Minggu, 07 Juli 2013

La Cita (11)

"The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience , but where he stands at times of challenge and controversy."                                                                                                        - Martin Luther King Jr. -

Rabu, 03 Juli 2013

Cerita Bersambung : Player (Bag.10, Tamat)

Sambungan dari bagian 9

Pandu jelas tahu apa yang hendak ia lakukan karena memang dialah yang mengatur segalanya. Ia kemudian mengatur skenario dimana besok Sandra akan dijemput Angga sepulang dari kantor dan pergi menuju rumah kontrakan Angga.
Dan sesuai rencana, keesokan harinya Sandra pulang dari kerja, keluar dari kantornya. Ia berjalan beberapa meter seorang diri ke barat trotoar, seraya menenteng helm. Disitulah ia menemui Angga di motornya dengan kepala tertutup helm half face. Tanpa berlama-lama Sandra naik ke belakang Angga. Dikenakan helm yang dibawanya dan meluncurlah ia bersama Angga dengan motor yang mereka tunggangi.
Di seberang jalan, tepatnya sekitar 10 meter dari tempat berhentinya motor Angga tadi, sebuah mobil sedan berwarna hitam diparkirkan di pinggir jalan. Namun mobil itu tidaklah kosong karena di dalamnya ada Pandu yang baru saja mengambail beberapa foto yang berisi kegiatan yang baru saja dilakukan Sandra dan Angga tadi dengan kamera ponselnya.

****

Hari berikutnya lagi, Pandu datang kembali datang menemui Rafi di workshopnya. Tujuannya pun jelas, ia hendak menyerahkan “hasil tangkapannya” kepada Rafi. Totalnya ada 5 foto yang ia serahkan pada Rafi dalam bentuk soft file yang disimpan dalam flashdisk.
“Apa nih isinya?” tanya Rafi.
“Check by your self, tapi jangan ketika istrimu ada.” jawab Pandu.
Malam harinya, di tengah hujan badai yang mengguyur petang itu, Rafi seorang diri memeriksa foto-foto tadi dengan laptopnya. Sungguh betapa terkejut dan kecewanya Rafi melihat gambar yang ditampilkan dalam laptop yang tertancap flashdisk Pandu itu. Lima buah foto hasil tangkapan Pandu menampilkan gambar istrinya tengah bersama seorang pria mengenakkan helm half face menunggangi motor sport berwarna hujau. Diperhatikannya lagi wajah pria itu lebih seksama, siapa sebenarnya orang itu. Dan Rafi pun tak perlu waktu lama untuk mengenali siapa wajah pria yang memboncengi istrinya itu. Seseorang yang ia kenal sejak sebelum menikahi Sandra…

****

Rafi pun menyatakan niatnya ke Pandu untuk memberi perhitungan pada Angga. Maka kembali Pandu menunjukkan kebolehannya sebagai tactician. Pandu mengarahkan Rafi untuk menyatakan ke Sandra seolah-olah hendak ke luar kota, meninggalkan istrinya sendirian di Jogja. Namun itu hanya kebohongan belaka karena merupakan bagian dari  strategi untuk melabrak Angga kala mendekati Sandra.
Di lain sisi, Pandu mengadakan pertemuan rahasia dengan Sandra berkaitan dengan rencananya yang tengah dilakukan Rafi. Oleh Pandu, Sandra diserahi sebuah tongkat baseball untuk disimpan dan digunakan pada saat "tiba waktunya".
Skenario pun berjalan mulus. Rafi sukses mengelabuhi istrinya untuk “pergi ke Bandung”. Faktanya ia sama sekali tidak ke Bandung, melainkan hanya menumpang sementara di rumah kontrakan Pandu seraya menunggu timing yang tepat untuk menyerang Angga. Dan pada hari minggu dini hari yang dingin dan sepi, Rafi melancarkan invasinya terhadap Angga yang tengah menginap di rumah yang biasa ia tempati bersama Sandra.
Namun ketika hendak mengakhiri hidup rivalnya, nyawa Rafi justru terlebih dahulu melayang setelah belakang kepalanya dihantam keras oleh tongkat baseball, yang dilakukan seorang wanita yang tak lain adalah Sandra, istrinya sendiri. Dan begitu selesai membunuh suaminya, Sandra bergegas berganti pakaian dan kabur dengan menumpang mobil Pandu yang sudah stand by sebelum tragedi berlangsung. Keberadaan Sandra pun selamat dari kejaran polisi setelah bersembunyi di rumah kontrakan Pandu sebelum dibawa ke Singapura.
Sore menjelang keberangkatan ke Singapura, Pandu menyempatkan diri menjenguk Angga yang dirawat di rumah sakit. Namun kunjungan itu bukan tanpa tujuan. Diam-diam Pandu memasukkan racun ke minuman Angga saat yang bersangkutan tengah sibuk membaca koran yang ditunjukkan Pandu terkait berita kematian Rafi. Alhasil Angga tewas setelah meminum minuman yang terkontaminasi racun, dan Pandu pun meluncur ke Singapura bersama Sandra…

****

Kembali ke masa sekarang.
Pandu kini telah tiada. Ia dinyatakan tewas karena bunuh diri di kamar mandi apartemennya. Ia nekat melakukan itu setelah depresi yang dialaminya dinyatakan bangkrut. Usaha tekstil dan butik yang dirintisnya sejak usia remaja habis begitu saja dilalap si jago merah dan hanya menyisakan beban hutang yang harus ditebus dengan vonis pailit dari pengadilan. Aset-aset kekayaannya pun habis disita kecuali apartemen tempat tinggalnya. Tak kuat menghadapi itu semua, ia pun akhirnya menyerahkan nyawanya tercabut dengan tali tambang yang digantung dalam kamar mandi apartemennya.
Beberapa hari pasca kematian Pandu, ruang apartemennya kini sepi tanpa penghuni. Ruang tempat biasa ia menghabiskan waktu menjalani kehidupannya kini sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan. Lantas dimana kini Sandra berada?
Sandra kini tidak lagi tinggal di apartemen Pandu. Tapi ia masih berada wilayah territorial negara Singapura. Seorang diri, Sandra duduk meluruskan kaki di sebuah kasur. Ia tampak sibuk dengan buku tulis dan bolpennya, beralaskan bantal di pangkuannya. Ia tengah berada dalam sebuah ruangan yang minim cahaya. Jam dinding menunjuk pukul 17.46. Sementara ia sibuk menggoreskan bolpen di buku tulisnya, di lantai berceceran beberapa lembar kertas sobekan dari buku tulis dengan bentuk sobekan yang tak beraturan. Setiap lembaran kertas yang terbuang itu terdapat tulisan-tulisan serta gambar-gambar hasil kreasi tangan dengan bentuk dan rupa yang tak jelas. 
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Kemudian masuklah sosok wanita muda berparas oriental ke dalam ruangan tempat Sandra menikmati kesendirian. Wanita berpakaian serba putih yang tediri dari semacam kameja berlengan pendek dan rok. Kepalanya mengenakan topi kecil yang juga berwarna putih dengan logo red cross. Wanita itu segera menghidupkan lampu dan dilihatnya kertas-kertas yang berserakan di lantai. Dipungutnya kertas-kertas itu olehnya, dikumpulkan, dirapikan dan diletakkan di meja dalam bentuk tumpukan. Kemudian ia menoleh ke Sandra seraya terseyum,
“Good evening Miss Sandra…” sapanya ramah.
Sandra tak bergeming. Ia masih saja sibuk dengan kegiatannya. Kemudian ditengoklah oleh wanita tadi, apa sebenarnya yang Sandra buat di buku tulisnya.
“Wow, bagusnya.. Apa itu?” katanya dengan aksen melayu. 
Sandra tetap tak bereaksi, masih larut dalam kesibukannya. Di meja dekat tempat tidur Sandra terdapat nampan yang diatasnya terletak sebuah teko dan beberapa gelas kaca yang sudah tak lagi berisi. Diambilnya semua benda itu beserta nampannya oleh wanita tadi. Sebelum pergi meninggalkan ruangan, ia berpesan pada Sandra,
“Masa tuk makan malam tiba satu jam lagi. Setelah itu Pak Cik Psychitrist nak datang tuk kontrol Mak Cik.”
Wanita itu pun pergi menutup pintu dan Sandra kembali sendirian di ruangannya. Tangan Sandra berhenti menggoreskan bolpennya ke buku tulis. Diamatinya hasil karya tangannya yang baru jadi. Sebuah gambaran abstrak  tiga orang laki-laki dengan masing-masing bentuk rupa yang berbeda. Diamatinya terus gambar itu oleh Sandra dengan seksama. Tak lama kemudian ia menyeringai melihat gambar-gambar itu. Kemudian kembali ia merobek kertas gambar barusan, lalu membuangnya begitu saja ke lantai. Setelah itu ia kembali lagi dengan kesibukannya, sebagaimana yang telah ia lakukan sedari tadi…


---oo0oo---

Selasa, 02 Juli 2013

Cerita Bersambung : Player (Bag.9)

Sambungan dari bagian 8

“Ya sekitar.. jam 10-an.” kata Sandra masih dengan ponselnya.
“Wah malam amat, padahal Papa mau nitip.”
“Nitip apa emangnya?”
“Martabak, hehehe...”
“Oh.. ya lain kali aja Pah, Mama beliin.”
“Event dimana Mah, emangnya?”
“Di.. Wanitatama, jalan solo.” jawab Sandra melirik ke pria di sampingnya.
“Oh gitu, okay Mah, good luck ya...”
“Thank you honey..”
“I love you Mah..”
“I love you too. .”
Pembicaraan berakhir. Sebagaimana yang telah terbaca, Sandra tidak sedang berada di gedung event, melainkan di rumah mantan pacarnya yang kini menjadi selingkuhannya, Angga. Namun upaya Rafi tak berhenti sampai situ. Ia kemudian mencoba hubungi Pak Marwan Sutrisna, owner Taruna Catering sekaligus atasan Sandra di kantornya. Rupanya rekomendasi dari Pandu tadi telah terkonversi menjadi sebuah komando yang wajib untuk segera dijalankan.
“Selamat malam Pak Marwan..” sapa Rafi membuka pembicaraan telpon.
“Ya halo..” jawab Pak Marwan yang tengah berada di rumahnya.
“Saya Rafi Pak, suami Bu Sandra.”
“Oh.. Pak Rafi, ada apa ya Pak?”
“Haha.. Begini Pak, saya cuma ingin tanya, apa benar hari ini ada event malam di Gedung Wanitatama?”
“Hmm, ngga ada tuh Pak. Minggu ini kami tidak meng-handle event malam.”
“Terus terakhir ada event malam itu kapan ya Pak?”
“Hm.. terakhir sekitar dua minggu yang lalu.”
“Di gedung mana Pak, event malam yang dua minggu lalu itu?”
“Gedung... Balai Pamungkas.”
“Hm.. kalau hari-hari atau minggu berikutnya ada event malam ngga Pak?”
“Kalau.. hari-hari besok tidak ada. Tapi ngga tahu kalo minggu-minggu depan, schedule kami sementara sampai besok senin.”
“Berarti sampai besok senin ngga ada acara event malam ya Pak.”
“Iya, ngga ada. Bu Sandra ada kan di rumah?”
“Oh, sedang ngga ada Pak. Ini saya juga sedang nunggu orangnya.”
“Hm.. sendirian donk di rumah..”
“Iya Pak, hahaha… Ya udah Pak, sekedar konfimasi aja ke Pak Marwan.”
“Oke, salam buat keluarga.”
“Ya pak, terima kasih, maaf mengganggu.”
“Ah ngga papa, santai saja.”
“Oke Pak, selamat malam..”
“Malam..”
Seketika itu pula perasaan Rafi berubah menjadi waswas. Tetesan rasa penasaran mulai membasahi alam pikirannya. Bagaimana tidak, ia merasakan adanya kontradiksi yang kental antara apa yang ia ketahui selama ini dari Sandra dengan keterangan yang baru saja ia perloleh dari Pak Marwan. Beberapa hari belakangan Rafi mengetahui setidaknya Sandra pulang larut malam 3 kali, termasuk malam itu. Namun berdasarkan keterangan dari Pak Marwan tadi, beberapa hari terakhir dan beberapa hari ke depan tidak ada satu pun event malam yang di-handle Taruna Catering. Kemudian ia teringat bahwa Sandra biasa pulang kantor menumpang motor Widya, rekan kantornya sesama marketing. Maka kembali Rafi mengutak-atik ponsel guna mengirim pesan singkat ke nomor Widya.
“Mbak Widya, Sandra sekarang lagi sama mbak?”
Begitulah isi pesan singkat yang dikirim Rafi ke nomor Widya. Tak perlu menunggu lama, pesan itu segera dibalas oleh yang dikirimi.
“Ngga mas, aku lagi di rumah.”
Rasa waswas Rafi berubah menjadi kecurigaan. Benarkah Sandra membohonginya? Lantas bila benar demikian, apa motivasi Sandra melakukan demikian? Kembali ia harus keluarkan pulsa teleponnya untuk menghubungi Pandu.
“Halo Pandu..”
“Hello Mister Worldwide..”
“Hei, saya bukan Pitbull..”
“Hahaha.. What’s up mate?”
“Gini bro, tadi aku telpon istriku, katanya sekarang ia lagi ada event di jalan solo..”
“Okay?”
“Nah, terus aku coba konfirm ke bos istriku. Tapi ternyata dibilang hari ini tidak ada event malam. Hari-hari sebelumnya juga tidak ada…”
“At all?”
“Yeah, sama sekali tak ada event malam kata bosnya.”
“Gosh.. so what would you do?”
“I dunno.. Ini jelas ada something yang ngga beres, you know..”
“You have to do something.”
“Yeah. But I dunno what to do right now. Bingung aku..”
“Okay, calm down bro. Besok kita bertemu di workshopmu bahas masalah ini.”
“Oke sip, that’s all I need..”
“Nah sekarang istirahatlah, hari sudah malam.”
“Okay, thank you mate..”
“Anytime.”

****

Sesuai yang dijanjikan via telepon semalam, keesokan harinya Pandu datang menemui Rafi di workshopnya. Rafi pun menceritakan apa yang baru ia ketahui tentang istrinya semalam. Meskipun akhirnya Sandra menepati janjinya pulang jam 10 malam tadi, tetap saja tak menghapus noda kebohongan yang tengah ia sembunyikan dari suaminya.
“Dan begitu ia pulang, saya tanya apakah besok ada event malam lagi? Jawabnya ya. Jelaslah ia sedang bermain petak umpet dengan saya.” kata Rafi mengakhiri ceritanya tentang Sandra.
“Hmm..” respon Pandu.
Seraya berpikir Pandu menyeruput teh melati yang disuguhkan Rafi kepadanya. Tegukan teh yang membasahi kerongkongan Pandu seolah-olah bagaikan minyak tanah yang mengguyur percikan api karena ia mendapatkan ide begitu selesai meminum  beberapa tegukan tersebut.
“Hmm, pukul berapa besok ia pulang kantor?” tanya Pandu.
“Jam 5 sore.”
“Nice..”
“What would you do?” Rafi balik bertanya.
“Hmm, I don’t know. I confuse nak sebut ni espionage or paparazzi..”
“Maksudmu kau mau memata-matai?”
“That’s more like it.” jawab Pandu.
“Dengan cara gimana?”
“Yang jelas dengan caraku.”


****
BERSAMBUNG...

Lanjutannya klik disini

Senin, 01 Juli 2013

Cerita Bersambung : Player (Bag.8)

Sambungan dari bagian 7

Sebelum dijodohkan orang tuanya dengan Rafi, Sandra menjalin hubungan asmara dengan temannya semasa SMA, bernama Angga. Pria itu bekerja sebagai staff HRD di sebuah asuransi swasta. Namun gaya hidupnya yang hedonis kurang disukai kedua orang tua Sandra sehingga hubungan mereka tidak direstui. Sebagai gantinya, Sandra dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Rafi, seorang pengusaha konveksi yang dirasa punya kepribadian yang lebih baik dari Angga. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, Sandra sebetulnya sama sekali tak memiliki rasa cinta kepada Rafi untuk dijadikan pasangan hidup. Namun karena sikap otoriter kedua orang tua Sandra yang sudah terlanjur mencapai kesepakatan dengan kedua orang tau Rafi, keduanya akhirnya dinikahkan dan resmi menjadi pasangan suami-isteri yang sah.
Sandra pun akhirnya berbesar hati dan mencoba untuk menerima kenyataan. Ia berupaya untuk terus berpikir positif bahwa inilah jalan terbaik untuk hidupnya. Di hadapan Rafi, Sandra selalu tersenyum dan bersikap manis layaknya seorang isteri yang setia pada suami. Namun seperti yang telah dikatakan Pandu, hati kecilnya tidak bisa dibohongi. Ia senantiasa menginginkan hubungan perkawinannya segera berakhir di suatu saat, dan ia mendapatkan kembali kehidupannya sesuai yang ia inginkan.
Sampailah pada saat ia bertemu dan diperkenalkan dengan Pandu, teman Rafi. Rafi sendirilah yang memperkenalkan Pandu kepadanya. Dan Sandra pun turut berteman sama akrabnya dengan Rafi kepada Pandu. Namun tampaknya Pandu menyimpan rasa kepada Sandra. Setelah mengenal Sandra cukup lama, pengusaha tekstil dan butik asal Singapura itu bahkan bisa melihat bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dalam diri Sandra, terkait hubungan perkawinannya dengan Rafi.
Pandu lalu menyusun siasat demi misi mendapatkan Sandra dengan cara menyingkirkan Rafi. Gayung pun bersambut. Sandra kini memandang Pandu sebagai super hero yang tengah berupaya menyelamatkan hidupnya dari kekangan Rafi. Namun seperti yang yang terakhir dikatakan Pandu, mereka membutuhkan seseorang bisa dijadikan sebagai tumbal. Kabar baiknya, mereka tak perlu waktu lama untuk menemukan orang yang dimaksud.

                                                                             ****

Ponsel berbunyi tanda ada pesan masuk. Dalam layar tertera nama sang pengirim pesan, yakni “Sandra SMA”. Dibukanya pesan itu oleh seorang pria, yang tak lain adalah Angga.
“Angga, are you free? Klo bisa malam jam 7  kita ketemu.” begitu bunyi pesan yang dikirim.
Angga pun menyanggupi ajakan itu, yang notabene dikirim oleh mantan pacarnya yang kini telah bersuami. Keduanya lalu sepakat untuk bertemu di sebuah rumah makan sesuai waktu yang disepakati. Angga yang penasaran apa gerangan alasan Sandra meminta pertemuan antara keduanya, menanyakan hal itu ketika kedua bertemu.
“Ada perlu apa San, minta ketemuan?”
“Ada yang pengen aku ceritain Ga..”
Sandra mencurahkan isi hati yang ia pendam selama ini. Kepada Angga, Sandra bercerita bahwa hingga detik itu ia masih belum bisa merasa bahagia hidup bersama Rafi. Ia pun mengatakan bahwa Rafi tidak lebih baik dari Angga dan ingin kembali menjalin hubungan dengan Angga. Dan rupanya memang masih ada sisa rasa cinta yang dimiliki Angga terhadap wanita mantan pacarnya itu. Mereka akhirnya sepakat untuk menjalin hubungan rahasia, di luar sepengetahuan Rafi selaku suami Sandra tentunya.
Semenjak itu pertemuan antara Sandra dan Angga semakin intens. Hampir setiap hari keduanya membuat kesepakatan untuk mengadakan pertemuan eksklusif, layaknya dua insan yang menjalin hubungan asmara. Bahkan ada kalanya mereka sepakat bertemu di hotel dan menghabiskan malam berdua dalam satu kamar.
Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut telah berjalan selama 4 bulan. Namun sepertinya Rafi belum mencium kejanggalan yang ada pada isterinya. Meskipun sering pulang larut malam, Rafi tetap percaya saja dengan alasan yang diutarakan Sandra, yang berkerja di perusahaan catering. Sandra selalu beralibi ada event malam sehingga harus berada di gedung hingga semua urusan tuntas. Kenyataannya memang dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk berada di gedung untuk mengurus sebuah event. Kadang bila acara inti resepsi pernikahan selesai, masih dilanjutkan dengan jamuan untuk para tamu VIP.
Fakta tersebut tentu meningkatkan resiko gagalnya misi yang tengah dijalankan Pandu dan Sandra. Sadar akan hal itu, Pandu akhirnya mencoba untuk turun tangan memperbaiki “arus jalannya misi” agar kembali menuju track yang direncanakan. Pada suatu momen di malam hari, Pandu berkunjung ke rumah Rafi yang kala itu sedang sendirian tanpa isterinya yang menemani. Pandu pun mencoba membangun obrolan mengenai kabar Sandra.
“By the way, camna khabar isterimu?” tanya Pandu.
“Baik-baik saja, seperti biasa.” jawab Rafi mengangguk.
“Sudah isikah?” goda Pandu.
“Hahaha, kami berharap momen itu di usia 30.” Rafi tertawa.
“Lama sangat, jangan terlalulah..”
“Kami memang sudah planning itu sejak awal.”
Tatapan Pandu tertuju pada pintu ruang tamu yang terbuka, sehingga tampaklah halaman luar yang gelap di malam itu. Inilah timing yang tepat untuk menyampaikan apa yang harus ia sampaikan kepada Rafi.
“What time is it?” tanya Pandu.
“Jam.. 19.38” jawab Rafi melihat jam di poselnya.
“Sudah jam segini belum pulang juga isterimu. Kau tak kroscek kah?”
“Ada kalanya ia harus mengawasi event di malam hari, pulangnya bisa sampai larut malam.” jawab Rafi.
“Wow, dia sering?”
“Ya, akhir-akhir ini sering.”
“Hmm, it just recommendation. Alangkah baiknya bila kau kroscek kondisi isterimu yang sebenar. Bila perlu konfirm juga ke bosnya, apa betul ada event malam hingga larut.” ujar Pandu.
“It’s normal. Sering orang mengadakan hajatan di malam hari, dan perusahaan catering juga berperan sebagai event organizer sehingga harus berada di lapangan hingga acara berakhir, tak peduli sampai jam berapa selesainya.”
“Yeah, that’s good. Tapi sebagai suami yang care, kau harus pastikan segalanya berjalan sesuai yang kau pikir tentang apa yang dilakukan isterimu. Kau paham what I mean?”
“Well, saya sudah cukup paham tentang bagaimana perkerjaan isteriku. Tapi saranmu ya rasional juga.”
“Just give impression kau suami yang care and responsible, isterimu pasti makin cinta.”
“You are right.”
Masukan dari Pandu memang telah mengetuk hati Rafi untuk lebih peduli dengan situasi dan kondisi isterinya kala sedang tak berada di rumah. Terlebih tak jarang pula Sandra sama sekali tidak pulang ke rumah. Ketika ditanya mengapa tidak tidur di rumah, alasannya tertidur di kantor setelah lelah mengurus event bersama rekan-rekannya. Maka begitu Pandu selesai berpamitan dan mengakhiri kunjungannya, segera Rafi mengambil ponsel dan mencoba hubungi Sandra.
“Halo Mah…”
Di tempat yang berbeda, tapi waktu yang bersamaan, Sandra duduk di atas karpet dalam sebuah ruang TV. Bukan seragam kantor yang melekat di tubuhnya, melainkan babydoll tipis hingga sebatas lutut.
“Hai Pah, ada apa?” Sandra menjawab panggilan telpon Rafi.
“Nanti mau balik jam berapa?”
Tiba-tiba datang sosok pria membawa nampan dengan dua gelas berisi minuman berwarna cokelat berbusa, plus sebuah botol minuman berwarna hijau. Sandra memberi isyarat untuk jangan bersuara dan duduklah pria itu disamping Sandra, menaruh salah satu minuman di hadapan Sandra, lalu satu minuman di hadapannya sendiri dan botol yang masih di nampan diletakkan ditengah-tengah mereka.

BERSAMBUNG...
Lanjutannya klik disini

Sabtu, 29 Juni 2013

Cerita Bersambung : Player (Bag.7)

Sambungan dari bagian 6

Malam berlalu, berganti dengan pagi hari yang cerah. Mata Sandra terbuka perlahan. Tubuhnya masih terbaring di atas kasur. Kembali perlahan ia menolehkan kepala ke samping. Namun tidak terlihat olehnya sosok Pandu yang semalam tidur bersamanya. Ia mengacuhkan hal itu dan mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Diinjakkan kaki kanannya ke lantai dan turunlah Sandra dari kasur. Bersama sisa rasa kantuk yang masih menghinggapinya, Sandra berjalan ke arah jendela dan membukanya. Tampak olehnya pemandangan pagi di jalananan depan aprtemennnya yang berada lantai dua. Masih terbilang sepi pikirnya. Rasa ingin tahunya mulai bangkit perihal dimana Pandu gerangan kini berada.
“Pandu…” panggil Sandra menaikkan nada suaranya.
Namun tidak ada jawaban atas penggilannya. Kembali sekali lagi ia panggil nama yang sama seraya berjalan ke dapur. Namun kembali tak membuahkan jawaban.
“Paling keluar jalan-jalan…” pikirnya simpel.
Sandra pun membuka keran guna mengisi ceret dengan air yang keluar. Ia tutup ceret begitu penuh, lalu ditaruhnya diatas kompor yang menyala dengan api birunya. Rasa ingin buang air kecil menghinggapi Sandra. Ia beranjak meninggalkan dapur menuju kamar mandi. Begitu sampai tempat tujuan, pintu kamar mandi tertutup rapat. Ia ketok pintunya dengan prediksi Pandu ada di dalamnya.
“Pandu, kamu di dalam?”
Lagi-lagi tak ada respon. Dicobanya untuk memutar gagang pintu kamar mandi. Begitu terbuka, tiba-tiba Sandra berteriak spontan,
“AAAAAAAAAAAARGGHHHHHHHH…….!!!”
Tak lama setelah itu, alunan sirene mobil polisi dan ambulans saling bersahutan di depan apatemen tempat tinggal Pandu dan Sandra. Pandu ditemukan Sandra menggantung di tali tambang dalam kondisi tak bernyawa, dalam kamar mandi apartemennya. Berdasarkan hasil olah TKP, Polisi menduga kuat kematian Pandu murni bunuh diri. Dan faktanya memang benar demikian…

                                                                               ****

5 bulan sebelumnya…
Graha Taruna Catering, kantor tempat Sandra bekerja sehari-hari sebagai marketing. Waktu menunjuk pukul 12 siang, dimana orang-orang biasa menyebutnya jam istirahat. Sandra dan seorang wanita rekan kantornya bersiap hendak keluar untuk makan siang. Tiba-tiba salah satu rekan lainnya, yang bernama Widya,  datang menghampiri Sandra.
“San, ada tamu nyariin kamu.”
“Siapa?” tanya Sandra.
“Ngga tahu, laki-laki kayak orang India gitu.” jelas Widya.
“Oke deh, kalian makan duluan aja.” kata Sandra bergegas menuju ruang tamu.
Sandra sudah tahu siapa yang mencarinya, setelah mendengar penjelasan Widya tentang ciri-ciri India tadi. Seorang warga negara Singapura yang tidak lain adalah teman dekat suaminya.
“Eh Pandu, ada apa ya?” sambut Sandra menyebut nama tamunya.
“Sorry for bothering you. Sedang busy-kah?” tanya Pandu.
“Mau istirahat sih, but it’s okay kalau ada hal yang mau dibicarakan. Silahkan duduk.”
“Oh, nak makan siang ya. Kalau begitu, kita makan sama-sama je sekarang.”
Sandra pun memenuhi ajakan tamunya yang berbahasa gado-gado, melayu-inggris. Mereka berjalan bersama menuju rumah makan yang tak jauh dari kantor Sandra. Sesampainya di tujuan, masing-masing memesan makanan menu makan siangnya. Sambil menyantap makan, keduanya memulai pembicaraan.
“Sandra, aku dengar kalian married kerana dijodohkan both of your parents. Benarkah?” tanya Pandu.
“Rafi yang cerita ya?” tanggap Sandra.
“Yeah. Dia cakap pasal tu.”
“Iya, kami memang dijodohkan oleh masing-masing orang tua kami.” jelas Sanda.
“Do you enjoy it?”
Sandra sejenak berpikir dan menjawab,
“Yeah, why not?”
Pandu tersenyum dan mencoba meyakinkan,
“Are you sure?”
“Yeah, yes I am..” jawab Sandra.
“I am not..” kata Pandu menggelengkan kepala, masih dengan senyuman.
“Not what?” tanya Sandra.
“I’m not sure kau enjoy with Rafi. Your eyes can’t lie..”
Kembali sejenak Sandra terdiam, lalu mencoba tersenyum meredam situasi.
“What do you mean?” tanya Sandra.
“I mean.. I can see you tak enjoy hidup bersama Rafi. Don’t you?”
Sandra menghela nafas dan menyeruput minuman dinginnya dengan sedotan.
“Aku tak paham maksud pembicaraanmu.” ujar Sandra dengan mimik lebih serius.
“Well..”
Pandu lalu mengeluarkan sebuah kotak dari kantongnya. Diletakkannya benda itu di meja, tepat di hadapan Sandra.
“Mungkin benda ini nak buat kau paham.” kata Pandu.
“Apa ini?”
“Bukalah.”
Dibukanya bungkusan kotak itu oleh Sandra. Dan begitu terbuka tampaklah isinya berupa jam tangan mewah berwarna putih silver dengan serpihan berlian yang menempel di sepanjang sisi lingkaran kepala jamnya.
“Kamu ngasih aku ini??” tanya Sandra dengan penuh takjub.
“Yup, that’s yours..”
“Oh my God… It’s so expensive.. Bagaimana aku bisa menebus ini?” tanya Sandra dengan ekspresi yang tak berubah.
Kini giliran Pandu yang terdiam sejenak. Diletakkan tangan kanannya di meja, tepat di hadapan Sandra.
“Get my hand..” pinta Pandu.
Rupanya Sandra salah menangkap maksud Pandu, diserahkannya jam tangan itu ke tangan Pandu.
“Oh no, I mean your hand. Hold my hand.”
Dengan sedikit berat hati, tangan kanan Sandra meraih tangan Pandu dan kedua tangan itu pun saling bergenggaman.
“I love you Sandra..” kata Pandu dengan nada lembut.
“I wanna be yours..” lanjutnya.
Sandra menunduk, lalu menjawab,
“No, I cannot.”
Sandra langsung melepaskan tangannya, lalu ia masukkan kembali jam tangan mewah ke dalam bungkusnya, kemudian ia serahkan kembali ke Pandu.
“Yes, we can.” tegas Pandu menerima bungkusan tadi seraya menahan tangan Sandra dengan genggamannya.
“Kita boleh jalani hubungan serius kita. I will give you everything.”
“You know.. aku sudah bersuami. Tolong hormati saya.” elak Sandra.
“Sandra, life is a choice. And you gotta choose your best. Kau tak boleh terus menerus hidup macam ni. You have a right to be happy..”kata Pandu terus membujuk.
“I really can’t do it, Pandu. I cannot do it..” kata Sandra dengan mata yang mulai memerah.
“Okay, listen to me Sandra.. Kau ini macam burung yang terkurung dalam sangkar. Tiap hari selalu diberi makan oleh majikannya, diberi minum, dimandikan, serta diberi berbagai macam treatment yang dibutuhkan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Segalanya tampak baik-baik saja selama si majikan konsisten dengan kewajibannya.” ujar Pandu.
“But everything is not what it seems. Sebaik-baiknya perlakuan majikan dalam memelihara, dalam hati kecil burung itu tetap saja ingin hidup bebas di habitatnya, tanpa kekangan majikan dalam sangkar. Karena pada hakekatnya burung diciptakan untuk terbang bebas di angkasa, mengepakkan kedua sayap kebanggaannya, untuk mencari dan menikmati segala yang ada di kehidupannya.”
Sandra menunduk mendengarkan kata-kata yang diucapkan lawan bicaranya dengan seksama, sedangkan Pandu terus melanjutkan,
“Begitu pun denganmu Sandra. Meskipun kau menunjukkan sikap seolah-olah enjoy bersama Rafi, tapi di satu sisi kau telah membohongi dirimu sendiri yang sebenarnya ingin hidup lebih baik tanpa bersamanya.”
Mata Sandra mulai berkaca-kaca. Dalam benaknya mengakui, bahwa apa yang dikatakan Pandu memang benar adanya.
“So ikutlah denganku Sandra. Kau akan temukan kembali sayapmu, lalu kita bergandengan tangan dan terbang bersama mencari kebahagiaan yang kita impikan bersama-sama.” lanjut Pandu.
Sandra mengusap air matanya dengan jari, lalu berkatalah ia dalam lirih,
“Aku ngga bisa tinggalin suamiku.”
“Pasti bisa Sandra. Aku bisa mengaturnya. Yang kita butuhkan hanyalah seorang tumbal.” kata Pandu.
“Tumbal bagaimana maksudmu?” tanya Sandra tak paham.
Pandu menghela nafas, lalu balik bertanya,
“Adakah lelaki lain yang kau pernah jalin special relationship di masa lampau?”
Sandra berpikir sejenak, lalu menjawab sambil mengangguk,
“Ada.” 

****
BERSAMBUNG...
Lanjutannya klik disini

Rabu, 26 Juni 2013

Cerita Bersambung : Player (Bag.6)

Sambungan dari bagian 5

“Okay Angga, saya harus buru-buru bersiap, nanti malam  sudah take off ke Singapura.” kata Pandu tiba-tiba hendak berpamit.
“Oh, buru-buru sekali. Okelah, terima kasih sudah menengok.”
“Hoho, any time..”
Pandu pun kembali menyalami tangan Angga untuk berpamit meninggalkan rumah sakit.
“Get well soon..”kata Pandu menepuk pundak Angga.
“Oke, thanks.”
Pandu pun bergegas keluar kamar dan meninggalkan rumah sakit.

****

Malam harinya.
Seorang suster menemui dokter di ruangnya dengan wajah yang sangat cemas.
“Dok, pasien yang bernama Angga Hendrawan…”
“Kenapa Pak Angga Hendrawan??”
Di waktu yang bersamaan, di Bandara Adi Sucipto, sebuah pesawat maskapai swasta ternama bersiap meluncur di landasan pacu. Tampak roda-roda kecil nan hitam berputar menjalankan pesawat yang hendak memulai perjalanan ke udara. Tak lama kemudian roda-roda itu tertelan menghilang dan pesawat pun lepas landas meninggalkan runway. Terbanglah pesawat itu ke angkasa, membelah langit malam Kota Yogyakarta.

****

Tujuh hari kemudian, di sebuah resort pantai di Maladewa.
Gulungan ombak beriringan menyisir pantai. Airnya yang jernih berkilauan bagai kristal. Angin bertiup sepoy-sepoy. Diatasnya terhampar langit maha luas, membiru tanpa awan. Dua gelas berisi Lemon Tea saling bertempel, lalu diminumlah isinya oleh masing-masing orang yang membawa. Dua sejoli itu tengah hanyut dalam indahnya suasana laut, duduk bersebelah di teras sebuah floating cottage yang konstruksinya berbahan kayu eboni. Diantara keduanya hanya dipisah meja kecil sebagai tempat ditaruhnya minuman dan ponsel mereka, serta cerutu dan korek milik sang pria.
Masing-masing mereka mengenakan kaca mata hitam. Yang perempuan mengenakan pakaian renang one-piece yang begitu jelas menampakkan lekuk tubuh indahnya. Kulitnya putih mulus, bibir merah berlapis lipstick, hidung mancung dan rambut hitam panjang sebahu dikucir dengan rapinya. Satunya lagi seorang pria yang hanya mengenakan boxer. Tubuhnya gempal, kulitnya gelap. Hidungnya mancung dengan rambut ikal berwarna hitam.
“Indah bukan?” tanya pria.
“Gorgeous..” jawab pasangannya.
“Pernah terlintas bakal datang ke tempat ini?”
“Tidak, sebelum aku mengenalmu.”
“Ke mana saja Rafi mengajakmu saat honeymoon dulu?” kembali pria itu bertanya.
“Kami tidak berbulan madu setelah menikah.”
Ya, kedua pasangan sejoli itu adalah Pandu Mohana dan Sandra Permata Sari. Jalinan kasih antara keduanya telah dirajut sejak 5 bulan yang lalu, tapi baru kali ini mereka bisa berjalan bersama.
"Do you like your Watch?" tanya Pandu melirik ke jam tangan mewah yang melingkar di tangan Sandra.
"Yeah. Ini pertama kalinya aku pakai setelah 5 bulan." 
"Hahaha... finally ya..." tawa Pandu. 
Pandangan Pandu tertuju pada indahnya pemandangan laut yang terhampar di depan matanya. Kemudian ia teringat sesuatu dan berkata, 
“Saya sudah mengurus semua dokumen-dokumen administrasi di Singapura. Kita hanya tinggal menghitung mundur 10 hari menuju pernikahan yang kita idamkan.”
“Okay...” jawab singkat Sandra.
Diambilnya sebatang cerutu oleh Pandu, lalu dipotonglah salah satu ujungnya menggunakan gunting sebelum dimasukkan ujung itu ke mulutnya. Korek gas membakar ujung luarnya dan ditiuplah asapnya ke atas dari dalam mulut Pandu.
“Please say something nice untuk wedding kita.” pinta Pandu.
Sejenak Sandra berpikir, lalu berkatalah ia sambil tersenyum,
“I will be your Kate.”
Pandu tertawa.
“… and I hope you can be my William. Will you?” lanjut Sandra.
“I do..” jawab Pandu.
Mereka lalu saling medekatkan wajahnya satu sama lain dan kecupan bibir penuh hasrat pun tak terelakkan. Namun di tengah suasana itu, tiba-tiba ponsel Pandu berbunyi tanda ada panggilan telpon. Diangkatlah oleh Pandu untuk menjawabnya.
“Ya, hello..”
Beberapa detik Pandu diam menggenggam ponsel di telinganya, kemudian ekspresi wajah berubah sedikit pucat.
“Okay, wait..” kata Pandu memotong percakapan telpon sejenak, lalu berkata pada Sandra,
“Stay here.”
Sandra hanya mengangguk lalu pandu masuk ke cottage melanjutkan pembicaraan seriusnya di telpon dengan Bahasa Tamil. Tiba-tiba perasaan tak enak mulai menerpa Sandra. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dialami Pandu kala menerima telpon. Namun ia berusaha membuang jauh perasaan itu. Diminumnya lemon Tea miliknya yang masih tersisa dalam gelas. 
Cukup lama Pandu sibuk menjawab telpon. Suaranya terdengar seperti orang yang sangat cemas. Wajahnya pun tampak semakin pucat pasi. Setelah kurang lebih 10 menit ia berbicara sambil mondar-mandir keliling cottage dengan penuh kegelisahan, akhirnya berakhir juga pembicaraan itu. Pandu keluar ke teras untuk kembali menemui Sandra.
“Are you alright?” tanya Sandra menoleh ke Pandu.
“I was..” jawab Pandu tertunduk lesu.
“Something wrong?” tanya Sandra lagi.
Sejenak Pandu terdiam, lalu menjawab,
“We gotta go.”
Sandra mengernyitkan dahi dan perasaannya pun kian cemas. Bertanyalah ia sekali lagi,
“Wa, What just happened?”
Kembali Pandu terdiam sejenak membisu. Ia tarik nafas dalam-dalam, lalu mencoba jelaskan apa yang terjadi pada Sandra.

****

Tak lama setelah itu Sandra dan Pandu bergegas segera balik ke Singapura. Malapetaka tengah menimpa Pandu di negeri asalnya itu. Usaha tekstil dan butiknya di Singapura yang terintegrasi dalam satu gedung, mengalami kebakaran parah akibat arus pendek listrik. Kain-kain, produk-produk butik, berikut aset-aset usaha lainnya, semua ludes dilalap jago merah bersama bangunan yang menaunginya. Beberapa karyawannya mengalami luka bakar, bahkan dilaporkan ada 3 karyawan yang ditemukan tewas di lokasi.
Pandu pun mengalami kerugian super besar akibat musibah tersebut. mulai dari kerugian materi produk-produk dan bahan-bahan sandang yang hilang, gedung tempat bernaungnya butik dan usaha tekstilnya, termasuk pula biaya asuransi kematian ketiga karyawannya tentu jauh dari kata sedikit. Belum masih ditambah lagi dengan hutang-hutang usaha Pandu ke berbagai pihak, baik kepada Bank maupun rekan bisnisnya. Semua Pandu tanggung seorang diri mengingat dialah owner dan pemilik modal tunggal usaha tersebut.
Uang dan harta yang dimiliki Pandu tidak cukup untuk menutup semua kerugian yang dibebankan. Pengadilan setempat pun akhirnya memvonis pailit. Harta benda Pandu disita, kecuali apartemen tempat tinggalnya. Alhasil, Pandu resmi bangkrut pasca serangkaian kejadian itu.

****

Kondisi Pandu kini sangat tak menentu. Ia selalu tampak murung tanpa harapan. Sendirian ia duduk di teras, menghisap batang terakhir cerutunya. Disampingnya Sandra yang berusaha tetap tegar mencoba terus membangkitkan semangat Pandu untuk segera bangkit dari keterpurukan.
“Dalam kehidupan, memang sulit untuk menghindari yang namanya cobaan. Sama halnya kapal yang berlayar mengarungi samudera, pasti ada saja gelombang besar atau hujan badai yang mengombang-ambingkan. Tapi satu-satunya hal yang pasti muncul pasca semua itu adalah, keadaan bakal kembali normal dan kapal akan kembali berlayar seperti sedia kala. So, mau tidak mau kapal itu harus berusaha bertahan, jangan sampai tenggelam sebelum gelombang dan badainya reda.” ujar Sandra membelai rambut Pandu.
“Begitu juga denganmu, don’t give up and just do your best.” lanjut Sandra.
“Sangat berat, bahkan sangat menakutkan. Aku harap ini semua hanya mimpi dan aku boleh bangun segera dari tidur panjangku.” kata Pandu berbahasa Melayu.
“Pandu, you are a strongman. Kau punya cukup kemampuan untuk mengatasi cobaan ini. Kau memang dilahirkan untuk mengatasi semua ini, karena Tuhan tahu kau bisa melakukannya.”
Support dan nasehat dari Sandra sama sekali tak berarti bagi Pandu. Hati dan perasaannya sudah begitu hancur. Usahanya yang dirintis sejak usia remaja, seolah-olah menguap begitu saja bersama asap api yang membakar toko dan butik besarnya. Ia kini jatuh miskin dan tiada lagi hal yang bisa dibanggakannya.
Setali tiga uang dengan Pandu, kondisi Sandra pun sama buruknya. Dalam hatinya timbul sebuah penyesalan yang amat mendalam. Semula ia berharap akan menemui jodoh yang sesungguhnya dan menikmati taraf kehidupan yang lebih tinggi, namun realita yang ia temui kini jauh panggang dari api. Ia merasa seperti kalah dalam sebuah perjudian yang mempertaruhkan hidupnya.
Semula mereka berencana menikah dan tinggal di Singapura. Keduanya bahkan juga telah merancanakan sebuah romantic honeymoon di Alaska, tepatnya di Gates of the Arctic National Park and Preserve, sebuah kawasan konservasi alam yang sangat indah dan terbesar di Amerika Serikat. Namun apa daya, segalanya buyar setelah bangkrutnya seorang Pandu Mohana.

****
BERSAMBUNG...
Lanjutannya klik disini

Postingan Terbaru

Surat untuk sang Waktu

Dear waktu, Ijinkan aku 'tuk memutar kembali rodamu Rengekan intuisi tak henti-hentinya menagihiku Menagihku akan hutang kepada diriku d...