat. Menurut saya seharusnya pemain-pemain SAD Indonesia yang sudah lampau umurnya tetap disatukan dalam sebuah tim dan diterjunkan ke kompetisi yang high level.
Singapura adalah contoh negara yang sukses menerapkan cara tersebut dalam membangun timnasnya. Awal era 2000-an, Football Association of Singapore (FAS) membentuk tim sepakbola bermaterikan pemain-pemain muda terbaik di negerinya dengan nama Young Lions.  Tim Young Lions ini kemudian diterjunkan di kompetisi Liga Singapura, bersaing dengan klub-klub professional negara tersebut. Hasilnya? Talenta-talenta muda Young Lions semakin terasah dan menghasilkan pemain-pemain yang handal bagi Timnas Singapura. Keberhasilan Timnas Singapura menjuarai Piala AFF 2004 dan 2007 tidak terlepas dari perananan penting pemain-pemain jebolan Young Lions. Pada SEA Games 2009 lalu, Singapura berhasil meraih medali perunggu dengan hanya bermaterikan pemain-pemain U-19 dari Young Lions. Padahal SEA Games adalah ajang untuk pemain U-23.
Sukses Singapura tampaknya telah menginspirasi negeri jirannya, Malaysia. Dengan cara yang sama, Malaysia juga membentuk tim bernama “Harimau Muda” yang bermaterikan pemain-pemain muda terbaik, dan diterjunkan di kompetisi professional Liga Malaysia. Hasilnya? Dengan bermaterikan mayoritas pemain dari Harimau Muda, Malaysia sukses mencetak hatrick juara sepak bola Asia Tenggara 3 tahun berturut-turut : Medali Emas SEA Games 2009, Juara AFF 2010, dan medali emas lagi di SEA Games 2011 lalu. Para pendukung Timnas Indonesia pasti masih ingat aksi dramatis tim Malaysia yang sukses membungkam tuan rumah Indonesia di final SEA Games 2011 lewat adu penalty. Mereka itulah alumnus-alumnus terbaik  tim Harimau Muda…



Uniknya, dalam perkembangannya kedua tim binaan organisasi sepakbola tertinggi masing-masing negara itu saling bertukar kompetisi antar satu sama lain. Entah apa dasarnya, mulai musim 2012 ini, LionsXII (tim bentukan Federasi Sepakbola Singapura) akan berkompetisi di Liga Malaysia sedangkan Harimau Muda resmi menjadi kontestan Liga Singapura. Sebetulnya PSSI era sebelum sekarang, tahun 2005,  juga sempat meniru cara Singapura yang membentuk tim muda dan mengkompetisikannya di Liga. Tapi yang salah pada waktu itu adalah, mereka yang dikumpulkan dalam satu tim kemudian dimasukkan dalam sebuah klub Divisi kasta kedua Liga Indonesia. Jadi, mereka bermain di Liga kelas dua, dibawah bendera sebuah klub. Hal tersebut membuat sejumlah pemain tidak setuju dan memilih untuk keluar dan mencai klub lain yang lebih baik dan bermain di kasta yang lebih tinggi.
Oke, kembali lagi ke soal pembinaan usia dini. PSSI era kepemimpinan sekarang pernah menyatakan bahwa mereka akan lebih serius dalam melakukan pembinaan usia muda. Kurikulum pembinaan sepakbola nasional pun telah dirilis sejak beberapa waktu yang lalu. Semua pasti berharap ungkapan tersebut bukan hanya janji di mulut belaka. Orang lebih tertarik melihat aksi nyata di lapangan ketimbang mendengar janji manis yang terucap lisan. Dan satu hal perlu dipahami adalah, untuk membuktikan sukses tidaknya program pembinaan yang dilakukan suatu badan otoritas tertentu, diperlukan waktu  beberapa tahun kedepan setelah pemain-pemain yang menjadi objek program pembinaan tersebut memasuki usia senior.
Dengan menanam benih dan merawatnya melalui sistem kompetisi yang profesional, terstruktur, dan kontinu, hal ini akan memperbesar peluang  untuk mencetak bibit-bibit pesepakbola yang berkualitas. Karena selain dilatih dengan keterampilan dan skill yang mumpuni, mereka juga terbiasa berkompetisi sehingga menjadikan mereka bukan hanya sekedar berskill, tapi juga bermental kompetitif.
Akhir kata, semoga Spanyol mampu sukses membukukan rekor meraih 3 gelar juara berturut-turut dalam tempo 4 tahun : Euro 2008, World Cup 2010, dan Euro 2012 (lho, nggak nyambung?? :p). Seriuously, semoga ditandatanganinya kesepakatan antara PSSI dan KPSI menandai babak baru dalam dunia sepakbola nasional dan pengurus PSSI yang sekarang bisa lebih total dalam bekerja, sehingga mampu membawa kemajuan yang berarti bagi sepakbola Indonesia agar bisa berprestasi lebih baik di masa mendatang.



Rabu, 06 Juni 2012

Antara Sao Paulo, Santa Monica dan "Mobil Penyelamat Bumi"


Sejak tahun 2000, setiap tanggal 5 Juni, PBB telah menetapkannya sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day/WED). Hari tersebut sekaligus menjadi hari bagi seluruh warga Bumi untuk meneguhkan kembali arti penting lingkungan hidup dalam kehidupan sehari-hari. (http://www.antaranews.com)



Sao Paulo. The most metropolitan city in Latin America.  Kota dengan populasi manusia terbanyak di Amerika Selatan, dan tentu saja di negaranya, Brazil. Jika diperhatikan, sebenarnya posisi kota ini mirip dengan Jakarta, ibukota negara kita tercinta. Apa miripnya? Sama-sama kota terbesar di negaranya, sama-sama kota berpenduduk padat, sama-sama metropolis, dan sama-sama berperan sebagai pusat bisnis dan pusat keuangan global (global financial center) di negaranya. Bedanya, Sao Paulo tidak sendirian menyandang predikat sebagai pusat keuangan global di negaranya. Selain Sao Paulo, Brazil juga punya Rio de Janeiro dan Brasilia yang juga punya peran strategis sebagai pusat bisnis dan pusat keuangan global. Sedangkan Indonesia, semuanya terpusat ke Jakarta.
Persamaan lain antara Sao Paulo dan Jakarta adalah, keduanya bukan hanya dipadati oleh manusia, tapi juga kendaraan bermotor. Apa akibat dari persamaan yang satu ini? Sama-sama macet. Tiap hari, tiap jam, tiap waktu, jalanan kota seperti tidak pernah sepi kecuali saat malam larut. Hal tersebut merupakan buah dari tingginya mobilitas penduduk khas kota metropolitan. Sudah bukan rahasia lagi kota besar memang menjadi destinasi utama bagi kaum urban yang mengadu nasib demi mencari sesuap nasi.
Sao Paulo adalah kota berpenduduk 20 juta jiwa, 5 juta diantaranya menggunakan mobil pribadi sebagai alat transportasinya. Namun yang patut diacungi jempol, sebagian pengguna mobil menggunakan bahan bakar ethanol berbahan dari tebu. Brazil memang negara yang cukup sukses mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan. 40% pengguna kendaraan mobil di Negeri Samba telah menggunakan bahan bakar ethanol dari tebu yang merupakan hasil perkebunan utama Brazil. So, negara tersebut telah mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan warganya plus berkontribusi mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil yang tentunya sangat berguna bagi kelestarian bumi.  
Dari Sao Paulo, kita pindah ke kota dengan iklim berbeda, tapi masih di benua yang sama. Di pesisir barat California (Amerika Serikat), sebuah kota berdiri dengan nama : Santa Monica. Kota ini memang tidak sepadat Sao Paulo. Bukan pula termasuk kota metropolis. Namun yang istimewa dari kota ini, meski dikenal sebagai kota minyak tapi konsumsi bahan bakar minyak di Santa Monica sangat dibatasi. Bus-bus menggunakan bahan bakar gas yang menim emisi. Gedung-gedung banyak menggunakan energy terbarukan untuk listriknya (contoh : panel surya). Sebagian besar lampu penerangan kota menggunakan LED. Sedangkan masyarakatnya cukup anti menggunakan barang yang menghasilkan sampah plastic. Sebuah gambaran peradaban yang patut dicontoh oleh peradaban lain di seluruh muka bumi.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Negara ini telah mempunyai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup. Langkah selanjutnya bagaimana agar undang-undang ini dapat dilaksanakan dengan benar baik oleh rakyatnya, maupun pemimpinnya dalam mengeluarkan kebijakan. Belum lama ini pemerintah mencanangkan mobil listrik sebagai alternatif alat transportasi yang ramah lingkungan. Selain itu kendaraan tersebut juga dapat menekan konsumsi BBM bersubsidi yang dirasa cukup membebani uang negara.  
Kebijakan pemerintah untuk memproduksi mobil listrik memang patut diapresiasi. Kabarnya, prototype mobil listrik ditargetkan jadi 2013 dan akan diproduksi masal tahun 2014 mendatang. Kebijakan tersebut sesuai dengan amanat Pasal 3 Undang Undang Lingkungan Hidup mengenai perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (ada 10 poin, silahkan baca sendiri ^_^). Saya lebih setuju kendaraan bertenaga listrik dari pada menggunakan bahan bakar gas sebagai alternatif penggganti BBM. karena selain tidak menghasilkan emisi, saya berharap pemakaian bahan bakar gas cukup difokuskan untuk pembangkit-pembangkit listrik dibawah naungan PLN sehingga konsumsi BBM bisa semakin tertekan.  Selain itu kebijakan tersebut juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang paling anyar di bulan juni ini, yaitu penghematan BBM, listrik, dan air.
Seperti yang telah diberitakan di media massa, Kementerian Riset dan Teknologi telah bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia untuk menciptakan mobil listrik nasional yang akan diproduksi secara masal. Pertanyaannya, apabila misi tersebut terpenuhi, mobil listrik sudah diproduksi masal, bagaimana nasib Esemka yang sudah terlebih dulu bercita-cita membuat mobil nasional?
Meskipun kebijakan  mobil listrik sangat baik untuk kelestarian lingkungan, tapi saya melihat hal tersebut berpotensi menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan bagi produsen mobil Esemka. Karena dari awal Esemka telah berkeinginan untuk memproduksi mobil yang nantinya dijadikan mobil nasional. Namun kebijakan pemerintah tentang Electric Car seolah bertentangan dengan support mereka terhadap jerih payah anak-anak pelajar SMK itu. Terlebih lagi sebelumnya mobil Esemka gagal diproduski masal karena tidak lulus uji emisi. Apabila tak lama kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan mobil listrik (yang notabene bebas emisi, sedangkan esemka uji emisi saja tidak lulus), lalu membantu segala pendanaan riset hingga biaya produksi setelah prototype-nya matang, hal ini bisa terasa menyakitkan.
Untuk menghidari kemungkinan terjadinya hal seperti diatas, adalah dengan memberi kepercayaan kepada Esemka untuk meng-handle proyek mobil listrik ketika nanti diproduksi masal. Jadikan Solo Techno Park sebagai produsen mobil listrik berkelas dunia  dan menjadi solusi untuk mengurangi dampak global warming yang sudah semakin menjadi-jadi. Karena biar bagaimanapun, Esemka tetap harus diberdayakan karena mereka sudah menjadi pioneer kebangkitan industri otomotif Indonesia.
Apabila proyek Electric Car benar-benar sudah terwujud 2014 mendatang, peran Indonesia dalam menjaga kelestarian bumi bukan hanya karena eksistensi hutan hujan tropisnya sebagai paru-paru dunia. Tapi lebih nyata lagi, Indonesia akan mendapat predikat kehormatan sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara yang mampu menciptakan dan memproduksi mobil ramah lingkungan secara masal. Semoga terwujud!


Sumber Gambar : http://www.plangs.com






Kamis, 31 Mei 2012

Kumpulan Pantun Dari Situs Melayu Online


Berikut adalah kumpulan pantun yang diambil dari situs http://melayuonline.com edisi tanggal 16-31 Mei 2012. Silahkan membaca dan semoga bermanfaat.


Berlaki bini hendaklah setia
Ke tengah ke tepi seiya sekata
Jauhkan sifat berburuk sangka
Buanglah sifat syak dan sangka

                                                                                                       Wahai ananda permata bunda
                                                                                                       Peganglah amanah selagi muda
                                                                                                      Buatlah amal mencari pahala
                                                                                                      Supaya hidupmu jadi berguna

Wahai ananda kekasih ayah
Maulah engkau berbuat salah
Kekurangan diri usah disanggah
Supaya menjauh sombong dan pongah

                                                                                                     Wahai ananda dengarkan madah
                                                                                                     Tahu diri tanda bermarwah
                                                                                                     Tahu bekerja tanda faedah
                                                                                                     Tahu beramal membawa berkah

Wahai ananda ayah berwasiat
Rajuk jangan kau buat
Tuhan tak suka orang mengumpat
Celakalah badan dunia akhirat

                                                                                                    Wahai ananda dengalah petuah
                                                                                                    Jauhi sifat sombong dan pongah
                                                                                                    Bergaullah dengan hati merendah
                                                                                                    Supaya hidupmu beroleh berkah


Wahai ananda intan terpilih
Bersangka baik jangan memilih
Jauhkan segala silang selisih
Hiduplah engkau kasih mengasih

                                                                                                   Wahai ananda tajuk negeri
                                                                                                   Hidupmu jangan iri mengiri
                                                                                                   Dendam kesumat engkau jauhi
                                                                                                   Memafkan orang bermurah hati

Banyak-banyak membuat jermal
Jermal dibuat di air dangkal
Banyak-banyaklah berbuat amal
Amal dibuat menjadi bekal

                                                                                                Wahai ananda permata pilihan
                                                                                                Karunia Allah harus dimanfaatkan
                                                                                                Gunakan untuk berbuat kebajikan
                                                                                                Supaya dapat menjadi amalan

Buah mengkudu ada bijinya
Biji ditelan terasa kelat
Tuah Melayu karena beraninya
Berani melawan kerja maksiat

                                                                                                   Wahai saudara banyakkan amal
                                                                                                   Perbuatan baik jangan ditinggal
                                                                                                  Jauhkan sifat salah dan janggal
                                                                                                  Supaya hidup tidak menyesal

Wahai ananda teguhkan hati
Bertanggung jawab ke tengah ke tepi
Menjunjung sumpah menepati janji
Supaya hidupmu tiada keji

                                                                                                 Wahai ananda luruskan niat
                                                                                                 Duduk musyawarah pantang khianat
                                                                                                Jangan sekali umpat mengumpat
                                                                                                Supaya berunding mencapai manfaat

Wahau ananda kesayangan ayah
Pelihara laku elokkan tingkah
Tuntutlah ilmu walaupun susah
Supaya kelak mendapat berkah



Rabu, 23 Mei 2012

Menanti "Shenzhen Baru" di Bumi Nusantara


“Saat berada di negara kami, pemerintah anda berjanji bahwa tidak akan ada biaya apapun jika berinvestasi di Batam. Tapi apa kenyataannya? Begitu kami menginjakkan kaki di pelabuhan, ternyata semua urusan harus bayar,” ungkap H, seorang pengusaha asal Singapura yang enggan disebutkan namanya.  (www.bisnis-kepri.com)



Shenzhen. Ada yang pernah mendengarnya? Shenzhen adalah sebuah kota di tenggara China yang letaknya tidak jauh dari Hong Kong. Dalam suatu paket wisata, biasanya Shenzhen ikut terselip dalam perjalanan tour Hong Kong – Makau - Shenzhen. Tapi apa keistimewaan kota tersebut? Shenzhen disebut sebagai kota dengan pertumbuhan paling pesat di dunia, bahkan paling pesat dalam sejarah peradaban dunia. Ada pula yang menyebut laju pertumbuhan Shenzhen merupakan sebuah keajaiban ekonomi. Mengapa demikian? Pada era 80-an, Shenzhen hanya kota kecil yang penduduknya hanya 20.000 jiwa.  Namun setelah Shenzhen ditetapkan oleh pemerintah China sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus di negara tersebut, perubahan menakjubkan pun terjadi. Dalam kurun waktu 20 tahun, Shenzhen menjelma menjadi kota metropolis dengan gedung-gedung menjulang tinggi. Jumlah penduduknya melonjak menjadi 6 juta jiwa dengan pendapatan per kapita hampir 5000 US Dollar.
Pesatnya perkembangan kota Shenzhen tidak lepas dari kebijakan pemerintah komunis China pada 1980-an yang menetapkan beberapa daerah sebagai Special Economic Zone (SEZ). Shenzhen yang juga termasuk daerah yang terpilih itu, dijadikan zona ekonomi khusus berbasis Industri Hi-Tech. Kebijakan itu pun berbuah manis. Bukan hanya Shenzhen, daerah-daerah lain yang ditetapkan sebagai SEZ juga mengalami perkembangan yang sama. Lantas, dari mana Shenzhen mendapat cara jitu untuk “menyulap” dirinya?
Jawabannya ternyata mereka belajar dari Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas di Batam, Indonesia. Batam sendiri adalah daerah yang diberi status oleh pemerintah RI sebagai Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas atas prakarsa Menristek zaman Orde Baru, Bapak B.J. Habibie (akhirnya jadi Presiden RI ke-3) pada tahun 1970-an. Tapi hasilnya? Seperti kita ketahui, Sehnzhen justru mampu jauh lebih berhasil dari Batam yang letak geografisnya sangat strategis di persimpangan jalur perdagangan dunia (dekat Singapura) sedianya dibuka untuk menjadi pusat industri dan kegiatan pelabuhan alternatif selain Singapura. Visi Batam pun cukup megah, yakni menjadikan Batam sebagai “Bandar Dunia Madani”.
Akan tetapi dalam perkembangannya, perkembangan kota dengan luas lebih dari 700 km persegi itu kurang sesuai dengan ekspektasi menjadikannya sebagai pusat investasi sebagai lokomotiv penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.  Meskipun tetap masih bisa dibilang ada perubahan sejak berstatus sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone/ FTZ), perkembangan Batam sesungguhnya malah tertinggal cukup jauh dengan pesaing-pesaing satu kawasan, yakni segitiga emas Sinjori (Singapura-Johor –Riau). Meskipun punya keunggulan berupa pasar domestik (nasional) yang lebih besar, banyak investor yang enggan menanamkan modalnya di Batam karena banykanya terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh aparatur setempat terhadap para investor.
Pelabuhan merupakan tempat yang paling sering terjadi penyimpangan oleh aparat setempat.  Maraknya pungli-pungli (pungutan liar) yang terjadi saat berlangsungnya kegiatan kapal-kapal barang yang masuk ke Batam. Kiranya “preman-preman pelabuhan” itu menyadari status Batam sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas  yang pastinya akan mengundang banyak kapal-kapal barang untuk singgah disana. Selain itu, penyelahgunaan pelabuhan juga terjadi berupa manipulasi transshipment oleh para importir. Situs resmi Kementerian Perindustrian (www.kemenperin.go.id)  menyebutkan bahwa Pelabuhan Batam sering terjadi pelanggaran transshipment berupa manipulasi Surat Keterangan Asal (SKA). Misalnya ada importir mengimpor barang dari dari negara A, diangkut dari negara A kapal ke pelabuhan Batam. Kemudian importir memanfaatkan momen tersebut dengan mengganti barang Made in A dengan keterangan Made in Indonesia, kemudian diekspor lagi ke negara lain. Hal ini tentu sangat merugikan industri dalam negeri, khususnya yang memproduksi barang yang sama dengan barang ilustrasi tadi.
Faktor lain yang menghambat pengembangan Batam adalah buruknya birokrasi mereka, khususnya di bidang perizinan. Bukti kongkrit rendahnya kualitas perizinan Batam dapat dilihat dari hasil survey World Bank terhadap tingkat kemudahan berusaha di 20 kota di Indonesia. Dari hasil survey yang menempatkan kota Yogyakarta sebagai ranking 1 nasional tersebut, terselip kota Batam yang nangkring di peringkat 15. Banyak kalangan yang menilai dengan statusnya yang memperoleh keistimewaan, seharusnya Batam berada di peringkat atas. Situs berita www.bisnis-kepri.com menyebutkan bahwa tidak ada urusan di Batam yang tidak membutuhkan uang tunai. Sama seperti “preman-preman pelabuhan “tadi, ternyata “preman-preman birokrasi” juga tidak mau ketinggalan dalam prosesi “rayahan berkah” atas status FTZ Batam. Faktor itu pula yang sering mematikan niat baik para investor untuk turut membangun negeri ini.
Akan tetapi hal yang patut diapresiasi dari negara ini atas sekelumit permasalahan tentang kebijakan dibukanya Kawasan Perdagangan Bebas Batam adalah, pengalaman tersebut tidak membuat pemerintah RI patah arang. Menjelang akhir 2011 lalu, pemerintah mengeluarkan sebuah terobosan baru hasil untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi daerah berbasis investasi : Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Kebijakan ini semakin mantap dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus sebagai dasar hukumnya, dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus,  sebagai pedoman pelaksanaannya.
So, what is Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)?? Menurut Pasal 1 angka 1 ketentuan umum UU KEK, yang dimaksud KEK ada kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. Dari pengertian yang saya tangkap dari berbagai media, KEK merupakan kawasan yang punya otoritas menyelenggrakan kegiatan ekonomi secara spesifik untuk menunjang pembangunan dan peningkatan kesejahteraan daerahnya. Misalnya suatu daerah punya keunggulan berupa penghasil kelapa sawit, maka daerah tersebut ditetapkan sebagai KEK berbasis kelapa sawit. Disitu akan dilangsungkan berbagai kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan kelapa sawit, mulai dari perkebunan, penggilingan, pengolahan, sampai hilirisasi menjadi produk jadi/konsumsi, semua dilakukan dalam satu kawasan yang terintegrasi.Dan hal positif lain yang tak kalah pentingnya dalam KEK adalah, Pasal 3 ayat (3) UU KEK menyebutkan bahwa di dalam setiap KEK disediakan lokasi untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta Koperasi baik sebagai pelau usaha maupun sebagai pendukung kegiatan perusahaan yang berada dalam KEK. So, kegiatan ekonomi kerakyatan pun juga dapat berkembang dalam KEK nantinya.
Pemerintah berencana akan menetapkan 6-8 KEK hingga 2014. Tahun 2011 kemarin sudah ada 2 yang resmi ditetapkan, yaitu KEK Sei Mangkei di Sumatera Utara yang berbasis Kelapa Sawit dan KEK Tanjung Lesung di Provinsi Banten yang berbasis pariwisata. Untuk selanjutnya, Bitung (Sulawesi Utara) dan Mandalika (NTB) akan segera ditetapkan sebagai KEK tahun 2012 ini. Bitung dijadikan KEK berbasis perikanan sedangkan Mandalika berbasis pariwisata, sama seperti Tanjung Lesung.
Namun berkaca dari pengalaman Batam, pertanyaan yang muncul adalah, mungkinkah KEK mampu berjalan sukses sesuai harapan? Sama halnya FTZ, KEK dibentuk dengan tujuan untuk menarik investasi, membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mempercepat pertumbuhan ekonomi. Hal ini tentu berpotensi menaikkan pamor daerah yang bersangkutan bagi para pelaku bisnis yang hendak membuka atau mengekspansi bisnisnya di daerah tersebut. Artinya, suatu daerah yang sebelumnya “biasa-biasa” saja, tiba-tiba dibanjiri oleh para investor untuk menannamkan uangnya ke daerah itu. Apabila aparat-aparatnya, khususnya yang di institusi yang berhubungan langsung dengan kegiatan tersebut bermental maling, bisa jadi ditetapkan suatu daerah sebagai KEK akan menjadi lahan korupsi baru bagi elit-elit daerah yang bersangkutan.
Proyek-proyek baru berskala nasional bahkan internasional akan mengantre di Dinas Perizinan daerah tempat adanya KEK. Sebagai negara yang “konsisten” menyandang predikat sebagai salah satu negara terkorup, berbagai tindakan koruptif seperti penyuapan, pungutan liar, penyelewengan anggaran, atau perbuatan-perbuatan lain yang merugikan uang negara, tentu bukan barang baru lagi di Indonesia. Untuk kasus yang disebut terakhir, ada dua kemungkinan penyimpangan yang berpotensi terjadi : aparat/pejabat disuap, atau malah aparat/pejabat yang meminta langsung “uang pelicin”.
Berangkat dari permasalahan tersebut, saya sangat berharap peran Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus yang dibetuk atas Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2010. Selain memantau dan mengevaluasi kinerja KEK, menurut saya Dewan Nasional KEK harus terlebih dahulu melakukan pembinanaan kepada aparatur daerah setempat mengenai KEK agar yang bersangkutan benar-benar sadar bahwa KEK dibentuk untuk kepentingan rakyat dan kemajuan daerah. Apabila kebijakan KEK di daerahnya sukses, tentu akan menimbulkan kebanggan tersendiri bagi mereka para pejabat maupun aparatur daerah.
Oleh karena itulah mereka harus bekerja dengan konsisten, profesional, dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan tugas mulia mereka sebagai abdi negara. Bukan malah bertindak egois untuk kepentingan sendiri, menyalahgunakan kebijakan untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak halal, yang pada akhirnya mencoreng citra daerah, negara, dan juga nama mereka sendiri.
Selain itu, penting pula untuk memperhatikan ketentuan Pasal 3 ayat (3) UU KEK mengenai pemberian ruang terhadap UMKM dan Koperasi dalam KEK. Ketentuan tersebut wajib hukumnya (diprioritaskan) untuk diimplementasikan agar nanti bukan hanya kaum pemodal saja yang memetik hasilnya, tapi para pelaku usaha kecil dan koperasi yang notabene berasal dari masyarakat setempat juga turut menikmati keuntungan yang diraup dari potensi daerahnya sendiri, dalam meningkatkan taraf perekonomian mereka. Privilege yang diberikan kepada investor selayaknya juga ditujukan pada pelaku ekonomi kerakyatan yang juga hendak mengisi kegiatan KEK, agar mereka (pelaku UMKM dan Kperasi) menjadi tuan rumah di tanah sendiri.
Kebijakan pemerintah mengenai KEK memang perlu didukung berbagai pihak, terutama masyarakat. Sukses tidaknya kebijakan tersebut juga tidak bisa lepas dari peran masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar kawasan. Oleh karena itulah transparansi publik mengenai dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan KEK mutlak dibutuhkan dalam hal ini supaya fungsi pengawasan masyarakat dapat berjalan maksimal.
So, mungkinkah "La Nueva Shenzhen" atau "Shenzhen Baru" akan muncul di Indonesia, mengingat konsep KEK sangat mirip dengan Special Economic Zone yang terbukti sukses di beberapa wilayah China seperi Zhuhai, Pudong, dan Shenzhen? Cukup 3 kata untuk menjawabnya : Impossible is Nothing.

Sumber Gambar : http://mtromania.blogspot.com

Minggu, 29 April 2012

Football Dream Team By Aliyonk


Sepakbola. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Siapapun pasti mengakui bahwa sepakbola adalah olahraga paling populer sejagat. Tak pandang bulu, baik kaya atau miskin, tua  atau muda, laki-laki atau perempuan, penggemar sepakbola terdiri dari berbagai kalangan. Saya pun juga termasuk “golongan mayoritas” yang mendominasi jagat olahraga dunia tersebut. Dulu saya cukup intens mengikuti pertandingan serta kabar-kabar seputar si kulit bundar sejak kelas 6 SD. Meskipun sekarang sudah tidak se-maniak zaman sekolah dulu, tetap saja ada kalanya saya menyempatkan diri untuk menonton pertandingan sepakbola di layar kaca.
Pada postingan kali ini saya akan membuat tim kesebelasan yang terdri dari pemain-pemain pilihan saya sendiri, yang mana pemain-pemain  tersebut sepanjang pantauan saya (sejak 2001, hehe…) adalah yang terbaik di posisinya. Siapa sajakah pemain yang masuk dalam Starting XI Aliyonk’s Dream Team dengan formasi 4-3-3? Let’s check this out….

Kiper


Posisi penjaga gawang diisi oleh Portiere asal Italia, Gianluigi Buffon. Meskipun bermain di Juventus (salah satu rival Inter Milan, klub favorit saya), Buffon adalah kiper favorit saya sejak kecil. Meskipun seiring berjalannya waktu banyak bermunculan kiper-kiper tangguh kelas dunia, bagi saya Buffon tetap numero uno.

Defender
1)      Bek kiri
                                                  

Pos bek kiri diisi salah satu legenda hidup AC Milan dan Italia, Paolo Maldini. Pemain yang kerap menyandang ban kapten, baik di klub maupun timnas, ini merupakan satu dari sedikit aktor lapangan hijau yang loyal terhadap klubnya hingga gantung sepatu. Maldini memulai karirnya di skuad berjuluk Il Diavolo Rosso itu sejak berusia 17 tahun, tepatnya tahun 1985. Semenjak itu kaos merah-hitam terus melekat di raganya hingga ia resmi gantung sepatu tahun 2009 silam, tatkala menginjak 41 tahun! Dari sisi teknis, kemampuan pemain bernomor punggung 3 itu tidak diragukan lagi. Dialah salah satu bek terkuat yang pernah dimiliki Italia, bahkan dunia. Sikapnya yang kharismatik dan berjiwa kepemimpinan di lapangan pun turut menjadi nilai plus. Selain itu Maldini juga dikenal sebagai defender yang serba bisa. Selain stopper, Maldini juga kerap bermain sebagai wingback (posisi yang saya pilih untuk tim saya). Kepiawaiannya di lini belakang semakin diakui dengan keberhasilannya meraih dua kali gelar Ballon D'or dari Majalah France Football. Setelah pensiun 2009 lalu, nomor punggung 3 Maldini diwariskan khusus kepada putranya yang bermain di Milan Junior, Christian Maldini. 

2)      Stopper


Untuk posisi duo stopper, pertama diisi oleh Fabio Cannavaro, kapten Tim Nasional Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006 sekaligus menjadi pemain terbaik dunia  pada tahun tersebut. Meskipun posturnya kurang ideal sebagai bek (175 cm), ia begitu piawai dalam mengawal pertahanan. Ia cermat dan penuh perhitungan, kapan timing yang tepat harus mengintersep, melakukan tackling, menghalau bola dengan sundulan, serta men-delay permainan.  Selain itu ia juga punya jiwa kepemimpinan dalam tim. Tak heran pelatih sering menunjuknya sebagai kapten baik di klub maupun tim nasional.


Posisi stopper selanjutnya diisi oleh sosok elegan dari Roma, Alessandro Nesta. Dibesarkan Lazio, Nesta sempat menjadi ikon tim asal ibukota Italia itu, bahkan didaulat menjadi kapten Biancoceleste sejak berusia 21 tahun sebelum hijrah ke Milan tahun 2002. Soal ketangguhan dan kelihaian dalam menggalang lini belakang, Nesta adalah salah satu bek terbaik di dunia yang pernah ada. Bersama Maldini dan Cannavaro, Nesta membuat lini belakang Italia sebagai pertahanan terkuat di era akhir 90 hingga awal 2000-an. Kemampuannya makin diakui dengan masuknya nama Nesta ke dalam UEFA Team of the Year sebanyak 4 kali (2002, 2003, 2004 dan 2007).

3)      Bek kanan


Posisi right wingback diisi oleh pemain asal Jerman, Philip Lahm. Ia mampu bermain sebagai bek sayap kiri maupun kanan sama bagusnya. Meskipun ia pemain Jerman (salah satu saingan Spanyol, timnas favorit saya), saya tetap menilainya sebagai salah satu full back tebaik di dunia. Bahkan bisa dibilang ia adalah salah satu bek sayap paling berbahaya karena tak jarang mampu mencetak gol meski bermain di posisi yang kurang ideal untuk menyerang (defender) saat open play. Salah satu aksinya yang spektakuler adalah saat pertandingan Timnas Jerman di sebuah pertandingan turnamen antar negara (saya lupa Piala Dunia atau Euro, lawannya saat itu juga lupa). Saat itu Lahm yang berposisi bek kanan, tiba-tiba muncul di sisi kiri (coming from behind) melakukan penetrasi ke kotak penalty lawan dan melepaskan tendangan geledek yang begitu keras hingga membobol gawang lawan. Banyak kalangan yang menilai aksinya itu sebagai aksi paling spektakuler yang dilakukan seorang bek sayap.

Midfielder
1)      Gelandang kanan


Posisi gelandang pertama diisi oleh 'master lini tengah' dari Spanyol, Xavi Hernandez. Xavi adalah gelandang terbaik di dunia saat ini. Hal ini terbukti tiap FIFA mengadakan pemilihan pemain terbaik, nama Xavi Hernandez tak pernah absen di posisi 5 besar. Bahkan pernah ia menduduki ranking 3 dibawah Messi dan Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia. Fakta itu kiranya cukup menunjukkan bagaimana kualitas pemain yang dikenal dengan passing-nya yang akurat dan visi bermain yang imajinatif tersebut.

2)      Gelandang tengah


Posisi selanjutnya di lini vital diisi oleh gelandang Italia yang pernah bermain di 3 klub elit negerinya : Inter Milan, AC Milan dan Juventus. Siapakah dia? Andrea Pirlo sang Metronom lini tengah, the set piece master. Umpan-umpan cerdik dan akurat plus kepiawaian menjaga keseimbangan lini tengah sebagai jangkar, serta ahli mengeksekusi bola-bola mati membuat Pirlo menjadi pemain tengah yang sangat berkelas. Suatu ketika saat Pirlo membela Timnas Italia di Piala Dunia 2006, negaranya sukses mengalahkan Ukraina. Setelah pertandingan berakhir, Andriy Shevchenko, bintang Ukraina yang juga sempat bermain di Milan bersama Pirlo, mengeluarkan statement bahwa Ukraina kalah karena tidak memiliki pemain sekelas Andrea Pirlo. Sebuah pernyataan yang bukan omong kosong karena AC Milan dan Juventus pun sangat bergantung pada pemain satu ini di pos vitalnya. Inter adalah klub yang paling menyesal belum sempat menikmati service Pirlo saat usia matang.

3)      Gelandang kiri


Selanjutnya posisi attacking midfielder atau yang juga dikenal dengan sebutan playmaker diisi oleh sang maestro sepakbola asal Perancis, Zinedine Zidane. Nama pemain yang mengalami kejadian tak sedap saat pertandingan terakhirnya di Piala Dunia 2006 sebellum akhirnya pensiun (menanduk pemain Italia, Marco Materazzi) ini telah disejajarkan dengan legenda-legenda sepakbola lainnya seperti Maradona atau Pele. Zidane punya visi bermain yang bagus. Selain umpan-umpan akurat, dribbling bolanya sulit direbut lawan. Bahkan perusahaan apparel Adidas sampai pernah membuat formasi baru : 4 – zidane - 2 . Hal itu untuk menggambar seberapa hebatnya sosok Zidane di lini tengah, hingga ada semacam ungkapan, “Oper saja ke Zidane, segalanya akan beres…”

Forward






                                         

Trio striker tim impian saya diisi oleh tiga pemain skillful : Andres Iniesta, Lionel Messi. dan Cristiano Ronaldo.  Andres Iniesta Lujan terhitung salah satu gelandang kelas atas dunia. Bersama Xavi Hernandez, Iniesta turut andil besar menjadikan lini tengah Barcelona sebagai lini yang paling disegani. Soal teknik, jangan ditanya... Dribbling dan passing ciamik sudah menjadi ciri khas pemain berjuluk el ilusionista ini. Julukan 'sang ilusionis' sendiri muncul berkat keahliannya bermain di berbagai posisi, termasuk sebagai winger (posisi yang saya pilih untuknya di tim saya). Yup, Iniesta bukan hanya mahir di tengah lapangan, tapi juga 'maut' dalam menyisir pinggir lapangan. Tak salah jika Xavi Hernandez menyebutnya sebagai pemain yang komplet. Sedangkan untuk Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, rasanya saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar karena semua pasti sudah cukup kenal siapa dan bagaimana kualitas permainan mereka. 

Manager / Coach

Terakhir, untuk posisi juru taktik saya percayakan pada “The Special One”, Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal yang terkenal dengan sikap dan gayanya yang nyentrik itu sudah terbukti keampuhannya dalam meramu taktik dan strategi yang jitu. Namanya pertama kali mencuat saat sukses membawa FC Porto menjuarai  Liga Champions 2003-2004, selanjutnya ia dipercaya melatih beberapa klub besar seperti Chelsea, Inter Milan dan terakhir Real Madrid.

Berikut skema di lapangan :
4 - 3 - 3

Gianluigi Buffon
.


   Philip Lahm                         Alessandro Nesta         Fabio Cannavaro                  Paolo Maldini
           .                                                .                                     .                                         .



                       Xavi Hernandez                         Andrea Pirlo                       Zinedine Zidane                       
                                     .                                            .                                           .                                


                                                
                                                 Andres Iniesta                         Lionel Messi                    Cristiano Ronaldo                            
                                                             .                                            .                                           .         


Manager :        Jose Mourinho



Sumber Gambar :



Minggu, 22 April 2012

Mewujudkan Mimpi "sang Karang Panas"


Kabupaten Biak Numfor. Salah satu daerah otonom di Provinsi Papua yang letaknya di sebelah utara perairan Teluk Cendrawasih. Wilayah Kabupaten itu berupa kepulauan dengan pulau terbesarnya yang bernama Biak. Biak merupakan pulau karang (atol) yang letak astronomisnya berada dalam wilayah khatulistiwa sehingga temperatur disana relatif tinggi dibanding daerah-daerah lain yang jauh dari garis khatulistiwa.
Berbeda dengan daerah lain di Papua Mainland yang bergelimang kekayaan alam, Biak tidak mempunyai bahan galian yang dapat ditambang maupun  hasil bumi yang melimpah. Tanahnya tidak cukup subur untuk ditanami tanaman pangan karena struktur geologisnya yang terbentuk dari batuan karang. Praktis perikanan laut adalah komoditas alam terbesar yang dapat dimanfaatkan secara masif disana, selain sektor kehutanan. Namun keadaan tersebut agaknya tidak menghalangi semangat warga Biak dalam membangun daerahnya. Kiranya hal itu dapat dilihat dari Visi Kabupaten Biak Numfor yang berbunyi, “Memantapkan Kota Jasa Sebagai Jembatan Emas Biak Sejahtera di Masa Depan”.



Kalimat yang terangkai dalam Visi Kabupaten Biak Numfor sangat jelas menunjukkan bahwa daerah tersebut bercita-cita ingin menjadi Kota Jasa, dimana menjadikan sektor tersebut sebagai tulang punggung yang menyangga perekonomian daerah. Sebuah visi yang masuk akal menurut saya, karena suatu daerah yang minim sumber daya alam memang harus mencari terobosan untuk menggali dan mengembangkan potensi sumber daya yang ada, khususnya sumber daya buatan. Dan menjadikan sektor jasa sebagai mesin penggerak pembangunan adalah salah satu pilihan yang logis untuk daerah semacam itu.
Bicara soal sektor jasa, hal pertama yang paling sering terlitas di pikiran adalah bidang pariwisata. untuk urusan ini, kiranya Biak mempunyai cukup modal untuk mengembangkannya. Berbagai sumber di internet menyebutkan bahwa beberepa pulau kecil di kabupaten tersebut (termasuk Biak sendiri) mempunyai sejumlah pantai yang indah dan masih sepi. Selain itu Biak dulunya juga tercatat sebagai salah satu pulau yang menjadi lokasi Perang Dunia II. Pertempuran sengit yang melibatkan Jepang dengan negara-negara Sekutu di masa lampau telah menyisakan jejak peninggalan yang tidak sedikit jumlahnya dan sangat penting untuk dilestarikan sebagai bukti otentik atas tejadinya suatu peristiwa yang besar dalam sejarah dunia. So, berbagai peninggalan perang yang ada dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata sejarah untuk disandingkan dengan daya tarik wisata alam berupa pantai dan kehidupan bawah laut yang sudah terlebih dulu ada di Biak.
Misi selanjutnya yang harus dilakukan Pemkab dalam mengembangkan pariwisata daerahnya adalah dengan merawat dan melestarikan komoditas pariwisata yang dimiliki sebaik-baiknya, mengalokasikan dana semaksimal mungkin untuk membangun infratruktur penunjang pariwisata, serta mendidik sumber daya manusianya untuk sadar akan pariwisata. Dan satu hal lagi yang tak kalah penting untuk memajukan pariwisata adalah, seperti yang pernah saya tulis di postingan bulan Februari (baca : wonderful-indonesia-jangan-hanya-slogan. edisi Februari 2012), yakni dengan melakukan promosi segencar-gencarnya untuk menarik minat wisatawan agar datang, sembari melakukan diversifikasi terhadap produk-produk pariwisata yang dimiliki tentunya.
Dilihat dari prasarana yang dimiliki, sebetulnya Biak cukup beruntung karena disana sudah ada Bandara yang cukup representative untuk digunakan, yakni Bandara Frans Kaisiepo. Pertengahan tahun 1990-an Bandara tersebut sempat berstatus internasional dengan melayani rute penerbangan Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles dan sebaliknya. Namun semenjak krisis moneter, entah mungkin karena biaya operasional yang mahal, sehingga status Bandara Internasional pun dicabut. Padahal lokasi Biak cukup strategis untuk sekedar dijadikan tempat transit penerbangan internasional. Meski demikian, Bandara yang dulunya bernama Mokmer itu tetap punya peranan penting sebagai hub penerbangan ke daerah-daerah hampir di seluruh Papua.
Harapan untuk menjadikan kembali Bandara Frans Kaisiepo sebagai bandara internasional kembali terbuka setelah Pemerintah Kabupaten Biak Numfor menjalin kerja sama dengan PT Angkasa Pura I untuk melakukan pengembangan terhadap bandara warisan Perang Dunia II tersebut. Dalam nota kesepahaman itu terdepat 10 kesepakatan, antara lain kedua pihak (Pemkab Biak Numfor dan PT.Angkasa Pura I) sepakat untuk menjadikan Biak sebagai Hub Cargo dan Bandara Frans Kaisiepo dikembangkan agar dapat didarati Jumbo Jet  seperti Boeing 747 dan Airbus.
Sayang dalam dokumen yang dimuat di situs http://regionalinvestment.bpkm.go.id tersebut tidak ada keterangan kapan tahun MoU itu dibuat dan kapan pula pengembangan itu akan direalisasikan. Hanya saja bila proyek itu benar-benar dilaksanakan, saya punyai usulan agar Biak cukup memainkan peran sebagai Hub Cargo saja. Sedangkan untuk urusan logistic cargo di laut, di Biak tidak perlu dibangun Pelabuhan peti kemas penghubung (Hub Port) karena saat ini Pelindo II hendak membangun pelabuhan peti kemas di Sorong yang rencananya akan dijadikan sebagai Hub Port-nya Pasifik Barat. Menurut saya apabila Biak turut membangun Hub Port, maka akan terjadi tumpang tindih dengan Sorong. Dengan adanya pembagian kewenangan antara Sorong dan Biak dalam menjalankan perannya masing-masing dalam sistem logistik (laut dan udara), maka cara ini dapat mendukung terwujudnya pemerataan pembangunan di Papua.
Potensi Biak tidak hanya berhenti di pariwisata dan posisi geostategisnya untuk penerbangan internasional. Tahun 2005 lalu, dalam sebuah pertemuan di Kuala Lumpur (Malaysia), Pemerintah Rusia telah bernegosiasi dengan Pemerintah RI tentang rencana Rusia untuk membangun pusat peluncuran satelit (spaceport) di Biak. Dipihnya Biak karena letaknya yang berada di kawasan khatulistiwa sehingga dekat dengan pusat orbit satelit. Faktor inilah yang membuat Biak sangat ideal untuk tempat peluncuran satelit. Untuk lokasi peluncuran yang dipilih, lagi-lagi yang disebut adalah Bandara Frans Kaisiepo. Sebuah proyek yang terdengar cukup "wah" di telinga, karena jika nanti terlaksana, tentu banyak sekali manfaat yang didapat oleh bangsa Indonesia. Telebih lagi, Indonesia bisa menjadi negara Asia Tenggara pertama dan satu-satunya yang memiliki spaceport.
Namun rencana tersebut mendapat hambatan dari warga lokal Biak yang menolak daerahnya dijadikan sebagai lokasi pembangunan proyek prestisius tersebut. Alasannya karena warga khawatir akan dampak negatif yang dtimbulkan baik saat maupun setelah kegiatan operasional peluncuran satelit dilaksanakan, mengingat adanya kandungan zat radio aktif yang terdapat dalam komponen-komponen satelit. Begitu seriusnya Rusia untuk mewujudkan proyek itu, mereka terus melakukan dialog intensif dengan perwakilan warga biak. Namun tiap kali dialog dilakukan, jawaban warga tetap teguh pada pendiriannya, yaitu menolak.
Sampai akhirnya tahun 2011 lalu, seorang Russian yang mengaku sebagai utusan Presiden Vladimir Putin datang ke Biak dengan tujuan yang sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, yakni bernegosiasi soal proyek satelit Biak. Yang menarik, seperti yang diberitan dalam situs http://tabloidjubi.com , utusan Presiden yang merahasiakan identitasnya itu meyatakan bahwa pihak Rusia telah menyusun schedule peluncuran satelit di Biak tahun 2012 ini. Pernyataan ini berbeda dengan yang disampaikan salah satu staf ahli Bupati Biak Numfor yang mengatakan bahwa peluncuran satelit di Biak akan dilaksanakan tahun 2018 mendatang.
Bingung? Saya juga (hehe...). Tapi sebetulnya konsep peluncuran satelit ditawarkan Rusia di Biak cukup aman dan murah. Teknik yang digunakan bukan cara konvensional dengan memasang roket di darat lalu diluncurkan ke angkasa. Melainkan dengan menggunakan Pesawat Antonov An-124 yang mampu memuat badan satelit di dalamnya. Jadi, perangkat satelit lengkap dengan roket pendorongnya dimasukkan ke dalam pesawat, lalu diterbangkan pesawat itu ke langit. Sampai di ketinggian 45.000 kaki atau +15 km diatas permukaan laut, perut pesawat itu dibuka kemudia satelit akan menyalakan roket pendorong dan mengantarkannya ke orbit. Dengan cara itu plus daya dukung lokasi Biak, diyakini akan menghemat biaya 8-10 kali lebih murah dibanding cara konvensional.


Menurut saya, jika memang benar Rusia ingin memanfaatkan Biak sebagai spaceport, mereka harus menunjukkan komitmen yang serius serta jaminan yang kuat bahwa proyek yang tengah mereka usahakan ini dapat memberi kontribusi yang nyata untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Biak. Belajar dari pengalaman Timika, salah satu tetangga Biak di daratan utama Papua. Tidak perlu saya jelaskan lagi kekayaan apa yang terkandung di Timika, tapi siapa yang menggali, mengelola dan menikmati sebagian besar keuntungannya, serta bagaimana kondisi kesejahteraan warga sekitarnya. Siapun pasti sudah cukup sering mendengar berita-berita mengenai Timika baik di media cetak maupun elektronik.
Dari situlah mestinya Bangsa Indonesia dapat mengambil hikmahnya. Janganlah terlalu mudah terbujuk oleh rayuan pihak asing yang tujuan utamanya untuk mengambil manfaat dari wilayah territorial kita demi kepentingan mereka. Sikap warga Biak dalam hal ini sudah cukup tepat. Tapi bukan berarti menutup pintu rapat-rapat bagi Rusia yang sebenarnya ingin membangun sesuatu yang kita seharusnya juga dapat memetik keuntungan dari situ. Rusia memang menunjukkan itikad baik dengan berjanji akan membangun sekolah dan rumah sakit di Biak. Komitmen yang bagus, tapi di samping itu yang lebih krusial adalah mengenai kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Biak, mengingat masih ada 19.000 warga miskin di kabupaten tersebut. Jika pembangunan proyek tidak memberi perubahan terhadap tingkat kesejahteraan, bisa-bisa yang bersekolah di sekolah pemberian Rusia itu hanya anak-anak pejabat, karyawan spaceport, dan juga anak-anak ekspatriat yang ada di Biak. Sedangkan anak-anak pribumi tetap saja putus sekolah.
Solusi untuk permasalahan diatas menurut saya adalah, jika spaceport-nya sudah jadi, yang menggunakan bukan hanya Indonesia dan Rusia. Tapi kedua negara juga “membisniskan” tempat itu dengan menyewakannya ke negara lain. Jadi, spaceport Biak nanti ditawarkan ke negara-negara lain yang tertarik atau berencana untuk meluncurkan satelit untuk digunakan oleh yang bersangkutan. Indonesia harus mendapat bagian yang lebih besar karena meski dana pembangunannya patungan kedua belah pihak,  lokasinya tetap berada dalam wilayah territorial Indonesia dan tenaga kerja yang membangunnya pun juga orang-orang Indonesia (semoga kenyataanya nanti begitu J) sehingga posisi Indonesia lebih kuat dalam hak meraih keuntungan. Uang hasil sewa yang didapat Indonesia itulah yang sebagian besar digunakan untuk program-progam pro-rakyat di Biak,misalnya untuk insentif pengembangan UMKM di kabupaten tersebut. Dan dengan menawarkan "jasa-jasa" seperti yang disampaikan diatas, impian warga Biak untuk menjadi Kota Jasa yang sejahtera kiranya bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan.


Sumber Gambar :
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/d/da/Peta_kab_biak_numfor.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg717mUQhfbfS8D9H1ZiPFdA7WSbD2S5hlm7v6BbNHlDQ31WWAge4AGjIb5fvHcwzOYNf0es3vXpb3nYkVY0MWxcGxXHsinCQW2pRhs2kobyMdvYRIqke1oC98TkAxdX6mCLrdBGGfG4aJa/s1600/Wallops_Research_Range.jpg




Minggu, 01 April 2012

Gurindam Dua Belas, Mahakarya Sastra Melayu


Gurindam Dua Belas (ada yang menulis Gurindam 12, ada pula Gurindam XII) adalah sebuah karya sastra terbesar yang dikarang oleh Raja Ali Haji (1808-1873), sastrawan Melayu yang hidup di zaman Kesultanan Riau-Lingga. Gurindam sendiri adalah sejenis puisi melayu (tapi lebih cenderung ke pantun) yang terdiri  atas dua bait bersajak A-A. Bait pertama berupa soal atau masalah, kemudian bait kedua berupa jawaban atau akibat dari yang diutarakan bait pertama. Sama seperti pantun, gurindam biasanya berisi tentang petuah.
Gurindam Dua Belas merupakan kumpulan gurindam yang jumlahnya ada 12 pasal (kayak undang-undang ya :D), tiap pasal terdiri dari 5-11 gurindam.  Berikut adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang  telah melegenda, diambil dari situs Wikipedia.

Pasal satu
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Barang siapa siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah Ia dunia mudarat.

Pasal dua
Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh zakat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

Pasal tiga
Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Caripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat.
Hendaklah perliharakan kaki,
Daripada berjalan yang membawa rugi.

Pasal empat
Hail kerajaan di dalam tubuh,
Jikalau lalim segala anggota pun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Si situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
Itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuan membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketur2.
Di aman tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi.

Pasal lima
 Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa.
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Pasal enam
Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
Yang ada baik sedikit budi.

Pasal tujuh
Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah tanda hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
I’Ika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila mendengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat onar.

Pasal delapan
Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suak menampakkan jasa,
Setengah daripada syarik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
Kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.

Pasal sembilan
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaitulah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.
Kepada segala hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
Disitulah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat.
Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.

Pasal sepuluh
Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.
Dengan anak jangnlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
Supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil,
Supaya tengannya jadi kafil.

Pasal sebelas
Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.
Hendak marah,
Dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
Jangan melalui.
Handak ramai,
Murahkan perangai.

Pasal dua belas
Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh anayat.
Kasihan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.


Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...