Minggu, 19 Oktober 2014
Kamis, 09 Oktober 2014
Men's Badminton Dream Team by Aliyonk
Pada kesempatan kali ini saya
mencoba menyusun sebuah tim bulutangkis beregu putra yang terdiri dari
pemain-pemain terbaik abad ke-21. Tim ini tersusun dari 3 tunggal utama, 2
ganda utama, 1 tunggal pelapis dan 1 ganda pelapis. Berikut adalah susunan pemain
tim beregu putra impian versi saya sendiri, check
it out...
Tunggal pertama
| Source: http://devids.net/ |
Tunggal pertama berperan sebagai
ujung tombak andalan tim. Untuk posisi ini saya percayakan pada sang raja
bulutangkis saat ini, Lin Dan. Yup,
nama satu ini jelas tak asing lagi bagi para pecinta olahraga tepok bulu.
Dialah pemegang rekor 5 kali juara dunia (2006, 2007, 2009, 2011 dan 2013), dua
kali berturut-turut juara Asian Games 2010 dan 2014 serta dua kali
berturut-turut pula juara Olimpiade 2008 dan 2012. Belum lagi jumlah gelar super series yang berhasil diraih
sepanjang karirnya yang tentu tak sedikit jumlahnya.
Sederet prestasi Lin Dan bukan
hanya berhenti pada nomor individu, tapi juga tim. Bersama tim bulutangkis
putra Tiongkok, suami mantan pebulutangkis Xie Xinfang ini telah berhasil
menjuarai Piala Thomas 5 kali berturut-turut (2004, 2006, 2008, 2010, 2012)
sekaligus menyamai rekor Indonesia yang sebelumnya mampu mencatatkan streak yang sama. Di tim beregu campuran
pun Super Dan mampu membawa negaranya
4 kali berturut-turut merajai Sudirman
Cup (2005, 2007, 2009, 2011). Tidaklah heran bila pemain kelahiran 14
Oktober 1983 itu disebut-sebut sebagai pemain dengan gelar terlengkap.
Dilihat dari prestasi
individunya, saya rasa Lin Dan adalah kandidat kuat “Rudy Hartono Abad 21”.
Dulu Rudy Hartono mampu menjuarai All England sebanyak 8 kali, rentang tahun
1968-1976. Kala itu bulutangkis belum dipertandingkan di Olimpiade dan Kejuaraan
Dunia BWF juga belum ada. Jadi All England merupakan kejuaraan bulutangkis
level tertinggi pada masa itu.
Berbeda dengan era sekarang
dimana ada dua event akbar bulutangkis: BWF
World Championship dan Olympic Games. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Lin
Dan telah mengumpulkan 5 gelar juara dunia BWF dan 2 medali emas Olimpiade.
Bila dikalkulasi, maka legenda hidup bulutangkis Tiongkok itu telah menorehkan
7 gelar world major tournaments. Bila
sekali lagi ia meraih juara dunia BWF atau medali emas Olimpiade, maka tak
salah jika menyebut Lin sebagai “Rudy Hartono abad 21”.
Ganda pertama
| Source: http://sports.163.com/ |
Beralih ke nomor ganda. Disini
lagi-lagi diisi oleh punggawa Tiongkok, kali ini adalah pasangan Cai Yun/Fu
Haifeng. Kedua nama tersebut adalah pasangan ganda putra tersukses saat ini,
meski keduanya tak lagi berpasangan sejak akhir 2013 (sempat kembali
berpasangan pada di Asian Games 2014). Cai Yun/Fu Haifeng adalah salah satu ganda putra yang paling
disegani dunia. Mereka mencatatkan rekor 4 kali juara dunia BWF (2006, 2009,
2010, 2011) dan 1 medali emas Olimpiade 2012. Belum pernah ada dalam sejarah
ada pasangan ganda putra yang mampu menorehkan prestasi segemilang Cai dan Fu.
Keberhasilan pasangan tersebut
kala meraih medali emas Olimpiade 2012 juga menyisakan cerita tersendiri. Pada
edisi sebelumnya, yakni Olimpiade 2008, pasangan Tiongkok ini gagal memenuhi
ambisi juara di kandang sendiri setelah dikalahkan pasangan nomor satu dunia
asal Indonesia kala itu, Markis Kido/Hendra Setiawan.
Namun berkat konsistensi dan
determinasi yang kuat, Cai/Fu mampu membayar lunas kegagalan tersebut pada
empat tahun berikutnya. Tepatnya pada Olimpiade London 2012, Cai Yun/Fu Haifeng
kembali menembus final sekaligus meraih medali emas olimpiade pertama sepanjang
sejarah bagi ganda putra Tiongkok. Bukan hanya itu, Negeri Tirai Bambu pun
sukses menorehkan sejarah sebagai negara pertama yang menyapu bersih medali
emas di semua nomor bulutangkis Olimpiade.
Tunggal kedua
| Source: http://thediplomat.com/ |
Selanjutnya adalah tunggal kedua.
Posisi ini diisi oleh legenda hidup bulutangkis Malaysia, siapa lagi kalau
bukan Lee Chong Wei. Pebulutangkis bergelar “Dato” ini tercatat sebagai pemain
tunggal putra paling banyak mengoleksi gelar super series. Namun yang mengherankan dari pria kelahiran 21
Oktober 1982 ini, ia begitu sulit menjuarai turnamen sekelas BWF World Championship dan Olimpiade.
Chong Wei dua kali berturut-turut gagal meraih medali emas Olimpiade setelah
ditaklukkan lawan yang sama, Lin Dan.
Di Kejuaraan Dunia BWF pun sang
Dato baru saja mencatatkan hattrick
tak menyenangkan: tiga kali berturut-turut menjadi runner up. Setelah dua kali dikalahkan seteru abadinya, Lin Dan,
tahun 2011 dan 2013, tahun 2014 ia kembali harus gigit jari setelah ditaklukkan
Chen Long (Tiongkok) di babak final.
Kendati demikian, Chong Wei
tetaplah seorang legenda. Di usianya yang kini tak lagi muda, besar kemungkinan
Malaysia akan kesulitan mencari pengganti yang sepadan kelak jika Lee Chong Wei
pensiun.
Ganda kedua
| Source: http://www.antarafoto.com/ |
Berlanjut ke ganda kedua. Posisi
ini diisi oleh pasangan juara Olimpiade 2000 asal Indonesia, Candra Wijaya/Tony
Gunawan. Sebetulnya Indonesia punya cukup banyak pemain hebat di ganda putra
mengingat negara ini memang punya tradisi kuat di sektor tersebut. Namun saya
memilih pasangan Candra/Tony karena keduanya juga sukses ketika dipasangkan
dengan partner yang berbeda.
Setahun setelah meraih medali
emas bersama Candra, Tony Gunawan kembali sukses menjuarai Kejuaraan Dunia 2001
bersama partnernya kala itu, Halim Haryanto Ho. Begitupun Candra Wijaya. Ia
bahkan telah lebih dahulu merasakan manisnya juara dunia bersama Sigit Budiarto
tahun 1997.
Menariknya, pada Kejuaraan Dunia
2005, kedua pasangan juara Olimpiade itu kembali dipertemukan di final. Namun
mereka tidak dipertemukan sebagai partner, melainkan sebagai lawan. Tony
Gunawan yang telah berganti warga negara Amerika Serikat sejak 2002,
berpasangan dengan Howard Bach dan berhasil mengukir prestasi setelah menjuarai
Kejuaraan tersebut dengan mengalahkan pasangan Candra Wijaya/Sigit Budiarto
(Indonesia) di final.
Tunggal ketiga
| Source: http://www.khelnama.com/ |
Meski demikian, Taufik adalah
pemain tunggal putra pertama di dunia yang mampu meraih juara Olimpiade dan
Kejuaraan Dunia secara berturut-turut (Olimpiade 2004 dan Kejuaraan Dunia
2005). Selain itu ia juga dua kali berturut-turut meraih medali Asian Games
2002 dan 2006, serta dua kali pula meraih emas SEA Games 1999 dan 2007.
Di level tim beregu, pria asal
Pandeglang itu berhasil mengantarkan Tim Indonesia dua kali berturut juara
Piala Thomas 2000 dan 2002. Sejauh ini belum ada pemain Indonesia yang mampu
meraih sederet prestasi sebagaimana yang telah diukir seorang Taufik Hidayat.
Sulit menentukan pemain yang
layak mengisi pos palapis ini. Banyak sekali pemain-pemain tunggal nan handal
dari berbagai negara di dunia. Namun saya masih kurang sreg dengan Peter Hoeg Gade (Denmark) meski ia terhitung living legend bulutangkis dunia. Setlah
menimbang-nimbang beberapa nama, akhirnya pilihan saya jatuhkan sosok
pebulutangkis yang lagi-lagi berasal dari Negeri Tiongkok, Chen Jin.
Nama Chen Jin memang tidak
se-impresif Lin Dan, Lee Chong Wei, Taufik Hidayat maupun Peter Hoeg Gade. Karirnya
sebagai atlet pun tergolong singkat mengingat Chen Jin memutuskan gantung raket
di usia muda karena dibekap cedera. Ya, pria bertinggi 182 cm ini memutuskan
pensiun di usia yang seharusnya merupakan masa-masa emas dalam karirnya, 26
tahun.
Namun dalam rentang masa karirnya
yang tak panjang itu bukan berarti tak ada prestasi yang menonjol. Di usia
remaja, Chen Jin sudah merasakan manisnya dua gelar juara pada Kejuaraan Dunia
Junior 2002 dan 2004. Karirnya pun terus menanjak dari waktu ke waktu. Berbagai
torehan prestasi berhasil diraihnya baik individu maupun bersama tim beregu Tiongkok.
Chen Jin adalah peraih medali
perunggu Olimpiade Beijing 2008. Dua tahun kemudian ia mencatatkan namanya
sebagai sebagai Juara Dunia BWF 2010. Bersama Tim Tiongkok pun ia turut
menyumbang tenaga atas kedigdayaan Tiongkok meraih Piala Thomas 5 kali beruntun
kurun 2004-2012. Sayang, cedera yang ia alami tahun 2012 lalu telah merenggut
karirnya sekaligus menghentikan lajunya dalam mengumpulkan torehan prestasi.
Kendati demikian, dedikasi Chen Jin terhadap olahraga yang membesarkan namanya
tak turut usai. Ia kini menjadi pelatih tunggal putri tim bulutangkis
negaranya.
Ganda ketiga
Terakhir untuk ganda pelapis,
saya memasang dua pemain dari dua negara berbeda. Pasangan ganda ini adalah Lee
Yong-dae/Hendra Setiawan. Lee berasal dari Korea Selatan sedangkan Hendra tentu
saja sudah kita kenal sebagai pemain ganda Indonesia.
| Source: http://in.victorsport.com/ |
![]() |
| Source: http://cicilasari.blogspot.com/ |
Lee Yong-dae adalah pemain ganda
Korsel yang bermain di dua nomor sekaligus, putra dan campuran. Ia adalah
peraih medali emas Olimpiade 2008 di nomor ganda campuran. Lee menorehkan gelar
prestisius itu bersama Lee Hyo-jung sebagai partnernya. Hebatnya, ia
mendapatkan gelar itu di usia yang masih terhitung 19 tahun!
Di nomor ganda putra, pria
kelahiran 11 September 1988 itu bahkan lebih gemilang. Masuk papan peringkat
dunia BWF seolah merupakan hal yang akrab baginya, baik saat berpartner dengan
Jung Jae-sung maupun sekarang bersama Yoo Yeon-seong.
Hendra Setiawan? Rasanya saya tak
perlu menjelaskan panjang lebar. Ia adalah penerus tradisi kejayaan ganda putra
Indonesia dengan menjadi juara dunia 2007, meraih medali emas Olimpiade 2008
dan medali emas Asian Games 2010 bersama Markis Kido, serta juara dunia 2013
dan meraih medali emas Asian Games 2014 bersama Muhammad Ahsan. Artinya, Hendra
Setiawan telah dua kali berturut-turut meraih medali emas Asian Games dan dua
kali juara dunia bersama dua partner berbeda.
Bonus Video
Kamis, 25 September 2014
Dentingan Dawai si Kembar nan Piawai
Sekedar sharing tentang duet pemain musik asal Amerika Serikat, Camille
Kitt dan Kennerly Kitt. Keduanya adalah saudara kembar identik. Bukan hanya kembar
secara fisik, mereka pun juga memiliki bakat yang identik: memainkan harpa
elektrik. Keunikan dua gadis berambut pirang itu tidak berhenti pada penampilan
fisik dan kebolehan yang serupa. Musik-musik yang dimainkan keduanya banyak
diambil dari lagu-lagu pop, rock dan soundtrack
film-film terkenal.
Tanpa merubah aransemen aslinya,
mereka mampu memainkan musik dan lagu komersial menjadi alunan musik harpa yang
enak didengar di kala santai. Mulai lagu-lagu grup rock legendaris seperti Led Zeppelin, Scorpion, Bon Jovi,
Iron Maiden, Guns N’Roses, hingga lagu-lagu yang dibawakan Rihanna, Taylor
Swift, Lady GaGa dan sebagainya. Tidak ketinggalan pula musik soundtrack film seperti Star Wars, Game of Thrones, The Lord of The
Rings serta game konsol macam
Mario Bross dan Final Fantasy yang
tidak luput dari kreasi mereka.
Musik-musik kedua harpist itu diunggah di youtube melalui akun resmi mereka. Camille
dan Kennerly Kitt juga biasa membuat kreasi musik berdasar request penggemar mereka melalui facebook.
Nah, seperti apa performa si kembar berbakat ini? Silahkan simak video-video berikut ini.
Enam video diatas hanya sebagian kecil dari kumpulan video klip musik mereka. Bila anda ingin lebih, silahkan buka youtube atau langsung berlangganan akun resmi youtube Camille and Kennerly Kitt, https://www.youtube.com/channel/UC5X8wA2pn9sbD765c-rmkMg . Enjoy...
Rabu, 17 September 2014
La Cita (12.1.d)
"I never wanted to be the next Bruce Lee, I just wanted to be the first Jackie Chan."- Jackie Chan -
Sabtu, 13 September 2014
Infrastruktur Maritim, Menepis Ironi di Negeri Bahari
Poros maritim
dunia. Gagasan cemerlang dari pemimpin yang baru datang: Insinyur Joko Widodo.
Sosok yang terkenal dengan berbagai gebrakannya itu mewacanakan sebuah visi
yang bertujuan mengembalikan jati diri Indonesia sebagai negara kepulauan.
Sebuah negara dimana sebagian besar wilayah berupa perairan, maka sudah
sepatutnya mampu mengoptimalisasi laut untuk kemakmuran bangsanya. Salah satu
rencana aksi untuk mewujudkannya adalah dengan memperkuat infrastruktur untuk
menunjang kelancaran kegiatan ekonomi kelautan, pelabuhan.[1]
| Source : http://www.terradaily.com/ |
Letak geografis
Indonesia memang sangat strategis, terutama untuk jalur perdagangan
internasional. Dari 7 selat strategis dunia, 4 diantaranya berada di wilayah
negeri ini: Selat Sunda (Alur Laut Kepulauan Indonesia/ALKI I), Selat Lombok,
Selat Makassar (ALKI II) dan Selat Malaka.[2]Untuk
nama terakhir bahkan dijuluki “selat sepanjang masa” karena di selat tersebut
telah ramai dilintasi kapal-kapal dagang dari seluruh dunia sejak ratusan tahun
silam.
Kejayaan Bangsa
Indonesia sebagai bangsa maritim telah tercatat dalam sejarah emas peradaban
nusantara. Anda bisa telusuri bagaimana kedigdayaan Sriwijaya, kehebatan
Majapahit, kejayaan Banten dengan pelabuhan Karangantu-nya, hingga ramainya
pelabuhan Sabang era 1800-an yang semuanya menjadikan laut sebagai penunjang
majunya peradaban, tak terlepas pula peran infrastruktur pelabuhan.
Tetapi zaman kini
telah berubah. Wilayah perairan kepulauan negeri ini memang masih ramai
dilintasi kapal-kapal. Hanya saja, negara tempat bernaungnya bangsa yang dulu
begitu jaya tadi belum mampu mengoptimalkan potensi bahari yang dimiliki. Untuk
urusan pelabuhan, kualitas dan kuantitas yang dimiliki Indonesia tertinggal
cukup jauh dari para tetangga. Ambillah Selat Malaka sebagai jalur pelayaran
tersibuk di dunia. Indonesia cenderung hanya menjadi hinterland dari negara-negara lain yang meraup banyak keuntungan
dari “selat sepanjang masa”.
Hal ini dapat
dilihat dari komparasi pelabuhan yang ada di pesisir selat malaka. Jangan lihat
pelabuhan Batu Ampar Batam yang berkapasitas 200 ribu TEUS disandingkan dengan Port of Singapore Authority yang
berkapasitas 30 juta TEUS! Pelabuhan-pelabuhan di Semenanjung Malaya memiliki
kapasitas dan kualitas jauh lebih baik dari yang ada di Sumatera. Menurut data
50 pelabuhan teramai di dunia tahun 2012, pelabuhan Port Klang (Selangor,
Malaysia) mampu menembus ranking 12 dengan total peti kemas yang ditampung 10
juta TEUS. Pelabuhan Tanjung Pelepas (Johor, Malaysia) berada di ranking 19
dengan total 7,7 juta TEUS.[3]
Sumatera? Sayangnya tidak ada satupun pelabuhan di pulau tersebut yang masuk 50
besar.Padahal fakta menunjukkan bahwa tingkat kepadatan atau kesibukan
pelabuhan peti kemas merupakan cermin denyut perekonomian daerah yang
bersangkutan. Sebut saja kota-kota sekelas Shanghai, Hong Kong, Singapura,
Shenzhen, Hamburg, Los Angeles, anda bisa telusuri bagaimana pelabuhan mereka.
Kembali ke visi
poros maritim. Wacana tersebut agaknya telah memberi angin segar bagi
pembangunan infrastruktur kepelabuhanan, karena salah satu instrumen untuk
mewujudkannya adalah dengan konsep Tol Laut. Konsep ini sebetulnya mirip dengan
konsep “Pendulum Nusantara” karena esensinya adalah mengintegrasikan jalur
pelayaran di pelabuhan-pelabuhan utama ke dalam satu kesatuan sistem logistik.[4]Konsep
ini diyakini akan menekan biaya produksi yang berimbas pada turunnya harga
produk/barang.
| Source : http://finance.detik.com/ |
Selain itu, lebih
penting lagi adalah mengurangi ketimpangan pembangunan antara kawasan Indonesia
Barat dan Timur yang bermuara pada pemerataan.Dengan adanya pelabuhan besar,
terutama di Indonesia Timur, maka diharapkan dapat berimplikasi pada tumbuhnya
industri-industri baru di daerah tersebut yang tentunya berkontribusi besar
pada peningkatan perekonomian setempat. Agaknya tanda-tanda ke arah itu mulai
terlihat. Sebut saja rencana pembangunan industri di sejumlah tempat di Papua.[5],[6]
Oleh karena itu,
pembangunan dan pengembangan sejumlah pelabuhan di Indonesia sudah sepatutnya
mendapat perhatian khusus, baik pelabuhan utama seperti Belawan, Tanjung Sauh,
Kalibaru (New Priok), Tanjung Perak, Makassar dan Sorong, maupun pelabuhan
penunjang lain seperti dibukanya kembali Pelabuhan Bebas Sabang, Pelabuhan Hub
Internasional Kuala Tanjung, Pelabuhan Maloy dan juga
Pelabuhan Hub Internasional Bitung.
Sudah terlalu lama
negara ini berkutat dalam ironi. Sebuah negara kepulauan terbesar di dunia,
berada di jalur persimpangan pelayaran dunia, tetapi justru bergantung pada
negara pulau kecil di mulut semenanjung untuk berdagang dengan bangsa lain. Berdikari
di bidang ekonomi merupakan prinsip yang harus dipegang dan dijalankan dengan
konsekuen, termasuk mandiri dalam kepemilikan infrastruktur guna memenuhi
kepentingannya sendiri. Dan bukan berapa juta TEUS kapasitas pelabuhan yang
bisa dibangun, atau berapa banyak kapal yang bersandar sebagai parameter.
Tetapi seberapa besar pembangunan pelabuhan-pelabuhan itu berkorelasi terhadap
industrialisasi, berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, berapa banyak
tenaga kerja yang terserap, mengurangi disparitas secara signifikan dan mewujudkan
pemerataan pembangunan di segala penjuru negeri.
Referensi:
Senin, 25 Agustus 2014
Berbagi "Kue Ekonomi" di Lintasan Sirkuit
"Pembangunan sirkuit F1 itu ada dalam rencana di
Mandalika Kabupaten Lombok Tengah, tapi kalau di Bali jadi dibangun, kami akan
mengganti dengan masterplan yang lain,” ungkap Lalu Bayu Nindia, Kepala BKPM
dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi NTB. (http://news.bisnis.com/)
Ajang
balap mobil Formula One atau akrab
disebut F1, merupakan ajang balap mobil super cepat paling prestisius di
saentero jagat. Gengsi yang melekat pada ajang tersebut bukan semata pada
kegiatan balapnya saja, tapi juga pada pihak penyelenggaranya.
Selain
mewah dari segi materi kegiatannya, F1 juga mendatangkan keuntungan ekonomi
yang tidak sedikit bagi pihak penyelenggara, atau dalam hal ini tuan rumah
tempat berlangsungnya balapan. Mulai dari sponsor, penonton, hingga official
tim peserta balap yang juga turut menyumbang profit yang menggiurkan pihak
penyelenggara.[1]
Ajang ini juga dapat menjadi instrumen handal dalam mengembangkan wisata
olahraga (sport tourism).
Tidak
heran jika tidak sedikit negara yang rela mengucurkan dana selangit untuk
membangun segala infrastruktur yang dibutuhkan, demi menjadi tuan rumah
penyelenggara F1. Indonesia pun termasuk dalam daftar negara yang terobsesi
menjadi penyelenggara ajang balap super cepat itu. Bermula dari ide putra
penguasa Orde Baru, Tommy Soeharto, yang ingin mendatangkan balap F1 di tanah
air, dibangunlah infrastruktur sirkuit balap di Bogor yang kemudian dinamakan
Sirkuit Sentul. Sayang, meski sempat menjadi tuan rumah balap motor MotoGP tahun 1997, fasilitas yang
dimiliki Sentul tidak cukup memadai untuk menyelenggarakan balap mobil sekelas
F1.
Obsesi
belum padam. Ide membangun sirkuit di Bali sempat mengemuka sekitar tahun 2005, namun segera meredup
sebelum ditindaklanjuti.[2] Barulah 9 tahun kemudian
kembali muncul rencana membangun infrastruktur serupa di tempat yang sama.
Tepatnya di Jembrana, tanah seluas 1.108 hektar yang dikuasai Pemprov Bali,
akan diambil 125 hektar untuk dibangun sirkuit balap F1.[3]
Dilihat
dari segi potensi, banyak pihak yang menilai Bali sangat layak menjadi tuan
rumah F1. Akan tetapi Bali tidak sendiri. Tetangga terdekatnya, Provinsi Nusa
Tenggara Barat, ternyata juga merencanakan proyek serupa. Mereka bahkan telah
memasukkan rencana pembagunan sirkuit F1 dalam masterplan pengembangan Kawasan
Ekonomi Khusus di Mandalika, Lombok Tengah.
Sekedar
info, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) merupakan kebijakan pemerintah pusat untuk
mendongkrak investasi dalam upaya peningkatan pembangunan daerah-daerah dinilai punya potensi ekonomi tertentu.
Untuk detailnya, anda bisa pelajari UU Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan
Ekonomi Khusus.
Okay,
kembali ke sirkuit F1. Telah dijelaskan bahwa ternyata NTB juga punya rencana
membangun sirkuit F1, bahkan telah tertuang dalam masterplan pengembangan
wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa NTB juga serius dengan proyek tersebut. So,
manakah yang mendapat prioritas membangun sirkuit?
Disinilah
opini saya bermain. Saya berpendapat sah-sah saja kedua daerah itu berlomba
menggaet investor guna membangun sirkuit. Tetapi yang diperlukan disini adalah adanya pembagian peran yang adil
terhadap fungsi sirkuitnya masing-masing. Untuk ajang F1, saya menjatuhkan
pilihan pada Bali. Hal ini karena rencana penyelenggaraan F1 di Bali telah
mengemuka sejak lama, sehingga layak untuk segera mendapat tindak lanjut yang
nyata. Selain itu, dipilihnya Jembrana sebagai lokasi sirkuit diharapkan mampu
mewujudkan pemerataan pembangunan berbasis Pariwisata. Hal ini karena
pengembangan pariwisata Bali selama ini cenderung terpusat di kawasan selatan
(Kuta dan sekitarnya).
Sedangkan
NTB, tepatnya kawasan Mandalika di Lombok, saya rasa tetap layak dibangun
sirkuit internasional. Selain karena telah termuat dalam masterplan, Lombok
memang butuh sebuah event besar berskala internasional yang rutin
diselenggarakan tiap tahun untuk pariwisata. Hal ini sangat penting untuk
pengembangan pariwisata Lombok sebagai salah satu alternatif destinasi wisata
andalan Indonesia.
Andai kelak ajang F1 atau balap mobil jadi diamanatkan ke Bali, maka event balap yang diharap dapat
dihelat Sirkuit Mandalika nanti adalah balap motor seperti MotoGP dan WSBK. Opsi tersebut tentu tidak menghilangkan fungsi Sirkuit
Mandalika yang sedianya didesain untuk ajang internasional. Singkat
kata, Sirkuit Bali untuk balap mobil, Sirkuit Lombok untuk motor.
Demikian
tulisan yang memuat opini saya mengenai rencana pembangunan sirkuit balap di
Bali dan Lombok. Apapun hasilnya nanti di lapangan, kita harapkan dapat
berdampak positif dan masif terhadap pengembangan pariwisata kedua daerah,
sehingga bermuara pada pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya
secara nyata.
Selasa, 01 Juli 2014
Balada sang Peterpan
SANG PETERPAN
Aku Peterpan
Berlari kencang, melompat terbang
Jauh mengangkasa
Lalu menukik, terjun ke dalam telaga
Dan keluar melesat bagai anak panah
Perkenalkan diri saya,
Pengembara dari Pulau Neverland
Berkelana di semesta realita
Mencari peruntungan, meraih impian
Aku adalah mimpi
Layaknya jiwa-jiwa
Yang meneroka asa dalam sepi,
Sendiri merangkai idealita
Dan aku adalah nyata
Layaknya jiwa-jiwa
Bersimbah peluh mengukir asa
Demi sekuntum cita-cita
Dan aku tak boleh berhenti
Karena hidup penuh teka-teki
Tiga perkara, sarat misteri
Mendekatkan diri adalah kunci
Aku bukan sosok sempurna
Tergolong lamban kala melangkah
Namun siap melesat tatkala panas
Dan bila kau dapati aku ada,
Itu kehendak Yang Kuasa...
Aku bukan orang yang mengerti
Tentang seni membangun rasa
Menyatukan dua hati
Dalam satu ikatan jiwa
Karena yang aku tahu
Ada semacam obsesi
Dimana hati mendadak labil
Kadang terasa manis sekali
Tapi akhirnya, berujung perih sekali
Sungguh perih
Mengapa demikian?
Karena aku belum mampu
Belum mampu menjangkaunya
Pertumbuhanku
Masih belum mencapainya
Tiada yang salah denganku
Sekali lagi, hanya pemimpi
Yang mengembara di dunia fana
Berpegang peta petunjuk Ilahi
Selanjutnya, apa yang akan terjadi?
Aku Peterpan
Ku 'kan terus berlari, bermain
Lalu terbang sebebasnya
Tanpa hiraukan segala cibir
Karena aku, adalah Peterpan...
Written by : Ali Aliyonk
Langganan:
Postingan (Atom)
Postingan Terbaru
Surat untuk sang Waktu
Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...


