Minggu, 23 Juni 2013

Cerita Bersambung : Player (Bag.4)

Sambungan dari bagian 3

Waktu sudah menunjuk pukul 12 malam. Film yang diputar di laptop Angga sudah selesai sejak tadi. Suasana rumah Rafi semakin sepi. Hanya suara-suara cicak di eternit yang sedikit menghidupkan suasana tengah malam. Semua pintu tertutup. Pintu depan dan belakang bahkan sudah dikunci. Namun rumah tersebut bukan tanpa penghuni. Setidaknya masih terdengar ‘suara manusia’ dalam kamar tidur Rafi dan Sandra.
Sebagaimana telah diketahui, Sandra memang tidak sendiri sedari tadi. Bahkan hingga larut malam pun Angga masih setia menemaninya, tak terkecuali ketika Sandra masuk kamar untuk menutup hari. Keduanya tengah berbaring dalam satu ranjang, tapi masih terjaga.
“Kalau nanti suamimu telpon gimana?” tanya Angga.
“Ya jawab aja, yang penting bersikap sewajarnya.”
“Kapan terakhir dia telpon?”
“Tadi sore, abis aku mandi.”
“Tanya apa?”
“Mau tau aja.”
Angga tertawa jahil mendengar respon Sandra. Kemudian sejenak pandangannya mengelilingi seisi kamar. Tiba-tiba ia mendapati sebuah benda yang membuatnya mengernyitkan dahi. Dilihatnya sebatang tongkat bisbol (Baseball Bat) berbahan kayu yang dicat cokelat.
“Lho, itu tongkat bisbol siapa?” tanya Angga.
“Oh, ya punya dia...” jawab Sandra.
“Rafi?”
“Iya.”
Mereka sudah seperti layaknya pasangan yang sah. Berbaring berdua dalam satu ranjang. Sandra hanya mengenakan pakaian tidur minim berbahan satin berwarna silver. Mata Angga seperti mendapat tarikan daya magnet yang kuat dari sosok yang disebelahnya. Tak henti-hentinya mata Angga menatap bagian-bagian milik Sandra yang seharusnya diperuntukkan khusus suaminya.
“San, kamu tahu bedanya laba-laba kawin sama orang selingkuh?” tanya Angga seraya membelai rambut Sandra.
“Kok gitu sih pertanyaanmu?” Sandra sedikit kesal.
“Tenang San.. kan ngga ada siapa-siapa selain kita disini.”
“Emang apa jawabannya?”
“Kalau laba-laba abis kawin pejantannya dimangsa yang betina, kalau orang abis selingkuh cowoknya dimangsa suaminya si cewek. Hihihihi…
Sandra sama sekali tidak terhibur mendengarnya. Ekspresi wajahnya malah tampak termenung. Kemudian ia mencoba rileks dan membalas candaan Angga.
“Giliran kamu tebak, apa yang dilakukan perempuan selingkuh sebelum ketahuan suaminya?”
“Wow, berat juga pertanyaanmu.”
Sejenak Angga berpikir mencari jawaban, namun akhirnya menyerah begitu saja.
“Hmm, apa jawabannya?” tanya Angga.
Seketika itu pula mimik wajah Sandra berubah begitu dingin. Dengan tajam ia menatap teman tidurnya, lalu bertanya sekali lagi dengan nada lebih serius.
“Pingin tahu jawabannya?”
“Apa?”
Angga mulai menyadari perubahan sikap yang ditunjukkan Sandra, namun mencoba tetap tenang. Akan tetapi suasana benar-benar berubah 180 derajat ketika Sandra mendekatkan mulutnya ke telinga Angga, lalu membisikkan jawaban pertanyaan tebakan darinya, secara putus-putus.
“Menjadi… laba-laba… betina…”
“Maksudmu?” tanya Angga sekali lagi dengan raut waswas.
Sandra beranjak dari posisi tidurnya. Perlahan ia merangkak mendekati Angga, hingga sampailah pada posisi Sandra merangkak diam diatas tubuh Angga yang masih berbaring. Masih dengan mimik yang begitu serius, kedua matanya tajam menatap wajah Angga yang hanya diam tertegun beralas bantal.
“Tadi kamu bilang apa soal laba-laba betina?” tanya Sandra begitu pelannya.
“Memangsa pejantan setelah kawin?” respon Angga sedikit terbata-bata.
“Tuh benar..”
Perlahan kedua tangan Sandra mulai mencengkeram leher Angga seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Angga .
 “San, kamu serius?!”
Mulai panik, Angga langsung melepaskan cengkeraman Sandra dengan kedua tangannya. Sandra kemudian melepas tangan kanannya yang dipegang erat oleh Angga, lalu memasang jari telunjuknya di bibir.
Sssttt… diam dodol..” perintah Sandra.
Angga pun menurut saja apa yang diminta Sandra. Dengan rasa takut bercampur bingung, kembali Angga terdiam dengan wajah pucat. Sandra melepas jari telunjuk di bibirnya, lalu mendekatkan jari tersebut ke wajah Angga.
“Satu pertanyaan lagi.” kata Sandra dengan tersenyum, tapi matanya masih tajam menatap lawannya. 
Posisi mereka sedikit berubah. Sandra menduduki pinggang bawah perut Angga dengan tubuh membungkuk, kedua tangannya bersandar di masing-masing lutut kakinya.
“Apa kesimpulan dari rangkaian kejadian tadi. Dimulai dari tebakan yang kutanya padamu, sampai kamu yang nyaris aku cekik?” tanya Sandra.
Angga mulai tenang dan tersadar. Dengan berbesar hati, Angga menjawabnya dengan nada datar.
“Oke, aku minta maaf kalau kata-kataku menyinggung kamu. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk itu.”
“Hmm, bagus jawabannya. Tapi bukan itu jawaban yang benar.” imbuh Sandra.
“Terus, jawaban apa yang kamu inginkan?” Angga balas bertanya.
“Tadi apa jawaban tebakanku tadi?” tanya Sandra meyakinkan.
“Menjadi laba-laba betina.” jawab Angga.
“Terus apa yang aku lakukan tadi?”
“Kamu mau bunuh aku?”
“Nah, coba cari apa kesimpulannya?” pertanyaan terakhir Sandra.
“Hmm, aku melakukan kesalahan?” Angga masih menebak.
“Salah…”
“Terus apa?”
“Kamu ketipu...”
Bukannya menjadi laba-laba betina yang memangsa pasangannya, Sandra malah menyerang pasangannya dengan cumbuan bertubi-tubi…

****  
Pukul 1 malam.
Mobil sedan Pandu berhenti di dekat rumah Rafi. Duduk di dalam mobil itu, Pandu selaku sopir dan penumpangnya, yaitu Rafi. Begitu mobil berhenti, keduanya saling berjabat tangan.
Good luck friend.” kata Pandu.
Thanks.”
Rafi berjalan memutari rumahnya menuju pintu belakang. Dikeluarkannya kunci dari kantong lalu dimasukkan ke lubang gagang pintu. Rafi pun membuka pintu belakang rumah dengan perlahan, lalu berjalan masuk dengan cara yang sama. Seisi ruangan gelap gulita. Lampu-lampu sudah dimatikan sejak lama. Meski berusaha berjalan dengan tenang dan penuh kehati-hatian, Rafi tetap tak mampu membendung rasa tegang yang menghinggapi dirinya.
Seorang diri ia berjalan menelusuri ruang-ruang dalam rumah, akhirnya sampailah Rafi di depan pintu kamar tempat biasa ia tidur bersama Sandra. Diam sejenak, Rafi mencoba mendengar seksama bila ada suara-suara di dalam kamar, guna memastikan keadaan.
Di lain pihak, di dalam kamar ternyata Sandra dan Angga masih terjaga. Keduanya tampak baru saja melakukan sebuah kegiatan yang cukup menguras tenaga.
“Kamu mau minum ngga San, aku ambilkan di kulkas.” tawar Angga seraya mengenakan pakaian.
“Boleh.” jawab Sandra merapikan pakaiannya di ranjang.
“Di kulkas masih ada sisa kacang ijo kan?” tanya Angga berjalan menuju pintu.
“Masih kok, habisin aja.”
Dibukanya gagang pintu oleh Angga sambil menoleh ke Sandra dan berkata,
“Aku ambilkan sekalian ya.”
Begitu menoleh ke depan,
“Sekalian, eh sekalian!!!”
Angga mendadak latah, kaget setengah mati melihat sosok yang berdiri di depannya. 
“Sekalian apa?” tanya sosok di depan pintu, yang tak lain adalah Rafi.
“Eh, su, sudah pulang toh..” Angga tergagap-gagap berjalan ke samping, menjauh tingalkan kamar.
“Kenapa Ga??” tanya Sandra dari dalam kamar.
“Jawab ada apa disini.” tegas Rafi.
Sandra pun terkejut mendengar suara terakhir, sadar bahwa orang yang sedang meninggalkannya tiba-tiba datang.
“Apa hakmu disini?” tanya Rafi berjalan mendekati Angga.
“Em, Sandra tadi minta tolong.” jawab Angga semakin ketakutan. 
PLAK! Bogem mentah Rafi tanpa ampun menghantam pipi kiri Angga dengan kerasnya. Seketika itu Sandra keluar dari kamar memeriksa apa yang terjadi. Ia sangat terkejut dan mendadak ketakutan melihat apa yang di depan matanya. Sandra menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Belum puas memukul, Rafi menyerang Angga dengan tendangan kerasnya tepat ke perut Angga hingga tersungkur di lantai ruang tamu. Dihidupkanlah saklar lampu ruang itu oleh Sandra. 
“Sorry Raf, ini bukan murni dari aku.” Angga memohon dalam kesakitan di lantai.

BERSAMBUNG...
Lanjutannya klik disini

Sabtu, 22 Juni 2013

Cerita Bersambung : Player (Bag.3)

Sambungan dari bagian 2

Pagi hari di kediaman Pandu.
Mentari pagi hangat menyinari bumi. Pagi sudah semakin terang saat ini. Terdengar suara hentakan, lalu disusul suara benda menggelinding. Suara-suara itu tak lain berasal dari dalam sebuah ruangan di rumah Pandu. Ya, seperti yang diceritakan sebelumnya, Pandu memang sangat sering melancong ke Jogja. Karena begitu seringnya ia datang ke wilayah bekas Kerajaan Mataram itu, ia sampai memutuskan untuk mengontrak rumah di daerah Sleman agar tak perlu repot memesan dan membayar penginapan di hotel tiap kali berkunjung.
Yiah… ikut masuk cue ball-nya. You turn.” kata Pandu memegang stik hitam nan panjang.
Hehe.. sekarang giliran masternya..” kelakar Rafi. 
Tiba-tiba terdengar bunyi ringtone ponsel Pandu, yang diletakkan di meja kecil tak jauh dari meja billiard yang kini tengah mereka mainkan.
Okay, carry on..” kata Pandu kepada Rafi sebelum menuju ponselnya untuk menjawab panggilan. 
Rafi pun memainkan gilirannya. Di hadapannya tersusun pool balls dengan beragam warna membentuk formasi segi tiga. Kemudian ada satu bola putih yang diletakkan terpisah di depan formasi segi tiga itu. Maka dengan stik hitamya, Rafi menyodok bola putih ke arah formasi bola tadi. “PRAK!” 
Seketika itu pula formasi bola yang terbentuk rapi langsung tercerai berai tak beraturan. Masing-masing bola menggelinding cepat ke segala arah. Hampir semua bola-bola itu masuk ke lubang-lubang (pocket) yang terdapat di keempat sudut meja. Hanya 4 bola yang gagal menemui lubangnya dan berhenti di pinggiran meja dengan jarak yang berjauhan. Satu diantara 4 bola itu adalah bola putih yang berfungsi sebagai cue ball.
Sementara itu Pandu tampak sibuk menjawab panggilan di ponselnya. Namun ia terdengar tidak sedang berbicara dengan Bahasa Indonesia, melainkan berbahasa Tamil. Cukup lama ia berbicara dengan seseorang yang menelponnya. Selama itu pula Rafi asyik memainkan billiard seorang diri, sampai semua bola warna yang tersisa berhasil ia masukkan ke lubang. Rafi pun duduk lesehan di pojok dinding ruangan. Ia mengambil ponsel di kantung celananya dan didapatinya pesan singkat dari Sandra.
“Sarapan apa pah disana?”
Ia balas kiriman sms itu, “Cereal Mah, nothing special.. :)”
                Pandu pun selesai menutup pembicaraan ponselnya. Ia menengok ke arah Rafi yang juga tengah sibuk memainkan poselnya di pojokan.
“Hey, sudah finish kah?” tanya Pandu.
You turn.” jawab Rafi seraya tangannya mempersilakan Pandu ambil alih permainan.
“Sorry lama sangat, ada telpon dari my employee.”
It’s okay, no problem.”
Seraya menyusun formasi object ball, Pandu memperhatikan rekannya yang tengah sibuk dengan bendanya yang berfungsi sebaga alat komunikasi.
Message dari siapa?" tanya Pandu.
My spouse.”
“Cakap apa dia?”
“Yah, sekedar basa-basi. Just say hello..”
“Macam lagunya Shontelle ya, say hello to goodbye…” canda Pandu dengan jahilnya.
“Diam kau, hahahaha…”
PRAK! Cue ball Pandu memecah formasi object ball ke segala penjuru meja. Namun hanya sebagian kecil yang masuk ke pocket.
“So, kau sudah siap untuk rencana nanti malam?” tanya Pandu seraya fokus menyodok salah satu object ball yang hanya 6 cm di depan pocket.
“Oh jelas, tak perlu dipertanyakan lagi.” jawab Rafi mantap.
“Macam mana if orangnya tak ada.”
“Setidaknya kita bisa memeriksa kendaraannya dulu sebelum beraksi.”
Okay...” ujar Pandu datar.

****

Malam pun tiba. Malam yang orang menyebutnya malam yang panjang karena malam ini merupakan malam menjelang hari minggu.  Dan sama seperti malam sebelumnya, Sandra tidak sendirian di rumah karena ada sosok Angga bersamanya. Keduanya tengah asyik bercengkerama di dapur. Sandra menunggui masakan di kompor, sedangkan Angga di meja bumbu.
Kompor gas menyala. Apinya yang berwarna biru membakar panci teflon berwarna merah. Panci itu dalam kondisi tertutup. Dari dalam panci terdengar suara semacam dentuman-dentuman kecil yang saling beriringan. Beberapa saat kemudian penutup panci terangkat dan tampak butiran-butiran putih kecil yang merupakan puncak dari sekumpulan yang terdapat dalam panci itu.
“Sudah matang tuh popocorn-nya” kata Angga.
“Okay.” Sandra merespon dengan segera mematikan kompor.
“Wadahnya nih.”ujar Angga menyerahkan mangkok besar ke Sandra.
“Sip.” jawab Sandra dan segera memindahkan seisi panci ke dalam mangkok yang diberikan.
Finish…
Sandra dan Angga memang hendak menjadikan malam itu sebagai malam yang istimewa bagi keduanya. Mereka hendak mengawali malam panjangnya dengan menonton sebuah film di laptop Angga. Ya, sesuai dengan konsep yang mereka canangkan : melakukan hal-hal sederhana yang menghasilkan kepuasan bintang lima. Wow, ada-ada saja mereka membuat istilah itu.
Adapun film yang mereka putar adalah sebuah film romantic comedy yang dibintangi oleh Adam Sandler dan Jennifer Aniston. Mereka memang sengaja memilih film seperti itu tidak lain karena cerita romansa yang dipadu dengan bumbu humor yang kuat,  sehingga menghasilkan tontonan yang sangat menghibur. Berbeda dengan film romantis biasa yang hanya mengandalkan kisah-kisah konvensional nan membosankan, bahkan tak menarik sama sekali. Bagi Sandra, Angga dan juga Rafi, jenis film yang disebut terakhir lebih cocok untuk pasangan-pasangan ABG labil…
Hahaha… preman banget ya anak-anaknya.” tawa Sandra mengomentari adegan film.
“Kecil-kecil sudah penuh obsesi.” imbuh Angga.
“Anak cewek memang sering gitu sih.”
“Curcol kamu ya.”
Hehehe…” Sandra hanya terkekeh. 
Film itu berdurasi 117 menit. Selama itu pula keduanya hanyut dalam alur cerita. Ada kalanya mereka tertawa lepas saat adegan konyol, ada pula momen keduanya tampak serius. Namun gelak tawa lebih mendominasi ekspresi mereka. Namun di sela-sela kegiatan itu, tak jarang pula Angga mencuri pandang ke paras rekan nontonnya.
Sandra memang dianugerahi wajah yang elok rupawan. Kulitnya putih mulus, bibirnya tipis merekah merah, hidungnya mancung layaknya ras Arya, rambutnya yang hitam terurai dengan panjang sebahu, tatapan matanya tajam seperti siap menghipnosis kaum adam yang menatapnya. Orang yang belum mengenalnya tidak jarang mengira Sandra adalah keturunan Arab, meski sebenarnya bukan demikian. Dalam benaknya Angga tak dapat menampik betapa beruntungnya Rafi mendapat perempuan secantik Sandra.
Sandra pun bukan tidak menyadari bahwa rekan nontonnya sering diam-diam melirik ke wajahnya. Dengan sikap seolah-oleh acuh dengan keadaan, matanya tetap tertuju ke film, tapi sengaja ia pasang senyum manis di bibirnya yang menggoda. Sikap Sandra itu membuat Angga semakin tergoda untuk membelai paras cantiknya dengan penuh rasa sayang.
Di tengah-tengah suasana, terdengar suara mobil lewat di depan rumah Sadra dan Rafi. Sandra menoleh ke luar pintu yang memang sengaja tidak ditutup. Tampak olehnya mobil sedan hitam melintas di depan rumah. Kecepatan mobil itu sempat berkurang, lalu kembali dipercepat oleh sopirnya setelah melewati rumah itu. Sandra pun kembali fokus dengan kegiatannya bersama Angga. Begitu hanyutnya mereka dalam suasana itu hingga melupakan popcorn yang sedianya disajikan untuk teman nonton…

****

Kembali ke rumah kontrakan Pandu.
Rafi tampak asyik menonton pertandingan Liga Inggris di layar kaca televisi. Ia menonton seorang diri tanpa ada Pandu atau orang lain di sampingnya. Tak lama kemudian datang mobil sedan hitam, persis seperti yang baru saja melintasi rumah Rafi tadi. Mobil itu masuk ke garasi rumah Pandu, lalu dimatikanlah mesinnya. Sang pengendara mobil pun turun. Diketahuilah bahwa sopir mobil itu adalah Pandu Mohana.
Fokus Rafi ke pertandingan pecah seketika saat mendengar suara pintu dibuka. Dilihatnya Pandu berjalan memasuki ruang TV dengan wajah serius.
“Gimana bro?” tanya Rafi penuh harap.
“Sesuai prediksi. Mereka sedang bersama-sama, sekarang bola kuoper padamu.”
Thank you so much bro, bersiaplah untuk memulai pertunjukan.”
“Seperti yang ku katakan tadi, your wife, your business. Do it your self…”
Yeah, of course.”


****
BERSAMBUNG...
Lanjutannya klik disini




Jumat, 21 Juni 2013

Cerita Bersambung : Player (Bag.2)

Sambungan dari bagian 1

Beberapa saat kemudian, di sebuah kantor catering.
Sandra baru saja selesai menerima tamu yang tidak lain adalah calon konsumen catering tempatnya bekerja. Begitu kembali ke ruangannya, telepon pun berdering. Tepat sekali timing teleponnya, begitulah yang terlintas di benak Sandra. Segera ia angkat telepon.
“Halo, selamat siang Taruna Catering..” sapa Sandra sesuai SOP kantornya.
Halo, ini aku Mah.” jawab seseorang yang menelepon.
“Oh, kenapa Pah?”
Gini Mah, Papa ada urusan ke luar kota. Biasalah bisnis…”
“Iya, terus..”
Besok jum’at sore Papa sudah harus ke Bandung, tapi ngga terlalu lama kok. Paling minggu sudah pulang.”
“Oh gitu, ya ngga apa-apa sih. Yang penting tujuannya jelas.”
Mama ngga apa-apa kan, ditinggal beberapa hari?”
“Ngga masalah kok. Asal jangan lupa oleh-olehnya aja...”
“Oh tenang, itu sudah pasti.. Yang penting Mama jaga diri saja selama ngga ada Papa.”
“Ah, kayak anak kecil aja. Urusan apa sih ke Bandung.”
“Mau ketemu mitra Papa disana. Udah dulu ya Mah, ada konsumen datang nih.”
“Oke Pah..”
Salam penutup dan percakapan berakhir. Sandra menutup telepon. Sejenak ia diam termenung, lalu kembali tersadar dan melanjutkan aktivitasnya.
Sementara itu, setelah menutup telepon, Rafi menoleh ke arah Pandu dan berkata,
“Jelas dia bakal baik-baik saja selama aku tinggal…”
Baik Rafi maupun pandu sama-sama tersenyum sinis.
“Sangat baik-baik saja…”

****

Keesokan Jum’at, menjelang petang.
Rafi sudah meninggalkan rumahnya sejak sore tadi. Kini hanya ada Sandra seorang di rumah pasangan suami-isteri itu.  Jam menunjuk pukul 6.37 malam. Sementara di luar rumah tampak amat sepi. Suasana komplek perumahan makin dramatis dengan hembusan angin yang menggoyangkan daun-daun pepohonan secara perlahan.
Di lain tempat, tepatnya di jalanan, seorang pria pengendara motor sport tengah sibuk menjawab telepon dengan ponselnya. Motornya telah ia hentikan di pinggir jalan dalam rangka melakukan kegiatan dengan ponselnya itu.
“Yakin ngga akan balik lagi kan?” tanya pria itu dengan ponsel ditempelkan di telinga kanannya.
Jelas nggak lah. Orang naik kereta…” jawab seorang wanita lawan bicara telepon pria tersebut.
“Okelah, ini sudah mau sampai.”
Yow, hati-hati di jalan.”
Dimasukkannya ponsel ke kantong celana dan bergegaslah pria itu melanjutkan perjalanan dengan motornya yang gagah.

****

Sementara itu di rumah kontrakannya, Pandu tampak serius menyaksikan tayangan di televisi. Ia duduk di sofa berwarna hitam. Di depannya tersedia meja, lengkap dengan kudapan kacang atom dan mug berisi hot chocolate.
“Yak, smash!” teriaknya semangat.
Yeah…
Pandu begitu menikmati siaran langsung pertandingan tenis di televisi. Tayangan langsung kejuaraan Grand Slam yang mempertemukan dua petenis putri terbaik saat ini : Maria Sharapova vs Victoria Azarenka. Namun tampaknya Pandu tak sedang sendirian. Terdengar suara pria di belakangnya,
“Emang paling betah ya nonton pertandingan kayak gitu. Kau lihat pertandingannya atau pemainnya?”
tanya orang yang di meja makan belakang sofa tempat duduk Pandu.
Both lah… Hahaha…” jawab Pandu dengan tawa.
Pertandingan yang mempertemukan Marsha vs Vika memang menjanjikan duel yang seru untuk ditonton. Sama-sama ber-skill ciamik dan sama-sama ranking papan atas dunia. Selain itu, kedua juga sama-sama berparas cantik sehingga turut menjadi daya tarik tersendiri. Dan uniknya, kedua pemain tenis itu sama-sama suka mengeluarkan teriakan yang terdengar seperti lenguhan kala melakukan smash atau menghalau smash lawan. So, bisa dibayangkan seberapa “ramai” suasana lapangan kala keduanya bertanding.
“Kau pilih Marsha atau Vika, kita bet 100 ribu rupiah. Beranikah?” tantang Pandu.
Hahaha… sorry bro, saya lebih suka bola.”
At least kau boleh belikan isterimu  cendera hati palsu dari bandung, hahahaha…
Oleh-oleh palsu untuk isteri dari Bandung? Bisa ditebak siapa yang kemarin pamit ke Bandung kepada isterinya.
“Aku memang ngga berencana untuk belikan sesuatu, tapi aku mau memberikan sesuatu.” itulah jawaban yang dilontarkan lawan bicara Pandu, yang tak lain adalah Rafi.
Hmm..” Pandu mengangguk.

****      

Kembali ke rumah kediaman Rafi dan Sandra.
Hidangan makan malam telah tersaji lengkap di meja makan. Ada nasi, ca kangkung, tahu dan tempe goreng. Tak ketinggalan pula sambal goreng tersaji dalam mangkok kecil. Sebuah menu makan malam sederhana yang memberikan kesan biasa saja bagi yang melihat. Namun kesederhaan itu tampak memberi kesan yang lebih dari biasa bagi Sandra. Karena ia tidak memasak hidangan itu untuk dirinya seorang.
Ya, di salah satu kursi meja makan tersebut, duduk sesosok pria muda seraya asyik memainkan ponselnya. Tak lama kemudian datang Sandra dari dapur membawakan air minum.
“Sorry ya Ga, hari ini cuma masak seadanya.” kata Sandra.
“Ah santai saja, keliatan enak kok.”
“Ambil sendiri makannya, ngga usah segan-segan.”
“Oke, tengkyu.”
Sandra memang tidak sendiri. Ia kedatangan temannya yang bekerja di asuransi, bernama Angga. Usianya sebaya dengan Rafi dan Sandra, namun belum punya pasangan.
“Dalam rangka apa sih suamimu ke Bandung?” tanya Angga.
“Biasalah, urusan bisnis.”
“Usahanya lancar kan?”
“Ya, lumayan.”
Kurang lebih 10 menit keduanya menghabiskan waktu untuk menyantap makan malam. Begitu selesai Sandra bergegas menata piring dan gelas bekas makan dan membawanya ke dapur untuk dicuci. Sementara Angga berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa.
Di meja ruang tamu tergeletak laptop berwarna hitam dalam kondisi mati dan terlipat. Angga pun membuka laptop dan menekan tombol untuk menghidupkan alat itu. Layar laptop pun perlahan menyala dan siap dioperasikan. Tak lama kemudian Sandra turut menghampiri Angga dan duduk di sebelah pria itu.
“Abis ngopi film apa kamu?” tanya Sandra.
“Ngga ada film baru.”
“Pasti mau main game…”
“Enggaklah…” jawab Angga merebahkan punggungnya di dinding sofa.
Tampak kursor dalam layar tengah berputar-putar, tanda loading setelah mengklik sebuah aplikasi. Dengan rileksnya, Angga menyandarkan tangan kanannya ke belakang pundak Sandra yang duduk di sampingnya. Sandra tak bergeming, matanya terus memandangi layar laptop Angga. Tak lama kemudian muncul gambar kedua orang itu di layar laptop. Diketahuilah bahwa baru saja Angga membuka aplikasi untuk memotret.
“Lumayan jelas kan?” tanya Angga.
“Bolehlah.” jawab Sandra.
Keduanya pun saling berpose. Bak sesi pemotretan ala model, keduanya saling berpose mesra di depan kamera. Tangan kanan Angga merangkul erat Sandra, sementara Sandra menyandarkan kepalanya di pundak kanan Angga dengan senyum manisnya.
Mereka terus melakukan dengan ekspresi dan pose yang beragam. Bahkan tak jarang kamera laptop Angga memotret keduanya saling berkecup bibir, layaknya pasangan kekasih yang dimabuk asmara. Keduanya pun tampak sangat menikmati momen tersebut. Cukup lama mereka melakukannya, bahkan hampir satu jam. Namun tidak semua hasil foto yang terambil memuaskan mereka. Tak jarang mereka menghapus gambar yang baru saja dipotret. Semua hasil potretan pun disimpan dalam laptop Angga. Jumlah totalnya ada 15 foto.
Tanpa terasa waktu telah menunjuk pukul 21.56. Sandra dan Angga sudah tidak saling berpose lagi, tapi masih berduaan di ruang tamu. Mata Angga tertuju ke arah jam dinding.
“Okay, sudah hampir jam 10. Sesuai katamu tadi, kita akan melanjutkan besok.”
Sandra hanya mengangguk senyum tanda mengiyakan.
Angga pun segera bersiap hendak pulang meninggalkan rumah Sandra. Sementara menunggu proses shut down laptopnya, ia memakai jaket kulitnya yang berwarna hitam. Di waktu yang sama, Sandra mencabut kabel charger laptop dan merapikannya di meja. Begitu laptop mati segera dilipat Angga dan dibungkuskan ke wadahnya sebelum dimasukkan ke tas, turut disertakan pula charger-nya.
Diantarnya Angga oleh Sandra menuju motornya yang diparkir di halaman rumah. Suasana malam tetap sepi seperti jam-jam sebelumnya.
“Sepi banget ya disini.” ujar Angga yang bersiap mengendarai motor dengan helm half face yang telah membungkus kepalanya.
“Bakar rumah aja pasti ramai.” canda Sandra.
Angga sedikit merubah sikap. Dengan senyum tangan kanannya meraih kepala Sandra bermaksud mendekatkan wajah Sandra ke wajahnya. Namun dengan sigap Sandra menolak karena meski suasana sepi, Sandra merasa tetap tak patut melakukan perbuatan itu di ruang terbuka. Angga sempat sedikit kecewa namun segera menghiraukannya. Tak lama kemudian Angga melaju tinggalkan rumah dengan kuda besinya.


****
BERSAMBUNG...
Lanjutannya klik disini

Cerita Bersambung : Player (Bag.1)

PROLOG

Menggores tinta, merangkai cerita. Itulah tema yang pas untuk deretan tulisan yang hendak saya posting beberapa hari ke depan. Ya, untuk kali pertama saya menulis sebuah cerita fiksi untuk dijadikan sebagai bahan postingan blog sekaligus imaginarium saya ini. Sebuah kisah seputar anomali kehidupan rumah tangga, intrik-intrik nan licik serta tenggelamnya tokoh-tokoh dalam sandiwara yang penuh kepalsuan. Semuanya terangkum dalam sebuah cerita bersambung yang murni ditulis berdasar imajinasi yang terlintas dalam pikiran saya selaku pengarang.
Saya memohon maaf andaikan saat membaca nanti anda melihat beberapa kekurangan, semisal alur ceritanya, penggambaran tokoh, atau hal-hal lain bersifat teknis yang mempengaruhi kualitas cerita yang dihasilkan. Karena biar bagaimanapun juga, posisi saya sebagai pemula dalam menulis cerita fiksi, membutuhkan waktu yang lebih untuk belajar agar menjadi lebih baik lagi. 
Sebelum melangkah ke cerita, perlu pula saya sampaikan bahwa akan ada beberapa adegan atau kalimat yang mungkin tidak patut untuk menjadi konsumsi anak atau orang yang belum dewasa. Oleh karena itu saya meminta bagi anda yang berusia dibawah 18 tahun untuk jangan membaca cerita ini. Dan bagi anda yang telah berusia dewasa, dimohon kebijaksanaannya dalam menyikapi hal-hal dalam cerita yang dianggap kurang berkenan. Mungkin di lain waktu, bila ada ilham dan kesempatan, saya akan menulis cerita lagi yang lebih universal. Maksudnya adalah cerita yang dapat dikonsumsi oleh semua kalangan, tanpa ada pembatasan terhadap umur atau kategori tertentu.
Well, berikut adalah cerita bersambung berjudul Player, ditulis oleh saya sendiri Ali-Aliyonk, spesial untuk anda para pembaca setia. Here we go...


PLAYER 

Malam kamis. Hujan lebat disertai petir terus mengguyur bersama kilat. Sementara jam dinding menunjuk pukul 00.17, Rafi masih terjaga. Duduk di meja dengan laptop menyala di hadapannya. Raut wajah tegang, jantung berdegup kencang. Matanya tak beranjak memandangi layar laptop dengan tajamnya. Bertumpu sikut, telapak tangan kirinya setengah menggenggam menutupi sebagian mulut dan hidung. Sementara tangan kanannya tak beranjak memegangi mouse.
Beberapa detik sekali, telunjuk tangan kanannya memencet benda oval berkabel itu. Semakin lama, matanya kian memerah. Mimik wajah semakin serius. Amarah yang sedari tadi terpendam, semakin tak terbendung. Rasa itu masih dikombinasikan dengan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. Ketiga elemen itu bercampur membentuk kondisi emosional yang sangat tak menentu. Terbesit intuisi dalam hati Rafi, sebagai refleksi terhadap situasi yang dihadapi,                                                                                                                                           “Kalian tak akan selamat…”

* * * *

Keesokan harinya.
Pagi yang cerah pasca hujan lebat semalam. Cairan hitam berasap mengguyur penuh cangkir putih dengan panasnya. Satu cangkir lagi mendapat guyuran yang sama. Keduanya lalu ditaruh di baki dan diantar ke meja makan. Sampai tujuan, kedua cangkir penuh kopi itu diletakkan terpisah dari bakinya. Sementara terdengar sayup suara penyiar berita di televisi dengan mimik seriusnya.
“Pesanan gamis yang dari Magelang itu sudah belum, Pah?” tanya Sandra ke suaminya.
“Kemarin sudah jadi sekitar dua per tiganya. Targetnya sebelum minggu sudah jadi.” jawab Rafi tanggapi isterinya.
“Ya bilangin aja ke anak-anak, jangan terlalu terpaku pada waktu. Yang penting kualitas hasilnya.” lanjut Sandra.
“Mereka sudah mulai terbiasa dikejar deadline kok Mah. Papa juga sudah mengira-ira sebelum terima order.”  sambung Rafi seraya menggigit roti.
Rafi adalah pengusaha konveksi di Yogyakarta. Ia pun tinggal di kota itu bersama isterinya, Sandra, yang berprofesi sebagai marketing di sebuah perusahaan catering. Mereka sudah 3 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, tapi belum jua dikaruniai momongan. Namun kondisi tersebut tidak menjadi persoalan yang berarti bagi mereka. Mengingat usia masing-masing pasangan yang relative muda (28 tahun), mereka bahkan menargetkan punya anak umur 30 tahun, waktu dimana kondisi perekonomian sudah mapan menurut prediksi mereka.
“Oh ya, kabarnya Fatma gimana?” tanya Sandra sambil menyeruput kopi.
“Katanya sih hari ini sudah berangkat kerja. Kemarin dia kasih kabar langsung.”
“Kalau memang sudah fit, sebagian kerjaan Arif diserahin dia aja biar cepat sekalian.”
“Iya, Papa memang ada rencana begitu sih.”
Tanpa terasa waktu menunjuk pukul 8.33 pagi. Mereka pun segera bergegas ke aktivitasnya masing-masing.  

* * * *

Rafi sampai di workshopnya setelah sempat mengantar Sandra ke kantornya. Begitu masuk tampak olehnya 6 orang karyawan tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Empat diantaranya tengah berkonsentrasi dengan mesin jahit, satu orang wanita sibuk menyeterika, sedangkan sisanya seorang pria tengah memotong pola. Beberapa diantara mereka sempat menoleh ke arah Rafi, kemudian kembali fokus ke kegiatannya lagi.
Rafi pun duduk di meja yang memang disediakan khusus untuknya. Tak lama kemudian datang seorang karyawan wanita mendekati Rafi. Tangan kanannya membawa dua lembar kertas kecil berbentuk persegi panjang. Masing berwarna hijau muda dan merah jambu.
“Pak, ini nota yang kemarin beli payed sama Thai Silk.” kata wanita itu seraya menyerahkan bawaannya kepada Rafi.
“Oh, yang kemarin sore itu ya.”
“Iya Pak.”
Sebagai owner sebuah usaha konveksi, Rafi juga menjalankan perannya sebagai akuntan, supervisor dan policy maker. Pembukuan debet-kredit dan kalkulasi honor per karyawan turut menjadi menu yang ia lahap dalam pekerjaannya. Dulu awalnya pekerjaan itu di-handle oleh Sandra. Namun semenjak Sandra diterima kerja di sebuah perusahaan catering, otomatis Rafi-lah yang harus mengurusnya seorang diri. Sebenarnya bisa saja Rafi membayar karyawan baru untuk berperan sebagai akuntan. Namun urusan keuangan merupakan hal yang cukup sensitif sehingga ia tidak berani memberi kepercayaan ke orang lain. Selain itu dengan kondisi tersebut, setidaknya kas perusahaan jadi lebih hemat karena tidak perlu menggaji seorang akuntan professional. Namanya juga pengusaha…
Waktu pun terus berputar. Matahari semakin meninggi, seiring kian panasnya cuaca siang itu. Datang sebuah mobil sedan hitam berjalan menuju workshop Rafi. Diparkirnya mobil itu di parking area yang telah tersedia. Terbukalah pintu depan mobil itu dan keluar seorang pria parlente dengan kacamata hitam menghias parasnya. Ditutupnya pintu mobil dan bergegas masuk ke workshop Rafi. Ditemuinya Rafi tengah sibuk memotret patung peraga yang telah dikenakan gamis batik berwarna merah dan hitam.
“Hey bro, sibuknya…” sapa orang itu kepada Rafi.
Dengan senyum lebarnya, orang itu melepas kacamata hitamnya dan tampak jelaslah wajahnya yang seperti orang India. Ya, dia memang seorang India Tamil. Namanya Pandu Mohana.
“Eh, Pandu. Kau rupanya.” jawab Rafi segera menaruh kameranya di meja.
How are you doing?” tanya Pandu menjawab tangan Rafi.
Horrible…” jawab Rafi serius.
Ow man..”
Pandu Mohana adalah warga Negara Singapura beretnis India. Ia punya usaha tekstil dan butik di negaranya. Pandu gemar melancong ke Indonesia, khususnya Yogyakarta. Di kota itu pula ia berkenalan dan berteman dekat dengan Rafi, sesama pengusaha yang “akrab” dengan kain.
“So, camna kelanjutannya nanti?” tanya Pandu duduk di ruang tamu bersama lawan bicaranya.
“Jelas harus ada perhitungan. Ini cuma soal timing  saja.”
“Boleh je kau nak balas. Tapi kau juga harus pikir efeknya untukmu kelak.” sambung Pandu berbahasa Melayu.
I don’t care. Ini soal harga diri.”
“Hmm, aku mencium aroma violenceYeah, you are a man. Mungkin aku juga lakukan hal sama bila mendapat seperti kau.”
“Begini bro, let me tell you..”
Dalam nada pelan, dengan seriusnya Rafi memaparkan detail hal yang ia rencanakan kepada Pandu. Sebuah rencana yang tentu bukan main-main, mengingat sebelumnya Rafi sempat menyebut kata “harga diri”.

****
BERSAMBUNG...
Lanjutannya klik disini

Rabu, 12 Juni 2013

La Cita (10)

"Memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Penciptanya."                                                                                         
- Abdurahman Wahid -

Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...